Monthly Archives: May 2012

Google Diminta Menjadi Kata Kerja dan Tidak Menjadi Merek Berpaten Lagi

Kata “Google” atau “googling” identik dengan fungsi search engine di internet dan seringkali diasosiasikan dengan kegiatan mencari informasi.

Di Amerika Serikat, orang sering berkata “just Google it”, saking terbiasanya dengan kata unik itu. Hal ini dijadikan sebagai dasar tuntutan hukum oleh seorang pria asal Arizona, Amerika Serikat, yang menginginkan kata “Google” tidak lagi dinyatakan sebagai merek dagang.

Oleh Google, David Elliott, si pria tersebut, sebelumnya dipaksa menyerahkan hak atas 750 nama domain yang mengandung nama “Google” di dalamnya lewat pengadilan.

Apa pasal? Rupanya Google kurang setuju namanya dipakai dalam ratusan domain bikinan Elliott, contohnya antara lain “googlegaycruises.com” and “googledonaldtrump.com”.

Menurut Elliott, ke-750 domain yang memakai nama Google tersebut diperlukan olehnya untuk menjalankan “bisnis perdagangan, amal, kesehatan dan lain-lain” miliknya.

Elliott pun balik menuntut Google. Dalam tuntutannya Elliott menyatakan bahwa “Google” adalah kata kerja transitif yang maknanya adalah “mencari di internet”, dan karena itu tidak bisa lagi digunakan sebagai merek dagang atau trademark.

Pria ini pun mengutip pernyataan dari American Dialect Society yang mengatakan bahwa Google adalah “kata paling populer dekade ini (word of the decade)”.

Ada juga kutipan dari sebuah laporan yang memuat pernyataan Google bahwa perusahaan itu bisa kehilangan merek dagang atas kata “Google” bila kata yang bersangkutan diterima secara luas sebagai ganti istilah “mencari di internet.”

Sebelum ini, telah terjadi beberapa kehilangan merek dagang akibat kebiasaan konsumen menggunakan kata terkait untuk merujuk pada satu jenis produk yang belum tentu dibuat oleh perusahaan pemegang merek. Contohnya antara lain “Zipper”, “Yo-yo”, dan “Thermos”.

Kata “Google” sendiri pertama kali dijadikan merek dagang pada 1997. Sejak itu Google telah menerima sejumlah sertifikat yang mendukung penggunaan kata tersebut sebagai merk dagang.

Konsumerisasi Menjadi Tantangan Dunia Teknologi Informasi

Dalam salah satu proyeksinya, lembaga riset Gartner mengungkapkan bahwa konsumerisasi akan menjadi tantangan bagi dunia teknologi informasi pada 10 tahun mendatang. Keamanan menjadi faktor yang krusial.

“Kini yang menjadi pembicaraan adalah vendor-vendor seperti Google dan Apple,” kata Business Manager Trend Micro Indonesia, Aulia Fajar Huriadi, saat memaparkan hasil riset di kantor Trend Micro, di The Plaza Office, Jakarta, Selasa, 29 Mei 2012.

Aulia mengatakan konsumerisasi itu selain didorong perkembangan teknologi juga faktor harga perangkat mobile yang semakin terjangkau. Dia mencontohkan bagaimana prosesor quad-core kini sudah bisa dijumpai dalam ponsel cerdas. “Semua itu ada dalam genggaman,” katanya.

Kondisi ini, katanya, membuat perubahan perilaku. Kalau dulu semua terjaga dan terkontrol karena menggunakan desktop kantor, kini secara perlahan menjadi personal. “Kini orang membawa iPad atau Galaxy Tab ke kantor, yang itu juga digunakan untuk bekerja,” katanya.

Aulia mengatakan ada semacam tantangan, antara kebutuhan kantor berhadapan dengan kepentingan personal. “Bagaimana agar kontrol dan keamanan tetap terjaga,” katanya.

Lewat perangkat mobile, baik itu ponsel cerdas maupun tablet, orang kini dengan leluasa mengakses Google, Skype, YouTube, serta menggunakan layanan cloud seperti DropBox. “Ini membuat IT kehilangan kontrol, orang bisa menaruh data di wadah yang bisa saja bocor ke mana-mana,” katanya.

