Monthly Archives: September 2014

Smartfren Rilis Andromax Kitkat Murah Seharga Rp 500.000

Smartfren, perusahaan penyedia telekomunikasi berbasis teknologi CDMA, meluncurkan smartphone Android murah, Smartfren Andromax C3, pada Kamis (25/9/2014).

Deputy CEO Commercial Smartfren Djoko Tata Ibrahim mengatakan, Smartfren Andromax C3 hanya dibanderol Rp 500.000.

“Murah namun bukan murahan, dimana pengguna mendapatkan bonus 600 MB selama tujuh hari terhitung sejak diaktivasi,” kata Djoko pada acara peluncuran di Jakarta, seperti dikutip dari Antara.

Menurut Djoko, Andromax C3 merupakan smartphone yang disasar untuk para pemula pengguna smartphone. Meski harganya murah, Andromax C3 telah menggunakan sistem operasi terkini, Android 4.4 KitKat dan dibekali dengan “jeroan” yang cukup mumpuni.

Andromax C3 memiliki layar 4 inci, prosesor Snapdragon dual-core 1,2 GHz, chip grafis Adreno 302, RAM 512 GB, dan memori internal 4GB dengan dukungan kartu microSD hingga 32 GB.

Untuk urusan kamera, Andromax C3 dibekali kamera belakang 3 MP dengan fitur Face Detection.

“Pengguna tetap dapat eksis dengan mengabadikan momen-momen penting, baik dengan mengambil foto dan merekam video kapanpun dan dimanapun, yang menggunakan face detection atau model panorama yang sudah disesuaikan,” kata Djoko.

Andromax C3 mendukung penggunaan dual-SIM, CDMA EVDO dan GSM, yang bisa aktif secara bersamaan. Andromax C3 dilindungi garansi 12 bulan untuk layanan dan suku cadang serta 6 bulan untuk aksesori dalam paket.

Tren Pengaturan Internet di Asia Oleh Pemerintah Makin Mengkhawatirkan

Pertumbuhan pengguna Internet Asia tumbuh sangat pesat, dari 114,3 juta pada tahun 2000 menjadi 1,2 miliar tahun ini, atau sekitar 31,7 persen dari total pengguna dunia. Mereka yang menggunakan Internet di kawasan dengan populasi 3,9 miliar ini tumbuh sekitar 1.000 persen dalam 14 tahun. Hanya saja, pengaturan yang dilakukan sejumlah negara di kawasan ini dianggap kurang menggembirakan.

Direktur Eksekutif Southeast Asian Press Alliance (SEAPA) Ghayathri Venkiteswaran dalam acara konferensi 4M Jakarta: Informing the Web di kampus Universitas Atma Jaya, Jakarta, Rabu, 24 September 2014, menyebut soal sejumlah regulasi yang berdampak di dunia online di sejumlah negara yang dianggap mengkhawatirkan. “Tren pemerintah dan pembuat kebijakan kelihatan terobsesi dengan pengaturan kontennya, bukannya melindungi penggunanya,” kata Gayatri.

Menurut Gayatri, dalam tiga atau lima tahun belakangan ini, ada sejumlah pemerintah yang membuat regulasi tentang konten Internet, termasuk di Filipina, Malaysia, dan Indonesia. “Itu agak mengkhawatirkan karena seperti memberi kuasa kepada pemerintah untuk mengambil tindakan terhadap mereka yang kritis,” kata dia saat ditemui di sela acara konferensi. Ia memberi contoh Cybercrime Prevention Act 2012 di Filipina.

Undang-undang itu, kata Gayathri, muncul setelah ada kritik deras media terhadap politikus di negara itu. “Yang membuat undang-undang itu, anggota Kongres Filipina, memasukkan pencemaran nama baik secara online walaupun undang-undang itu sebenarnya untuk mengatur kejahatan di dunia cyber,” kata dia. Masyarakat sipil menggugat undang-undang itu dan Mahkamah Agung menyatakan sebagian pasal dalam undang-undang itu tak sesuai Konstitusi. Hanya saja, pasal soal pencemaran nama baik itu tak berubah.

Situasi agak mirip juga bisa dilihat di Indonesia. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik awalnya diniatkan untuk mengatur dan memberi perlindungan terhadap masyarakat saat bertransaksi secara online. Dalam pembahasannya, pasal pencemaran nama baik di Internet juga masuk di dalamnya. Pelaku pelanggaran terhadap pasal ini terancam pidana penjara paling lama enam tahun dan atau denda maksimal Rp 1 miliar.

Maria Ressa, dari media asal Filipina, Rappler.com, menambahkan, soal pasal pencemaran nama baik yang berlaku di negaranya bisa dipakai untuk menghukum siapa pun. “Jadi, trennya di Filipina adalah, orang masuk penjara terutama kalau ada politisi lokal atau hakim yang tidak suka dengan apa yang dikatakan seseorang,” kata dia Ressa di depan peserta konferensi.

