Monthly Archives: August 2013

Kisah Ronny Gani Animator Indonesia Pembuat Film Pacific Rim

Di balik kesuksesan film animasi “Pacific Rim” yang masih diputar di bioskop-bioskop di Tanah Air saat ini, ternyata ada sentuhan seorang animator Indonesia. Dialah Ronny Gani, seorang animator muda yang bekerja di Industrial Light & Magic, di Singapura, anak perusahaan Lucas Film Group, yang menggarap film tersebut.

“Kalau di Pacific Rim saya mengerjakan animasinya. Jadi saya menggerak-gerakkan karakter-karakter yang ada di film itu,” ujar Ronny dalam wawancara yang dilansir situs VOA. Ia mengatakan, sebagai animator, ia punya peran memainkan visual effects sehingga gerakan karakter dalan animasi menjadi lebih hidup dan masuk akal.

Ini bukanlah debut pertamanya menggarap animasi-animasi di film Hollywood. Ronny sebelumnya juga terlibat dalam penggarapan film the Avengers yang dirilis tahun 2012.

“Kebetulan sekali waktu saya pertama kali mulai bekerja di Industrial Light & Magic, proyek yang sedang dikerjakan adalah The Avengers. Jadi otomatis saya ikut terlibat dalam proyek itu. Secara garis besar grup Industrial Light & Magic itu mengerjakan bagian akhir film di bagian aliennya sudah mulai menginvasi,” kata Ronny. Pekerjaan sebagai animator sebenarnya bukan cita-citanya saat kecil. Bahkan sampai usai kuliah ia mungkin belum membayangkan profesinya sekarang karena Ronny adalah lulusan S1 Jurusan Arsitektur Universitas Indonesia.

“Selama kuliah saya merasa kurang sreg dengan bidang yang saya pelajari dan akhirnya coba-coba cari saya punya passion apa selain bidang arsitektur ini,” kata Ronny.

Kecintaan Ronny terhadap seni ternyata cukup kuat untuk membuatnya mempelajari bidang tersebut lebih dalam lagi secara otodidak.

“Saya pelajari 3D software yang saat itu saya pakai untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah. Akhirnya saya tahu kalau penggunaan 3D software itu ternyata bisa diaplikasikan ke industri film, dalam hal ini animasi dan visual effects,” ujarnya.

Tanpa memiliki pendidikan formal dan pengalaman, Ronny kemudian membuat portfolio dan mencari pekerjaan di bidang yang diinginkannya, yaitu animasi.

“Saya mendapat pekerjaan pertama saya di Batam. Saat itu saya tinggal di Jakarta dan saya harus relokasi ke Batam, dan kerja di sana satu tahun,” ujarnya.

Di Batam pekerjaan pertamanya sebagai animator adalah mengerjakan proyek film “Sing to the Dawn”, sebuah proyek kolaborasi antara studio animasi di Batam dengan perusahaan Singapura. Filmnya sendiri rilis di Singapura dan di Indonesia dengan judul Merah Mimpi.

Setelah mendapat pengalaman kerja di Batam, akhirnya Ronny memutuskan untuk mencari pekerjaan di Singapura sebagai batu loncatan. Proses pencarian kerjanya pun juga sangat mudah dan semuanya dilakukan melalui online di Internet, sampai akhirnya diterima dan diberi izin kerja.

Awalnya ia bekerja di perusahaan lokal Singapura, Sparky Animation. Sparky Animation adalah sebuah perusahaan animasi yang mengerjakan proyek-proyek skala kecil, seperti serial TV dan film DVD.

Setelah enam bulan bekerja di sana, Ronny kemudian mendapatkan pekerjaan di Lucas Film Animation di Singapura selama kurang lebih empat tahun. Di Lucas Film, ia terlibat dalam pembuatan serial TV Star Wars: The Clone Wars untuk musim tayang ke-2, 3, dan 4.

Setelah berkarir di bidang animasi selama beberapa tahun, Ronny mengaku pekerjaannya sebagai animator ini bukanlah pekerjaan impian, namun bisa dikatakan sebagai suatu proses dalam karirnya.