Bagi kawasan Asia Pasifik, konsumerisasi bisa dilihat dari jumlah pelanggan mobile yang mencapai 2,9 miliar pelanggan. Dan pada saat yang sama Trend Micro menemukan ada 5000 aplikasi berbahaya di Android, serta ada 17 aplikasi mobile berbahaya yang sudah diunduh sebanyak 700 ribu kali.

Sejalan dengan tren tersebut, Trend Micro juga akan fokus menggarap segmen konsumen, selain kelas perusahaan yang selama ini menjadi target Trend Micro. “Kami akan memperkuat brand Trend Micro di kelas konsumer,” kata Country Manager dan Regional Director South East Asia Region, David Rohan.

Virus Flame yang Lebih Canggih Dari Stuxnet Serang Instalasi Nuklir Iran dan Israel

Sebuah virus komputer baru yang disebut-sebut paling canggih ditemukan. Virus yang dijuluki Flame ini dilaporkan ditujukan untuk menyerang Iran dan beberapa negara di Timur Tengah.

Terlacak oleh vendor anti virus Kaspersky, virus ini dinyatakan sangat rumit, 20 kali lipat lebih powerful dibanding program cyberwarfare lain yang telah terdeteksi. Termasuk Stuxnet, virus yang pernah bikin heboh karena menyerang fasilitas nuklir Iran.

Karenanya, virus ini hampir dapat dipastikan dibuat pemerintah sebuah negara. Iran sendiri berulangkali menuduh negara barat dan Israel membuat program jahat untuk menyerang mereka. Selain Stuxnet, program jahat lain yang pernah menerjang Iran adalah Duqu.

Flame punya kemampuan canggih. Seperti mengumpulkan data rahasia, mengubah setting komputer secara remote, menghidupkan mikrofon komputer untuk merekam pembicaraan, mengambil screenshot dan mengkopi pembicaraan di instant messaging.

Kapsersky sendiri minta bantuan untuk memahami virus ini. Mereka mengatakan kode virus 20 kali lipat ukuran kebanyakan software program jahat. Virus ini sejatinya sudah beredar sejak 5 tahun lampau dan menginfeksi komputer di Iran, Israel, Sudan, Syria, Libanon, Arab Saudi serta Mesir.

“Jika Flame tidak ditemukan selama lima tahun, kesimpulan logisnya adalah ada operasi lain yang sedang berlangsung yang tidak kami ketahui,” kata Roel Schouwenberg, periset sekuriti senior Kaspersky.

Profesor Alan Woodward dari jurusan ilmu komputer University of Surrey membenarkan kerumitan virus Flame. Program jahat ini bisa menggaet informasi dengan mengkopi ketikan di keyboard dan suara orang di sekitar.

“Virus ini tidak dibuat oleh remaja di kamarnya. Virus ini besar, kompleks dan ditujukan untuk mencuri data sambil tetap tersembunyi dalam waktu lama,” jelasnya dikutip dari Telegraph, Selasa (29/5/2012).

Benchmark: Laptop AMD Trinity vs Intel Ivy Bridge

Nuansa persaingan di ranah komputer jinjing atau laptop semakin kental setelah AMD merilis prosesor mobile seri A-10 yang dikenal dengan kode nama “Trinity”.

Beberapa situs teknologi telah membandingkan prosesor untuk laptop tipis AMD “Ultrathin” ini dengan tawaran sejenis dari Intel, populer dipanggil “Ivy Bridge”, yang digunakan pada laptop tipis “Ultrabook”.

Seperti yang dilaporkan oleh PCWorld, hasil perbandingan kedua prosesor untuk laptop tipis itu ternyata cukup beragam.

Dari sisi kinerja keseluruhan, tampaknya Trinity belum bisa menyamai Ivy Bridge. Seperti bisa dilihat dari grafik di bawah yang diambil dari situs Anandtech.com, andalan AMD ini tertinggal cukup jauh, bahkan jika dibandingkan dengan jagoan Intel sebelumnya, “Sandy Bridge”.

Dalam grafik, tampak Ivy Bridge (Core i7-3720QM pada laptop Asus N56VM) memduduki posisi teratas. Meski demikian, Trinity masih lebih kencang dari pendahulunya, prosesor AMD seri A-8 yang dikenal dengan nama “Llano”.

Trinity bersinar ketika dipakai untuk main game. Dalam hal ini, GPU Radeon seri HD 7000 yang tertanam di dalamnya berhasil mengalahkan pemroses grafis Intel HD 4000 pada Ivy Bridge sehingga Trinity mampu menjalankan game dengan lebih mulus.