Dalam konferensi, juga ada pandangan bahwa memang ada kebutuhan untuk mengatur Internet. Hanya saja, pengaturan seperti apa yang harus dilakukan? “Yang juga penting, siapa yang harus membuat pengaturannya,” kata Margiyono, anggota Media Defence Southeast Asia, dalam konferensi itu. Karakter Internet yang lintas batas negara membuat pengaturannya tak mudah. Apalagi masing-masing negara memiliki standar nilai yang berbeda-beda. Ia memberi contoh materi pronografi yang legal di Amerika Serikat, tapi ilegal di negara seperti Indonesia, Pakistan, dan sebagainya.

Pengaturan Internet, bagi Gayathri, diperlukan untuk melindungi keamanan di Internet, mengatur pornografi, mencegah pencurian data, dan semacamnya. Hanya saja, regulasi yang dibuat sejumlah pemerintah lebih condong untuk mengatur soal konten dan cenderung tak melindungi penggunanya. “Seperti di Kamboja, (pengaturan dilakukan) karena melihat Internet itu sebagai ruang bagi masyarakat sipil, oposisi, sebagai wadah berekspresi,” kata Gayathri.

Di Malaysia, tambah Gayathri, pemerintah menggunakan undang-undang ihwal keamanan negara untuk mengawasi Internet. Sejak dua tahun lalu, Malaysia memiliki Security Offences Act 2012, sebagai pengganti Internal Security Act 1960. “Undang-undang ini memang tak spesifik untuk dunia online, karena tujuannya untuk menjaga ketertiban umum. Tapi pengerahan massa atau menggunakan Internet untuk kepentingan itu bisa dijerat dengan aturan itu,” katanya.

Security Offences Act melarang tak lagi mengenal penahanan sampai 60 hari seperti saat Malaysia memiliki Internal Security Act. Masalahnya, definisi dalam undang-undang ini berifat karet dan ini membuatnya bisa digunakan untuk apa saja. Selain itu, kata Gayathri, Malaysia juga memiliki Akta Hasutan tahun 1948. Undang-undang ini memuat pidana untuk pencemaran nama baik, yang biasanya digunakan untuk menjerat orang yang dianggap mengkritik pemerintah, pengadilan, dan lembaga negara lainnya.

Ada sejumlah alasan mengapa sejumlah negara membuat pengaturan yang bersifat represif terkait dengan dunia online. Kata Gayathri, ada pemerintah yang mungkin merasa kehilangan kontrol atas itu. “Sejumlah pemerintah ingin mengontrol lagi, untuk mempertahankan kekuasaan,” kata dia. Namun ada juga pemerintah yang ingin berusaha menciptakan keseimbangan antara perkembangan teknologi dan isu-isu lainnya, termasuk keamanan, privasi, dan semacamnya.

Dalam acara konferensi ini, memang muncul perbincangan soal pengaturan seperti yang pas perihal soal Internet ini. Menurut Margiyono, salah satu yang bisa dikembangkan adalah pengaturan melalui multistakeholder, yang biasanya melibatkan wakil pemerintah, pengusaha, dan masyarakat sipil. Ini alternatif lain selain merintis regulasi yang bisa disepakati oleh lebih banyak negara di level internasional. Namun, model pengaturan semacam ini sering kali terbentur oleh dominannya otoritas pemerintah.

Gayathri setuju dengan pengaturan melalui multistakeholder. Tapi ini hanya bisa dilakukan di sejumlah negara seperti Indonesia, Filipina, Thailand, akan tetapi sulit diterapkan di negara seperti Vietnam yang tak pernah melakukan konsultasi langsung soal kebijakan publik. “Bagaimana mengenalkan model seperti itu di negara otoriter?” kata Gayathri. Ia juga menambahkan, hal lain yang juga perlu dilakukan adalah bagaimana menjadikan kebebasan berekspresi, kebebasan Internet, dan netralitas Internet ini menjadi masalah yang harus diperjuangkan bersama.

Konferensi 4M Jakarta: Informing the Web yang merupakan hasil kerja sama CFI (Prancis), Aliansi Jurnalis Independen, Universitas Atma Jaya, The Institut Français Indonesia, dan Regional cooperation delegation France-ASEAN ini, digelar Selasa-Rabu, 23-24 September 2014. Konferensi yang membahas sejumlah isu mutakhir ihwal perkembangan media online ini diikuti wakil dari sejumlah organisasi media dan masyarakat sipil di Asia dan Eropa.

Pemerintah Cabut Fixed Wireless Access 800 MHz Bagi Operator CDMA

Hadirnya Peraturan Menkominfo tentang Penataan Pita Frekuensi Radio 800 MHz menimbulkan dampak yang masif terhadap keberadaan operator CDMA di tanah air. Praktis frekuensi Fixed Wireless Access (FWA) 800 MHz tidak bisa lagi digunakan oleh operator CDMA, sementara frekuensi yang tersisa hanyalah versi seluler milik Smartfren. Telkom Flexi dan Indosat StarOne bakal menghentikan operasinya, sedangkan Bakrie Telecom (Esia) dikabarkan sudah mengajukan proposal untuk beroperasi menggunakan frekuensi seluler Smartfren.

