Category Archives: Cloud

36 Persen Perusahaan di Indonesia Terkena Serangan Hacker

Perusahaan keamanan FireEye mengungkapkan hasil penelitiannya selama kuartal kedua 2015. Dari data tersebut, tercatat sebanyak 36 persen perusahaan di Indonesia yang terkena serangan siber cukup serius. “Semua organisasi rawan diserang. Kebanyakan, yang diserang adalah pemerintahan, militer, finansial dan berbagai perusahaan besar,” kata Bryce Boland, CTO FireEye Asia Pasifik.

Sayangnya ia enggan membeberkan berapa jumlah perusahaannya. Yang pasti, perusahaan yang disurvei adalah pelanggan FireEye di Indonesia baik lokal maupun internasional. Berdasarkan data yang dikumpulkan, setidaknya ada 4 kelompok peretas yang berusaha menyerang Indonesia. 3 di antaranya dari China, sedangkan sisanya berasal dari Eropa Timur.

Ia juga menjelaskan bahwa tingkat kematangan keamanan siber ada tiga, yakni Detection, Response, dan Hunting. Indonesia sendiri baru bisa mencapai tingkat yang paling rendah, yakni Detection. Ini dikarenakan keamanan siber masih belum menjadi prioritas utama.

“Perusahaan di Indonesia punya budget yang cukup banyak, tapi dipakai untuk yang lain, Bukan untuk memelihara dan mengembangkan keamanan sistemnya,” lanjutnya. Di saat yang sama, Bryce juga mengungkapkan hasil riset dari Australian Strategic Policy Institute tentang tingkat kematangan keamanan siber di Asia Pasifik pada tahun 2015.

Hasilnya, kematangan infrastruktur keamanan siber di Indonesia, menempati urutan 14 dengan angka 46,4 persen setelah Thailand (49,1 persen) dan Filipina (46,8 persen). Posisi pertama sendiri ditempati oleh Amerika Serikat dengan angka 90,7 persen. Disusul oleh Jepang (85,1 persen), Korea selatan (82,8 persen), Singapura (81,8 persen) dan Australia (79,9 persen)

Advertisements

5 Mega Trend IT Teknologi Informasi Yang Mengubah Dunia

Dirk-Peter van Leeuwen, Senior Vice President & General Manager Red Hat kawasan Asia Pasifik & Jepang, menuangkan pemikirannya soal megatren di sektor teknologi informasi. Dalam email yang diterima Minggu (23/8/2015), ia melihat ada perubahan-perubahan mendasar mulai terlihat dalam perekonomian dan cara bisnis dijalankan saat ini.

Di era informasi ini, menurutnya, perusahaan harus memikirkan kembali pondasi operasional mereka dan bergerak untuk membuat segalanya menjadi lebih cepat dan kompetitif secara ekonomi, bukannya berpegang pada paradigma lama yakni membangun sekedar untuk menjadi lebih besar dan lebih baik.

Bisnis telah berevolusi dari sistem yang dibangun untuk meraih efisiensi menjadi sistem yang dibuat untuk inovasi, di mana alat yang paling berharga saat ini adalah informasi dan akses terhadap teknologi seperti perangkat-perangkat cerdas. Perusahaan yang telah berinovasi dan ber-evolusi dengan teknologi saat ini diakui telah meningkat dan menjadi salah satu perusahaan terbesar di industri mereka masing-masing.

Misalnya, Uber, sebuah perusahaan taksi, tidak memiliki mobil, Facebook, sebuah platform media, tidak membuat konten, dan Airbnb, sebuah penyedia layanan akomodasi, tidak memiliki real estate. “Kesamaan dari ketiga contoh tersebut adalah pemberdayaan konsumen dengan menggunakan aplikasi dalam perangkat cerdas mereka,” tulis van Leeuwen.