Secara keseluruhan Trinity lebih kencang sekitar 20 persen dibandingkan Ivy Bridge ketika dipakai bermain game, berdasarkan pengujian terhadap 15 judul game di atas.

Soal daya tahan baterai, menurut situs Anandtech, Trinity (A-10 4600M, Quad Core) sanggup bertahan selama hampir 7 jam ketika dipakai berselancar di internet.

Angka tersebut cukup bagus dan lebih baik dari pendahulunya, Llano, yang mencatat angka 6 jam, serta Ivy Bridge (Core i7-3720QM, Quad Core) yang membukukan 5 jam.

Jadi, mana yang lebih baik? Tergantung kebutuhan. Untuk mereka yang menginginkan kinerja maksimal, laptop tipis dengan prosesor Intel Corei7 (Ivy Bridge) tidak tertandingi.

Akan tetapi, bagi penggemar game atau mereka yang membutuhkan daya tahan baterai yang tinggi, laptop tipis dengan prosesor AMD seri A-10 (Trinity) bisa menjadi pilihan menarik.

AMD Luncurkan Prosesor Trinity Untuk Saingi Kehebatan Ivy Bridge Intel

Setelah sibuk dengan pengembangannya, AMD kini telah memiliki prosesor generasi kedua yang mengutamakan konsumsi daya rendah dan grafis terintegrasi yang bertenaga. Prosesor A-Series APU (accelerated processing unit, gabungan dari CPU dan pengolah grafis) berkode nama “Trinity” tersebut digadang-gadang menjadi lawan bagi prosesor seri “Ivy Bridge” dari Intel, rival utama AMD dalam industri mikroprosesor.

Seperti Ivy Bridge, Trinity memiliki hingga empat inti prosesor dan dilengkapi dengan unit pemroses grafis terintegrasi. Unit grafis Trinity menggunakan arsitektur Northern Islands yang juga diimplementasikan pada kartu grafis Radeon seri HD 6000 dari AMD. Berkat pemroses grafis terintegrasi itu, AMD mengklaim bahwa Trinity mampu memberikan pengalaman bermain game yang lebih baik pada pengguna.

“Trinity bisa memutar video HD 1080p, dan menjalankan game di angka 30 frame per detik,” ucap Sasa Markinkovic, kepala pemasaran produk desktop dan software AMD, seperti dikutip dari Cnet.

Angka 30 frame per detik adalah standar minimal agar game bisa dijalankan dengan mulus.”Ivy Bridge memang memberi kemajuan dalam hal olah grafis, tapi kinerjanya masih belum cukup untuk bermain game HD.” Adapun inti prosesor Trinity mengadopsi arsitektur “Piledriver” yang menggunakan teknologi penghematan daya bernama “resonant clock mesh technology”. Teknologi ini memungkinkan Trinity mendaur ulang sebagian energi listrik yang digunakannya selama beroperasi.

Hasilnya, konsumsi daya Trinity bisa ditekan hingga 17 watt, atau hanya setengah dari angka yang dicatat pendahulunya, Llano. Karena hemat daya, baterai laptop yang menggunakan prosesor inipun diklaim bisa bertahan sampai 12 jam. Rencananya, produk-produk komputer yang menggunakan prosesor ini akan mulai dipasarkan bulan Juni. Laptop super-tipis atau biasa disebut “ultrabook” memang menarik, tetapi juga cukup menguras kantong. Menanggapi hal tersebut, AMD mengambil langkah berbeda dengan menawarkan produk yang lebih murah dari kompetitor.

Seperti dilansir oleh Reuters, Chief Executive AMD Rory Read mengatakan bahwa Intel terlalu menganggap tinggi kesediaan konsumen untuk membayar mahal demi mendapat laptop kelas atas. AMD berencana untuk menjual laptop tipis yang menggunakan chip Trinity buatannya -yang disebut sebagai laptop “Ultrathin”- dengan harga kisaran US$ 600 atau sekitar 6 juta-an rupiah. Angka tersebut kurang lebih sama dengan harga laptop konvensional yang berukuran tebal, dan jauh lebih murah dibandingkan Ultrabook.

Meskipun memiliki beberapa kelebihan seperti prosesor yang bertenaga dan bentuk tipis, Laptop dari jenis “Ultrabook” yang dipromosikan oleh Intel dipatok dengan harga cukup tinggi, mencapai kisaran belasan juta rupiah.

