Category Archives: Kamera

Z Camera E1 Kamera Mirrorless Terkecil

Rata-rata kamera mirrorless memang lebih kecil dibandingkan saudaranya, DSLR tradisional. Tapi yang satu ini ukurannya terbilang sangat mungil sambil tetap mempertahankan fitur-fitur teranyar, seperti perekaman video 4K. Sebagaimana dirangkum dari PetaPixel, Rabu (22/7/2015), kamera bernama E1 besutan perusahaan Z Camera yang diperkenalkan akhir minggu lalu itu pun diklaim sebagai “Mirrorless 4K” terkecil di dunia.

Besarnya kurang lebih sama dengan kamera aksi GoPro. Bentuknya yang nyaris persegi juga mirip. Bedanya, E1 dibekali sensor yang lebih besar (micro four thirds, 16 megapixel) sehingga menjanjikan kualitas gambar lebih bagus dan lensanya bisa digonta-ganti.

Jumlah lensa micro four thirds yang bisa dipasangkan ke E1 mencapai 60 buah dari segala jenis, mulai ultra wide, fish-eye, hingga super tele dan macro, termasuk lensa-lensa bikinan Panasonic dan Olympus yang juga tergabung dalam konsorsium Four Thirds. E1 sendiri mampu merekam video 4K (4096×2160) dengan frame rate 24 FPS atau video ultra-HD (3840×2160) dengan frame rate 30 FPS.

Dengan rentang sensitivitas hingga ISO 102.400 dan teknologi noise filtering 3D baru, ia dijanjikan bisa menghasilkan jepretan low-light yang “luar biasa”. Spesifikasi lain termasuk layar LCD 2,5 inci di bagian belakang, baterai yang bisa bertahan selama 45 menit untuk merekam video 4K, Bluetooth, serta WiFi untuk koneksi dengan smartphone Android atau iOS. Contoh hasil jepretan Z Camera E1 bisa dilihat di tautan berikut. Adapun sample video 4K hasil rekamannya tersedia

Nikon Luncurkan Kamera DSLR Pemotret Bintang

Nikon akhirnya resmi mengumumkan kamera Digital Single Lens Reflex (DSLR) D810A terbarunya pada Selasa, (10/2/2015). Pembuat kamera asal Jepang itu merancang kamera DSLR ini dengan kemampuan memotret bintang.

Nikon D810A merupakan modifikasi dari D810 yang sudah beredar di pasaran. Bagi Nikon, ini merupakan kamera full frame pertama yang dibuat dengan tujuan memotret bintang serta galaksi.

Nikon D810 yang digunakan sebagai acuan kamera pemotret bintang ini merupakan seri full frame Nikon dengan kekuatan sensor 36 megapiksel. Kekuatan ini untuk sementara waktu sempat jadi yang terbesar di kelasnya. Hanya saja kamera ini adalah kamera biasa yang harus mendapat banyak tambahan agar bisa dipakai untuk memotret bintang.

Nikon D810A punya sensor serupa yang kekuatannya 36 megapiksel. Bedanya adalah keberadaan filter inframerah khusus yang membuatnya empat kali lipat lebih sensitif terhadap pancaran cahaya dari bintang dan galaksi.

Bintang-bintang dan galaksi memang punya pancaran cahaya berbeda dibanding dengan objek lain di Bumi. Benda antariksa itu mengeluarkan cahaya H-alpha (hidrogen alpha). Cahaya H-alpha tersebut merupakan cahaya yang terbentuk karena keberadaan hidrogen dalam objek yang diamati.

Filter optik khusus yang ada dalam D810A berguna untuk mempermudah penggunanya memotret cahaya tersebut, sehingga warna Nebula atau galaksi Bima Sakti bisa terlihat dengan lebih jelas.

Dikutip dari The Verge, selain membekali D810A dengan filter khusus, Nikon juga menyematkan sejumlah fitur yang menunjang pemotretan bintang. Diantaranya adalah opsi long-exposure manual mencapai 900 detik.