Perusahaan kini tidak diragukan lagi berada di bawah tekanan tinggi untuk menjawab kebutuhan akan aplikasi dan pengalaman seperti yang biasa dinikmati oleh konsumen. Industri, apapun skalanya, tidak dapat sekadar mengandalkan aset mereka. Perusahaan harus terus menerus menciptakan kembali jati dirinya untuk tetap menjadi yang terdepan. Menyimpulkan hasil diskusi topik utama di Red Hat Summit 2015, van Leeuwen pun menyoroti tren-tren teknologi utama yang akan menjadi pusat perhatian dalam beberapa tahun ke depan.

Digitalisasi
Pada dekade lalu, TI telah mengalami berbagai perubahan. Kita telah bergerak dari grid ke cloud, dari arsitektur yang berorientasi layanan ke microservices, dan dari virtualisasi mesin ke teknologi container. Namun, transisi lain berlangsung secara diam-diam. Berbagai teknologi dan kekayaan intelektual yang ada semakin terekspos dalam software, dalam suatu tren yang disebut para analis industri sebagai digitalisasi. Digitalisasi telah didorong oleh konvergensi, dan keselarasan tren-tren sosial, ekonomi, dan teknologi. Digitalisasi semua hal, mulai dari solusi mobile hingga privasi dan keamanan, akan menjadi sumber diferensiasi kompetitif oleh perusahaan yang menjalankannya secara benar. Perusahaan harus mengadopsi teknologi terintegrasi yang memungkinkan perusahaan tersebut menggabungkan aset-aset intelektual mereka dengan API web agar dapat menghasilkan produk dan solusi

‘Containerized’ IT
Containerization adalah alternatif ringan dari virtualisasi mesin secara penuh yang mencakup penempatan aplikasi dalam sebuah container di lingkungan operasinya sendiri. Dalam lingkungan perusahaan saat ini, container telah mentransformasi TI dengan cepat dan menarik perhatian luar biasa karena keuntungan beragam yang diberikannya

“67% responden dalam survei yang disponsori Red Hat baru-baru ini yang melibatkan para pengambil keputusan IT global dan pekerja profesional berencana mengaplikasi aplikasi berbasis container dalam waktu dua tahun ke depan,” kata van Leeuwen. Perusahaan memerlukan platform infrastruktur terintegrasi yang dirancang untuk menjalankan, mengatur dan meningkatkan skala aplikasi dan layanan berbasis multi-container. Mereka juga memerlukan proses kreasi implementasi yang disederhanakan yang akan membantu mereka untuk mengelola aplikasi-aplikasi cloud-native dan tradisional secara konsisten.

Tahunnya PaaS
Platform-as-a-Service (PaaS) telah mendapatkan dukungan industri yang sangat kuat selama beberapa tahun belakangan. Namun, 2015 dapat menandai sebuah babak baru dalam sejarah PaaS. Docker mempopulerkan konsep containerization, dan dunia mengakui kelayakan arsitektur berbasis container ini. Kini perusahan beralih dari menanyakan tentang container sebagai bagian dari roadmap ke pertanyaan mengenai rincian implementasi. Tahun lalu menunjukkan semakin banyak perusahaan lebih memilih PaaS sebelum Infrastructure-as-a-service (IaaS) sebagai pondasi strategi cloud privat/hybrid mereka. Perusahaan mendambakan platform yang fleksibel untuk arsitektur microservices, dan vendor PaaS dan cloud mulai menyediakan hal tersebut. Container open source dan praktek pengaturan yang mengubah pengalaman pengembang dan menggeser platform ke arah yang diinginkan pelanggan kini tersedia.

Tren Internet of Things (IoT) yang saat ini berkembang memberikan tekanan lebih besar bagi vendor PaaS untuk menyediakan layanan yang mudah untuk dikelola, mudah didapatkan, dan sangat skalabel.