“Ini adalah sebuah kesempatan untuk mengambil keuntungan dari peluang yang diciptakan oleh orang (kompetitor) lain,” ucap Read. Lebih jauh, Read mengatakan bahwa Intel mematok harga yang terlalu tinggi untuk bisa meraih angka 40% dari seluruh volume penjualan laptop, seperti yang ditargetkan oleh raksasa chip tersebut bagi ultrabook. “Peluang justru ada di pasar mainstream,” tandasnya.

Ultrabook adalah istilah yang digunakan Intel untuk menyebut jenis laptop super-tipis yang dilengkapi fitur-fitur kelas atas seperti cangkang berbahan metal dan Solid State Disk.

Kehebatan Prosesor Intel Ivy Bridge Dalam Notebook Ultrabook … Ada Juga Versi Celeronnya

Laptop tipis mungkin adalah kategori komputer mobile yang paling menarik karena ringan dan tidak memakan tempat. Selama beberapa waktu lalu, Intel menjadi satu-satunya produsen prosesor yang menyediakan platform laptop tipis bernama Ultrabook. Keadaan itu belakangan berubah dengan turut masuknya kompetitor ke segmen laptop tipis degan mengusung nama selain Ultrabook.

Menanggapi hal tersebut, Chief Representative Intel Indonesia, Santhosh Viswanathan mengatakan bahwa laptop tipis buatan Intel tetap lebih unggul dari pesaingnya. “Ultrabook tak sekadar tipis, banyak elemen-elemen lain dalam laptop tipis Intel yang tidak bisa ditiru oleh pesaing,” katanya. “Boleh-boleh saja mereka bisa bikin yang tipis, tapi (laptop tipis) punya kami bukan hanya tipis, tapi juga kencang.”

Salah satu keunggulan Ultrabook dibanding laptop tipis pesaingnya yang mendapat penekanan khusus dari Santhosh adalah kecepatan respon (responsiviness) yang dikatakan sangat cepat. Teknologi Rapid Start dan Smart Response pada Ultrabook diklaim memberikan waktu loading sistem operasi yang nyaris instan dari kondisi “Hibernate” dan meningkatkan performa sistem keseluruhan. “Ini hanya tersedia pada Ultrabook,” imbuhnya

Ultrabook berbasis prosesor “Ivy Bridge” juga dikatakan dibekali dengan kemampuan Smart Connect yang memungkinkan komputer tetap menerima e-mail walaupun sedang dalam modus “Hibernate”. Ketika ingin memakai komputer. “Jadi pengguna tak perlu menunggu e-mail masuk begitu ingin menggunakan komputer,” jelas Santhosh.

Soal harga, Intel mematok harga cukup tinggi untuk Ultrabook yang bisa mencapai kisaran belasan juta rupiah sehingga memunculkan celah untuk pesaing di segmen harga lebih rendah. Belakangan, raksasa chip ini juga dikabarkan berencana membuat Ultrabook dengan harga yang lebih bersahabat untuk konsumen. Selain pada Ultrabook, menurut Santhosh, di Indonesia Intel akan mendorong penggunaan prosesor Ivy Bridge untuk komputer desktop.

Varian quad-core Ivy Bridge disebutnya sudah bisa diperoleh pada akhir Mei, semenatara model dual-core akan menyusul “beberapa bulan kemudian”, kemungkinan pada bulan Juni tahun ini.Meski tipis dan ringan, laptop jenis “Ultrabook” masih belum terlalu diminati karena harganya kelewat mahal untuk kantong konsumen, terutama di Indonesia.

Namun, hal itu akan segera berubah karena Ultrabook versi murah sedang disiapkan. Intel, raksasa mikrochip yang gencar mempromosikan Ultrabook, akan meluncurkan prosesor Celeron Ultra-Low-Voltage (ULV) tipe 877 dan 807 yang masing-masing dihargai 86 dan 70 dollar Amerika. Jauh lebih murah dibandingkan prosesor Core i7-3720QM seharga 378 dolar yang digunakan oleh Ultrabook kelas atas.

