Monthly Archives: November 2012

AMD Luncurkan Prosesor A10 Untuk Gamer dan Pecinta Home Entertainment

AMD meluncurkan generasi kedua AMD Seri A-Accelerated Processing Units (APU), A10-5800K, untuk desktop, motherboard, dan komputer untuk home theater di Jakarta, Selasa, 27 November 2012. APU ini menyasar para perakit komputer dan gamer yang membutuhkan performa lebih bagus, grafis berkelas, multi-core, dan respons cepat.

“Kombinasi kecepatan dalam pemrosesan, mesin multi-core, dan kemampuan grafis diskret yang lebih superior membuat generasi kedua ini menjadi platform berkelas bagi para gamer maupun mereka yang ingin membangun desktop baru atau komputer home theater,” ujar Brian Slattery, Consumer Business Director AMD Far East Ltd, dalam peluncuran di Jakarta.

Slattery mengatakan, tingginya permintaan pasar akan prosesor desktop, yang mengedepankan performa dan harga yang bersaing, membuat AMD optimistis dapat melakukan penetrasi pasar yang lebih luas untuk jangka panjang di Indonesia.

Generasi kedua ini dijual mulai US$ 60 (Rp 575 ribu) hingga US$ 130 (Rp 1,2 juta). “Dengan harga yang kompetitif, API baru ini menawarkan core yang lebih banyak dan lebih cepat, serta terbaik di kelas entertainment,” ujar Slattery. “APU ini juga ideal untuk mendukung sistem operasi Microsoft Windows 8 yang baru diluncurkan bulan lalu.”

Koh Wai San, Channel Marketing Manager AMD, mengatakan, dibandingkan generasi pertama, APU baru ini memiliki performa per watt dua kali lipat dan performa komputasi lebih dari 700 GFLOPs. Dengan frekuensi maksimal sampai 4,2 GHz, APU ini didukung unlocked Central Processing Unit (CPU) dengan peranti lunak AMD OverDrive untuk performa overclocking ekstrem sampai 6,5 GHz.

Gabungan AMD Seri A generasi kedua dan seri grafis AMD Radeon HD 7000 ini juga menjanjikan permainan dan video yang lebih baik. Kombinasi itu mendukung teknologi AMD Eyefinity, yaitu teknologi multi-monitor yang mendukung satu tampilan tunggal Windows 8 hingga sampai empat monitor. “Untuk pertama kalinya, teknologi ini tersedia dari sebuah APU tanpa memerlukan sebuah kartu grafis terpisah,” ujar Koh.

Kombinasi ini juga mendukung performa tinggi arsitektur grafis DirectX 11 yang memberikan resolusi penuh 1080p untuk bermain games dan menghasilkan detail gambar seperti hidup.

Kelebihan lain generasi kedua ini adalah kemudahan memperbarui platform. Tiga opsi chipset berbeda tersedia pada motherboard dengan soket FM2, dengan tatanan fitur masing-masing yang berbeda, yaitu AMD A55, A75, dan A85X. Ketiga chipset ini mendukung AMD Memory Profile yang memungkinkan memori grafis dijalankan pada 1866 MHz.

Alasan BlackBerry Tidak Menggunakan Android Karena Terlambat

Saat mengambil alih jabatan Presiden dan CEO Research in Motion (RIM) di perusahaan pembuat BlackBerry itu Januari lalu, Thorsten Heins banyak menerima saran untuk mengadopsi sistem operasi Android.

“Banyak yang menyarankan saya untuk mengalihkan BlackBerry ke Android,” ujar Heins dalam wawancara dengan All Things Digital, Kamis (15/11/2012) lalu.

Akan tetapi, Heins melanjutkan, perusahaannya tak punya banyak peluang untuk tampil menonjol di tengah para produsen Android.

Samsung, yang juga memproduksi komponen-komponen untuk perangkatnya sendiri, berhasil menjadi pemain besar, tapi perusahaan-perusahaan lainnya mengalami kesulitan dalam bersaing.

Lagipula, tambahnya lagi, “Itu sama saja dengan meminggirkan para pengguna BlackBerry.”