Seperti disebutkan oleh Dirjen Sumber Daya Perangkat Pos Informatika Kementerian Kominfo Muhammad Budi Setiawan ke IndoTelko, “Dampak utama dari keluarnya Permenkominfo Penataan 800 MHz adalah tidak ada lagi lisensi FWA. Semua teknologi netral dan seluler.”

Telkom dan Indosat memang sudah berancang-ancang memanfaatkan frekuensi tersebut untuk peningkatan kualitas 3G di jaringan 900 MHz. Pelanggan Telkom Flexi yang berjumlah 4,1 juta orang pun sudah disiapkan tempat baru di Telkomsel dengan nama “As Flexi”, sementara pelanggan StarOne yang hanya tersisa 120 ribu orang akan diberikan subsidi ponsel untuk dikonversi sebagai pelanggan GSM.

Yang menarik adalah bagaimana melihat Bakrie Telecom dan Smartfren bertahan.
Menurut Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) M Ridwan Effendi, seperti dikutip dari IndoTelko, “Nantinya, aset Bakrie Telecom akan diserahkan ke Smartfren buat penyertaan saham. Bakrie Telecom tetap bisa memasarkan produk selulernya, hanya saja nanti tidak akan terbebani dengan Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi karena hanya sebagai penyelenggara jasa.”

Frekuensi yang dimiliki Smartfren adalah aman karena dari awal sudah menggunakan skema seluler. Untuk melewati fase stagnase teknologi CDMA, Smartfren dikabarkan mulai menjajaki kemungkinan upgrade ke teknologi LTE. Salah satu pengguna jaringan Smartfren nantinya adalah Bakrie Telecom.

Bakrie Telecom berencana akan “menumpang” jaringan Smartfren dengan konsep seperti Mobile Virtual Network Operator (MVNO). Menggunakan konsep ini, Bakrie Telecom tidak perlu lagi memiliki kewajiban ke pemerintah karena tidak memiliki jaringan sendiri. Mereka cukup membayar biaya sewa penggunaan jaringan ke Smartfren dan menawarkannya ke konsumen melalui paket promosinya sendiri. Lisensi SLJJ Bakrie Telecom saat ini sudah dicabut dan tinggal menyisakan lisensi untuk sambungan langsung internasional (SLI).

Konversi operator CDMA seperti ini memang sudah ditunggu-tunggu. Untuk mengoptimasi jaringan yang sudah ada, termasuk menyongsong pertumbuhan teknologi LTE, diperlukan konsolidasi untuk memastikan bahwa setiap operator memiliki frekuensi dan bandwidth yang memadai. Setelah konsolidasi ini, pemilik frekuensi seluler di Indonesia akan lebih ideal dengan komposisi Telkomsel, XL Axiata, Indosat, Tri Indonesia, dan Smartfren.

Review Xiaomi Redmi 1S Smartphone Murah Dengan Harga 1,5 Juta

Beberapa tahun yang lalu nama Xiaomi belum banyak terdengar. Tapi kini pabrikan asal Tiongkok itu sudah menjelma menjadi kekuatan baru yang patut diwaspadai oleh para pemain lain di industri gadget mobile, hanya dalam waktu empat tahun setelah didirikan pada 2010. Xiaomi belakangan giat melakukan ekspansi ke luar rumahnya rumahnya sendiri di Negeri Tirai Bambu. Produsen itu pun pada akhir Agustus lalu resmi memasuki pasaran Indonesia dengan melempar produk perdana bernama Redmi 1S.

Redmi 1S yang juga dikenal dengan nama Hongmi (“beras merah”) 1S di Tiongkok merupakan tawaran smartphone Android entry-level Xiaomi yang meneruskan tongkat estafet dari pendahulunya, Redmi. Xiaomi menerapkan sejumlah perubahan pada Redmi 1S, termasuk mengganti prosesor menjadi Snapdragon 400 dan meningkatkan kapasitas media penyimpanan internal. Di Indonesia,Redmi 1S dijual di kisaran Rp 1,5 juta, harga yang tergolong kompetitif untuk smartphone sekelasnya. Apa yang akan didapatkan oleh pembeli? Simak ulasan berikut ini.

Sederhana dan bersih
Tampilan fisik Xiaomi Redmi 1S tak jauh berbeda dari smartphone touchscreen candybar masa kini pada umumnya. Bagian muka didominasi layar berukuran 4,7 inci yang dikelilingi bingkai (bezel) berwarna hitam mengkilap.Layar ini dilapis dengan kaca anti gores Dragontrail yang diklaim sama tahannya terhadap goresan dengan pelapis layar Gorilla Glass buatan Corning. Sebuah kamera 1,6 megapiksel bertengger di atas layar, sebelah pojok kiri atas. Kamera ini bisa digunakan untuk video conferencing atau menjepret gambar selfie, meski kualitasnya tak selalu bisa diandalkan.

