Category Archives: Email

Program Malware dan Virus Mulai Serang Pengguna Ponsel Untuk Sandera Data Sensitif

Program jahat atau malware kini tidak hanya menyerang konsumen yang memakai perangkat komputer pribadi, tetapi juga pengguna ponsel pintar di jaringan operator seluler. Network Security Management Telkomsel, Ariyanto Setyawan memaparkan, pelanggan operator seluler mulai menjadi target utama dari kejahatan siber mengingat ponsel pintar sudah jadi alat yang tak bisa ‘lepas’ dari penggunanya.

“Pelanggan itu sasaran yang dominan bagi dalang malware. Bisa melalui virus bot atau zombie,” kata Ariyanto pada acara Simposium Nasional Cyber Security 2015 di Jakarta, Kamis (6/4). Malah, bukan tak mungkin apabila si peretas menyebarkan pesan teks atau SMS broadcast ilegal yang isinya bersifat ajakan untuk melakukan transaksi penipuan, macam modus “Mama Minta Pulsa,” atau pengelabuan berupa tautan yang sebenarnya adalah jebakan untuk menyisipkan malware ke perangkat konsumen.

Beberapa cara lebih ‘halus’ lainnya adalah ajakan atau promosi layanan secara cuma-cuma alias gratis yang sudah sangat jelas tak masuk akal. “Bisa juga mengirimkan link penipuan juga untuk para pelanggan demi mendapatkan layanan gratis itu. Padahal itu bisa mengantarkan ke malware,” sambung Ariyanto. Dari situ, bukan tak mungkin apabila data dari si pemilik ponsel pintar dicuri oleh peretas. Ponsel pintar saat ini telah menjadi perangkat yang sifatnya sangat personal. Di sana email sering diakses, di sana pula pembicaraan penting dilakukan, sampai nomor kartu kredit sering digunakan untuk belanja.

Ariyanto pun menjabarkan secara singkat inti masalah dari perusahaan operator telekomunikasi. Salah satunya adalah salah konfigurasi dan pemilihan teknologi yang tidak tepat. Ia juga meyakini, kesadaran diri yang timbul dari tiap individu pelanggan perlu dibangun kembali agar lebih peka terhadap aksi-aksi yang mencurigakan seperti itu. “Jika merasa tidak pernah punya hubungan dengan konten yang dikirimkan melalui SMS misalnya, ya sudah tidak usah dilanjutkan dan langsung hapus saja,” ujarnya.

Bentuk program jahat komputer atau virus dan modusnya terus berkembang, bahkan kini ada virus penyandera dokumen yang disimpan di komputer pribadi dan meminta tebusan secara online agar dokumen itu dibebaskan.Karena meminta tebusan, virus penyandera ini populer disebut ransomware oleh para ahli keamanan siber. Ia mulai terdengar sejak pertengahan 2013 lalu secara global, lalu mulai masuk ke Indonesia pada pertengahan 2014. Lantas, perlukah kita menuruti permintaan si peretas yang meminta tebusan uang?

Menurut Gildas Deograt Lumy, Ketua Tim Koordinasi dan Mitigasi Desk Ketahanan dan Keamanan Informasi Cyber Nasional di Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum & Keamanan, kebanyakan virus penyandera akan meminta tebusan dalam bentuk mata uang virtual Bitcoin.”Mayoritas memang pakai Bitcoin. Tapi yang tidak pakai juga banyak. Ada juga yang pakai Moneygram,” ucap Gildas di sela acara Simposium Nasional Cyber Security 2015 di Jakarta, Kamis (4/6).

Gildas menilai tidak seharusnya korban menuruti permintaan peretas yang menyandera dokumen. Artinya, sebisa mungkin untuk tidak memberi uang sepeser pun pada pemeras.”Yang namanya penjahat, ada yang dibalikin data kita, tapi ada juga yang tidak. Semua kendali ada di dia,” sambungnya.Maka dari itu, Gildas secara realistis mengatakan cara yang paling ampuh untuk meminimalkan risiko kehilangan data atau data tersandera adalah membuat data cadangan atau backup di tempat yang terpisah.