Meskipun berdasarkan data kuartal ketiga dari Gartner pangsa pasar global BlackBerry telah menciut menjadi 5,3 persen, menurut data lansiran RIM sendiri pada akhir September lalu, pelanggan BlackBerry terus tumbuh menjadi 80 juta pengguna.

Maka, Heins memutuskan untuk tetap ngotot dengan sistem operasi BlackBerry 10 buatan RIM sendiri. Menurut dia, BlackBerry 10 tidak hanya bertujuan untuk membalikkan peruntungan RIM dalam bisnis smartphone, namun juga menciptakan platform baru untuk “era selanjutnya dari komputasi mobile.”

“Saya sangat puas telah mengambil keputusan tersebut,” imbuhnya.

Meski begitu, Heins mengakui bahwa perusahaannya terlambat membuat perubahan. Salah satu sebabnya, ujar Heins, adalah karena RIM tidak menyadari bahwa pengguna lebih menyukai layar lebar dan banyaknya aplikasi ketimbang aspek e-mail, keamanan, kemudahan mengetik, dan daya tahan baterai yang menjadi andalan BlackBerry.

“Melihat ke belakang, saya pikir kami telat mengantisipasi perubahan itu. Tapi sekarang kami sudah sadar.”

Perangkat BlackBerry 10 yang menjadi tumpuan harapan RIM dijadwalkan rilis tanggal 30 Januari tahun depan. Disamping itu, Heins mengatakan bahwa masih banyak yang masih dilakukan perusahaannya.

Selagi RIM menyelesaikan BlackBerry 10, Heins berusaha merombak perusahaan yang bermarkas di Waterloo, Ontario, Kanada itu. Dia mengatakan, RIM telah berhasil mengubah susunan tim eksekutifnya dan mengurangi tenaga kerja sebanyak 5.000 orang selagi menambah jumlah pelanggan dan membikin sistm operasi baru.

“Kami masih terus bekerja,” ujar Heins. “Kami tak mau berpura-pura seolah sudah selesai.”

Shantanu Gawde Programmer Muda Jenius Yang Berhasil Membongkar Sistem Keamanan Ponsel Windows Phone 8

Seorang remaja berusia 16 tahun mengklaim, dirinya berhasil membobol keamanan sistem operasi ponsel pintar Windows Phone 8. Ia berhasil membuat perangkat lunak yang dapat mencuri data penting pengguna Windows Phone 8.

Dia adalah Shantanu Gawde yang berasal dari India. Dengan perangkat lunak yang mengandung program rancangannya, Gawde dapat mencuri informasi kontak, data pribadi, dan gambar dari ponsel Windows Phone 8.

Tapi, Gawde tak akan menggunakannya untuk aksi kriminal. Justru, ia ingin mengungkap cara, dan memberi tahu kelemahan Windows Phone 8 itu kepada Microsoft dalam konferensi keamanan Malcon 2012 yang diselenggarakan di New Delhi, India, 23 November mendatang.

Pihak Microsoft sudah mengetahui rencana tersebut, dan siap mempelajari presentasi yang dipaparkan Gawde.

Meski terbilang muda, tapi Shantanu Gawde bukanlah nama baru dalam dunia peretas (hacker). Ia mendapat Sertifikat Pengembang Aplikasi Microsoft saat berusia 7 tahun. Di India, Gawde sering dijuluki “peretas muda beretika,” lantaran ia mampu merancang program jahat yang berbahaya, namun ia tak memanfaatkannya untuk tindakan kriminal.

Pada 2011 lalu, Gawde meretas kontroler pendeteksi gerak dan suara Kinect buatan Microsoft, untuk mencuri foto tanpa sepengetahuan pengguna dengan memanfaatkan program jahat yang berjalan di komputer bersistem operasi Windows 7.

Intel Akan Luncurkan Prosesor Mobile 48 Core Untuk Smartphone

Apa jadinya kalau smartphone dalam genggaman tangan bisa berjalan sekencang komputer desktop mainstream atau bahkan superkomputer?