Tombol fisik absen dari sisi depan sehingga perangkat ini tampak sederhana sekaligus “bersih”. Sebagai gantinya, terdapat tiga buah softbutton di bawah layar yang menjalankan fungsi home”, “back”, dan “menu”. Lampu indikator diletakkan persis di bawah softbutton “home”, berbeda dengan penempatan pada smartphone lain yang biasanya mengambil sisi atas. Ketiga softbutton dengan label berwarna merah itu sendiri tidak dilengkapi dengan lampu backlight. Alhasil, dalam kondisi gelap, Redmi 1S menjadi sedikit sulit digunakan.

Tombol daya dan pengatur volume ditempatkan di sisi kanan perangkat seperti biasa, sementara sisi kiri tidak memuat tombol atau slot/konektor apapun sehingga menguatkan kesan “bersih” pada rancangan Redmi 1S. Dilihat dari sisi samping ini, Redmi 1S terlihat lumayan “gemuk” dengan ketebalan nyaris mencapai 1 cm.

Port konektor jack audio 3,5 mm dan micro-USB untuk keperluan pengisian baterai dan transfer file masing-masing ditempatkan di sisi atas dan bawah perangkat.Bentuk konektor micro-USB milik Redmi 1S mungkin memancing keheranan saat pertama kali dilihat karena berbentuk persegi panjang, bukan trapesium seperti yang umumnya terdapat pada smartphone lain.

Tapi jangan khawatir. Port tersebut sebenarnya adalah konektor micro-USB “Tipe A” yang juga kompatibel dengan konektor micro-USB “Tipe B” berbentuk trapesium, seperti yang biasanya dipakai oleh pengguna Tanah Air. Proses pengisian baterai dan transfer data pun bisa dilakukan dengan kabel-kabel micro-USB lain yang beredar di pasaran Indonesia. Pastikan saja kepala konektor berada dalam orientasi yang benar ketika ditancapkan.

Berbeda dari sisi depan, bagian belakang Redmi 1S terbuat dari plastik warna abu-abu bertekstur kesat, dengan sisi kanan dan kiri yang membulat sehingga perangkat ini nyaman sekaligus mantap dalam pegangan.

Ketika digenggam itu, Redmi 1S terasa sedikit berat. Bobotnya yang sebesar 158 gram memang tidak bisa dibilang ringan untuk smartphone seukurannya.

Tapi berat tersebut sekaligus memberikan kesan padat, solid, sehingga ponsel ini tak terasa ringkih. Terlebih, kualitas konstruksi Redmi 1S terbilang lumayan berkualitas sehingga jauh dari kesan murahan. Bagian belakang yang sebenarnya merupakan cover penutup ini bisa dilepas untuk mengakses kompartemen baterai. Di dalamnya terdapat dua buah slot SIM card GSM dan sebuah slot kartu micro-SD dengan mekanisme tuas yang sedikit sulit dicabut-pasang.

Redmi 1S memiliki slot SIM card tipe mini SIM standar, bukan micro SIM atau nano SIM. Salah satu SIM card yang terpasang bisa digunakan untuk koneksi data 3G dan voice, selebihnya hanya untuk voice dan data 2G. Adapun kapasitas micro-SD card yang didukung hingga 32 GB.

Kesan sederhana berlanjut ketika memasuki sistem operasi Android Redmi 1S yang dilapis antarmuka MIUI versi 5. Custom launcher tersebut adalah salah satu ciri khas smartphone bikinan Xiaomi yang dikenal dengan keragaman kustomisasi yang diterapkan oleh pembuatnya.MIUI 5 tidak menyediakan “laci” aplikasi atau app drawer yang biasanya terdapat di ponsel Android dan bisa diakses lewat icon berbentuk kotak-kotak pada pojok bawah layar.Semua aplikasi dan widget pun diletakkan di bagian home screen. Meski demikian, layar utama Redmi 1S jauh dari kesan sesak karena tak dijejali aneka macam bloatware yang belum tentu berguna.

Sedari awal hanya ada dua layar homescreen yang menampung sejumlah icon aplikasi. Sebagian di antaranya ditaruh di dalam folder untuk menghemat tempat.Untuk melakukan uninstall aplikasi, pengguna cukup melakukan menekan lama (long press) pada icon aplikasi yang bersangkutan seperti saat ingin memindahkan icon di layar. Icon ini lantas bisa digeser ke sisi atas yang membuat gambar keranjang sampah sebagai simbol “Uninstall”.

Navigasi dilakukan dengan tiga tombol softbutton di bawah layar. Sedikit berbeda dari tren yang berlaku sekarang, tombol ketiga yang terletak paling kiri berfungsi bukan untuk memanggil menu multitasking/recent apps, melainkan “menu” pada aplikasi yang sedang dijalankan.Untuk mengakses menu Recent Apps, pengguna harus melakukan long press pada tombol “menu”, sementara long press pada tombol Home bakal memanggil fitur Google Now.