Prosesor Intel Celeron 807 menggunakan satu inti yang bekerja pada kecepatan 1,5 GHz, sementara Celeron 877 adalah prosesor berinti ganda (dual-core) berkecepatan 1,4 GHz. Embel-embel “ULV” pada kedua prosesor baru tersebut mengacu pada konsumsi daya rendah yang disebut hanya sebesar 17 watt. Keduanya memiliki basis arsitektur “Sandy Bridge” dan dibuat dengan proses fabrikasi 32 nm.

Dengan prosesor-prosesor murah ini, para produsen pun bisa menekan harga Ultrabook hingga 700 dollar AS atau sekitar Rp 6,5 juta saat produk laptop dengan dua prosesor tersebut dijadwalkan meluncur pertama kali pada kuartal ketiga tahun ini. Pada akhir 2012 atau awal 2013, kisaran harganya bisa mencapai 600 dollar AS atau sekitar Rp 5,5 juta.

Lebih jauh, Intel juga dikabarkan sedang mendorong penggunaan baterai jenis baru untuk Ultrabook demi menekan harga. Salah satunya adalah baterai prismatic lithium-ion yang berbentuk tipis dan sudah digunakan oleh Lenovo dalam jumlah terbatas di Ultrabook IdeaPad 530 miliknya. Di segmen laptop murah, Intel menghadapi persaingan dari AMD yang mengusung prosesor seri A-10 “Trinity” lewat laptop tipis “Ultrathin”. Laptop Ultrathin disebut-sebut akan dijual dengan harga kisaran 600 dolar Amerika.

Para produsen komputer dikabarkan bakal ramai-ramai memamerkan Ultrabook dengan prosesor Intel Ivy Bridge di ajang pameran produk elektronik Computex 2012, di Taiwan, awal Juni 2012. Kabar ini datang dari situs teknologi asal Taiwan, Digitimes, yang mendapat informasi dari sumber yang ikut menyelenggarakan Computex.

Disebutkan, Ultrabook pertama dengan prosesor Intel Ivy Bridge akan muncul setelah Intel mulai mengirimkan prosesor generasi ketiga itu satu bulan sebelumnya. Intel memang menjanjikan pengapalan massal Ivy Bridge akan dimulai pada kuartal kedua 2012. Kabarnya, prosesor Ivy Bridge dengan model Core i5 akan segera diadopsi oleh dua produsen asal Taiwan, yakni Acer dan Asus.

Intel Ivy Bridge dengan proses produksi 22 nano meter (nm) ini akan menggantikan prosesor Intel dengan nama kode Sandy Bridge. Grafis pada prosesor ini juga ditingkatkan, serta mendukung Microsoft DirectX 11. Intel mengklaim, performa Ivy Bridge lebih cepat 20% ketimbang Sandy Bridge, sedangkan performa grafisnya lebih cepat 60%.

Selain Intel, Microsoft juga diprediksi akan membahas rincian lebih lanjut seputar sistem operasi Windows 8 di Computex. Besar harapan pula, Microsoft akan menjelaskan tentang Windows 8 untuk perangkat tablet dengan prosesor berarsitektur ARM. Computex 2012 akan menjadi tempat 1.800 peserta memamerkan produk terbaik mereka di 5.400 gerai yang disediakan. Pameran komputer terbesar di Asia itu akan diselenggarakan pada 5-9 Juni 2012.

Google Didesak Untuk Atasi Peredaran Software Bajakan Milik Microsoft

Google menerima banyak komplain terkait dengan maraknya website yang diyakini memfasilitasi praktek download ilegal, terutama yang menyasar produk Microsoft. Komplain tersebut melaporkan banyaknya praktik pembajakan pada material yang diproduksi perusahaan hiburan.

Dikutip dari Economic Times, Jumat (25/5/2012), mereka yang melaporkan tentunya berharap penegakan hukum yang lebih tegas terhadap praktik pembajakan online.

Pembajakan yang kian merajelela ini terlihat pada data terbaru yang dirilis Google. Adapun tujuan dirilisnya data ini adalah memberikan pemahaman yang lebih baik akan penyalahgunaan properti intelektual di internet.

Laporan yang diterima Google sejak Juli 2011 tersebut meminta sang raksasa internet menghapus konten yang melanggar hak cipta dari indeks mesin pencarian.

Berkenaan dengan Microsoft, tercatat ada lebih dari 2,5 juta komplain yang meminta Google menghapus link yang melanggar hak cipta raksasa software tersebut. Microsoft sendiri memang telah lama mengadukan praktik download ilegal software besutannya.