Mobilitas Makin Kencang
Perusahaan-perusahaan besar memanfaatkan tren konsumerisasi TI yang semakin meningkat dan perangkat bergerak yang tersebar luas, karena mereka memiliki tujuan untuk mengembangkan berbagai aplikasi guna meningkatkan produktivitas karyawan dan kepuasan pelanggan.\\Sebuah studi menemukan bahwa 82% organisasi yang berencana untuk berinvestasi dalam solusi-solusi manajemen perangkat mobile menciptakan berbagai kebijakan mengenai hal tersebut pada tahun 2015. Mobilitas menjadi prioritas utama bagi banyak perusahaan dengan tujuan untuk mendorong inovasi, menyederhanakan efisiensi operasional, dan mengembangkan model-model bisnis baru. Perusahaan kini mencari solusi-solusi yang bisa mendukung pengembangan dan integrasi aplikasi–aplikasi enterprise secara cepat untuk membantu mereka bergerak menuju strategi mobile-first (platform mobile menjadi yang utama).

Menggugah Enterprise
Red Hat Summit tahun ini mempertemukan para eksekutif perusahaan, pelanggan dan mitra dengan tren-tren teknologi yang disebutkan di atas dan inovasi-inovasi produk di Red Hat. Dalam konferensi tersebut, Jim Whitehurst, CEO Red Hat, menekankan bahwa nilai teknologi open source tidak hanya mengenai lisensi software, tetap juga tentang kolaborasi dan komunitas. Red Hat Summit adalah acara tahunan di mana Red Hat dan para visioner industri teknologi mengungkapkan pandangan-pandangan mereka mengenai masa depan perusahaan teknologi dan mengeksplorasi bagaimana software open source mengubah segalanya mulai dari cloud dan containers Linux ke mobile, big data, Internet of Things, dan lainnya.

Tema utama tahun ini adalah teknologi container Docker, dengan pengumuman mengenai Atomic Enterprise Platform dan platform OpenShift Enterprise 3 dari Red Hat. Atomic Enterprise membawa platform hosting dengan dukungan enterprise-grade untuk penggelaran dan pengaturan container Docker, sementara OpenShift adalah penawaran PaaS yang menyasar pengembang yang membangun, mengelola dan mengimplementasikan container.

Cara Menghack Perangkat iPhone dan iCloud Untuk Mendownload Foto Bugil Pemiliknya

Internet dihebohkan dengan munculnya foto bugil selebriti dunia, seperti Jennifer Lawrence, Ariana Grande, dan Kate Upton. Diperkirakan peretas mendapat foto tersebut dari layanan penyimpan data awan iCloud milik Apple. Dikutip dari Daily Mail, Selasa, 2 September 2014, seorang ahli menemukan kode perangkat lunak berbahaya bernama Github. Perangkat lunak ini bisa digunakan peretas untuk melakukan “serangan brutal”.

Serangan ini menggunakan metode “coba dan gagal” dengan mencoba banyak kemungkinan kombinasi. Peretas mungkin menggunakan teknik “rekayasa sosial” untuk mendapatkan akun dan password Apple ID berdasarkan informasi dasar pengguna, seperti alamat e-mail, nama, dan tanggal lahir. Mengingat targetnya adalah selebriti, tidak sulit untuk menemukan data tersebut.

Serangan brutal lalu digunakan untuk mendapatkan kata sandi pada akun iCloud, khususnya dengan mengandalkan fitur Find My Phone di iPhone yang digunakan untuk memblokir ponsel yang hilang. Jika sudah mendapatkan ID dan password, peretas tinggal mengendalikan perangkat dari jarak jauh dan mengunci perangkat dengan menggunakan Find My Phone. Inilah sebabnya pengguna perlu membuat username dan password yang rumit dan unik agar keamanan lebih tahan dari terobosan peretas.

“Kasus foto artis Hollywood ini masih harus diselidiki apakah ada kesalahan pada layanan atau koleksi pribadi yang sudah bocor sebelum disimpan,” kata peneliti keamanan di Kaspersky Lab, Stefano Ortolani. Selain iCloud, foto tanpa busana ini mungkin bisa didapat dari Photo Stream, layanan berbagi foto dari iCloud. Dengan Photo Stream, pengguna bisa membagi data dari iPhone ke berbagai perangkat Apple lainnya, seperti iPad atau iPod Touch

iCloud diduga menjadi sumber peretas untuk menyebar foto bugil sejumlah artis Hollywood. Kejadian itu membuat orang penasaran tentang seberapa kuat keamanan layanan komputasi awan milik Apple itu, sehingga bisa diterobos peretas.