Dalam lima hingga sepuluh tahun lagi, hal tersebut akan menjadi kenyataan. Itulah jangka waktu yang diperlukan Intel yang sedang mengembangkan prosesor smartphone dengan jumlah inti CPU (core) hingga 48 buah.

Untuk apa jumlah inti prosesor sebanyak itu? “Saya pikir, dengan makin mengarahnya metode interaksi menjadi semakin natural, manusiawi, maka kebutuhan akan kinerja akan naik pula,” ujar Chief Tecnhology Intel, Justin Rattner, seperti dikutip dari Cnet.

“Dari segi penggunaan energi, cara yang paling efisien untuk mempertinggi kinerja adalah dengan memperbanyak jumlah inti prosesor,” Rattner menambahkan.

Rattner mengacu pada jenis-jenis antarmuka, seperti speech recognition, augmented reality, dan hal-hal lainnya yang sejenis. Semakin populer metode interaksi ini, maka kebutuhan processing power akan semakin meningkat.

Saat ini, smartphone atau tablet paling banyak memiliki jumlah inti prosesor sebanyak empat buah. Chip Atom buatan Intel sendiri hanya memiliki satu buah inti.

Jumlah inti yang lebih banyak memungkinkan sebuah perangkat untuk membagi-bagi tugas ke inti-inti berbeda dan mengerjakan semuanya secara bersamaan. Misalnya, satu inti ditugasi mengenkripsi e-mail sedang yang lainnya menjalankan aplikasi atau game.

Masing-masing inti prosesor pun tak harus memiliki kecepatan yang sama. Beberapa yang mendapat tugas berat bisa berjalan dengan kecepatan maksimal, sementara yang hanya mendapat tugas ringan bisa berjalan dengan kecepatan rendah untuk menghemat daya.

Dengan begini, perangkat terkait akan menjadi lebih kencang dan lebih efisien soal penggunaan energi.

Memperbanyak jumlah inti prosesor sebenarnya bukan hal baru. Komputer desktop sudah sejak bertahun-tahun lalu menerapkan prosesor dengan banyak inti.

Prosesor dengan lebih dari satu inti pun telah menjadi hal yang jamak ditemukan pada gadget mobile, misalnya yang menggunakan prosesor NVIDIA Tegra 3 atau Samsung Exynos.

Akan tetapi, meski software yang mampu memanfaatkan jumlah inti sebanyak itu masih belum bisa dibayangkan, prosesor mobile dengan 48 core tentu akan membuka banyak kemungkinan.

Patrick Moorhead dari lembaga analisis Moor Insights and Strategy mengatakan bahwa jumlah core yang lebih banyak serta software yang lebih pintar kelak akan membuat gadget mobile bisa sepenuhnya menggantikan fungsi komputer desktop.

“Bayangkan, seluruh komputer yang saya perlukan berada dalam genggaman. Ketika saya melangkah ke kantor, ia akan terhubung secara otomatis dengan monitor dan perangkat lain lewat interface wireless. Dalam sekejap saya sudah bisa berinteraksi lewat layar sentuh, keyboard, mouse, atau voice recognition. Hal itu akan mengubah konsep dan definisi kemampuan perangkat mobile,” ujarnya.

Samsung Akan Segera Luncurkan Tablet Dengan Prosesor 8 Core

Setelah menelurkan Exynos 4 Quad dan Exynos 5 Dual tahun ini, Samsung disebut sedang menyiapkan sebuah prosesor 8 core.

Prosesor delapan inti untuk perangkat mobile, seperti smartphone dan tablet tersebut, rencananya akan diumumkan pada Konferensi International Solid-State Circuits 19 Februari tahun depan.

Seperti dikutip dari Phone Arena, prosesor Samsung ini kabarnya dibangun berdasarkan konsep “big.LITTLE.computing” dari ARM dimana sejumlah inti utama prosesor dilengkapi dengan beberapa inti “pendamping”.