Namun Nikon memperingatkan agar tidak menggunakan kamera ini untuk pemotretan sehari-hari, seperti landscape atau portrait. Masalahnya, jika D810A digunakan untuk memotret dalam kondisi cahaya yang mengandung gelombang infra-merah, hasil pemotretan akan dipenuhi warna merah.

Canon Resmi Luncurkan DSLR 50 Megapiksel

Setelah marak dirumorkan, Canon akhirnya mengumumkan secara resmi kehadiran kamera DSLR 50 megapiksel besutannya pada Jumat (6/2/2015). Tak tanggung-tanggung, Canon langsung merilis dua kamera DSLR dengan sensor full frame berkekuatan 50 megapiksel, yaitu EOS 5DS dan 5DS R. Seperti dikutip Forbes, Jumat (6/2/2015), keduanya identik dalam hal bentuk tubuh. Perbedaannya hanya dapat dirasakan dari bagian dalam saja.

Canon EOS 5DS memiliki filter low-pass yang bertengger di depan sensor kamera tersebut. Sedangkan, EOS 5DS R tidak memiliki filter low-pass. Tujuan keberadaan filter tersebut adalah menekan efek Moire dengan cara sedikit “memburamkan” gambar digital yang ditangkap.

Soal spesifikasi, Canon membekali 5DS dan 5DS R dengan prosesor Dual DIGIC 6, sistem fokus otomatis pada 61 titik, mode crop 1,3x dan 1,6x, ISO 100-6400 dan intervalometer (untuk memotret timelapse). Ada juga fitur pengambilan gambar hingga 5fps dan format RAW ukuran small serta medium.

Kedua kamera tersebut sama-sama dibuat berdasarkan rancangan 5D Mark II. Tata letak pengendalian, sisi ergonomisnya sampai soal weather sealing mengikuti pendahulunya itu. Canon juga menyelipkan suatu modifikasi untuk meredam getaran internal saat cermin dalam tubuh EOS 5DS dan 5DS R bergerak membuka.

Canon rencananya akan mulai mengapalkan kedua kamera tersebut pada Juni 2015 mendatang. EOS 5DS bakal dibanderol 3.999 dollar AS atau sekitar Rp 50,3 juta, sementara EOS 5DS R akan dibanderol 4.299 dollar AS atau sekitar Rp 54 juta.

Efek Moire
Efek moire adalah visual tak dikehendaki yang biasanya muncul ketika sensor menangkap obyek dengan detail halus berjumlah banyak dan merata; misalnya pola jahitan benang pada baju. Bentuknya biasanya berupa pola bentuk gelombang yang aneh.

Filter low pass tersebut bisa jadi kelemahan atau kelebihan sebuah kamera, tergantung pada penggunanya. Umumnya, kamera dengan filter low-pass akan lebih menguntungkan bagi mereka yang memotret objek sehari-hari. Alasannya karena objek sehari-hari, seperti pakaian, bangunan-bangunan, atau rambut pada potret seseorang cenderung rentan terhadap efek moire.

Sementara, pemotret landscape akan merasa keberadaan filter ini tidak menguntungkan. Efek moire jarang sekali terjadi pada objek alam. Masalahya adalah pemotret landscape membutuhkan detil yang jernih, sementara keberadaan filter low pass cenderung memburamkan detil foto untuk mengurangi efek moire.