Dikutip dari Mashable, Senin, 1 September 2014, data yang tersimpan di iCloud dienkripsi baik dalam server maupun ketika saat akan dikirimkan. Data pada iCloud sebenarnya cukup aman, sebab username dan password pengguna tidak tersimpan pada aplikasi apa pun.

Pihak ketiga juga harus mengakses data pengguna melalui Secure Sockets Layer atau SSL yang memiliki tingkat keamanan yang tinggi. Jadi, selama password pengguna unik dan rumit, peretas akan semakin sulit untuk mengalihkan data saat akan disimpan ke iCloud.

Karena itu, agar akun Anda aman, buat username dan password yang unik. Jangan menggunakan e-mail yang sama untuk beberapa akun berbeda. Gunakan pengaman kunci dan password pada komputer dan akun ponsel. Selain itu, gunakan layanan penyimpanan awan versi terbaru karena pengembang selalu memperbarui tingkat keamanannya.

Namun, meski menggunakan username dan password yang sulit, sistem pasti punya banyak celah. Peretas kelas kakap bisa mudah menemukan celah itu dengan menyusupi virus atau bug pada server.

Juru bicara Apple mengakui ada bug yang mengganggu fitur Find My Phone, layanan yang memungkinkan pengguna mendapatkan kembali perangkat mereka jika hilang atau mencegah diaksesnya data oleh orang yang tidak diinginkan. Bug tersebut menjadi rentan dan memudahkan peretas mendapatkan password untuk menerobos iCloud dari ponsel.

Apple Janji Telusuri Bagaimana Hacker Menjebol Akun iCloud Jennifer Lawrence

Apple berjanji akan menyelidiki penyebab kebocoran foto bugil Jennifer Lawrence atau J-Law, Kate Upton, dan Ariana Grande, yang disebar oleh peretas di dunia maya sejak kemarin. Apple akan mencari tahu apakah ada pelanggaran keamanan di layanan iCloud yang diduga menjadi sumber peretas mendapatkan foto tersebut.

“Kami menjaga privasi pengguna dengan sangat serius dan secara aktif akan menyelidiki laporan ini,” kata juru bicara Apple, Natalie Kerris, seperti dilaporkan CNET, Senin, 1 September 2014.

Foto bugil sejumlah artis Hollywood itu disebar oleh peretas di situs 4chan. Menurut laporan, ada sekitar 100 foto bugil artis papan atas lainnya yang menjadi korban, tapi tidak jelas apakah foto itu sungguhan atau hasil rekayasa.

Kerris menjelaskan, ada sebuah bug yang terdapat pada fitur Find My Phone, layanan yang memungkinkan pengguna mendapatkan kembali perangkat mereka jika hilang atau mencegah diaksesnya data oleh orang yang tidak diinginkan. Dengan bug itu, peretas dengan mudah mengendalikan ponsel dan mengubah password pengguna untuk membuka akses iCloud.

Layanan iCloud memungkinkan pengguna untuk menyimpan data dalam database virtual. Informasi ini termasuk kontak, dokumen, pesan, dan foto. Untuk menangani kasus ini, Apple juga bekerja sama dengan Biro Investigasi Federal FBI). Kasus ini akan ditangani dengan serius dan pelaku akan dikenakan hukuman yang setimpal.

Fujitsu Tawarkan Solusi Teknologi Informasi Untuk Bandara Soekarno Hatta

Perusahaan teknologi informasi Fujitsu menawarkan solusi teknologi untuk pengelolaan bandar udara (bandara) di Indonesia di tengah pesatnya perkembangan industri penerbangan di dalam negeri seiring pertumbuhan ekonomi. Tumbuh pesatnya industri penerbangan dan ekonomi telah menciptakan situasi-situasi baru dalam sarana transportasi modern itu seperti semakin padatnya jumlah penerbangan, kian banyaknya maskapai komersial, serta kian luasnya detinasi penerbangan.