Fungsi long press dari ketiga tombol ini bisa dimodifikasi lewat parameter “buttons” dalam menu settings. Tombol “back”, misalnya bisa diatur agar langsung menutup aplikasi apabila ditekan lama atau memanggil kamera dari lockscreen.Antarmuka MIUI sendiri tampak enak dipandang. Hal ini didukung oleh layar IPS milik Redmi yang sudah mendukung resolusi HD (1280×720) sehingga tampil tajam. Angka resolusi itu setingkat lebih tinggi dari ponsel lain di kelas harganya.Tampilan layar ini tampak tajam dan cerah, dengan warna-warna yang natural tanpa kontras atau saturasi berlebihan.

Xiaomi merombak beberapa aspek tampilan dan cara kerja sistem operasi Android Redmi 1S sehingga terlihat sedikit berbeda dari ponsel Android lain, misalnya dengan meniadakan App Drawer tadi, sehingga semua aplikasi bisa langsung diakses dari layar utama. Layar lockscreen memiliki beberapa shortcut yang bisa digunakan untuk mengakses fitur tertentu dengan cepat. Pengguna, misalnya, dapat menjalankan aplikasi kamera dengan cara menggeser “lingkaran” screen unlock ke arah atas, atau membuat panggilan dengan cara menggesernya ke arah kiri.

Lockscreen standar juga bisa langsung diubah untuk menampilkan versi lain yang menyajikan kontrol Playback musik. Cukup dengan mengetuk lingkaran unlock sebanyak dua kali.Tampilan yang simpel dan aneka modifikasi yang memperingkas proses penggunaan ini membuat antarmuka MIUI terkesan tanpa basa-basi menempatkan kontrol sepenuhnya di ujung jari pengguna.

Kapasitas media penyimpanan internal yang ada pun tak terlalu banyak terpakai oleh aplikasi bawaan. Dari angka 8 GB yang tersedia, kurang lebih sekitar 6 GB masih kosong. Tampang antarmuka MIUI bisa diubah-ubah lebih lanjut lewat serangkaian themes yang bisa diunduh oleh pengguna. Beberapa themes tersedia gratis, sementara lainnya dapat diperoleh secara berbayar.

Aneka theme ini diakses melalui aplikasi khusus bernama “Themes” yang bisa ditemukan di homescreen Redmi 1S. Xiaomi juga menyediakan aplikasi lain bernama “Security” yang tak lain adalah sebuah suite berisi aneka tools terkait urusan keamanan.

Di samping scanner malware, aplikasi Security turut menampilkan statistik penggunaan mobile data, permissions untuk aplikasi, data penggunaan daya baterai, dan sebuah Junk File Cleaner untuk menghapus file cache yang sudah tidak terpakai.Soal kinerja, Redmi 1S terasa gegas saat dipakai menjalankan berbagai aplikasi. Skor AnTuTu pada kisaran 21.000 yang dihasilkannya terbilang lebih tinggi dibanding smartphone lain dengan spesifikasi yang sama.

Tak heran, mengingat prosesor quad-core Snapdragon 400 yang tertanam di dalamnya berjalan dengan frekuensi 1,6 GHz, lebih tinggi dari kecepatan standar chip tersebut yang dipatok pada angka 1,2 GHz. RAM sebesar 1 GB yang dipadankan dengan prosesor Redmi 1S masih mencukupi untuk menjalankan kebanyakan aplikasi saat ini.

Sayang, Redmi 1S masih menggunakan versi Android 4.3 Jelly Bean. Pihak Xiaomi menjanjikan bahwa update Android 4.4 Kitkat akan disalurkan pada perangkat Redmi 1S sebelum akhir tahun 2014, bersama dengan launcher MIUI versi 6.

Soal daya tahan, Redmi 1S yang dibekali baterai 2.000 mAh mampu bertahan selama sehari penuh dengan pemakaian casual yang melibatkan push e-mail dua akun, penggunaan aneka jejaring sosial, dan browsing lewat mobile data dan WiFi.

Kamera jempolan
Unit kamera pada smartphone “murah” biasanya kurang bisa diandalkan, tapi tidak demikian halnya dengan Redmi 1S. Kamera 8 megapixel milik ponsel pintar ini, lagi-lagi, berada setingkat di atas produk lain sekelasnya. Performa kamera cukup gesit, hampir tidak ada shutter lag yang bisa dirasakan antara penekanan tombol shutter dengan pengambilan gambar. Hasilnya pun terbilang bagus, termasuk dalam kondisi low-light dimana algoritma noise reduction Redmi 1S berhasil mengurangi noise tanpa menghancurkan terlalu banyak detail.

Metering kamera cukup akurat, meski setting default (center weight) berperilaku sedikit mirip spot metering dengan terlalu condong pada area fokus. Akibatnya, apabila obyek fokus berwarna lebih gelap dari keseluruhan area frame, maka hasil akhirnya cenderung mengalami over exposure, demikian juga sebaliknya kalau obyek fokus berwarna lebih terang.