Hal senada diungkapkan Alfons Tanujaya, Direktur perusahaan antivirus Vaksincom yang berbasis di Jakarta. Ia menyarankan dokumen penting yang ukurannya besar bisa di-backup di kepingan DVD dan disimpan secara offline. Sementara dokumen yang ukurannya relatif kecil bisa di-backup di layanan komputasi awan seperti Dropbox atau Google Drive.

Selain itu, hindari pula mengunjungi situs web yang tidak jelas pengelolanya seperti Torrent atau pornografi, karena di sana adalah gudang dari virus dengan segala macam modus kejahatan.Gildas menambahkan agar pengguna memakai peranti lunak antivirus dan jangan sembarangan menancapkan flashdrive ke port USB komputer, karena perangkat mungil ini sering menjadi media penyebaran virus komputer.Vaksincom sejauh ini telah menemukan sejumlah ransomware bernama Teslacrypt, Cryptowall, dan Alfacrypt. Yang terbaru adalah Locker atau juga dikenal CTB Locker.

Seorang desainer grafis bernama Agus Wiyono yang tinggal di Jatiasih, Bekasi, mengaku komputer berbasis Windows 7 yang biasa ia pakai untuk bekerja, terinfeksi virus Locker versi 5.46 pada 25 Mei 2015 lalu.Locker membuat dokumen pentingnya yang diolahnya dengan peranti lunak Adobe InDesign dan Photoshop tidak bisa dibuka, juga dokumen Microsoft Word dan .JPEG.”Saya terpaksa harus mengerjakan ulang dokumen desain yang sudah ditunggi oleh klien,” ujar Agus yang biasa mengerjakan desain grafis untuk untuk perusahaan dan lembaga swadaya masyarakat.

Dokumen yang terkunci oleh virus Locker hanya dapat dibuka dengan kode rahasia unik yang tersimpan di server milik peretas. Di sana peretas juga mengancam jika korban tidak membayar tebusan, maka dokumen akan “dihancurkan” dan tidak dapat membuka dokumen itu lagi.Agar dokumennya bisa dibuka, peretas yang memegang kendali virus Locker ini meminta tebusan senilai 0,1 Bitcoin. Saat ini, harga 1 Bitcoin mencapai Rp 2.950.000 di bursa lokal Bitcoin.co.id. Jika mengikuti nilai konversi itu, maka Agus diminta membayar Rp 2.950.

Agus mengaku tidak mengerti cara kerja Bitcoin. Karena itu dia memilih untuk tidak mentransfer dana dan pasrah dokumennya hilang. Selain itu, tidak ada keterangan pula dari si peretas, tebusan senilai 0,1 Bitcoin itu berlaku hanya untuk satu dokumen atau untuk semua dokumen.Alfons menyarankan para korban agar tidak memberi tebusan. “Kalau dibayar akan makin menjadi-jadi dan kenyataannya sudah makin menjadi-jadi. Mau tidak mau kita harus kehilangan data,” ujar Alfons.

Menurut data dari situs VirusRadar.com, virus yang disebut CTB Locker menyebar di 0,16 persen komputer bersistem operasi Windows XP, Windows Vista, Windows 7, dan Windows 8, di Indonesia. Vaksincom memprediksi varian ransomware akan berlipat dua kali lipat dibandingkan tahun 2014. Artinya, jumlah ransomware ini akan terus berkembang dan mengancam para pengguna komputer.

3 Hal Baru Dari Gmail Yang Menarik

Gmail merupakan salah satu layanan berbagi pesan dan file yang paling banyak digunakan saat ini. Namun, banyak yang mengeluhkan tentang pengaturan kontaknya. Layanan Google tersebut seringkali secara otomatis menduplikat satu kontak menjadi banyak. Kontak prioritas pengguna pun kerap sulit dicari, sementara yang sudah jarang berhubungan dengan pengguna lebih mudah ditemui.

Dilansir Kamis (5/3/2015) dari TheVerge, Google baru saja merilis pemutakhiran untuk pengaturan kontak pada Gmail. Pemutakhiran ini tampaknya menjadi solusi bagi masalah-masalah yang dikeluhkan pengguna. “Pengaturan kontak Google yang baru akan mempermudah pengguna untuk mengetahui informasi yang dibutuhkan dari kontak secara cepat, utamanya untuk mencari kontak prioritas. Tampilannya juga akan lebih segar,” begitu kata manajer produk Google, Sean Purcell.

