Category Archives: Android

Aksesori Smartphone Yang Lagi Trend

Smartphone tanpa aksesori bisa dibilang seperti sayur tanpa garam. Meski tak semua memiliki nilai fungsional, namun setidaknya aksesori bisa mempermanis tampilan smartphone. Di antara sekian banyak aksesori di pasaran, ada dua jenis yang paling dicari masyarakat ibukota, yakni pelindung layar (screen protector) dan pelindung ponsel (case). Setidaknya begitu kata beberapa pedagang yang ditemui, di ITC Roxy Mas, Jakarta. ITC Roxy Mas sendiri diketahui sebagai pusat perdagangan ponsel terbesar di Indonesia. Lantas, screen protector dan case seperti apa yang sedang tren saat ini?

1. Tempered Glass
Menurut Nanin (38) yang berjualan di lantai satu, pelindung layar jenis Tempered Glass menjadi pilihan mayoritas pembeli di tokonya dalam beberapa bulan terakhir. Tempered Glass sebenarnya sudah dijual sekitar dua tahun lalu. Namun, kala itu barangnya masih terbatas untuk tipe ponsel tertentu. “Harganya juga dulu mahal, sampai Rp 200.000-an. Sekarang semua sudah jual jadinya murah,” kata Nanin. Tempered Glass merupakan pengembangan dari pelindung layar yang sudah-sudah seperti Anti Spy, Anti Glare, dan Mirror. Ketangguhannya diklaim mencapai lima kali lipat dibandingkan anti-gores sebelumnya.Hal tersebut tak lepas dari proses pembuatannya yang ekstrim, yakni melalui pemanasan pada suhu maksimal untuk kemudian didinginkan secara instan.

Pelindung layar atau screen protector jenis ini rata-rata memiliki ketebalan 0.3 mm. Meski relatif tebal, Tempered Glass dikatakan tak bakal menurunkan sensitivitas layar sentuh. “Sekarang screen protector lain nggak laku. Anti-spy aja sudah nggak saya jual,” kata Ian (32) yang berjualan di lantai tiga atau dua lantai di atas gerai Nanin. Lapak Ian khusus menjual aksesori smartphone. Menurut dia, aksesori lebih gampang laris dibandingkan smartphone atau tablet. Pria berdarah Batak tersebut mengatakan pembeli Tempered Glass di tokonya tak pernah di bawah 20 orang setiap harinya. Beberapa bisa membeli lebih dari satu. Harga Tempered Glass sendiri berkisar Rp 50.000 hingga Rp 75.000.

2. Bumper Mirror Case
Setelah urusan pelindung layar beres, pembeli smartphone juga biasanya mencari case untuk melindungi tubuh perangkat dari goresan.Menurut Ian, tiga bulan terakhir case yang jadi primadona di tokonya adalah jenis Bumper Mirror Case. Sesuai namanya, pelindung tersebut memiliki teksur seperti cermin. Pengguna bisa memanfaatkan case itu untuk berkaca di mana saja dan kapan saja. Hanya saja, tekstur cermin rawan bekas tempelan tangan, terlebih jika sedang berkeringat. “Biasanya pengguna Samsung dan iPhone yang suka pakai Bumper Mirror,” kata Ian. Hal itu diiyakan Loli yang berjualan tak jauh dari lapak Ian. Loli mengaku kerap kehabisan Bumper Mirror Case karena peminatnya terlampau banyak.

“Biasanya cewek yang doyan. Di sini suka habis-habisan,” ujarnya. Bumper Mirror Case untuk beragam tipe ponsel yang beredar di ITC Roxy Mas dijual mulai Rp 70.000 hingga ratusan ribu rupiah. Warnanya pun banyak, mulai dari kuning, pink, silver, hingga hijau metalik.Aksesori yang satu ini bisa dimanfaatkan sebagai penghias karena modelnya yang lucu. Ada yang bentuk angsa, sayap, maupun kotak standar.Kendati demikian, Ring Stent sebenarnya punya fungsi yang lumayan signifikan: menghalangi Anda dari risiko kecerobohan.

Ring Stent merupakan cincin yang punya landasan. Landasan itu ditempelkan di punggung ponsel. Selanjutnya, cincin bisa diputar-putar dan disesuaikan dengan posisi jari pengguna.