Redmi 1S juga menyediakan pilihan metering lain, yaitu evaluative dan spot. Parameter pengaturan lain yang tersedia mencakup setting exposure compensation (per 1/2 stop), beberapa preset white balance, ISO, HDR, panorama, serta sejumlah efek dan scene mode. Dalam kondisi outdoor, gambar yang dihasilkan cenderung memiliki kontras dan saturasi yang tinggi sehingga kadang warna-warna tampak terlalu pekat. Namun, Redmi 1S ternyata masih cukup mampu menangkap area shadows dan highlights tanpa mengorbankan salah satunya, bahkan di bawah terik matahari Jakarta pada bulan-bulan ini sekalipun. Ketika berpindah ke dalam ruangan, kontras, dan saturasi sedikit berkurang, namun warna-warna tidak sampai terlihat pudar atau washed out. Beberapa contoh tangkapan gambar Redmi 1S bisa dilihat di bawah.

Kamera Redmi 1S menyediakan mode fokus makro untuk pemotretan jarak dekat. Akan tetapi, jarak fokus minimal relatif tak berubah (lebih kurang 5 cm dari lensa) ketika mode ini diaktifkan. Lensa pada kamera Redmi 1S sendiri merupakan jenis wide-angle dengan cakupan setara 28 mm (ekuivalen full-frame) dengan bukaan f/2.2. Satu fitur pada aplikasi kamera Redmi 1S yang jarang ditemui pada smartphone lain adalah QR code scanner built-in. Pengguna ponsel ini bisa langsung memindai QR code tanpa perlu menjalankan aplikasi pihak ketiga. Praktis bukan?

Sayang ada masalah yang sedikit mengganjal. Mungkin lantaran prosesor yang bekerja di luar “batas normal” tersebut, bagian punggung Redmi 1S lekas terasa panas apabila kamera digunakan selama beberapa waktu, terutama di bawah matahari siang. Kalau sudah begitu, aplikasi kamera akan berjalan tersendat dan tidak merespon input dari pengguna, hingga kemudian ponsel akan meminta restart sebelum bisa menjalankan kamera kembali.

Kekurangan adalah tidak adanya opsi penyimpanan gambar di micro-SD card sehingga pengguna terpaksa mengandalkan kapasitas memori penyimpanan internal (sebelum memindahkan foto secara manual ke external storage). Anehnya, aplikasi kamera pihak ketiga seperti Camera 360 masih bisa mengakses dan menyimpan gambar di kartu memori micro-SD yang terpasang pada Redmi 1S.

Masalah tersebut kabarnya sudah diatasi XIaomi pada update firmware Redmi 1S JHCMIBF37.0. Namun, update itu baru tersedia dalam versi “global”, belum disalurkan secara resmi untuk pengguna di Indonesia.

Juara baru di kelas bawah
Spesifikasi hardware yang disodorkan Xiaomi Redmi 1S dengan banderol Rp 1,5 juta tak urung membuat banyak orang menjadi tergiur. Aneka komponen smartphone ini, mulai dari layar, prosesor, hingga kamera terbilang lebih baik daripada produk sekelasnya. Di titik harga itu, boleh dibilang belum ada ponsel lain yang bisa memberikan spesifikasi sebanding. Inilah yang menjadi daya tarik utama dari Redmi 1S.

Antarmuka launcher MIUI yang ringan, enak dipandang, dan praktis adalah pemanis yang makin menguatkan posisi Redmi 1S sebagai pendatang baru. Smartphone kompetitor yang paling mendekati adalah Moto G dari Motorola, namun ponsel ini dibanderol lebih mahal (kisaran Rp 1,9 juta) dan memiliki kamera yang inferior.

Tentu, Redmi 1S pun memiliki beberapa kekurangan, seperti soft button yang tidak dilengkapi backlight, sistem operasi yang masih menggunakan Android 4.3 Jelly Bean, serta permasalahan kamera yang cepat panas dan tidak bisa menyimpan foto pada micro-SD (sebelum update firmware JHCMIBF37.0). Masalah yang disebut terakhir itu mungkin bisa diatasi dengan update firmware, namun untuk sekarang masih menjadi batu ganjalan yang sedikit mengganggu.

Terlepas dari masalah-masalah di atas, kekurangan terbesar Xiaomi Redmi 1S mungkin justru terletak pada ketersediaannya karena ponsel ini hanya dijual online secara eksklusif melalui salah satu layanan e-commerce di Indonesia. Redmi 1S yang mulai dijual pada 4 September lalu selalu habis diborong pembeli, setiap kali toko online bersangkutan meenggelar sesi penjualan.

Akibat hal yang sering dikritik sebagai strategi “hunger marketing” dari Xiaomi ini, banyak peminat yang harus gigit jari dan terpaksa menelan kecewa karena tak bisa memperoleh Redmi 1S meski sudah capek-capek mengantre secara online. Di sisi lain, segelintir orang yang berhasil menjadi pemiliknya boleh berpuas diri. Inilah sang juara baru di kelas bawah.