Review dan Spesifikasi Kamera Saku Samsung NX Mini

Kamera saku yang benar-benar mungil biasanya harus berkompromi di sektor kualitas gambar. Dengan NX Mini, Samsung berambisi untuk menghadirkan kamera mungil yang memiliki hasil foto menawan. Berhasilkah Samsung? Dengan ketebalan bodi (tanpa lensa) yang hanya 23mm, NX Mini memang sesuai dengan namanya. Meskipun tipis, NX Mini cukup nyaman dipegang. Untuk menjaganya agar lebih stabil, kami menganjurkan Anda menggunakan wrist strap.
samsung nx mini belakang

Di bagian belakang, Anda akan menemukan layar sentuh putar 3 inci dengan resolusi 460K yang cukup standar untuk ukuran kamera modern. Tombol-tombol fungsinya berukuran cukup mungil tapi cukup akurat saat ditekan.
Mengandalkan layar sentuh

Untuk mengatur berbagai fungsi, Anda tetap harus menggunakan menu di layar sentuhnya. Untungnya berbagai elemen menu di NX Mini berukuran cukup besar sehingga amat jelas saat dioperasikan. Namun ini berarti Anda harus melihat ke layar saat harus mengubah beberapa fungsi yang tidak dapat diatur oleh tombol fisiknya.

Menggunakan NX Mini untuk memotret ternyata amat menyenangkan. Anda tinggal menyelipkannya di saku celana atau jaket dan langsung mengeluarkannya untuk memotret. NX Mini dapat menyala dengan cukup cepat, apalagi dengan lensa fix 9mm yang ada di unit tes kami. Fokus dapat ditemukan dengan cepat saat kondisi cahaya ideal. Sayangnya saat digunakan dalam kondisi minim cahaya, ada beberapa kasus kamera sulit menemukan fokus.

Hasil foto melebihi ukurannya. Dengan ukuran sensor 1″ yang lebih besar dari kamera saku biasa, hasil foto NX Mini tergolong amat baik. Saturasi dan kontras warna yang dihasilkan cukup cemerlang dan menawan. Ketajaman lensa 9mm bawaannya juga cukup baik. Kualitas gambar pada setting ISO tinggi cukup baik, setidaknya hingga ISO 1600. Di atas itu, noise akan terlihat jelas di foto apalagi dalam pencahayaan kurang ideal.

Yang perlu diperhatikan, mengingat ukuran fisiknya yang mungil, sedikit guncangan sering membuatnya menghasilkan foto yang tidak tajam dan kabur. Masalah ini dapat diatasi dengan mudah menggunakan mode continuous shot.
Berikut hasil foto Samsung NX Mini tanpa proses penyuntingan.

Cocok untuk selfie. Salah satu fitur andalan NX Mini adalah Selfie Mode. Cara memakainya amat mudah. Cukup putar layarnya sehingga menghadap ke subyek. Tekan tombol shutter dan kamera akan langsung memotret dalam mode timer. Jadi tidak perlu repot mengatur atau berganti mode pemotretan untuk mengambil foto diri. Sayangnya, jika tangan yang memegang kamera kurang stabil, maka hasil foto selfie akan kabur.

Fitur menarik lainnya adalah adanya konektivitas Wi-Fi dan NFC. Saat dicoba, memindahkan foto dari kamera ke tablet atau smartphone Android bisa dilakukan dengan cepat dan mudah menggunakan aplikasinya. Baterai tahan lama Daya tahan baterai juga menjadi andalan Samsung NX Mini. Walaupun ukuran fisiknya kecil, kamera ini mampu memotret hingga 600 foto sebelum harus diisi ulang. Ini jauh di atas rata-rata kamera saku yang hanya dapat bertahan setelah sekitar 200 foto saja.

Satu hal yang perlu diperhatikan, NX Mini menggunakan mount lensa yang baru. Ini berarti ketersediaan lensanya masih amat terbatas. Anda dapat menggunakan lensa untuk mount NX, tapi dengan bantuan adapter yang dijual terpisah. Konsep NX Mini sendiri amat menarik. Paduan ukuran ringkas dan foto berkualitas merupakan resep ampuh untuk menarik peminat fotografi, terutama selfie.