Selama jari pengguna terkait di cincin itu, niscaya ponsel tak bakal terpeleset jatuh ke lantai. Loli mengatakan Ring Stent lumayan diminati, meski tak semasif Tempered Glass dan Bumper Mirror.

“Sehari ada yang beli tiga sampai empat orang lah,” kata dia. Aksesori ini dijual cukup murah, yakni dari Rp 15.000 hingga Rp 30.000-an.

Advertisements

5 Mega Trend IT Teknologi Informasi Yang Mengubah Dunia

Dirk-Peter van Leeuwen, Senior Vice President & General Manager Red Hat kawasan Asia Pasifik & Jepang, menuangkan pemikirannya soal megatren di sektor teknologi informasi. Dalam email yang diterima Minggu (23/8/2015), ia melihat ada perubahan-perubahan mendasar mulai terlihat dalam perekonomian dan cara bisnis dijalankan saat ini.

Di era informasi ini, menurutnya, perusahaan harus memikirkan kembali pondasi operasional mereka dan bergerak untuk membuat segalanya menjadi lebih cepat dan kompetitif secara ekonomi, bukannya berpegang pada paradigma lama yakni membangun sekedar untuk menjadi lebih besar dan lebih baik.

Bisnis telah berevolusi dari sistem yang dibangun untuk meraih efisiensi menjadi sistem yang dibuat untuk inovasi, di mana alat yang paling berharga saat ini adalah informasi dan akses terhadap teknologi seperti perangkat-perangkat cerdas. Perusahaan yang telah berinovasi dan ber-evolusi dengan teknologi saat ini diakui telah meningkat dan menjadi salah satu perusahaan terbesar di industri mereka masing-masing.

Misalnya, Uber, sebuah perusahaan taksi, tidak memiliki mobil, Facebook, sebuah platform media, tidak membuat konten, dan Airbnb, sebuah penyedia layanan akomodasi, tidak memiliki real estate. “Kesamaan dari ketiga contoh tersebut adalah pemberdayaan konsumen dengan menggunakan aplikasi dalam perangkat cerdas mereka,” tulis van Leeuwen.

Perusahaan kini tidak diragukan lagi berada di bawah tekanan tinggi untuk menjawab kebutuhan akan aplikasi dan pengalaman seperti yang biasa dinikmati oleh konsumen. Industri, apapun skalanya, tidak dapat sekadar mengandalkan aset mereka. Perusahaan harus terus menerus menciptakan kembali jati dirinya untuk tetap menjadi yang terdepan. Menyimpulkan hasil diskusi topik utama di Red Hat Summit 2015, van Leeuwen pun menyoroti tren-tren teknologi utama yang akan menjadi pusat perhatian dalam beberapa tahun ke depan.

Digitalisasi
Pada dekade lalu, TI telah mengalami berbagai perubahan. Kita telah bergerak dari grid ke cloud, dari arsitektur yang berorientasi layanan ke microservices, dan dari virtualisasi mesin ke teknologi container. Namun, transisi lain berlangsung secara diam-diam. Berbagai teknologi dan kekayaan intelektual yang ada semakin terekspos dalam software, dalam suatu tren yang disebut para analis industri sebagai digitalisasi. Digitalisasi telah didorong oleh konvergensi, dan keselarasan tren-tren sosial, ekonomi, dan teknologi. Digitalisasi semua hal, mulai dari solusi mobile hingga privasi dan keamanan, akan menjadi sumber diferensiasi kompetitif oleh perusahaan yang menjalankannya secara benar. Perusahaan harus mengadopsi teknologi terintegrasi yang memungkinkan perusahaan tersebut menggabungkan aset-aset intelektual mereka dengan API web agar dapat menghasilkan produk dan solusi

‘Containerized’ IT
Containerization adalah alternatif ringan dari virtualisasi mesin secara penuh yang mencakup penempatan aplikasi dalam sebuah container di lingkungan operasinya sendiri. Dalam lingkungan perusahaan saat ini, container telah mentransformasi TI dengan cepat dan menarik perhatian luar biasa karena keuntungan beragam yang diberikannya

“67% responden dalam survei yang disponsori Red Hat baru-baru ini yang melibatkan para pengambil keputusan IT global dan pekerja profesional berencana mengaplikasi aplikasi berbasis container dalam waktu dua tahun ke depan,” kata van Leeuwen. Perusahaan memerlukan platform infrastruktur terintegrasi yang dirancang untuk menjalankan, mengatur dan meningkatkan skala aplikasi dan layanan berbasis multi-container. Mereka juga memerlukan proses kreasi implementasi yang disederhanakan yang akan membantu mereka untuk mengelola aplikasi-aplikasi cloud-native dan tradisional secara konsisten.