Xiaomi Redmi 1S

Kelebihan:
+ Spesifikasi mumpuni untuk kelasnya
+ Harga menarik
+ Layar IPS HD dengan tampilan tajam
+ Kamera Berkualitas
+ Antarmuka MIUI 5 praktis dan berguna

Kekurangan:
– Masih menggunakan OS Android Jelly Bean 4.3
– Softbutton tidak dilengkapi backlight
– Kamera tidak bisa menyimpan gambar pada micro-SD sebelum update firmware
– Cepat panas ketika menjalankan aplikasi berat seperti kamera
– Hanya tersedia secara online

iPhone Dijual Apple Dengan Laba 200 Persen Dari Harga Pokok Atau Untung 5 Juta Per Buah

iPhone 6 dan iPhone 6 Plus sudah mulai dipasarkan di sembilan negara pada Jumat (19/9/2014). Duo smartphone terbaru Apple tersebut dijual dengan banderol harga yang cukup mahal. iPhone 6 dijual dengan harga termurah, 649 dollar AS (Rp 7,7 juta) untuk versi 16 GB dan yang termahal 849 dollar AS untuk versi 128 GB. Sementara itu, iPhone 6 Plus termurah dijual dengan harga 749 dollar AS (Rp 8,9 juta) dan termahal 949 dollar AS.

Banderol harga ini banyak mengundang pertanyaan, apa yang membuatnya begitu mahal? Sebuah blog bernama Teardown telah mempreteli komponen iPhone 6 dan iPhone 6 Plus untuk mengungkap ongkos produksi kedua iPhone baru tersebut. Hasil pembongkaran tersebut, seperti dikutip TechinSight, Selasa (23/9/2014), mengungkapkan, komponen termahal yang digunakan Apple adalah layar touchscreen. Harga layar iPhone 6 disebutkan mencapai 41,5 dollar AS dan iPhone 6 Plus 51 dollar AS.

Komponen kedua termahal adalah prosesor Apple A8, yaitu seharga 37 dollar AS. Komponen lain yang cukup mahal adalah kamera yang dinilai seharga 16,5 dollar AS untuk iPhone 6 dan 17,5 dollar AS untuk iPhone 6 Plus. Sementara itu, komponen memori SDRAM dan NAND yang digunakan kedua iPhone 6 tersebut berharga 14 dollar AS. Adapun komponen baterai hanya menambah ongkos produksi sebesar 3,5 dollar AS dan 6 dollar AS.

Menurut Teardown, perkiraan harga semua komponen yang dipakai oleh iPhone 6 adalah 227 dollar AS (sekitar Rp 2,7 juta) dan iPhone 6 Plus 242,5 dollar AS (sekitar Rp 2,9 juta).

Ini berarti Apple mengambil margin kotor sebesar Rp 5 juta atau sekitar 200 persen, dengan berpatokan pada harga iPhone 6 versi 16 GB di Amerika Serikat, yaitu Rp 7,7 juta. Sementara itu, untuk iPhone 6 Plus, Apple mengambil margin yang lebih besar, yaitu Rp 6 juta atau sekitar 67 persen, dengan asumsi harga iPhone 6 Plus versi 16 GB di AS sebesar Rp 8,9 juta.

Harga tersebut tentu saja belum termasuk ongkos untuk riset dan pengembangan, biaya distribusi, dan biaya pemasaran yang harus dikeluarkan oleh Apple.

89 Persen Wanita Suka Foto Selfie Telanjang

Kasus peretasan iCloud yang terjadi beberapa waktu lalu ini merupakan mimpi buruk bagi sejumlah selebriti wanita yang sejumlah foto tanpa busana mereka tersebar di dunia maya. Namun demikian, menurut sebuah polling yang dilakukan oleh Cosmopolitan, ternyata sebagian besar wanita ditemukan memang hobi foto diri dalam keadaan telanjang dan berpose seksi.

Survei yang melibatkan 850 pembaca ini dilakukan lewat akun resmi Twitter majalah Cosmopolitan. Demografi pembaca diketahui 99 persen adalah wanita dan rata-rata berusia 21 tahun ke atas.

Hasilnya, 89 persen responden memberikan jawaban spontan bahwa mereka pernah foto diri tanpa satu helai benangpun melekat pada tubuh mereka. Hanya 14 persen yang mengaku menyesal karena ternyata foto tersebut disebarkan oleh si penerima, dan 82 persen lainnya menjawab akan melakukannya kembali di waktu mendatang. Lalu, 26,21 persen responden akan kembali berfoto telanjang, dengan syarat wajah mereka tak terlihat atau tidak mudah dikenali oleh orang lain.

Kemudian, lima persen dari responden mengisahkan bahwa mereka pernah berbagi foto tersebut pada pasangan, rekan kerja atau pria yang ditaksirnya, tetapi setelah hubungan memburuk, foto tersebut menjadi “senjata” pria pria yang masih mendendam untuk kemudian disebar di internet atau jadi alat pemerasan untuk mendapat lebih banyak foto telanjang tersebut atau memaksa mereka berhubungan intim.