Kesimpulan
Harganya yang berkisar di Rp5,5 juta, termasuk kompetitif di kelasnya untuk sebuah kamera mirrorless. Bagi yang gemar selfie atau sekedar membutuhkan kamera mungil dengan hasil oke, Samsung NX Mini layak dipertimbangkan.

+ Hasil foto amat baik untuk kelas harganya
+ Daya tahan baterai amat panjang
+ Konektivitas ke perangkat lain mudah
+ Responsif dan nyaris tanpa lag
+ Harga kompetitif
+ Desain menarik dengan warna segar
+ Layar putar amat berguna
+ Selfie Mode memudahkan untuk selfie

Yang kurang:
– Tombol kecil
– Pilihan lensa terbatas
– Ukuran kecilnya membuatnya mudah goyang
– Kualitas tampilan biasa saja

Spesifikasi Samsung NX Mini
Sensor BSI-CMOS 1 inci 21 megapixel
Layar LCD TFT 3 inci, dapat diputar hingga 180 derajat (460.800 pixel)
Mount Samsung NX-M (2,7x focal length multiplier)
Video Full HD 1080p MPEG-4, H.264
ISO: “160-12800 (dapat diperluas antara 100-25600)”
Scene mode Beauty Face, Best Face, Landscape, Macro, Action Freeze, Rich Tone, Panorama, Waterfall, Silhouette, Sunset, Night, Firework, Light Trace, Continuous Shot, Kids Shot, Food, Parties dan Indoors
Autofocus Contrast Detect (sensor), Multi-area, Center, Selective single-point, Single, Continuous, Touch. Face Detection, Live View
Titik Fokus 21 titik
Memori microSD/microSDHC/microSDXC
Koneksi 802.11b/g/n, NFC, USB 2.0, HDMI
Bobot 196 gram (termasuk baterai)
Dimensi 110 x 62 x 23 mm

Canon Dorong Fotografer Untuk Beli Lensa Minimal 3 Buah Agar Bisa Disebut Kreatif

Produsen kamera digital masih menyimpan optimisme di tengah meledaknya penjualan ponsel berkamera. Canon, misalnya, hendak mendorong pemilik kamera digital DSRL agar memiliki tiga jenis lensa berbeda. “Soalnya, mungkin masih ada yang hanya memakai lensa standar saja dan belum explore. Padahal ada banyak kemungkinan kreatif yang bisa dicoba dengan jenis lensa berbeda,” kata Merry ketika ditemui usai acara jumpa pers Canon PhotoMarathon 2014 di Jakarta, Kamis (11/9/2014).

Merry mengacu pada sebagian pengguna DSLR yang hanya menggunaan lensa bawaan (kit) saja, misalnya 18-55mm f/3.5-5.6 yang banyak dibundel dengan kamera Canon. Adapun dua jenis lensa lain yang dimaksudnya adalah lensa tele dengan jangkauan focal length panjang dan lensa ultrawide atau makro.

“Banyak fotografer kini mungkin bisa dibilang memiliki dua setengah lensa, maksudnya punya lensa standar, tele, dan masih memilih antara lensa makro atau ultrawide. Ke depannya kami ingin mendorong mereka agar memiliki tiga lensa itu, karena masing-masing lensa ada fungsinya,” lanjut Merry.

Lensa tele, menurut Merry, bisa digunakan untuk memotret obyek-obyek dari jarak jauh sehingga ideal untuk aplikasi seperti fotografi olahraga. Sebaliknya, lensa makro bisa memfoto dari jarak sangat dekat dan ultrawide sanggup mencakup bidang pandang yang lebar dalam sebuah frame.

“Banyak sekali peluang kreativitas yang bisa dibuka dengan tambahan lensa tersebut. Kami ingin mendorong fotografer agar bukan hanya menjepret foto, tapi juga mengembangkan kreativitas,” ujar Merry lagi.