Tahunnya PaaS
Platform-as-a-Service (PaaS) telah mendapatkan dukungan industri yang sangat kuat selama beberapa tahun belakangan. Namun, 2015 dapat menandai sebuah babak baru dalam sejarah PaaS. Docker mempopulerkan konsep containerization, dan dunia mengakui kelayakan arsitektur berbasis container ini. Kini perusahan beralih dari menanyakan tentang container sebagai bagian dari roadmap ke pertanyaan mengenai rincian implementasi. Tahun lalu menunjukkan semakin banyak perusahaan lebih memilih PaaS sebelum Infrastructure-as-a-service (IaaS) sebagai pondasi strategi cloud privat/hybrid mereka. Perusahaan mendambakan platform yang fleksibel untuk arsitektur microservices, dan vendor PaaS dan cloud mulai menyediakan hal tersebut. Container open source dan praktek pengaturan yang mengubah pengalaman pengembang dan menggeser platform ke arah yang diinginkan pelanggan kini tersedia.

Tren Internet of Things (IoT) yang saat ini berkembang memberikan tekanan lebih besar bagi vendor PaaS untuk menyediakan layanan yang mudah untuk dikelola, mudah didapatkan, dan sangat skalabel.

Mobilitas Makin Kencang
Perusahaan-perusahaan besar memanfaatkan tren konsumerisasi TI yang semakin meningkat dan perangkat bergerak yang tersebar luas, karena mereka memiliki tujuan untuk mengembangkan berbagai aplikasi guna meningkatkan produktivitas karyawan dan kepuasan pelanggan.\\Sebuah studi menemukan bahwa 82% organisasi yang berencana untuk berinvestasi dalam solusi-solusi manajemen perangkat mobile menciptakan berbagai kebijakan mengenai hal tersebut pada tahun 2015. Mobilitas menjadi prioritas utama bagi banyak perusahaan dengan tujuan untuk mendorong inovasi, menyederhanakan efisiensi operasional, dan mengembangkan model-model bisnis baru. Perusahaan kini mencari solusi-solusi yang bisa mendukung pengembangan dan integrasi aplikasi–aplikasi enterprise secara cepat untuk membantu mereka bergerak menuju strategi mobile-first (platform mobile menjadi yang utama).

Menggugah Enterprise
Red Hat Summit tahun ini mempertemukan para eksekutif perusahaan, pelanggan dan mitra dengan tren-tren teknologi yang disebutkan di atas dan inovasi-inovasi produk di Red Hat. Dalam konferensi tersebut, Jim Whitehurst, CEO Red Hat, menekankan bahwa nilai teknologi open source tidak hanya mengenai lisensi software, tetap juga tentang kolaborasi dan komunitas. Red Hat Summit adalah acara tahunan di mana Red Hat dan para visioner industri teknologi mengungkapkan pandangan-pandangan mereka mengenai masa depan perusahaan teknologi dan mengeksplorasi bagaimana software open source mengubah segalanya mulai dari cloud dan containers Linux ke mobile, big data, Internet of Things, dan lainnya.

Tema utama tahun ini adalah teknologi container Docker, dengan pengumuman mengenai Atomic Enterprise Platform dan platform OpenShift Enterprise 3 dari Red Hat. Atomic Enterprise membawa platform hosting dengan dukungan enterprise-grade untuk penggelaran dan pengaturan container Docker, sementara OpenShift adalah penawaran PaaS yang menyasar pengembang yang membangun, mengelola dan mengimplementasikan container.

Google dan Facebook Dukung Samsung Lawan Apple

Konflik hak cipta antara Apple dan Samsung sudah lama bergulir. Beberapa waktu mandek di pengadilan, kini Samsung mendapat dukungan dari para raksasa teknologi di Silicon Valley. Di antaranya Google, Facebook, eBay, Dell, dan Hewlett Packard. Mereka meminta pengadilan tinggi untuk mengkaji ulang tuntutan Apple atas Samsung.