“Saya aja kuliahnya arsitektur. Yah, lebih seperti proses saja kali ya, sampai saya akhirnya ada disini. Dan saya mensyukuri. Harus mensyukuri saya bisa ada di sini. Tapi ini bukan sesuatu yang memang dari kecil saya impikan, seperti cita-cita saya mau jadi pilot atau apa lalu saya menyebut animator, tidak. Tapi memang dari kecil saya suka film animasi dan hal-hal yang sifatnya seni,” jelas Ronny.

Advertisements

LG Siapkan Tablet 8,3 Inci Berharga Murah

Perusahaan elektronik asal Korea Selatan, LG, menggadang-gadang bakal meluncurkan produk tablet berukuran sekitar delapan inci. Produk ini juga dijanjikan bakal muat dikantong dan bisa menampilkan gambar secara memuaskan.

Produk bernama LG G Pad 8,3 inci ini muncul pada akun resmi Youtube milik perusahaan. Layarnya bakal memiliki resolusi 1920 x 1200 piksel per inci dengan memori 2 gigabyte.

“Belum banyak informasi detail yang bisa diketahui dari produk ini,” demikian tertulis pada situs CNET, Selasa, 27 Agustus 2013. Untuk otaknya, tablet ini bakal mengunakan prosesor empat inti.

Iklan itu menunjukkan cuplikan sejumlah orang sedang berdiri di jalan dan berbicara tentang tablet yang mereka memiliki. Beberapa percakapan yang muncul adalah mereka tidak menggunakan tablet itu karena ukurannya terlalu besar dan kurang nyaman.

Lalu percakapan berikutnya berisi mengenai spesifikasi tablet idaman mereka, yaitu kecil, berukuran kantong, dan menampilkan gambar secara maksimal.

Hingga setahun terakhir ini, LG memang belum meluncurkan tablet baru lagi. Tablet terakhirnya adalah Optimus Pad LTE 8,9 inci, yang diluncurkan pada Januari tahun lalu.

Tablet baru ini bakal diluncurkan secara resmi pada ajang pameran digital IFA di Berlin pada September nanti.

Eric Schmidt Bantah Google Curi Code Program Java Dari Oracle

Chief Executive Officer Google, Eric Schmidt, membantah tudingan dari Chief Executive Officer Oracle, Larry Ellison, bahwa perusahaannya menggunakan kode milik Oracle secara ilegal.

Lewat posting di akun Google+ miliknya, Schmidt menjawab beberapa tudingan dari Ellison bahwa CEO Google Larry Page berbuat jahat dengan menggunakan kode program Java secara ilegal.

“Klaim Ellison bahwa Google mengambil milik Oracle itu tidak benar,” kata Schmidt dalam pernyataan tertulisnya itu. “Dan ini bukan sekadar pendapat saya namun juga pendapat pengadilan distrik setempat.”

Menurut Schmidt, hak paten atas sebuah teknologi seharusnya tidak digunakan untuk menghambat kemajuan. “Melainkan seharusnya mendorong perkembangan ide dan teknologi,” kata dia.

Menurut Ellison, Google sengaja menggunakan sejumlah kode dari program Java untuk mengembangkan sistem operasi Android, yang sekarang ini populer digunakan pada banyak piranti keras seperti ponsel dan tablet.

Google juga sempat bermasalah dengan Apple terkait pembuatan antarmuka dari sistem Android, yang menurut Steve Jobs menjiplak sistem antarmuka iOS. Steve Jobs, yang merupakan pendiri sekaligus Chief Executive Officer Apple, memperkarakan masalah ini ke pengadilan. Saat ini penanganan kasusnya masih berlangsung.

Mekanisme Kerja Prosesor Pada Tablet dan Smartphone

Sebagian besar orang memiliki berbagai pertimbangan sebelum membeli perangkat bergerak. Model, popularitas sebuah merek, kapasitas memori, resolusi kamera, dan harga menjadi pertimbangan utama. Pernahkah Anda mempertimbangkan produk berdasarkan prosesor yang menjalankannya?

Ada kemungkinan hanya konsumen yang memahami teknologi informasi dengan lebih detail yang melakukan hal ini. Meski menjadi bagian kecil secara fisik dari seluruh komponen perangkat bergerak, prosesor merupakan faktor utama yang menunjang performa dan menentukan tingkat kecerdasan sebuah peranti.