Berikut tiga pembaruan pamungkas pada pengaturan kontak Gmail:
Pertama, lebih mudah “membereskan” kontak-kontak yang dobel. Saat masuk ke daftar kontak, Gmail akan menawarkan pilihan untuk menemukan kontak terduplikat. Ketika menekan pilihan itu, pengguna bakal dihadapkan pada sejumlah kontak yang bernama sama. Setelahnya, pengguna dapat memilih untuk menghapus atau menggabungkan kontak yang dobel tersebut dengan lebih praktis.

Kedua, informasi pada daftar kontak bakal terus akurat. Ketika kontak-kontak yang dimiliki mengubah informasi pekerjaan, tempat tinggal, nama, dan sebagainya di layanan-layanan ciptaan Google (Google+, Hangouts), maka informasi terbaru itu akan turut terganti di kontak Gmail.

Ketiga, pengguna bakal lebih mudah berhubungan dengan kontak-kontak prioritas. Daftar kontak paling atas didasarkan pada kontak-kontak yang “dibintangi” pengguna, menyusul kontak-kontak yang paling sering dihubungi, kemudian baru kontak-kontak lainnya.

Pemutakhiran untuk kontak di Gmail ini baru berfungsi pada akun Gmail standar. Namun untuk melihat pratinjau tampilan kontak Gmail yang terbaru, dapat dilihat di sini.

Google Berhenti Paksa Pengguna Gmail Untuk Gabung Di Google Plus

Seringkali pengguna Google kecewa manakala ingin membuat akun Gmail baru. Mereka dipaksa untuk membuat akun jejaring sosial Google+ dan tidak ada cara lain untuk menghindarinya.

Namun kini, nampaknya Google mulai menunjukkan sikap lunaknya dengan membuat integrasi layanan jejaring sosialnya sebagai pilihan saja alias tidak wajib.

Menurut WordStream, proses pendaftaran akun Gmail mulai Jumat (19/9/2014) kemarin tak lagi memaksa pengguna e-mail terhubung dengan akun Google+. Kini terdapat tombol untuk menolak membuat akun jejaring sosial itu.

Menurut pernyataan Google kepada situs WordStream, proses pendaftaran akun Gmail itu mulai diubah sejak awal September 2014 ini.

Google+ selama ini memang tergolong kurang populer dibandingkan dengan jejaring sosial lain, seperti Facebok, Twitter, maupun Path.

Google pun telah berusaha membuat jumlah pengguna Google+ bertambah dengan cara menghubungkannya secara otomatis dengan akun e-mailnya.

Namun, walau jumlahnya bertambah, Google+ kerap disebut “kota mati” karena sepi dari aktivitas penggunanya.

Kini, dengan memisahkan akun Gmail dan Google+, berkembang rumor apakah Google akan menghentikan layanan jejaring sosialnya ini?

Rumor itu dipertegas dengan mundurnya Presiden Social Network Google, Vic Gundotra pada April lalu. Google pun mulai berkonsolidasi dengan fitur jejaring sosial lain

Cara Menyelamatkan Email Yahoo Yang Dihack

Yahoo! mengumumkan adanya peretasan terhadap username dan password sebagian pengguna akun Yahoo!Mail, layanan surat elektronik mereka. Tidak disebutkan berapa jumlah pengguna yang menjadi korban. Belum diungkapkan secara detail siapa yang berada di balik peretasan tersebut. “Pihak ketiga sementara ini dianggap bersalah,” ujar seorang sumber yang dikutip Forbes, Jumat 31 Januari 2014.

Meski penyedia keamanan digital berlomba-lomba mengklaim mampu memberikan proteksi maksimal, namun kendali ada di tangan pengguna. Berikut tips mencegah dan melindungi akun pribadi di dunia maya yang dirangkum Forbes. Hindari penggunaan satu password sama.

Banyak orang malas memikirkan kombinasi angka atau huruf untuk membuka akun mereka. Akibatnya, mereka hanya mengandalkan satu password di berbagai layanan. Padahal cara ini bisa menjadi peluang bagi peretas untuk mencuri data pribadi.

Pilih password dengan kombinasi yang sulit ditebak
Urutan angka 123456 menjadi yang kata kunci terpopuler di dunia. Buatlah kombinasi angka, huruf, dan karakter untuk meminimalkan peluang bagi pencuri data. Jika kesulitan mengingat susunan password, seimbangkanlah komposisi angka, huruf, serta karakter lainnya.

