Category Archives: Google

Google dan Facebook Dukung Samsung Lawan Apple

Konflik hak cipta antara Apple dan Samsung sudah lama bergulir. Beberapa waktu mandek di pengadilan, kini Samsung mendapat dukungan dari para raksasa teknologi di Silicon Valley. Di antaranya Google, Facebook, eBay, Dell, dan Hewlett Packard. Mereka meminta pengadilan tinggi untuk mengkaji ulang tuntutan Apple atas Samsung.

Diketahui, perusahaan berlogo apel tergigit menuding Samsung mencaplok sebagian besar kekayaan intelektual perusahaannya. Di antaranya fitur memijit layar untuk zoom, menggulir dengan satu jari, menggunakan dua jari untuk zoom, dan masih banyak lagi. Atas dasar tuduhan tersebut, Apple meminta Samsung menyerahkan total profit atas penjualan seri Galaxy yang menyontek hak ciptanya.

Awalnya, total duit yang harus dibayarkan Samsung sekitar 1 miliar dollar AS atau setara Rp 133 triliun. Namun pada awal tahun 2015, pengadilan menurunkan jumlah tuntutan ganti rugi Samsung ke Apple sebesar 548 juta dollar AS atau setara Rp 7,3 triliun.

Walau nilai ganti rugi telah diturunkan, Samsung masih berjuang untuk memenangkan kasus hak cipta ini. Perusahaan asal Korea Selatan tersebut berkilah bahwa semua fitur yang tersemat pada tiap perangkatnya adalah buah ide para teknisinya. Di tengah ego kedua perusahaan, para raksasa teknologi basis Silicon Valley akhirnya ambil bagian. Google dkk menyebut putusan pengadilan yang meminta Samsung mengganti rugi ke Apple akan berdampak buruk.

“Jika dibiarkan, keputusan itu akan menyebabkan hasil yang mengambang dan memiliki dampak buruk pada perusahaan. Termasuk yang telah menghabiskan miliaran dolar setiap tahun untuk penelitian dan pengembangan teknologi yang kompleks,” kata perwakilan para raksasa teknologi dalam keterangan resminya ke pengadilan, sebagaimana dilaporkan Engadget dan dihimpun.

Menanggapi hal ini, Apple mengatakan Google yang merupakan salah satu inisiator pembela Samsung memiliki kepentingan dalam konflik tersebut. Pasalnya, Google adalah pembuat sistem operasi Android yang notabene digunakan dalam perangkat-perangkat Samsung. “Google punya kepentingan kuat dalam kasus ini. Google tak bisa diseut sebagai pihak netral di pengadilan dan membantu memberi pernyataan untuk Samsung,” kata perwakilan Apple.

3 Hal Baru Dari Gmail Yang Menarik

Gmail merupakan salah satu layanan berbagi pesan dan file yang paling banyak digunakan saat ini. Namun, banyak yang mengeluhkan tentang pengaturan kontaknya. Layanan Google tersebut seringkali secara otomatis menduplikat satu kontak menjadi banyak. Kontak prioritas pengguna pun kerap sulit dicari, sementara yang sudah jarang berhubungan dengan pengguna lebih mudah ditemui.

Dilansir Kamis (5/3/2015) dari TheVerge, Google baru saja merilis pemutakhiran untuk pengaturan kontak pada Gmail. Pemutakhiran ini tampaknya menjadi solusi bagi masalah-masalah yang dikeluhkan pengguna. “Pengaturan kontak Google yang baru akan mempermudah pengguna untuk mengetahui informasi yang dibutuhkan dari kontak secara cepat, utamanya untuk mencari kontak prioritas. Tampilannya juga akan lebih segar,” begitu kata manajer produk Google, Sean Purcell.