Dalam hal ini, prosesor Samsung tersebut akan memiliki empat buah core ARM Cortex-A15 berkecepatan 1,8 GHz untuk menangani tugas-tugas berat, beserta empat buah core ARM Cortex-A7 yang berjalan di frekuensi 1,2 GHz yang akan menangani pemrosesan ringan.

Konsep tersebut mirip dengan “companion core” yang diterapkan Nvidia dalam Tegra 3 (antara lain dipakai di tablet Goolge Nexus 7 dan HTC One X) di mana empat buah inti prosesor dibantu oleh core kelima yang menangani tugas-tugas ringan untuk menghemat baterai.

Masih belum diketahui kapan perangkat dengan chip yang dibuat melalui fabrikasi 28 nanometer ini akan terealisasi. Namun, karena berpotensi memiliki ukuran fisik yang besar, ada kemungkinan bahwa ia akan lebih dahulu diterapkan pada perangkat tablet.

Review Xperia Acro S Android Yang Anti-Air dan Tahan Banting

Ponsel atau barang elektronik lain pada umumnya bukanlah barang yang layak terkena air. Salah sedikit, benda cair itu bisa merembes masuk dan merusak komponen internal yang sensitif.

Ini tak berlaku untuk Sony Xperia Acro S. Inilah smartphone besutan Sony yang terbungkus dalam balutan casing berserfitikasi IP-57. Artinya, Acro S mampu bertahan selama lebih kurang setengah jam di kedalaman air hingga 1 meter. Selain itu, smartphone ini juga anti debu dan tahan benturan.

Bukan hanya berbodi tangguh, jeroan Xperia Acro S pun bertenaga. Sony menanamkan prosesor Qualcomm MSM8260 (S3) dual-core berkecepatan 1,5 GHz dipadu RAM sebesar 1 GB. Pemroses grafisnya menggunakan Adreno 220.

Selain itu, masih banyak lagi yang ditawarkan oleh smartphone ini. Untuk pembahasan selengkapnya, silakan simak ulasan berikut.Bentuk fisik Xperia Acro S tampak mirip dengan smartphone seri NXT lainnya dari Sony. Layar berukuran 4,3 inci dilapisi kaca tahan gores mineral glass yang tampil mengkilap, dikelilingi bingkai berwarna hitam glossy.

Kesannya minimalis dan berkelas, namun agak sulit dibedakan dari saudara-saudaranya sesama smartphone Sony Xperia.

Di bagian muka terdapat tiga buah soft button, yaitu “home”, “return” dan “menu”. Ada pula unit kamera depan dengan resolusi 1,3 megapixel yang sanggup merekam video 720p.

Bagian belakang Xperia Acro S terbuat dari plastik bertekstur halus mirip karet. Sebuah kamera utama dengan resolusi 12 megapixel mirip dengan yang terdapat pada saudaranya, Sony Xperia Ion, ditempatkan di sini.

Adapun baterai tidak bisa diganti karena casing smartphone ini memang tak bisa dibuka.

Dengan ketebalan 12 mm dan berat 147 gram, Xperia Acro S terasa agak “gemuk”. Di sisi kanannya ada tombol power, pengatur volume, dan kamera.

Sisi kiri memuat slot SIM card dan micro-SD card, keduanya terlindung dibalik mekanisme penutup khusus yang kedap air Membukanya agak repot, terutama untuk tray SIM card yang terkesan ringkih, tetapi setidaknya pengguna tak perlu khawatir ponsel ini bakal rusak ketika tercemplung ke dalam air.

Di bagian ini juga terdapat dua buah kontak logam yang digunakan untuk mengisi baterai selagi Xperia Acro S terpasang pada docking yang disertakan dalam paket penjualan. Karena terbuka tanpa penutup, kontak ini menimbulkan sedikit kekhawatiran soal ketahanan air dari ponsel yang bersangkutan.

Konektor lainnya, yaitu port HDMI, USB, dan konektor audio 3,5 mm terletak di bagian atas dan dilindungi penutup anti-air serupa.

Lalu, apakah smartphone ini benar-benar tahan air? Ternyata memang demikian. Saat KompasTekno mencemplungkan ke air ataupun disiram, Xperia Acro S tetap berfungsi dengan baik. Pun demikian dengan layar sentuhnya yang masih merespon dengan cepat walaupun dipakai dengan jari-jari basah.