Perbarui password secara berkala
Meski tidak perlu rutin secara periodik, sebaiknya jangan gunakan satu password untuk waktu yang lama. Perbarui juga kalimat pertanyaan untuk membuat password. Pertanyaan mudah seperti “Di mana Anda dilahirkan?”, merupakan peluang terjadinya pencurian data pribadi.

Gunakan fitur pengaturan password
Fitur pengaturan atau password manager dapat memberikan alternatif pilihan kombinasi yang unik dan tahan terhadap ancaman peretasan lewat database. Cara ini juga baik digunakan bagi pengguna yang tidak cukup memiliki kekuatan memori mengingat kombinasi password.

Mendaftar ke jasa perlindungan dunia maya
Kini banyak jasa yang menawarkan informasi mengenai username dan password yang riskan terhadap pencurian data. Meski tidak seluruhnya ditampilkan, setidaknya pengguna bisa memperoleh referensi untuk melindungi akun mereka. Jasa semacam ini juga akan memberikan notifikasi mengenai kapan sebaiknya pengguna memperbarui username dan password.

Tidak hanya Yahoo!, pencurian data pribadi juga menimpa pengguna media sosial Snapchat. Akhir 2013 lalu, sebanyak 4,6 juta username dan nomor telepon pengguna Snapchat dibobol dan kemudian dibocorkan oleh peretas anonim.

Lagi …. Email Yahoo Diretas Oleh Hacker

Yahoo! mengakui bahwa username dan kata sandi (password) pengguna layanan email telah dicuri dan digunakan oleh peretas untuk masuk ke sejumlah akun atau situs lain. Namun Yahoo! menolak memberitahukan berapa banyak jumlah username dan password pengguna layanan Yahoo! Mail yang berhasil dicuri.

Yahoo! adalah layanan email terbesar kedua di seluruh dunia setelah Gmail milik Google. Menurut perusahaan riset comScore, setidaknya ada 273 juta akun email Yahoo! di seluruh dunia, dan 81 juta di antaranya berada di Amerika Serikat. Perusahaan asal California, Amerika Serikat, itu menduga username dan password yang dicuri bukan berasal dari sistem Yahoo! sendiri, tapi dari basis data pihak ketiga.

Dalam blog resmi Yahoo! yang dikutip dari laman Mail Online, Jumat 31 Januari 2014, perusahaan sedang mengganti ulang password dan akun yang diretas dan mengupayakan “langkah-langkah tambahan untuk memblokir serangan lebih lanjut”. “Berdasarkan penelusuruan kami, daftar username dan password yang digunakan untuk mengeksekusi serangan itu kemungkinan dikumpulkan dari database pihak ketiga,” kata Yahoo! dalam pernyataan blognya. Mereka, lanjutnya, tak menemukan bukti bahwa data-data yang dicuri berasal langsung dari sistem milik Yahoo!.

“Kami menyesal hal ini terjadi dan ingin meyakinkan kepada para pengguna bahwa kami mengamankan data mereka dengan sangat serius,” tulis Yahoo!.

Dengan mencuri nama asli dari folder yang telah terkirim (sent folder), peretas membuat pesan palsu agar tampak lebih meyakinkan bagi penerima. Bahaya yang lebih besar lagi adalah ketika akses ke akun email digunakan untuk mencuri informasi dari situs seperti perbankan. Sebab, kebanyakan situs online menggunakan alamat email untuk mengganti password. Peretas akan mencoba masuk ke situs-situs tertentu dengan menggunakan alamat email Yahoo!, dan meminta pengingat password dikirimkan lewat email.

Pihak Yahoo! sendiri mengaku saat ini sudah bekerja sama dengan pemerintah federal setempat untuk menyelidiki pelanggaran tersebut. Perusahaan juga akan menghubungi pengguna yang datanya dicuri, namun belum mau mengungkapkan berapa banyak yang dianggap berisiko. “Kami mengganti ulang password dan akun yang terkena dampak, dan kami menggunakan verifikasi sign-in kedua agar pengguna dapat mengamankan akun mereka,” kata Yahoo! dalam sebuah pernyataan. Untuk mengantisipasi terjadinya kebocoran serupa, pihak Yahoo! meminta pengguna layanan email untuk segera mengganti password mereka.