Setidaknya, inilah yang dilakukan oleh Erwansyah Anoem, 27 tahun, karyawan di sebuah perusahaan media. Dia mantap memilih ponsel cerdas Nokia Lumia 920 sejak akhir 2012. Ponsel berbasis Windows ini dibekali prosesor Qualcomm Snapdragon Krait dua inti berkecepatan 1,5 gigahertz.

“Windows Phone dengan dua inti sudah cukup banget, enggak perlu empat inti, apalagi delapan inti segala,” kata dia. Selama menggunakan ponsel itu, Erwan belum pernah mendapati kinerja ponselnya lambat atau macet (hang).

Pria yang gemar mengutak-atik perangkat ini mengatakan, sebelum membeli perangkat bergerak, ada pertimbangan yang saling berkorelasi antara sistem pengoperasian dan prosesor. “Banyak yang bilang Windows Phone ketinggalan zaman, nyatanya ponsel berbasis Windows tergolong ringan, sehingga tidak membutuhkan banyak inti.”

Dua tahun lalu, Erwan sempat menjajal Nokia N9 yang dijalankan prosesor ARM 1 gigahertz. “Dengan kemampuan prosesor seperti itu, kemampuannya sudah sangat baik,” kata dia, yang merupakan penggemar merek ini.

Lain lagi dengan Prita Hersty, 25 tahun, seorang karyawati di perusahaan agen periklanan. Dia memilih gadget berdasarkan kebutuhan, yaitu fitur kamera dan grafis. Soal prosesor, Prita tak terlalu ambil pusing. “Yang saya tahu sih kalau core banyak biasanya bagus,” kata dia.

Sampai kini dia masih merasa puas dengan ponsel cerdas Samsung Galaxy SII, yang dibelinya dua tahun lalu. Dia meyakini ponsel berbasis sistem Android, yang dibekali prosesor ARM Cortex A9 dua inti ini, tidak kalah cerdas dibanding ponsel cerdas lainnya.

Untuk menyajikan ponsel dengan kemampuan prima, perusahaan manufaktur cip bersaing ketat dalam menyediakan cip terbaik untuk peranti bergerak. Ada lima penyedia prosesor ternama yang saat ini bersaing, yaitu Qualcomm, Intel, NVIDIA, Samsung, dan Apple. Persaingan ketat terjadi antara Qualcomm dan Intel, yang sebelumnya mendominasi pasar cip untuk komputer dan laptop. NVIDIA membuat cip untuk konsol game-nya, Nvidia Shield.

Namun Samsung memasang cip besutannya pada produknya sendiri, seperti Samsung Galaxy S III dan Samsung Galaxy Note II. Begitu pula Apple yang membuat prosesor seri A untuk ponsel iPhone dan tablet iPad buatannya.

Menurut President Qualcomm, Steve Mollenkopf, cip buatan perusahaannya memiliki kemampuan lebih dibanding prosesor lain. “Kami punya kemampuan untuk memasukkan berbagai kemampuan cip ke dalam mekanisme system-on-chip.”

Cara Memakai BlackBerry Messenger BBM Di Android dan iPhone

Tanggal peluncuran aplikasi mandiri BlackBerry Messenger (BBM) di Android dan iPhone memang belum diketahui. Namun, tanggal peluncuran itu nampaknya makin dekat karena BlackBerry telah membuat buku panduan memakai BBM versi 1.0 di kedua platform kompetitornya.

Seperti dikutip dari TechCrunch, Jumat (23/8/2013), buku panduan itu menjelaskan secara rinci tentang fungsi aplikasi BBM, bagaimana memulai aplikasi, dan berbagai fiturnya. Bagi pengguna yang sebelumnya pernah memakai BBM, tentu akrab dengan penjelasan tersebut.

Klik tautan berikut untuk mengunduh buku panduan BBM di Android dan BBM di iPhone.
http://tctechcrunch2011.files.wordpress.com/2013/08/bbm_for_android-1-0_user_guide-beta.pdf
http://tctechcrunch2011.files.wordpress.com/2013/08/bbm_for_ios-1-0_user_guide-beta.pdf

Sebelumnya, CEO BlackBerry Thorsten Heins mengumumkan bahwa aplikasi BBM akan rilis pada musim panas waktu Amerika Serikat dan Kanada. Tetapi, ia tak mengungkap tanggal pasti peluncuran aplikasi BBM di Android dan iPhone.