Kontak logam terbuka yang sempat diragukan sebelumnya juga tidak menimbulkan masalah. Xperia Acro S datang dalam kemasan minimalis khas Sony, dengan latar warna putih dan logo Sony berwarna hitam dengan tulisan putih.

Kemasan ini berukuran lebih besar dibanding kotak milik Xperia Ion. Bundel aksesori yang ada di dalamnya pun lebih banyak.Selain charger dan dokumentasi-dokumentasi tercetak, Xperia Acro S datang dengan sejumlah kelengkapan lain seperti sebuah charging dock yang terhubung dengan perangkat charger melalui kabel USB.

Sayangnya perangkat ini tidak dapat dipakai untuk menyambungkan smartphone ke komputer untuk keperluan transfer data, hanya bisa untuk mengisi baterai saja.

arphone tipe in-ear yang cukup berkualitas disertakan oleh Sony dalam paket penjualan, berikut tiga buah ear-plug berbeda ukuran.

Smartphone ini pun mampu bertahan dari benturan ketika jatuh dari ketinggian tertentu-lebih kurang 40 cm. Memang tidak terlalu tinggi, tetapi setidaknya bisa menghilangkan kekhawatiran mereka yang sering menjatuhkan ponsel secara tidak sengaja.

Layar dan Kamera

Kualitas layar adalah satu aspek yang patut dibanggakan pada Sony Xperia Acro S. Smartphone tahan air ini memiliki layar 4,3 inci dengan resolusi HD atau 1280×720. Tingkat kepadatan pixel-nya mencapai 342 ppi. Ditambah lagi dengan teknologi BRAVIA Engine milik Sony yang mampu meningkatkan kontras dan ketajaman display.

Hasil penerapan semua hal di atas langsung terlihat begitu pengguna menatap layar Xperia Acro S. Warna-warna tampil cerah dengan kontras dan saturasi tinggi.

Gambar dan teks pun tampil tajam, sama sekali tidak terlihat pixellated seperti pada layar dengan resolusi rendah. Saat dipakai di luar ruangan pada siang hari, layar smartphone ini tetap terlihat dengan jelas.

Berkat layarnya itu, Xperia Acro S pun menjadi perangkat yang ideal untuk menonton video HD. Terlebih lagi perangkat ini mampu memutar beragam jenis format dan codec populer termasuk MKV, DivX, dan QuickTime dalam full-HD (1920 x 1080). Akan tetapi, tentu saja layarnya tidak sebesar perangkat seperti tablet.

Kamera milik smartphone ini terbilang bagus. Dengan resolusi 12 megapixel (4000 x 3000), tangkapan gambarnya mampu menampilkan detail-detail kecil dalam kondisi pencahayaan ideal. Lampu LED flash bisa dipakai untuk membantu pemotretan dalam kondisi sebaliknya.

Di dalam ruangan dan ketika dipakai saat malam hari, kualitas gambarnya menurun dengan cepat seiring meningkatnya bintik noise dan penurunan tingkat detail. Akan tetapi, kekurangan ini tidak terlalu tampak apabila gambar dikecilkan.

Sama seperti Xperia Ion, Sony menanamkan beberapa opsi berguna seperti pemilihan mode fokus (touch focus, auto-area, single-point, dan smile detection), exposure compensation, dan preset white balance.

Xperia Acro S pun sanggup merekam video full-HD (1080p) @ 30 FPS dengan auto-focus dan image stabilizer menggunakan kamera belakang, atau sekualitas HD (720p) dengan kamera depan.

Software dan Performa
Beralih ke pemakaian, Sony Xperia Acro S terasa cukup nyaman saat digenggam. Bentuknya yang lebih kecil serta sisi-sisi smartphone ini yang agak membulat terasa lebih pas di tangan dibandingkan saudaranya, Xperia Ion.