Berikut tiga pembaruan pamungkas pada pengaturan kontak Gmail:
Pertama, lebih mudah “membereskan” kontak-kontak yang dobel. Saat masuk ke daftar kontak, Gmail akan menawarkan pilihan untuk menemukan kontak terduplikat. Ketika menekan pilihan itu, pengguna bakal dihadapkan pada sejumlah kontak yang bernama sama. Setelahnya, pengguna dapat memilih untuk menghapus atau menggabungkan kontak yang dobel tersebut dengan lebih praktis.

Kedua, informasi pada daftar kontak bakal terus akurat. Ketika kontak-kontak yang dimiliki mengubah informasi pekerjaan, tempat tinggal, nama, dan sebagainya di layanan-layanan ciptaan Google (Google+, Hangouts), maka informasi terbaru itu akan turut terganti di kontak Gmail.

Ketiga, pengguna bakal lebih mudah berhubungan dengan kontak-kontak prioritas. Daftar kontak paling atas didasarkan pada kontak-kontak yang “dibintangi” pengguna, menyusul kontak-kontak yang paling sering dihubungi, kemudian baru kontak-kontak lainnya.

Pemutakhiran untuk kontak di Gmail ini baru berfungsi pada akun Gmail standar. Namun untuk melihat pratinjau tampilan kontak Gmail yang terbaru, dapat dilihat di sini.

Google Berhenti Paksa Pengguna Gmail Untuk Gabung Di Google Plus

Seringkali pengguna Google kecewa manakala ingin membuat akun Gmail baru. Mereka dipaksa untuk membuat akun jejaring sosial Google+ dan tidak ada cara lain untuk menghindarinya.

Namun kini, nampaknya Google mulai menunjukkan sikap lunaknya dengan membuat integrasi layanan jejaring sosialnya sebagai pilihan saja alias tidak wajib.

Menurut WordStream, proses pendaftaran akun Gmail mulai Jumat (19/9/2014) kemarin tak lagi memaksa pengguna e-mail terhubung dengan akun Google+. Kini terdapat tombol untuk menolak membuat akun jejaring sosial itu.

Menurut pernyataan Google kepada situs WordStream, proses pendaftaran akun Gmail itu mulai diubah sejak awal September 2014 ini.

Google+ selama ini memang tergolong kurang populer dibandingkan dengan jejaring sosial lain, seperti Facebok, Twitter, maupun Path.

Google pun telah berusaha membuat jumlah pengguna Google+ bertambah dengan cara menghubungkannya secara otomatis dengan akun e-mailnya.

Namun, walau jumlahnya bertambah, Google+ kerap disebut “kota mati” karena sepi dari aktivitas penggunanya.

Kini, dengan memisahkan akun Gmail dan Google+, berkembang rumor apakah Google akan menghentikan layanan jejaring sosialnya ini?

Rumor itu dipertegas dengan mundurnya Presiden Social Network Google, Vic Gundotra pada April lalu. Google pun mulai berkonsolidasi dengan fitur jejaring sosial lain

Dulu Rp. 5 Juta … Kini Google Earth Pro Dibagikan Gratis

Aplikasi Google Earth Pro kini tersedia gratis. “Google ingin memberikan kesempatan bagi semua orang untuk menggunakan Google Earth Pro,” demikian pernyataan pengelola Google dilansir situs International Business Times, Ahad, 1 Februari 2015 atau Senin, 2 Februari 2015 waktu Indonesia. Google Earth Pro populer di kalangan ilmuwan, pebisnis, dan pekerja yang berkaitan dengan pemetaan. Biaya berlangganan versi premium Google Earth ini sebelumnya dibanderol US$ 399 atau Rp 5 juta selama satu tahun. Belum terungkap alasan Google menggratiskan aplikasi ini.

Aplikasi tersebut menghadirkan gambar dengan resolusi 4.800 piksel. Ini jauh lebih tinggi dibandingkan Google Earth yang tampilan gambarnya beresolusi 1.000 piksel. Ada juga gambar tiga dimensi (3D), pencarian otomatis, serta perekaman gambar dengan kualitas high-definition (HD). Fitur lain adalah Super Image Overlays yang memungkinkan pengguna meng-impor gambar dengan ukuran besar.