Awal Agustus lalu, perusahaan telah mempersilakan orang-orang terpilih untuk menjajal aplikasi BBM di Android dan iPhone. Pada masa kejayaannya, BBM telah mengubah cara seseorang berkomunikasi secara real-time. BBM memungkinkan pengguna berkomunikasi dengan individu maupun grup. Pengguna dapat mengirim pesan dalam bentuk teks, emoticon, foto, audio, sampai video, termasuk pesan broadcast yang langsung diterima banyak pengguna.

Setiap pengguna BBM akan memilliki PIN dan barcode yang unik. Di profil BBM, mereka dapat mengganti tampilan foto sampai status. Pada masa mendatang, BlackBerry berjanji mendatangkan fitur-fitur baru BBM untuk Android dan iPhone, termasuk Screen Share, BBM Voice, dan BBM Channel. Dengan ini, BBM akan bersaing dengan aplikasi pesan instan lain, seperti WhatsApp, KakaoTalk, Line, WeChat, Skype, Facebook Messenger, MessageMe, Path, sampai Google Hangouts.

Aplikasi pesan instan BlackBerry Messenger atau yang dikenal lewat akronim BBM selama ini selalu menjadi salah satu fitur eksklusif yang hanya tersedia di smartphone BlackBerry.

Namun, eksklusivitas tersebut akan segera hilang begitu BlackBerry merilis aplikasi BBM untuk iOS dan Android pada pertengahan 2013 mendatang melalui toko aplikasi tiap-tiap platform.

Langkah yang mengejutkan ini disebut CEO BlackBerry Thorsten Heins sebagai sebuah “pernyataan percaya diri” perusahaannya. BlackBerry berharap bisa memperluas basis pelanggan BBM dan memonetisasi aplikasi tersebut begitu hal itu tercapai.

Meski bisa membuat BBM menjadi lebih relevan di tengah-tengah meningkatnya popularitas aplikasi pesan instan lintas platform, keputusan tersebut juga berpotensi menjadi bumerang bagi handset BlackBerry.

Larry Magid dari Forbes berpendapat bahwa pengguna BlackBerry yang memakai perangkat tersebut untuk chatting melalui BBM nantinya bisa beralih dengan bebas ke iPhone ataupun ponsel Android karena tak lagi terikat dengan eksklusivitas BBM. Topik ini menjadi perbincangan hangat di kalangan konsumen BlackBerry, termasuk di Indonesia. Sebuah thread yang membahas kemungkinan di atas bahkan terpilih menjadi salah satu “hot thread” di forum komunitas online Kaskus.

Lantaran populer di Indonesia, handset BlackBerry banyak dipakai oleh pengguna dari berbagai kalangan. Smartphone BlackBerry kerap terlihat dalam genggaman, bersama iPhone atau smartphone Android, karena pemiliknya tidak bisa lepas dari kontak BBM yang sudah terlanjur banyak serta hanya bisa diakses dari perangkat BlackBerry.

Kini, dengan dibukanya pintu bagi BBM di iOS dan Android, apa alasan untuk tetap menggunakan ponsel BlackBerry? Satu hal yang paling sering diutarakan adalah demi gengsi.

Biarpun mungkin terkesan bisa menimbulkan blunder, keputusan BlackBerry ini sebenarnya dimaksudkan justru untuk mencegah pengguna BlackBerry beralih ke lain hati. Harapannya, keberadaan BBM di iPhone dan Android bisa mendongkrak popularitas layanan chatting tersebut sekaligus memberi jaringan kontak yang lebih luas bagi pengguna BBM di BlackBerry.

Mengapa baru sekarang?

Lalu kenapa hal tersebut tidak dilakukan sedari dulu? Jim Dawson, kepala analis bidang telekomunikasi lembaga riset Ovum, mengatakan bahwa BlackBerry sudah lama berencana melepas BBM ke Android dan iOS. Hal ini baru menjadi kenyataan setelah dipicu oleh menurunnya basis pelanggan BlackBerry.

Hingga kuartal kedua tahun lalu, jumlah pelanggan BlackBerry secara terus-menerus mencatat peningkatan. Namun semenjak itu, kecenderungan sebaliknya terjadi: jumlah pelanggan BlackBerry berangsur turun dari angka puncaknya sebesar 80 juta.