Kondisi bandara pun semakin sibuk, lalu lintas pesawat kian padat, dan bandara dituntut untuk memberikan layanan kualitas prima dengan sistem keamanan yang terus terjaga, kata Presiden Direktur Fujitsu Indonesia Achmad S Sofwan di Jakarta, Kamis sore. Fujitsu memahami bahwa transportasi udara kini semakin berperan dalam mendukung aktivitas dan produktivitas masyarakat di mana pun termasuk Indonesia, kata Sofwan dalam buka bersama media.

“Hal itu mendorong para pengelola bandara untuk meningkatkan sistem pengelolaan yang terintegrasi melalui sebuah solusi TIK yang komprehensif. Fujitsu telah memiliki solusi TIK yang dibutuhkan untuk mengatasi beragam tuntutan tersebut.” Arief Ismail dari Application Service Presales Fujitsu Indonesia menjelaskan bahwa beberapa solusi TIK untuk pengelolaan bandara yang ditawarkan Fujitsu antara lain Flight Information System (FIS), Boarding Pass and Baggage Tag Printer, dan Baggage Handling System (BHS).

Kemudian Baggage Reconsiliation System (BRS), Noise Monitoring System, Intruder Monitoring, Ramp Pass Management System, serta Network Equipment. FIS merupakan sistem layanan informasi penerbangan yang disajikan secara cepat, akurat dan memadai untuk membantu pelanggan/penumpang mendapatkan informasi yang diperlukan dengan mudah bahkan via ponsel seketika. Sedangkan Boarding Pass and Baggage Tag Printer adalah sistem koordinasi bagasi dengan boarding pass, dan Baggage Handling System berguna untuk mengoptimalkan proses penyortiran dan pengontrolan bagasi penumpang pada masing-masing pesawat.

Kalau Baggage Reconsiliation System, menurut Arief, merupakan sistem pengemasan bagasi ke kontainer. Setelah bagasi dipindahkan, sistem akan melakukan inspeksi untuk memastikan tidak ada kesalahan dalam penandaan bagasi dan sistem ini akan terintegrasi dengan informasi jadwal penerbangan serta data bagasi penumpang ketika ceck in.

Sementara Noise Monitoring System merupakan sistem untuk memonitor tingkat kebisingan bandara, Ramp Pass Management System untuk memperketat pengontrolan dan perizinan bagi orang-orang untuk memasuki area terlarang bandara, dan untuk membangun jaringan komunikasi broadband dan wireless LAN berskala besar di bandara, Fujitsu punya solusi Network Equipment.

“Dengan solusi yang ditawarkan, Fujitsu berharap bandara-bandara yang menerapkannya akan menjadi bandara dengan layanan dan tata-kelola berkualitas tinggi, sesuai dengan standar baku internasional,” tambah Achmad Sofwan. Solusi bandara Fujitsu sejauh ini sudah diterapkan di bandara-bandara besar dan tersibuk di dunia seperti Heathrow, Gatwick, Manchester, Dublin, Schiphol, Narita Tokyo.Investasi teknologi baru pengelolaan bandara mendesak dilakukan bagi Bandara Internasional Soekarno Hatta kerena frekuensi penerbangan yang kian sibuk dan tuntunan pelayanan yang lebih baik.

Pakar industri dan pengelolaan penerbangan Gerry F Soejatman mengatakan, pengelola Bandara Soekarno Hatta di Tangerang perlu mengadopsi teknologi sistem pengelolaan bandara yang lebih modern untuk mengatasi hambatan-hambatan karena meningkatnya frekuensi penerbangan dan tuntutan peningkatan pelayanan. Dengan pergerakan pesawat yang sudah terlalu sibuk–sekitar 1300 penerbangan per hari–perlu diterapkan sistem yang bagus di Bandara Soekarno Hatta agar tidak terjadi decline atau penurunan penumpang akibat keterlambatan-keterlambatan penerbangan dan tidak terpenuhinya tuntutan pelayanan yang baik.