Diketahui, perusahaan berlogo apel tergigit menuding Samsung mencaplok sebagian besar kekayaan intelektual perusahaannya. Di antaranya fitur memijit layar untuk zoom, menggulir dengan satu jari, menggunakan dua jari untuk zoom, dan masih banyak lagi. Atas dasar tuduhan tersebut, Apple meminta Samsung menyerahkan total profit atas penjualan seri Galaxy yang menyontek hak ciptanya.

Awalnya, total duit yang harus dibayarkan Samsung sekitar 1 miliar dollar AS atau setara Rp 133 triliun. Namun pada awal tahun 2015, pengadilan menurunkan jumlah tuntutan ganti rugi Samsung ke Apple sebesar 548 juta dollar AS atau setara Rp 7,3 triliun.

Walau nilai ganti rugi telah diturunkan, Samsung masih berjuang untuk memenangkan kasus hak cipta ini. Perusahaan asal Korea Selatan tersebut berkilah bahwa semua fitur yang tersemat pada tiap perangkatnya adalah buah ide para teknisinya. Di tengah ego kedua perusahaan, para raksasa teknologi basis Silicon Valley akhirnya ambil bagian. Google dkk menyebut putusan pengadilan yang meminta Samsung mengganti rugi ke Apple akan berdampak buruk.

“Jika dibiarkan, keputusan itu akan menyebabkan hasil yang mengambang dan memiliki dampak buruk pada perusahaan. Termasuk yang telah menghabiskan miliaran dolar setiap tahun untuk penelitian dan pengembangan teknologi yang kompleks,” kata perwakilan para raksasa teknologi dalam keterangan resminya ke pengadilan, sebagaimana dilaporkan Engadget dan dihimpun.

Menanggapi hal ini, Apple mengatakan Google yang merupakan salah satu inisiator pembela Samsung memiliki kepentingan dalam konflik tersebut. Pasalnya, Google adalah pembuat sistem operasi Android yang notabene digunakan dalam perangkat-perangkat Samsung. “Google punya kepentingan kuat dalam kasus ini. Google tak bisa diseut sebagai pihak netral di pengadilan dan membantu memberi pernyataan untuk Samsung,” kata perwakilan Apple.

Smartwatch Xiaomi Punya Sensor Denyut Jantung

Sebagai vendor pengirim peranti wearable terbesar kedua di dunia, Xiaomi dirumorkan sedang menyiapkan jam tangan pintar (smartwatch) dengan sensor detak jantung di dalamnya. Dikutip dari Gizmo China, Rabu (22/7/2015), rumor tersebut pertama kali dihembuskan oleh Leaksfly melalui akun jejaring sosial Weibo miliknya.

Menurut Leaksfly, smartwatch Xiaomi akan dilengkapi dengan chipset Qualcomm S410, RAM 512 MB, dan memiliki penyimpanan internal dengan kapasitas 4GB. Selain itu, Leaksfly juga menyebut jam tangan pintar buatan Xiaomi tersebut akan memiliki sensor pendeteksi denyut jantung, selain fitur-fitur lain yang umum dalam smartwtach.

Smartwatch Xiaomi dikabarkan akan memiliki layar ukuran 1,3 inci, namun belum diketahui apakah bentuknya akan kotak atau bulat. Menurut rumor tersebut, jam tangan pintar Xiaomi akan diluncurkan pada November tahun ini dengan harga sekitar 600 yuan (sekitar Rp 1,3 juta). Tentu saja, kabar ini masih sebatas rumor, jadi jangan ditanggapi secara mentah-mentah. Akun Leaksfly memang sering membocorkan gadget-gadget baru di Tiongkok, namun informasi tersebut belum tentu akurat setiap saat.

WhatsApp Versi Terbaru Lebih Hemat untuk Menelepon

Aplikasi messenger WhatsApp bakal kedatangan berbagai fitur baru. Salah satu yang menarik, nantinya akan ada pilihan untuk menghemat data saat melakukan panggilan suara via WhatsApp. Bagaimana caranya? Seperti kutip dari Android Police, Kamis (23/7/2015), WhatsApp memasukkan dua fitur baru di bagian Setting. Salah satunya adalah “low data usage”.

Saat bagian tersebut dipilih, sistem secara otomatis akan memperkecil penggunaan data saat menggunakan fitur WhatsApp Call. Tentunya, fitur baru ini akan sangat membantu apabila kuota paket data sudah mulai menipis atau kualitas jaringan sedang buruk. Beberapa situs teknologi mengklaim sudah mencoba fitur baru ini. Hasilnya, kualitas suara dikatakan masih cukup baik. Penurunan kualitas suara tentu terjadi, meski tidak terlalu signifikan.