Sistem operasi yang digunakan adalah Android 4.0 atau Ice Cream sandwich, dengan modifikasi tampilan ala Sony yang sayangnya membuat interface ponsel ini terlalu mirip dengan model-model yang memakai sistem operasi lebih lawas.

Pun begitu, berkat Ice Cream Sandwich (Android 4.0), Xperia Acro S terasa gesit dengan respons input yang cepat. Smartphone ini terasa lebih mulus dibandingkan Xperia Ion -setidaknya sebelum Ion di-upgrade ke versi Android Ice Cream Sandwich.

Seperti biasa, Sony menyertakan sejumlah software pre-installed termasuk widget Timescape yang bisa dipakai para penggiat Facebook dan Twitter untuk tetap up-to-date dengan integrasi ke widget tersebut.

Soal performa, prosesor Snapdragon S3 dual-core 1,5 GHz, RAM 1 GB, dan GPU Adreno 220 pada smartphone ini memberikan kinerja yang cukup mumpuni.

Game kelas berat seperti Dead Trigger bisa dimainkan dalam tingkat detail “high” (tetapi bukan “ultra”) dengan cukup mulus walaupun kadang masih terasa agak tersendat ketika pemain dikeroyok zombie dalam jumlah besar.

Kualitas layar dan resolusi tinggi Xperia Acro S, sayangnya, menyebabkan beberapa aplikasi seperti Angry Birds Space menjadi kurang nyaman dimainkan karena ukuran icon jadi mengecil.

Baterai 1910 mAh pada Xperia Acro S sanggup menemani penggunanya beraktivitas seharian penuh dengan penggunaan-penggunaan casual seperti menjalankan aplikasi Facebook, Twitter, Gmail, ataupun browsing.

Beda halnya, saat dipakai aktivitas gaming. Saat dipakai bermain terus-menerus, ketahanan baterai Xperia Acro S menyusut hingga tinggal beberapa jam saja.

Xperia Acro S menyediakan kapasitas penyimpanan internal sebesar 16 GB. Penambahan kapasitas dimungkinkan berkat adanya slot micro-SD card yang mendukung kartu memori berkapasitas hingga 32 GB.

Kesimpulan

Untuk mereka yang gemar bepergian dan tak mau ponselnya rusak karena terkena air atau terbentur, Sony Xperia Acro S bisa menjadi pilihan menarik.

Memang, Sony menyediakan Xperia Go yang bahkan lebih tangguh lagi dengan sertifikasi IP-67, tetapi spesifikasi Xperia Acro S berada jauh di atas model tersebut.

Kapabilitas Xperia Acro S sebagai smartphone multimedia pun tak diragukan, dengan kinerja yang meyakinkan, respon yang gesit, serta tampilan layar yang cemerlang.

Harganya yang dipatok sebesar Rp 5 juta memang terdengar relatif mahal, tetapi Xperia Acro S boleh jadi merupakan ponsel Android anti-air dan tahan banting tercanggih yang bisa diperoleh saat ini.

Sony Xperia Acro S

Kelebihan:
+Tahan air, debu dan benturan
+Layar resolusi tinggi dengan kualitas tampilan prima
+Performa andal, dengan respons yang cepat

Kekurangan:
-Sistem penutup konektor agak merepotkan untuk dibuka-tutup
-Aksesori docking hanya bisa dipakai untuk mengisi baterai

Spesifikasi

-Prosesor: Qualcomm MSM8260 Snapdragon (S3)
-Pemroses Grafis: Adreno 220
-RAM: 1 GB
-Storage Internal: 16 GB
-Storage Eksternal: MicroSD hingga 32 GB
-Layar: 4.3 inci, 1280×720 (342 ppi)
-Kamera: 12 Megapixel dengan LED flash (belakang), 1.3 megapixel (depan)
-Baterai: 1.910mAh
-Konektivitas: 3G HSDPA; HSUPA; W-LAN 802.11 b/g/n, DLNA, Bluetooth 3.0, USB 2.0 OTG, HDMI, audio 3,5 mm.
-Pilihan Warna: Hitam, Putih, Pink
-Dimensi: 126 x 66 x 11.9 mm
-Bobot: 147 gram.
-Harga: Rp 5 juta

Review dan Spesifikasi Kamera Saku Full Frame Sony RX1 Seharga 30 Juta

Sony Indonesia meluncurkan sejumlah produk kamera baru ke pasaran Tanah Air, pada Kamis (22/11/2012). Satu di antaranya yang paling mencolok adalah DSC-RX1, kamera saku dengan sensor full-frame.