“Banyak pengguna BlackBerry yang beralih ke platform lain dan oleh karena itu meninggalkan BBM. Nilai aplikasi itu jadi berkurang,” ujar Dawson, seperti dikutip oleh The Verge. “Kalau ditunggu lebih lama lagi, bisa-bisa BBM benar-benar tidak ada artinya. Mereka (BlackBerry) ingin melakukan itu selagi masih ada waktu untuk memanfaatkan basis pengguna BBM.”

BlackBerry mengklaim saat ini terdapat 60 juta pengguna BBM di seluruh dunia. Lebih dari 51 juta orang menggunakan BBM rata-rata 90 menit per hari. Secara keseluruhan, setiap harinya, ada 10 miliar pesan yang dikirim dan diterima pelanggan BBM. BlackBerry mengklaim jumlah ini dua kali lebih banyak dari pesan yang dikirim dan diterima aplikasi pesan instan lain.

Dengan turut hadir di iPhone dan Android, BBM nantinya akan bersaing langsung dengan aplikasi pesan instan lain, seperti WhatsApp, Line, Kakao Talk, ataupun WeChat yang lebih dulu meraih pengguna di kedua platform tersebut. Whatsapp, misalnya, sudah memiliki 200 juta pengguna secara global.

Menurut penjelasan di dalam blog BlackBerry, BBM untuk iPhone dan Android pada awalnya hanya akan memiliki fungsi-fungsi dasar seperti multi-chat serta membuat grup BlackBerry hingga 30 kontak dengan pembagian kalender, foto, dan file. Dukungan voice dan video chat rencananya akan ditambahkan ke BBM versi iOS dan Android pada akhir tahun ini.

In Indonesia buzzers tweet for money

In Indonesia’s capital Jakarta, a buzzer is not an alarm or a bell, but someone with a Twitter account and more than 2,000 followers who is paid to tweet.
Jakarta is the world’s tweet capital and advertisers eager to reach the under-30 crowd are paying popular Twitter users to spread their word through social media, starting at about $21 per tweet.

While celebrity endorsements via Twitter are common worldwide, Indonesia is unusual because advertisers are paying the Average Joes too.

These Twitter “buzzers” send short messages promoting brands or products to their followers, usually during rush hour, 7 to 10 a.m. and 4 to 8 p.m., when Jakarta’s notorious traffic jams create a captive audience with time to scan their mobile phones.

Jakarta has more Twitter users than any other city In the world, according to Semiocast, a social media market researcher, and Indonesia is home to the world’s fourth-largest population, with half the people under 30. All ingredients for a social media marketer’s dream.

“Indonesians love to chat. We love to share. We are community driven as a culture. For us it’s very easy to adopt social media because it is a channel through which we can express our opinions,” said Nanda Ivens, chief operating officer at XM Gravity Indonesia, a digital marketing unit of London-listed advertising giant WPP Group.

For advertisers, using Twitter buzzers is a way to personalise the pitch, connecting someone who may have a special interest in a product with like-minded potential customers. A local photography buff, for example, would be a good target for a camera company.

An effective social media campaign will generate real conversations and genuine endorsements, said Thomas Crampton, Hong Kong-based social media director at advertising firm Ogilvy. But one issue with paid buzzers is that they may be seen as endorsing something only for the money.

“It’s not going to be transparent to the people reading the Twitter feed whether they’re being paid, and that’s not very honest,” said Crampton.

“The followers will see that this guy is for sale. It’s really like talking to a friend. If your friend is being paid to tell you something then a) you wouldn’t consider that person your friend and b) you’re not going to believe them.”

MEASURING SUCCESS

PT Nestle Indonesia, a unit of global food company Nestle SA , counts teenage pop singer Raisa (@raisa6690) and heartthrob actor Nicholas Saputra (@nicsap) among its brand ambassadors. They recently tweeted their experiences at a large Sumatra coffee plantation in a campaign supported by hired buzzers who were retweeting the celebrities’ comments and other sponsored messages from the company.

The challenge is measuring success.

“We do have quantitative measurement, which is the number of followers, the number of likes and the number of clicks,” said Patrick Stillhart, head of the coffee business at PT Nestle Indonesia. “But how do we relate that to brands and sales? There’s left a question mark.”