Selain itu, terlihat ada fitur yang mengizinkan pengguna untuk backup atau menyimpan perbincangan di aplikasi Google Drive. Fitur ini sendiri sebenarnya sempat hadir beberapa bulan lalu, tetapi sempat dihilangkan oleh pihak WhatsApp. Belum jelas, apakah fitur ini nantinya akan tetap hadir di WhatsApp versi terbaru atau tidak.

Satu fitur baru lainnya disebut sebagai “Mark As Unread”. Tekan dan tahan sebuah pesan, nantinya akan ditampilkan pilihan fitur tersebut. Saat fitur tersebut digunakan, warna tulisan akan berubah menjadi hijau, menandakan pesan itu belum dibaca. Fitur ini akan berguna bagi yang ingin menandai atau sebagai pengingat sebuah pesan penting yang akan dibaca kembali di masa yang akan datang.

Ada juga fitur notifikasi baru. Pengguna bisa mengatur ringtone yang berbeda untuk tiap orang dan grup. Tidak hanya itu saja, pengguna bisa mengatur warna lampu notifikasi yang berbeda untuk pemberitahuan setiap ada pesan yang masuk. Itu artinya pengguna bisa mengatur suara notifikasi yang berbeda untuk tiap orang. Pengguna juga nantinya bisa menggunakan fitur “mute” untuk tidak memberikan notifikasi setiap ada pesan dari orang tertentu.

Fitur notifikasi itu sendiri nantinya bakal ditemukan di laman detail dari satu orang atau grup. Untuk membuka laman detail tersebut, tekan dan tahan di orang atau grup yang diinginkan, kemudian pilih “View Contact”. Hingga berita ini dinaikkan, WhatsApp versi terbaru itu masih belum hadir di Google Play Store. Namun, bagi yang sudah tidak sabar untuk mencoba fitur barunya, bisa mendapatkan file instalasi versi 2.12.197

Blackberry Generasi Berikut Akan Memakai Android

Kabar mengejutkan datang dari produsen ponsel pintar BlackBerry. Menurut gosip yang berhembus, perusahaan ini bergerak untuk membuat perangkat genggam selain menggunakan sistem operasi buatannya sendiri. Dan memang bisa ditebak, ponsel yang akan dibuat itu kasak-kusuknya akan memakai sistem operasi yang tengah naik daun, Android. Artinya, akan ada ponsel BlackBerry dengan OS murni buataan Google tersebut.

Sumber yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena mereka belum berwenang untuk membahas masalah ini secara terbuka, mengatakan kepada Reuters bahwa langkah untuk menggunakan Android merupakan bagian dari strategi BlackBerry yang fokus pada perangkat lunak dan manajemen perangkat. Dengan langkah menggunakan sistem operasi Android, belum jelas benar apakah ini akan menjadi akhir dari sistem BlackBerry 10 yang gegap gempita diumumkan pada awal 2013 lalu.

BlackBerry 10 sendiri bukan sesuatu yang asing bagi Android. Karena sistem operasi ini memberikan jalan bagi aplikasi Android untuk bisa diinstal dan berjalan di perangkat tersebut, langkah itu juga sebagai bentuk agar BlackBerry 10 makin diminati oleh pengguna. Di bawah kepemimpinan CEO Jhon Chen, BlackBerry terus melakukan pembenahan setelah pangsa pasar mereka mengalami penggerusan dan hanya mampu merengkus 1 persen dari total di seluruh dunia.

Sementara itu, ketika hal tersebut dikonfirmasi ke pihak BlackBerry. Perusahaan berbasis di Ontario, Kanada ini, enggan memberikan jawaban pasti atas rumor yang berkembang tersebut. “Kami tidak mengomentari rumor dan spekulasi, tapi kami tetap berkomitmen untuk sistem operasi BlackBerry 10, yang menyediakan keamanan dan produktivitas manfaat yang tak tertandingi,” kata perusahaan dalam sebuah email.

Sudah bukan rahasia umum, saat ini aplikasi pesan instan tak lagi mengandalkan fitur bertukar pesan semata saja. Lebih dari itu, mereka memperluas layanannya dalam satu kesatuan platform. Seperti Line, pengguna juga bisa memainkan game-game besutan pihak ketiga dan menghubungkannya ke layanan pesan instan tersebut. Dan tak cuma Line yang melakukan hal tersebut, karena kini ada BlackBerry Messenger (BBM).