Google Earth Pro juga dilengkapi oleh sistem yang diklaim mampu mengukur ketinggian gedung pencakar langit. “Aplikasi ini bahkan memiliki data kemacetan dan demografis,” ujar pengelola Google. Presiden SBY juga mengandalkan Google Earth untuk memantau wilayah Indonesia. Product Manager Google Earth, Stafford Marquardt, mengungkapkan cara mengunduh Google Earth Pro. “Konsumen yang tertarik, harus mengisi License Key sebelum mengunduhnya,” katanya melalui blog Google. Sedangkan bagi konsumen yang sudah pernah berlangganan, dapat mengunduh tanpa harus mengisi persyaratan tambahan.

Marquardt menyebutkan, Google Earth Pro bermanfaat bagi pengguna yang ingin memperoleh informasi mengenai suatu tempat melalui gambar dengan resolusi tinggi. Ini juga diklaim memudahkan perencanaan pembangunan gedung. Adapun hal yang perlu diperhatikan pengguna, yakni kemampuan komputer. Prosesor yang digunakan, memiliki spesifikasi minimal 2,4 gigahertz dengan RAM 1 gigabita. Dibutuhkan juga tambahan ruang pada hard drive sebesar 2 gigabita.

Sistem operasi yang mampu menjalankannya adalah Windows 7 dan Windows 8. Sedangkan bagi pengguna Mac, platform yang mendukungnya adalah Mac OS X 10.6.8 ke atas. Penggratisan Google Earth Pro merupakan rangkaian dari terobosan Google. Aplikasi mereka meningkat 50 persen sepanjang tahun lalu, melampaui App Store.

Project Ara … Smartphone Murah Google Yang Bisa Dirakit Sendiri

Project Ara adalah proyek smartphone modular yang pertama dikembangkan oleh Motorola pada 2012, lalu dikembangkan lebih lanjut oleh Google. Proyek ini bertujuan membikin ponsel pintar yang aneka komponennya -seperti kamera, layar, dan baterai- bisa diganti-ganti, dipasang atau dicopot sesuai dengan kebutuhan pengguna.

Google kini sedang bersiap meluncurkan program percontohan Project Ara di Puerto Rico pada paruh kedua 2015. Tapi seperti apa tepatnya ponsel Android “rakitan” Project Ara? Platform Ara terdiri dari sebuah perangkat smartphone dasar yang memuat komponen-komponen vital seperti prosesor dan antena seluler.

Nah, smartphone “dasar” tersebut bisa ditambahi aneka modul yang masing-masing memuat komponen tambahan, misalnya kamera atau baterai tadi. Bahkan layar smartphone Ara pun bisa diganti karena turut dibuat dalam bentuk modul.

Sebagaimana dikutip dari Engadget, Senin (19/1/2015), modul-modul tersebut dipasang ke smartphone Ara dengan memakai semacam magnet. Nantinya dalam smartphone turut akan disediakan software manajemen modul untuk mengatur kerja komponen-komponen modular tersebut. Aneka modul Ara juga bisa diimbuhi gambar dengan teknik dye sublimation sehingga pemiliknya bisa menambah sentuhan personal

Hingga kini smartphone Ara masih terus dikembangkan dan belum mencapai bentuk final, namun foto-foto purwarupa terbaru yang dilansir Engadget setidaknya bisa memberi gambaran mengenai bagaimana rupa perangkat itu nanti. Selengkapnya bisa disimak dalam rangkaian gambar di bawah. Inovasi terbesar dalam industri ponsel pintar, yaitu ponsel rakitan yang bisa diganti komponen perangkat kerasnya, akan segera menyapa konsumen. Google selaku pengembang ponsel rakitan rencananya mulai menjual produk itu pada Januari tahun 2015.