“Kalau kita pasang sistem yang bagus, artinya kita bisa memastikan itu tidak decline. Sekarang yang kita takutkan adalah karena terlalu padat, karena tidak continue terus orang menghindar dan terjadi penurunan. Itu akan parah dampaknya untuk Jakarta nanti,” kata Gerry dalam satu acara Fujitsu di Jakarta, Kamis. Meskipun, menurut Gerry, ICT hanyalah sarana untuk memperlancar atau mengoptimalkan pengelolaan saat ini dan solusinya nyatanya (real solution) adalah perluasan landasan pacu atau membangun bandara baru.

Dari sisi pergerakan pesawat, kata Gerry, di Bandara Soekarno Hatta sudah sangat sibuk dengan sekitar 1300 penerbangan per hari, lebih sibuk dari bandara Tokyo meskipun tidak lebih banyak dari segi jumlah penumpangnya. Dalam kesempatan sama, Presiden Direktur Fujitsu Indonesia Achmad S Sofwan memaparkan mengenai produk solusi pengelolaan bandara yang disediakan Fujitsu dan sudah digunakan di bandara-bandara besar termasuk Narita Tokyo, Jepang.

Solusi-solusi bandara dari Fujitsu itu meliputi sistem informasi penerbangan (Flight Information System), Boarding Pass and Baggage Tag Printer, Baggage Handling System (BHS), Baggage Reconsiliation System (BRS), Noise Monitoring System, Intruder Monitoring, Ramp Pass Management System, serta Network Equipment. Fujitsu memahami bahwa transportasi udara kini semakin berperan dalam mendukung aktivitas dan produktivitas masyarakat di mana pun termasuk Indonesia, kata Sofwan dalam buka bersama media.

“Hal itu mendorong para pengelola bandara untuk meningkatkan sistem pengelolaan yang terintegrasi melalui sebuah solusi TIK yang komprehensif. Fujitsu telah memiliki solusi TIK yang dibutuhkan untuk mengatasi beragam tuntutan tersebut.” Ditanya mengenai apakah solusi pengelolaan bandara itu sudah ditawarkan kepada otoritas penerbangan di Indonesia, Achmad Sofwan mengatakan sudah melalui seminar beberapa waktu lalu dan beberapa pertemuan, presentasi juga.

“Tanggapan mereka cukup bagus, mereka melihat ini bisa dipakai, tapi seperti biasa di pemerintahan kan cukup lama ya prosesnya cukup lama. Harapannya ya bisa dipakai,” kata Achmad Sofwan menambahkan.

2015 Mayoritas Perusahaan Indonesia Akan Gunakan Cloud Computing

Teknologi berbasis komputasi awan atau cloud diprediksi mengalami pertumbuhan yang pesat di Indonesia. Data SAP, sebagai penyedia solusi teknologi informasi memprediksi pada 2015, 75 persen perusahaan di Indonesia akan mengadopsi teknologi tersebut.

“Saat ini cloud tidak hanya diminati oleh perusahaan besar, tetapi juga perusahaan menengah di Indonesia,” ujar Managing Director PT SAP Indonesia, Megawati Khie, di Jakarta, Rabu, 14 Mei 2014.

Dia mengatakan, komputasi awan diminati karena konsepnya yang sederhana, yakni membagi kapasitas dan aplikasi dengan memanfaatkan internet sebagai medium utama. Aplikasi dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Bahkan Megawati mengatakan, salah satu mitra SAP di Indonesia, yakni sebuah bank, memanfaatkan aplikasi berbasis komputasi awan tidak hanya untuk kepentingan di divisi teknologi informasi. Bank tersebut mengembangkan aplikasi yang dapat diakses oleh setiap karyawan untuk mengetahui pencapaian perusahaan.