Yahoo Mail Terintegrasi Langsung dengan Flickr Dengan Kapasitas Raksasa 1 TB

Pengguna surel Yahoo mulai sekarang dapat berbagi foto pribadi atau album dengan teman, tanpa harus meninggalkan kotak surat mereka. Hal tersebut karena Yahoo, secara resmi, mengumumkan Yahoo Mail telah terintegrasi langsung dengan Flickr melalui Dropbox, Jumat, 28 Juni 2013.

Dropbox merupakan layanan yang menawarkan solusi kepada pengguna surel, yang mengalami keterbatasan ukuran lampiran, dan telah terintegrasi penuh dengan Yahoo Mail pada awal April 2013. Hal demikian memudahkan pengguna Yahoo Mail mengirim, menerima, dan mengelola lampiran surel.

Perusahaan layanan surel itu mengungkapkan, pengguna surel Yahoo dapat berbagi foto dengan tampilan yang lebih indah, seperti pengalaman mereka yang berjelajah langsung di Flickr.

Pengguna Yahoo Mail harus terlebih dahulu login ke Flickr. Selanjutnya dari Yahoo Mail, klik tanda panah di sebelah gambar penjepit kertas (attach files) dan pilih menu Share from Flickr untuk memilih foto-foto pengguna yang tersedia di sana. Bagi pengguna Yahoo Mail yang belum mendaftar di Flickr, dapat mendaftar tanpa harus meninggalkan akses Mail.

Foto merupakan tipe file yang bermuatan besar, serta paling populer yang dibagikan melalui surel oleh pengguna Yahoo. Perusahaan di bawah kepemimpinan Marissa Mayer ini terus melakukan pembaharuan guna menarik perhatian penggunanya sejak melakukan akuisisi dengan Flickr dan menambahkan satu terabita penyimpanan data ke pengguna Flickr.

Yahoo meningkatkan jumlah penyimpanan data gratis hingga 1 terabita bagi pengguna Flickr. Sejak membeli Flickr, Yahoo berusaha menghidupkan kembali minat pengunjung situs komunitas foto tersebut. Ruang penyimpanan gratis yang ditawarkan Yahoo menarik minat pengembang untuk melihat Flickr sebagai sumber penyimpanan file foto, sekaligus file lain, termasuk format PNG file image.

“Menyimpan file di Flickr dengan memasukkan kode Ruby sekadar latihan akademis. Sistem kode ini masih perlu banyak perbaikan karena masih berjalan lambat,” kata Ryan LeFevre, pengembang yang mengunggah kode Ruby untuk GitHub, istilah penyimpanan file pada Flickr.

Dengan kapasitas 1 terabita ini, pengguna Flickr bisa menyimpah lebih dari 500 ribu foto dengan tingkat 6,5 megapiksel, hasil rata-rata ukuran kamera ponsel cerdas saat ini.

LeFevre melalui surat elektronik mengatakan, pengembang lain, Ricardo Tomasi, tengah melakukan proyek serupa pada saat ia meluncurkan aplikasi kode penyimpanannya di Flickr. Akan tetapi, LeFevre tidak akan menyarankan siapa pun menggunakan kode buatannya untuk menyimpan file penting. Kode penyimpanan Flickr membutuhkan akun Flickr API, namun hal ini juga masih harus dilihat apakah kode tersebut sesuai aturan layanan Flickr dan Flickr API.

Situs Informatonweek menuliskan, perwakilan Flickr belum memberikan tanggapan lebih jauh mengenai pengembangan ini. “Saya yakin mereka tidak menyukai temuan saya ini karena Flickr meminta pengguna tidak mengunggah apa pun yang dapat mengganggu layanan, tapi temuan saya sepertinya tidak mengganggu,” kata LeFevre, yang juga mengungkapkan ketidakjelasan aturan layanan Flickr atas kebolehan temuannya tersebut.

Desain ulang Flickr merupakan bagian dari upaya Yahoo mengembalikan pamornya yang lama hilang, bukan sekadar meningkatkan kapasitas penyimpanan Flickr. Menurut Markus Spiering, Kepala Produk Flickr, Home Page, Feed Activity, Photostreams, dan Sets Flickr telah didesain ulang. Fitur slideshow, pencarian, dan sosial telah diperbaiki, serta kemampuan pengenalan wajah telah ditambahkan untuk menyederhanakan pengelompokan foto. Tak ketinggalan juga aplikasi baru Android untuk Flickr di Google Playstore.