Hal ini diungkapkan Google dalam konferensi pengembang aplikasi Project Ara di Mountain View, California, Selasa (15/4/2014). Perangkat dasar dari ponsel rakitan itu disebut “Gray Phone” yang di dalamnya sudah terdapat komponen layar, baterai, prosesor, dan modul Wi-Fi.

Pemimpin tim Project Ara, Paul Eremenko mengatakan, Gray Phone akan dijual seharga 50 dollar AS. Sementara modul komponen lainnya, akan dijual terpisah dan nantinya bisa didapatkan di pasar. Pengguna dapat membeli modul komponen lain untuk membangun ponsel yang sesuai dengan kebutuhan. Menurut laporan PCWorld, ukuran modul itu dibuat sesuai standar yang telah ditetapkan Google.Untuk ketentuan harga komponen, akan diserahkan kepada perusahaan yang memproduksi modul komponen. Eremenko ingin ekosistem perangkat keras (hardware) untuk ponsel rakitan bisa berkembang cepat seperti ekosistem perangkat lunak (software) di Android. Hal ini dipandang bisa meningkatkan daya saing industri komponen perangkat keras.

Di bulan April 2015, Eremenko menargetkan perusahaan lain sudah dapat mengembangkan komponen perangkat keras untuk ponsel rakitan. Dari sisi sistem operasi, Google akan memikirkan agar Android dapat mendukung driver komponen perangkat keras yang tersedia untuk ponsel rakitan. Membuat Android dapat mendukung driver perangkat keras diakui Eremenko sebagai tantangan yang berat, namun ia optimis hal ini bisa direalisasikan pada Desember 2014.

“Memang benar bahwa Android tidak mendukung hardware yang dinamis saat ini,” kata Eremenko. “Kabar baiknya bahwa kami adalah Google,” tambahnya, disambut tawa para hadirin.Tim Project Ara yang mengembangkan ponsel rakitan Google berada di bawah divisi Advanced Technology and Projects (ATAP) yang sebelumnya dimiliki Motorola Mobility.

Setelah Google sepakat menjual Motorola Mobility ke Lenovo pada Januari 2014, divisi ATAP tidak ikut dijual dan kini dipegang oleh Google. Sekarang divisi tersebut dipimpin oleh Regina Dugan. ATAP akan terus melakukan penelitian dan pengembangan teknologi untuk Google. Di masa mendatang Lenovo mendapatkan kesempatan hak lisensi atas teknologi yang dikembangkan oleh ATAP.

Google sedang mengerjakan proyek ponsel pintar rakitan yang memungkinkan komponen perangkat keras pada ponsel bisa diganti dengan mudah. Google berharap ponsel rakitan itu bisa mulai dijual pada awal 2015 dan dibanderol dengan harga yang terbilang murah. Menurut laporan majalah Time, ponsel rakitan itu akan dijual ke pasar dengan harga 50 dollar AS (sekitar Rp 580.000). Ada tiga ukuran ponsel rakitan yang ditawarkan, yaitu Mini, Medium, dan Jumbo. Tebalnya tidak lebih dari 10 mm.

Google juga akan menyediakan komponen perangkat keras untuk ponsel rakitannya. Rencananya, Google hanya fokus menawarkan perangkat keras dengan spesifikasi dasar dan berharga murah. Proyek ponsel rakitan Google ini disebut sebagai Project Ara dan dikerjakan mulai musim gugur 2012 oleh tim Advanced Technology and Projects (ATAP) yang dipimpin Paul Eremenko.

Time melaporkan ponsel tersebut menggunakan komponen radio yang hanya mendukung koneksi Wi-Fi dan tidak menyediakan koneksi seluler. Kendati demikian, tim ATAP punya misi untuk menghadirkan dukungan koneksi seluler pada ponsel rakitan Google. Tim ini punya target menyelesaikan purwarupa (prototipe) ponsel rakitan dalam beberapa pekan mendatang.