Selain sifatnya yang diklaim sederhana, komputasi awan juga dapat menghemat anggaran perusahaan. Sebabnya, dana yang dikeluarkan perusahaan tergantung dari seberapa besar kapasitas penyimpanan yang dibutuhkan. “Kalau membeli server, sudah ada harga patokannya,” ucap Megawati.

Meski diklaim memberikan kemudahan, komputasi awan juga memiliki kelemahan. “Menggunakan cloud sangat bergantung dari koneksi Internet,” ujar Transition Management Assistant PT Lintasarta, yang juga pakar teknologi informasi, Denny Sugiri.

Dia menyoroti perkembangan infrastruktur penunjang koneksi Internet di Indonesia. Denny menyebutkan, penggunaan komputasi awan akan optimal di jaringan dengan kecepatan tinggi, yakni 4G long term evolution (LTE). “Padahal 3G saja di Indonesia belum merata, pemanfaatan cloud secara optimal masih membutuhkan waktu,” ucapnya.

Perusahaan Microsoft Akan Luncurkan Layanan Cloud Berbasis Di Bali

Perusahaan perangkat lunak komputer Microsoft bersama Metrodata berekspansi ke kawasan timur Indonesia untuk memperluas jaringan pasar layanan komputasi awan (cloud computing).

Ekspansi ditandai dengan pembukaan kantor operasional di Bali dan mengujicoba layanan komputasi awannya baru-baru ini.

“Penerapan teknologi informasi tepat guna bagi peningkatan produktivitas dan penciptaan efisiensi bisnis tidak dapat ditunda lagi. Kami siap mendukung para pelaku ekonomi di daerah ini hingga ke Mataram dan Kupang,” kata Amalia Fahmi, Direktur SMS & P Microsoft Indonesia di Denpasar, Sabtu.

Bersama John Muljana dari PT Metrodata E Bisnis, selaku mitra pengembangan jaringan kerja, dijelaskan bahwa langkah pengembangan pasar atau market development program (MDP) itu sebagai bentuk dukungan kepada komunitas bisnis.

“Dalam program pengembangan pasar ini kami membidik komunitas bisnis sejak dari Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, kemudian kini masuk Bali dan Nusa Tenggara,” kata Amalia yang juga disertai Arthur Koentjorowibowo selaku pimpinan bisnis kecil-menengah Microsoft.

Dia menegaskan bahwa kehadirannya di Bali dan kawasan timur Indonesia bukan untuk melakukan penyisiran atau “sweeping” terkait maraknya penggunaan perangkat lunak atau program komputer bajakan, melainkan untuk mendukung pengembangan bisnis yang akan berbanding lurus terhadap kemajuan ekonomi daerah.

Terkait uji coba penerapan komputasi awan yang mulai banyak dibicarakan sebagai “green IT” atau teknologi informasi ramah lingkungan, Amalia membuka kesempatan kepada kalangan bisnis yang berminat mengaplikasikannya guna mendukung kapasitas dan kecepatan akses data.

Ketua II Asosiasi Profesional IT Bali, Armika Jaya, yang hadir bersama tim-nya sebagai pendukung kedua perusahaan tersebut, mengakui perkembangan teknologi informasi begitu cepat dan kini memasuki tahapan sistem komputasi awan.

“Keberadaan server, harddisk eksternal dan sejenisnya di masing-masing perusahaan, masih tetap diperlukan. Sistem komputasi awan justru sebagai solusi mengatasi keterbatasan kapasitas dan kecepatan dari teknologi yang sudah ada. Sebagian besar data bisa dipindahkan ke sistem komputasi awan sehingga tak mengganggu kecepatan akses data,” ujarnya.

Armika menambahkan, kehadiran Microsoft tidak hanya berbicara tentang pentingnya penggunaan piranti lunak asli dan berlisensi, tetapi juga memberikan edukasi tentang cloud computing sebagai solusi terjangkau bagi perusahaan, termasuk UKM.

“Dengan menerapkan sistem `komputasi awan`, perusahaan skala kecil dan menengah pun akan dapat mewujudkan produktivitas dengan cara mengubah belanja modal menjadi belanja operasional,” ucapnya.