Dikutip melalui blog resminya, BBM memperkenalkan fitur yang diberi nama BBM Connect Game dan untuk sementara hanya bisa digunakan untuk pengguna Android saja. Game-game tersebut bisa diundh melalui BBM Connect Apps dan terintegrasi dengan akun pengguna BBM. Nantinya, ketika bermain, pengguna bisa berinteraksi, berbagi nilai dan mengirimkan uang virtual ke kontak BBM yang ikut bermain.

Beberapa game yan terkoneksi dengan BBM Connect ini diantaranya Altermyth Daruma Fever, Altermyth Deceazed dan Binary Works Wayang Jump. “Produktivitas selalu identik dengan BBM dan BlackBerry. Namun kita semua membutuhkan waktu rehat untuk menyeimbangkan antara kerja dan hidup. Apalagi ponsel pintar membuat kita sulit untuk melepaskan diri,” tulis pihak BlackBerry. “BBM memiliki cara yang lebih baik untuk Anda dengan menambahkan kehidupan yang seimbang dengan memberikan pembaruan dengan intergrasi game ke kontak BBM.”

Program Malware dan Virus Mulai Serang Pengguna Ponsel Untuk Sandera Data Sensitif

Program jahat atau malware kini tidak hanya menyerang konsumen yang memakai perangkat komputer pribadi, tetapi juga pengguna ponsel pintar di jaringan operator seluler. Network Security Management Telkomsel, Ariyanto Setyawan memaparkan, pelanggan operator seluler mulai menjadi target utama dari kejahatan siber mengingat ponsel pintar sudah jadi alat yang tak bisa ‘lepas’ dari penggunanya.

“Pelanggan itu sasaran yang dominan bagi dalang malware. Bisa melalui virus bot atau zombie,” kata Ariyanto pada acara Simposium Nasional Cyber Security 2015 di Jakarta, Kamis (6/4). Malah, bukan tak mungkin apabila si peretas menyebarkan pesan teks atau SMS broadcast ilegal yang isinya bersifat ajakan untuk melakukan transaksi penipuan, macam modus “Mama Minta Pulsa,” atau pengelabuan berupa tautan yang sebenarnya adalah jebakan untuk menyisipkan malware ke perangkat konsumen.

Beberapa cara lebih ‘halus’ lainnya adalah ajakan atau promosi layanan secara cuma-cuma alias gratis yang sudah sangat jelas tak masuk akal. “Bisa juga mengirimkan link penipuan juga untuk para pelanggan demi mendapatkan layanan gratis itu. Padahal itu bisa mengantarkan ke malware,” sambung Ariyanto. Dari situ, bukan tak mungkin apabila data dari si pemilik ponsel pintar dicuri oleh peretas. Ponsel pintar saat ini telah menjadi perangkat yang sifatnya sangat personal. Di sana email sering diakses, di sana pula pembicaraan penting dilakukan, sampai nomor kartu kredit sering digunakan untuk belanja.

Ariyanto pun menjabarkan secara singkat inti masalah dari perusahaan operator telekomunikasi. Salah satunya adalah salah konfigurasi dan pemilihan teknologi yang tidak tepat. Ia juga meyakini, kesadaran diri yang timbul dari tiap individu pelanggan perlu dibangun kembali agar lebih peka terhadap aksi-aksi yang mencurigakan seperti itu. “Jika merasa tidak pernah punya hubungan dengan konten yang dikirimkan melalui SMS misalnya, ya sudah tidak usah dilanjutkan dan langsung hapus saja,” ujarnya.

Bentuk program jahat komputer atau virus dan modusnya terus berkembang, bahkan kini ada virus penyandera dokumen yang disimpan di komputer pribadi dan meminta tebusan secara online agar dokumen itu dibebaskan.Karena meminta tebusan, virus penyandera ini populer disebut ransomware oleh para ahli keamanan siber. Ia mulai terdengar sejak pertengahan 2013 lalu secara global, lalu mulai masuk ke Indonesia pada pertengahan 2014. Lantas, perlukah kita menuruti permintaan si peretas yang meminta tebusan uang?