Stillhart said the company uses social media for more than a dozen brands and about 15 percent of its advertising spending goes to digital media. Apart from Nestle, competitor Unilever Indonesia also followed similar path for their products.

Sometimes things go wrong.

Prabowo (@bowdat), 33, who quit his day job two years ago to scout for buzzers, recalled one cautionary tale about tweets meant to promote an Android product that were sent through a rival BlackBerry or iPhone device. Followers could see the gaffe because tweets often include an automatic tag indicating how the message was posted.

Stand-up comedian Ernest Prakasa (@ernestprakasa) fell afoul of the “twitterverse” last year while promoting the Mini Cooper, a popular car made by BMW Group

“There was a viral video. The idea was, I had to pretend to be locked in a container for several hours and then I escaped with the car. I was asked to act as if I was captured,” said the 30-year-old, who charges advertisers 7 million rupiah ($670) for 10 tweets.

Some of his friends didn’t realise it was an act, and began retweeting he had been kidnapped. They were furious when told it was an advertising gimmick.

“I was cursed at, accused of only trying to create a sensation. I had around 15,000 followers so I didn’t think it could become big. But I also learned that whenever this sort of fiasco happens, stay silent. It won’t last more than two days. Something new will come along and people will forget anyway.”

Safari Menduduki Peringkat Pertama Browser Yang Paling Sering Crash

Performa peramban (browser) buatan Microsoft, Internet Explorer (IE), semakin lama semakin membaik. Bahkan, kemampuan peramban tersebut lebih unggul dibandingkan dua produk populer lainnya.

Kesimpulan tersebut didasari dari hasil pengujian yang dilakukan oleh Sauce Labs, sebuah perusahaan penguji dan pengembang software internet. Sepanjang tahun, mereka menjalankan sekitar 55 juta tes otomatis dari situs web dan aplikasi web. Dari serangkaian uji coba tersebut, Sauce Labs berhasil menyimpulkan peramban mana yang paling sering bermasalah atau crash. Dari penelitian tersebut, seperti dikutip dari ZDnet, Rabu (21/8/2013), terlihat bahwa peramban terbaru milik Apple, Safari 6, merupakan produk yang paling sering crash dengan tingkat error 0,12 persen.

Opera versi 12 merupakan produk berikutnya yang paling sering crash dengan nilai 0,08 persen.

Peramban milik Microsoft pernah begitu dihindari karena memiliki performa yang kurang baik, produk ini sering crash. Namun, dengan berjalannya waktu, Microsoft berhasil menemukan formula terbaik. Performa IE10 jauh meningkat dengan menduduki posisi ketiga daftar tersebut dengan nilai 0,05 persen saja.

Sementara itu, peramban Google Chrome 27 dan Firefox 22 jauh lebih superior dibandingkan produk lain. Chrome 27 hanya mengalami tingkat crash sebanyak 0,01 persen saja dan Firefox bahkan menyentuh angka 0 atau tidak pernah crash dalam pengujian tersebut.

“Chrome 27 dan Firefox 22 secara virtual tidak memiliki angka eror,” kata Lauren Nguyen, Marketing Communications Manager Sauce Labs. IE tetap jawara “crash” Apabila semua versi digabungkan, peramban IE menduduki posisi puncak sebagai produk yang paling banyak crash.

Secara keseluruhan, tingkat rata-rata eror IE adalah 0,25 persen. Nilai tersebut disumbangkan IE6 dengan 0,31 persen, IE7 dengan 0,29 persen, IE8 dengan 0,22 persen, IE9 dengan 0,1 persen, dan IE10 dengan 0,05 persen. Meskipun begitu, Microsoft tetap boleh berbangga hati karena performa dari produk mereka ini semakin membaik. Lihat saja perbandingan jumlah eror antara IE6 dengan IE10 yang mencapai 0,26 persen.

“Microsoft dengan sangat baik menghancurkan sejarah tingkat eror yang tinggi melalui IE 10 dengan tingkat eror yang hanya mencapai 0,05 persen,” kata Nguyen. Safari ada di peringkat kedua dengan 0,15 persen, Opera dengan 0,13 persen, Chrome dengan 0,12 persen, dan Firefox dengan 0,11 persen.