Berdasarkan keterangan pers yang diterima, sensor full-frame pada DSC-RX1 memiliki resolusi 24 megapixel dan rentang sensitivitas ISO 100-25600.

Jenis sensor ini memiliki ukuran sebanding dengan satu frame film tipe 135 (35,8 x 23,9 mm) dan biasanya hanya ditemukan di kamera tipe DSLR kelas profesional yang besar dan berat.

Nah, dibanding kamera-kamera full-frame lain, RX1 terbilang mungil dengan ukuran 113 x 65 x 70 mm dan bobot 482 gram.

Sensor “jumbo” milik RX1 dipadukan dengan lensa fixed Carl-Zeiss Sonnar T* 35mm F2 yang memiiliki jarak fokus minimum 20 cm. Lensa tersebut terpasang permanen dan tidak bisa diganti-ganti layaknya kamera mirrorless.

Untuk membidik gambar, pengguna diberikan dua pilihan: melalui layar LCD 3 inci dengan resolusi 1,2 megapixel atau unit viewfinder (tersedia versi optik dan elektronik) yang dijual terpisah.

Sony pun menyediakan serangkaian aksesori lain untuk melengkapi DSC-RX1, mulai dari flashgun yang bisa dipasangkan pada multi-interface hotshoe milik kamera itu, clip-on LCD, lens hood, thumbgrip tambahan, hingga casing eksklusif dari bahan kulit.

Tertarik? Bersiaplah merogoh kocek dalam-dalam. Meski masih belum ditentukan, berdasarkan penelusuran, kamera premium ini bakal dibanderol pada kisaran Rp 30 juta dan bisa diperoleh mulai Desember mendatang di toko-toko tertentu.

Selain DSC-RX1, pada kesempatan yang sama Sony juga meluncurkan sejumlah produk lain, yaitu kamera full-frame Sony SLT-A99, duet kamera mirrorless NEX-5R dan NEX-6, serta camcorder full-frame VG900 dan VG30 (APS-C).

Gambar-gambar Sony RX1, sebuah kamera saku dengan sensor besar berukuran “full frame”, bocor dan beredar di internet.

Lebih tepatnya, sensor pada RX1 disinyalir memiliki ukuran fisik 36 x 24 mm atau setara dengan sensor yang dipakai oleh kamera DSLR kelas profesional.Ukuran ini sama dengan satu frame film tipe 135 (35 mm).

Kamera saku biasanya memiliki ukuran sensor yang lebih kecil dibanding kamera DSLR. Akibatnya, kualitas gambar pun berbeda jauh. Resolusi sensor yang dipakai RX1 kabarnya sama dengan sensor milik kamera full-frame profesional Sony A99 SLT yang akan diluncurkan dalam waktu dekat, yaitu 24 megapixel.

Bukan hanya sensor besar, gambar-gambar yang beredar pun memperlihatkan bahwa Sony memasang lensa berkualitas tinggi Carl Zeiss 35 mm f/2.0 pada RX1.

Fitur lainnya termasuk range ISO 100-25,600, continuous shooting 5 FPS, perekaman video HD, bodi magnesium alloy, layar LCD 3 inci, serta opsi aksesoris viewfinder optik dan elektronik.

Kombinasi hal-hal tersebut konon membuat harga RX1 menjadi tidak murah. Situs PetaPixel.com melaporkan bahwa banderol kamera ini mencapai kisaran 2799 dollar AS atau 27 juta rupiah.

Sony diprediksi akan merilis beberapa model kamera baru. Selain RX1, dua model lainnya yang dikabarkan bakal segera meluncur adalah kamera profesional Alpha A99 dan kamera mirrorless NEX-6.