Menurut Gildas Deograt Lumy, Ketua Tim Koordinasi dan Mitigasi Desk Ketahanan dan Keamanan Informasi Cyber Nasional di Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum & Keamanan, kebanyakan virus penyandera akan meminta tebusan dalam bentuk mata uang virtual Bitcoin.”Mayoritas memang pakai Bitcoin. Tapi yang tidak pakai juga banyak. Ada juga yang pakai Moneygram,” ucap Gildas di sela acara Simposium Nasional Cyber Security 2015 di Jakarta, Kamis (4/6).

Gildas menilai tidak seharusnya korban menuruti permintaan peretas yang menyandera dokumen. Artinya, sebisa mungkin untuk tidak memberi uang sepeser pun pada pemeras.”Yang namanya penjahat, ada yang dibalikin data kita, tapi ada juga yang tidak. Semua kendali ada di dia,” sambungnya.Maka dari itu, Gildas secara realistis mengatakan cara yang paling ampuh untuk meminimalkan risiko kehilangan data atau data tersandera adalah membuat data cadangan atau backup di tempat yang terpisah.

Hal senada diungkapkan Alfons Tanujaya, Direktur perusahaan antivirus Vaksincom yang berbasis di Jakarta. Ia menyarankan dokumen penting yang ukurannya besar bisa di-backup di kepingan DVD dan disimpan secara offline. Sementara dokumen yang ukurannya relatif kecil bisa di-backup di layanan komputasi awan seperti Dropbox atau Google Drive.

Selain itu, hindari pula mengunjungi situs web yang tidak jelas pengelolanya seperti Torrent atau pornografi, karena di sana adalah gudang dari virus dengan segala macam modus kejahatan.Gildas menambahkan agar pengguna memakai peranti lunak antivirus dan jangan sembarangan menancapkan flashdrive ke port USB komputer, karena perangkat mungil ini sering menjadi media penyebaran virus komputer.Vaksincom sejauh ini telah menemukan sejumlah ransomware bernama Teslacrypt, Cryptowall, dan Alfacrypt. Yang terbaru adalah Locker atau juga dikenal CTB Locker.

Seorang desainer grafis bernama Agus Wiyono yang tinggal di Jatiasih, Bekasi, mengaku komputer berbasis Windows 7 yang biasa ia pakai untuk bekerja, terinfeksi virus Locker versi 5.46 pada 25 Mei 2015 lalu.Locker membuat dokumen pentingnya yang diolahnya dengan peranti lunak Adobe InDesign dan Photoshop tidak bisa dibuka, juga dokumen Microsoft Word dan .JPEG.”Saya terpaksa harus mengerjakan ulang dokumen desain yang sudah ditunggi oleh klien,” ujar Agus yang biasa mengerjakan desain grafis untuk untuk perusahaan dan lembaga swadaya masyarakat.

Dokumen yang terkunci oleh virus Locker hanya dapat dibuka dengan kode rahasia unik yang tersimpan di server milik peretas. Di sana peretas juga mengancam jika korban tidak membayar tebusan, maka dokumen akan “dihancurkan” dan tidak dapat membuka dokumen itu lagi.Agar dokumennya bisa dibuka, peretas yang memegang kendali virus Locker ini meminta tebusan senilai 0,1 Bitcoin. Saat ini, harga 1 Bitcoin mencapai Rp 2.950.000 di bursa lokal Bitcoin.co.id. Jika mengikuti nilai konversi itu, maka Agus diminta membayar Rp 2.950.

Agus mengaku tidak mengerti cara kerja Bitcoin. Karena itu dia memilih untuk tidak mentransfer dana dan pasrah dokumennya hilang. Selain itu, tidak ada keterangan pula dari si peretas, tebusan senilai 0,1 Bitcoin itu berlaku hanya untuk satu dokumen atau untuk semua dokumen.Alfons menyarankan para korban agar tidak memberi tebusan. “Kalau dibayar akan makin menjadi-jadi dan kenyataannya sudah makin menjadi-jadi. Mau tidak mau kita harus kehilangan data,” ujar Alfons.

Menurut data dari situs VirusRadar.com, virus yang disebut CTB Locker menyebar di 0,16 persen komputer bersistem operasi Windows XP, Windows Vista, Windows 7, dan Windows 8, di Indonesia. Vaksincom memprediksi varian ransomware akan berlipat dua kali lipat dibandingkan tahun 2014. Artinya, jumlah ransomware ini akan terus berkembang dan mengancam para pengguna komputer.