Sedikit kamera, banyak lensa
Himbauan terhadap fotografer untuk mengembangkan koleksi lensa itu tak lepas dari upaya Canon untuk mendorong bisnis di segmen terbesar DSLR, yakni segmen entry-level. Ibarat piramid, Merry mengatakan bahwa segmen entry-level yang berada di bagian “dasar” menyumbang volume penjualan terbesar dengan kontribusi yang disebutnya berkisar di angka 80 persen.

Segmen DSLR entry level yang dimaksud Merry mencakup model-model kamera seperti EOS 1200D hingga EOS 700D. Model berikutnya dalam hierarki Canon, EOS 70D, sudah termasuk segmen menengah. Adapun posisi teratas diduduki kamera profesional seperti seri EOS 1DX

“Banyak pengguna di segmen ini hanya memiliki satu lensa. Sebaliknya, di segmen atas seperti pemilik seri EOS 1DX, kameranya mungkin sedikit tapi punya banyak lensa. Tapi segmen ini volume penjualannya kecil, mungkin hanya satu persen,” pungkasnya.

Canon Luncurkan Kamera EOS 7D Mark II Dengan Harga Murah

Pertama kali diperkenalkan di pameran fotografi Photokina, Cologne, Jerman, September lalu, Canon EOS 7D Mark II kini telah resmi memasuki Indonesia. Berdasarkan keterangan tertulis yang diterima, Senin (20/10/2014), PT Datascrip selaku distributor eksklusif produk-produk Canon membanderol kamera DSLR kelas semi profesional itu seharga Rp 20,7 juta untuk versi body-only.

Tersedia juga versi kit dengan lensa EF-S 18-135mm f/3.5-5.6 dan lensa EF-S 15-85 f/3.5-5.6 yang masing-masing dihargai Rp 25,25 juta dan Rp 29 juta. EOS 7D Mark II adalah kamera DSLR dengan sensor APS-C terbaru dari Canon. Produk ini meneruskan tongkat estafet dari model sebelumnya, EOS 7D yang dirilis lima tahun lalu pada 2009.

Menunjang fungsinya sebagai kamera untuk menangkap aksi cepat, EOS 7D Mark II dibekali sejumlah kemampuan baru, seperti burst rate 10 FPS dengan dukungan dua chip pengolah gambar DiGiC 6, rating ketahanan shutter hingga 200.000 jepretan, dan sistem AF 65-titik yang kesemuanya dari jenis cross type.

Di samping itu, EOS 7D Mark II turut mengusung teknologi autofokus Dual Pixel CMOS AF untuk menjaga kesinambungan fokus ketika merekam video (hingga full-HD 1080p). Ada pula dua slot kartu memori yang masing-masing mendukung kartu memori jenis compact flash dan SD, dukungan koneksi USB 3.0, serta weather shielding yang memberikan ketahanan terhadap cuaca. Sensor pada kamera ini beresolusi 20,2 megapixel dan memiliki rentang sensitivitas ISO100-16.000. EOS 7D Mark II rencananya akan mulai dijual pada akhir November mendatang.

Setelah rumornya lama beredar, akhirnya DSLR EOS 7D Mark II resmi diperkenalkan oleh Canon. Kamera ini merupakan penerus dari produk sebelumnya, EOS 7D, yang telah beredar selama kurang lebih 5 tahun di pasaran. EOS 7D Mark II yang duduk di posisi teratas jajaran kamera DSLR APS-C Canon ditujukan untuk fotografer penyuka “aksi cepat” semacam olahraga dan kompetisi balap, juga videografer yang gemar memakai DSLR untuk memproduksi karya.

Untuk mendukung fungsinya itu, sebagaimana dirangkum oleh PetaPixel, Canon melengkapi EOS 7D Mark II dengan berbagai fitur baru. Salah satunya adalah sistem AF yang kini memiliki 65 titik fokus (semuanya tipe cross) dan burst rate mencapai 10 FPS. Shutter EOS 7D Mark II kini lebih tahan lama dengan rating sebanyak 200.000 jepretan. Seperti pendahulunya, kamera ini memiliki ketahanan terhadap cuaca (weather sealed).