Sebelumnya, polling dengan tema sama pernah dihelat oleh McAffe. Sebanyak 1.500 responden dari usia 18 hingga 54 tahun dilibatkan. Hasilnya, 49 persen pria dan wanita dewasa mengaku sering mengirim dan menerima foto seksi.

Gaya hidup ceroboh yang demikianlah yang kemudian berbalik “menyerang” citra diri mereka. Akhirnya, yang mereka bisa lakukan adalah menyesal, tiada yang lainnya. Maka dari itu, berhati-hatilah, atau berhentilah melakukan selfie tubuh sendiri tanpa busana .

Spesifikasi dan Harga Elevate Y2 Murah Dengan Prosesor Octa Core

Perusahaan ponsel pemegang merek lokal mulai menyasar pengguna ponsel dan tablet kelas premium dengan mengeluarkan produk yang didukung prosesor Octa-core. Meskipun ceruk pasarnya kecil, tetapi segmen ini dianggap memiliki potensi nilai menggiurkan.

Pemegang merek Evercoss, PT Aries Indo Global, misalnya, pekan lalu merilis smartphone Octa-core 1.7 GHz pertama yang dinamakan Elevate Y2. Elevate Y2 yang mengusung slogan “so fast, so affordable” sejatinya merupakan penerus dari Elevate Y. Perbedaan yang mencolok adalah dukungan prosesor serta penyimpanan yang dua kali lipat lebih besar.

Selain didukung dengan prosesor Octa-core, Elevate Y2 memiliki kapasitas RAM 1GB untuk mengimbangi kinerja prosesor tersebut. Sedangkan pada bagian internal memori, 16 GB lebih dari cukup untuk menyimpan beragam aplikasi. Terlebih adanya slot microSD hingga 32 GB.

Berbicara kamera, resolusi yang dimiliki Elevate Y2 dengan Elevate Y sama persis, yakni 13 MP dan auto focus disertai lampu flash LED. Kamera juga dilengkapi dengan teknologi BSI, yaitu teknologi yang memungkinkan pengguna mengambil gambar pada kondisi kurang pencahayaan. Untuk kamera depan, memiliki resolusi 5 MP.

Pada bagian desain, Elevate Y2 hampir sama dengan desain yang dimiliki Elevate Y. Tampil premium dengan tidak banyak menyertakan beragam tombol fungsi. Hanya ada dua tombol fungsi yang terdapat di sisi kanan body: tombol on/off dan volume. Sementara di bagian sisi atas, terdapat port earphone 3.5mm serta port mini USB.

Janto Djojo, Chief Marketing Officer Evercoss, mengatakan hadirnya Elevate Y2 dengan prosesor Octa-core merupakan sebuah keharusan karena semua orang akan beralih ke arah itu. “Kendati kami bukan yang pertama merilis smartphone Octa-core, tapi kami memiliki jangkauan distribusi yang lebih luas,” ujarnya di Jakarta, pekan lalu. Elevate Y2 dibanderol dengan harga terjangkau, Rp 2,3 juta.

Tak hanya Evercoss, Advan merilis brand baru, Advan Signature, untuk melengkapi kebutuhan teknologi kalangan atas. Tjandra Lianto, Direktur Marketing Advan, mengatakan seri produk yang bakal dihadirkan Advan Signature disesuaikan dengan standar minimum kebutuhan pasar kelas atas. “Advan Signature bakal dilengkapi oleh jajaran smartphone dan tablet dengan spesifikasi produk yang jauh lebih tinggi,” ujarnya.

Untuk seri perdananya, Advan Signature merilis produk Tablet T1Z dengan dimensi layar 7 inch FHD (1200 x 1920) IPS yang dibekali prosesor bertenaga Octa-core. Sedangkan fitur camera T1Z mengusung 5 megapiksel dan 1,3 megapiksel.

Fitur lainnya, yang menjadi keunggulan seri Advan Signature T1Z berupa teknologi Hot Knot dan Gesture Recognation. Hot Knot adalah teknologi yang memungkinkan pengguna untuk bisa melakukan transfer data dari gadget lain tanpa perlu mengguanakan server PC/laptop. Cukup melalui jaringan wi-Fi dengan cara menempelkan layar gadget tersebut terhadap layar gadget lainnya.

Advan Signature tersedia dengan jumlah yang terbatas. “Jumlah yang kami hadirkan sangat terbatas, karena ini merupakan produk eksklusif. Tentunya dengan harga yang disesuaikan dengan kelas atas,” ujar Tjandra.

Spesifikasi ELEVATE Y2
Network : Dual GSM/GSM
OS : Android 4.2 Jelly Bean
Prosesor : Octa Core 1.7 GHz
Baterai: A80 2000mAh
Kamera : Belakang 13 MP, Depan 5MP
Weight : 153.3 gram
Dimensi : 145mmx72.6mmx88mm
Internal RAM 1 GB, Internal ROM 16 GB