Banyak Pejabat Masih Gunakan Email Gratisan Sehingga Berkesan Tidak Profesional

Di era masyarakat modern saat ini, memiliki akun e-mail menjadi sebuah keharusan. Kemajuan teknologi memudahkan orang untuk saling berkomunikasi tanpa batas. Akan tetapi, ada hal yang perlu diwaspadai, terutama oleh para pejabat publik. Para pejabat negara diminta untuk peduli dengan keamanan menggunakan sejumlah fasilitas yang tersedia di dunia maya. Salah satunya penggunaan domain gratis.

Saat dikritik mengenai penggunaan e-mail dengan domain gratisan oleh Komisi VIII DPR, sejumlah anggota DPR termasuk Ketua DPR Marzuki Alie mengatakan bahwa mereka memang belum memiliki e-mail resmi dari domain @dpr.go.id. Selama ini mereka menggunakan e-mail dengan domain @yahoo.com atau @gmail.com.

“E-mail saya marzuki_alie@yahoo.co.id,” ungkap Marzuki kepada wartawan, Kamis (5/5/2011).

Wakil Ketua DPR RI Taufik Kurniawan juga mengaku tidak memiliki alamat e-mail dengan domain resmi DPR. Taufik menyebut satu alamat pribadinya dan satu alamat e-mail yang digunakan untuk menerima aspirasi dan berkomunikasi dengan kolega dan konstituen. Keduanya memiliki domain gratisan pula, @gmail.com.

“Kalau e-mail pribadi saya buka sendiri, tapi kalau yang terkait kedinasan DPR, saya memanfaatkan e-mail yang saya siapkan khusus dan dikelola oleh staf ahli saya. Biasanya terkait posisi tugas di DPR, e-mail langsung ke staf narilkirom@gmail.com,” kata politisi PAN ini.

Bahaya

Para anggota Dewan memang tak pernah memiliki alamat e-mail dengan domain resmi @dpr.go.id yang diberikan kesekretariatan kepada anggota sejak masuk pada akhir 2009. Mereka menilai, perdebatan e-mail resmi atau pribadi tak perlu diperdebatkan karena tak esensial. Yang penting, akses untuk menampung aspirasi dibuka seluasnya kepada masyarakat dan konstituen.

Akan tetapi, Pakar IT Security Ruby Alamsyah, bagi pejabat publik, pembuatan e-mail dengan domain gratisan justru harus dihindari. Mengapa?

“Dari kami, para pemerhati IT security, penggunaan domain gratisan sangat tidak aman. Ini sudah menjadi konsen kami sejak lama kepada para pejabat publik, karena sangat rentan. Bisa di-hack oleh para hacker umum dan tidak akan ketahuan. Ini kan bahaya, bisa disalahgunakan oleh negara-negara lain,” kata Ruby kepada Kompas.com, Jumat (6/5/2011).

Ruby mencontohkan, dalam salah satu kesepakatan yang tertuang dalam “terms and conditions” saat mendaftarkan sebuah akun di domain gratisan, ada klausul yang menyatakan bahwa pemilik e-mail menyerahkan hak kepada domain untuk mengakses e-mail tersebut.

“Misalnya, di gmail jelas tertulis di terms and conditions, pemilik e-mail memberikan hak kepada gmail untuk mengakses e-mailnya. Bukan membaca, tapi kata-katanya “mengakses”. Bayangkan kalau pejabat publik miliki e-mail pribadi seperti itu dan informasinya dibaca oeh pihak-pihak yang tidak berkepentingan. Itu kan mengerikan,” paparnya.

Apalagi, informasi yang terkandung dalam e-mail para pejabat publik itu menyangkut kepentingan dan rahasia negara. Oleh karena itu, Ruby menyarankan dan mengimbau kepada para pejabat publik untuk menghentikan penggunaan akun e-mail dengan domain gratisan. Menurutnya, lebih aman jika para pejabat membuat e-mail dari domain resmi masing-masing institusi. Hal ini dinilai lebih aman karena aktifitasnya akan terpantau oleh admin institusi itu sendiri.