Tim ATAP tidak menjelaskan ke negara mana saja ponsel rakitan itu akan dijual. Google rencananya akan menggelar konferensi pada April 2014 untuk memberi tahu secara detail tentang ponsel rakitan ini. Tim ATAP sebenarnya adalah sebuah divisi yang berada di bawah Motorola Mobility. Setelah Google sepakat menjual Motorola Mobility kepada Lenovo pada Januari 2014, divisi ATAP tidak ikut dijual dan kini berada di bawah Google.

ATAP akan terus melakukan penelitian dan pengembangan teknologi untuk Google. Nantinya, Lenovo mendapat kesempatan lisensi atas teknologi yang dikembangkan oleh ATAP.

Cara Menghindari Serangan Phishing Model Baru

Berhati-hatilah dengan serangan phishing (phishing attack). Hal ini terjadi ketika scammer berusaha mendapatkan informasi mengenai sesuatu yang Anda ketahui atau tentang seseorang, seperti detail kartu kredit atau data sensitif lainnya. Phisher dapat bertindak seolah mereka adalah pihak otoritas lain, seperti bank, layanan surat elektronik, jualan online, layanan pembayaran online, bahkan pihak pemerintah. Beberapa serangan phishing ini memang mudah teridentifikasi, tapi beberapa dari mereka bisa bekerja dengan sangat rapi dan profesional.

Juru bicara Google Indonesia, Jason Tedjasukmana, menyebutkan sejumlah langkah mudah menghindari serangan phishing, yakni:

– Berhati-hatilah ketika merespons surat elektronik yang meminta data sensitif Anda.
– Sebisa mungkin, pastikan Anda sendiri yang membuka website yang Anda cari, jangan hanya mengklik link pada surat elektronik yang terkesan mencurigakan.
– Jika Anda berada dalam situs yang meminta memasukkan informasi penting, cek tanda-tanda mencurigakan, dan pastikan Anda berada pada koneksi yang aman. Cara paling mudah untuk mengetahui hal ini adalah memastikan alamat situs diawali dengan “HTTPS”.
– Gunakan browser yang selalu menyediakan pengamanan lebih. Tim keamanan Google telah membangun Safe Browsing untuk mengidentifikasi situs tidak aman dan bisa memberikan notifikasi kepada pengguna, agar mereka bisa terlindung dari bahaya.

Google Tutup Layanan Berita Karena Wajib Bayar Royalti

Google akan segera menghentikan layanan berita dalam bahasa Spanyol karena undang-undang baru bisa memaksa Google harus membayar ‘royalti’ kepada perusahaan media di negara tersebut. Undang-undang hak atas kekayaan intelektual ini akan diberlakukan mulai bulan depan dan Google memutuskan untuk tidak meneruskan layanan berita dalam bahasa Spanyol pada 16 Desember ini.

Layanan Google News mengambil kutipan-kutipan berita dari media Spanyol dan raksasa pencarian online ini beralasan bahwa skema membayar kepada perusahaan media “tak bisa diterapkan atau dipertahankan”. Direktur Berita Google, Richard Gingras, beralasan bahwa Google tidak memasang iklan di layanan berita ini dan karenanya tidak mendapatkan pemasukan.

Ia juga mengatakan perusahaan media bisa memilih untuk tidak dimasukkan ke Google News. “Sebagian besar ingin dimasukkan ke Google News … layanan kami mendorong orang masuk ke situs mereka yang pada gilirannya bisa mendatangkan penerimaan dari iklan,” papar Gingras. Undang-undang baru di Spanyol, biasa disebut “Google Tax”, tidak menjelaskan secara rinci berapa “royalti” yang harus dibayar Google.

Sudah sejak lama berbagai perusahaan media di sejumlah negara tidak setuju dengan Google News karena layanan ini dianggap melanggar hak cipta.