Sensor EOS 7D Mark II memiliki resolusi 20 megapixel dan turut dibekali dengan teknologi Dual Pixel AF yang pertama diperkenalkan lewat EOS 70D. Sensor dengan rentang ISO hingga 51.200 itu dipasangkan dengan dua buah prosesor gambar Digic 6. Bagian layar memiliki diagonal 3 inci, dengan resolusi 1,04 megapixel. Kelengkapan lain mencakup intervalometer untuk pemotretan time-lapse, GPS built-on, dan sistem metering 150.000 pixel RGB + IR 252-zona.

EOS 7D Mark II mampu merekam video full-HD (1920×1080) 60 FPS dalam format MP4 atau MOV. Pengguna bisa menyalurkan video uncompressed melalui port HDMI ke perekam eksternal. Jack mikrofon dan headphone turut disediakan untuk merekam dan memantau suara. Akan tetapi, tak sejalan dengan trend yang belakangan mengemuka di industri kamera, fitur Wi-Fi absen dari EOS 7D Mark II. Pengguna yang menginginkan fungsi ini mesti membeli transmitter WFT-E7A versi 2 yang dijual terpisah.

Canon EOS 7D Mark II dijadwalkan mulai memasuki pasar pada November mendatang dengan harga 1.800 dollar AS atau sekitar Rp 21,6 juta untuk versi body only dan 2.150 dollar AS atau sekitar Rp 25,7 juta untuk varian kit dengan lensa EF-S 18-135 f/3.5-5.6 IS STM.

SanDisk Jual SD Card Kapasitas 512 GB Seharga 11 Juta Rupiah

Kartu memori jenis SD Card dengan kapasitas penyimpanan 512 GB sudah diproduksi oleh SanDisk. Kartu penyimpanan flash yang diklaim memiliki kapasitas terbesar di dunia itu kini juga mulai dipasarkan di Indonesia.

Acara peluncuran SanDisk Extreme PRO SDXC 512 GB berlangsung di Jakarta, Selasa (30/9/2014). Menurut Idris Effendi, Country Manager, SanDisk Corporation, SanDisk mencoba mendorong batas-batas teknologi untuk memberikan konsumennya solusi inovatif.

Dengan memberikan kartu SD kapasitas terbesar, SanDisk berharap bisa memenuhi kebutuhan profesional industri yang memerlukan, seperti industri perekaman video Ultra High Definition (3840x2160p) atau disebut 4K. Selain itu, SanDisk Extreme PRO SDXC 512 GB juga ditujukan untuk industri perekaman video Full HD 1080p serta pelaku industri fotografi yang sering memotret dengan mode burst.

“Ultra HD 4K merupakan contoh dari teknologi yang mendorong kami untuk mengembangkan solusi penyimpanan baru yang mampu menangani ukuran file yang besar,” ujar Idris.

“Kartu ini memungkinkan profesional untuk menyimpan konten lebih banyak dibandingkan yang pernah ada sebelumnya,” kata Idris dalam keterangan tertulis yang diterima KompasTekno.

Dengan kartu penyimpanan baru ini, selain kapasitas yang besar, SanDisk juga menjanjikan ketahanan kartu penyimpanan flash-nya itu tahan terhadap suhu dan cuaca ekstrim, termasuk cipratan air. Kecepatan transfernya juga diklaim SanDisk mencapai 95 MB/s. Selain itu, masih ada software RescuePRO untuk keperluan recovery data.

Kartu memori UHS-I SDHC/SDXC SanDisk Extreme PRO tersedia melalui jaringan distributor resmi SanDisk dan reseller terpilih di Indonesia dalam kapasitas 512 GB, 256 GB dan 128 GB. SanDisk Extreme PRO SDXC 512 GB akan tersedia dengan harga Rp 11 juta.