Category Archives: Telekomunikasi

Program Malware dan Virus Mulai Serang Pengguna Ponsel Untuk Sandera Data Sensitif

Program jahat atau malware kini tidak hanya menyerang konsumen yang memakai perangkat komputer pribadi, tetapi juga pengguna ponsel pintar di jaringan operator seluler. Network Security Management Telkomsel, Ariyanto Setyawan memaparkan, pelanggan operator seluler mulai menjadi target utama dari kejahatan siber mengingat ponsel pintar sudah jadi alat yang tak bisa ‘lepas’ dari penggunanya.

“Pelanggan itu sasaran yang dominan bagi dalang malware. Bisa melalui virus bot atau zombie,” kata Ariyanto pada acara Simposium Nasional Cyber Security 2015 di Jakarta, Kamis (6/4). Malah, bukan tak mungkin apabila si peretas menyebarkan pesan teks atau SMS broadcast ilegal yang isinya bersifat ajakan untuk melakukan transaksi penipuan, macam modus “Mama Minta Pulsa,” atau pengelabuan berupa tautan yang sebenarnya adalah jebakan untuk menyisipkan malware ke perangkat konsumen.

Beberapa cara lebih ‘halus’ lainnya adalah ajakan atau promosi layanan secara cuma-cuma alias gratis yang sudah sangat jelas tak masuk akal. “Bisa juga mengirimkan link penipuan juga untuk para pelanggan demi mendapatkan layanan gratis itu. Padahal itu bisa mengantarkan ke malware,” sambung Ariyanto. Dari situ, bukan tak mungkin apabila data dari si pemilik ponsel pintar dicuri oleh peretas. Ponsel pintar saat ini telah menjadi perangkat yang sifatnya sangat personal. Di sana email sering diakses, di sana pula pembicaraan penting dilakukan, sampai nomor kartu kredit sering digunakan untuk belanja.

Ariyanto pun menjabarkan secara singkat inti masalah dari perusahaan operator telekomunikasi. Salah satunya adalah salah konfigurasi dan pemilihan teknologi yang tidak tepat. Ia juga meyakini, kesadaran diri yang timbul dari tiap individu pelanggan perlu dibangun kembali agar lebih peka terhadap aksi-aksi yang mencurigakan seperti itu. “Jika merasa tidak pernah punya hubungan dengan konten yang dikirimkan melalui SMS misalnya, ya sudah tidak usah dilanjutkan dan langsung hapus saja,” ujarnya.

Bentuk program jahat komputer atau virus dan modusnya terus berkembang, bahkan kini ada virus penyandera dokumen yang disimpan di komputer pribadi dan meminta tebusan secara online agar dokumen itu dibebaskan.Karena meminta tebusan, virus penyandera ini populer disebut ransomware oleh para ahli keamanan siber. Ia mulai terdengar sejak pertengahan 2013 lalu secara global, lalu mulai masuk ke Indonesia pada pertengahan 2014. Lantas, perlukah kita menuruti permintaan si peretas yang meminta tebusan uang?

Menurut Gildas Deograt Lumy, Ketua Tim Koordinasi dan Mitigasi Desk Ketahanan dan Keamanan Informasi Cyber Nasional di Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum & Keamanan, kebanyakan virus penyandera akan meminta tebusan dalam bentuk mata uang virtual Bitcoin.”Mayoritas memang pakai Bitcoin. Tapi yang tidak pakai juga banyak. Ada juga yang pakai Moneygram,” ucap Gildas di sela acara Simposium Nasional Cyber Security 2015 di Jakarta, Kamis (4/6).

Gildas menilai tidak seharusnya korban menuruti permintaan peretas yang menyandera dokumen. Artinya, sebisa mungkin untuk tidak memberi uang sepeser pun pada pemeras.”Yang namanya penjahat, ada yang dibalikin data kita, tapi ada juga yang tidak. Semua kendali ada di dia,” sambungnya.Maka dari itu, Gildas secara realistis mengatakan cara yang paling ampuh untuk meminimalkan risiko kehilangan data atau data tersandera adalah membuat data cadangan atau backup di tempat yang terpisah.

Hal senada diungkapkan Alfons Tanujaya, Direktur perusahaan antivirus Vaksincom yang berbasis di Jakarta. Ia menyarankan dokumen penting yang ukurannya besar bisa di-backup di kepingan DVD dan disimpan secara offline. Sementara dokumen yang ukurannya relatif kecil bisa di-backup di layanan komputasi awan seperti Dropbox atau Google Drive.

Selain itu, hindari pula mengunjungi situs web yang tidak jelas pengelolanya seperti Torrent atau pornografi, karena di sana adalah gudang dari virus dengan segala macam modus kejahatan.Gildas menambahkan agar pengguna memakai peranti lunak antivirus dan jangan sembarangan menancapkan flashdrive ke port USB komputer, karena perangkat mungil ini sering menjadi media penyebaran virus komputer.Vaksincom sejauh ini telah menemukan sejumlah ransomware bernama Teslacrypt, Cryptowall, dan Alfacrypt. Yang terbaru adalah Locker atau juga dikenal CTB Locker.

Seorang desainer grafis bernama Agus Wiyono yang tinggal di Jatiasih, Bekasi, mengaku komputer berbasis Windows 7 yang biasa ia pakai untuk bekerja, terinfeksi virus Locker versi 5.46 pada 25 Mei 2015 lalu.Locker membuat dokumen pentingnya yang diolahnya dengan peranti lunak Adobe InDesign dan Photoshop tidak bisa dibuka, juga dokumen Microsoft Word dan .JPEG.”Saya terpaksa harus mengerjakan ulang dokumen desain yang sudah ditunggi oleh klien,” ujar Agus yang biasa mengerjakan desain grafis untuk untuk perusahaan dan lembaga swadaya masyarakat.

Dokumen yang terkunci oleh virus Locker hanya dapat dibuka dengan kode rahasia unik yang tersimpan di server milik peretas. Di sana peretas juga mengancam jika korban tidak membayar tebusan, maka dokumen akan “dihancurkan” dan tidak dapat membuka dokumen itu lagi.Agar dokumennya bisa dibuka, peretas yang memegang kendali virus Locker ini meminta tebusan senilai 0,1 Bitcoin. Saat ini, harga 1 Bitcoin mencapai Rp 2.950.000 di bursa lokal Bitcoin.co.id. Jika mengikuti nilai konversi itu, maka Agus diminta membayar Rp 2.950.

Agus mengaku tidak mengerti cara kerja Bitcoin. Karena itu dia memilih untuk tidak mentransfer dana dan pasrah dokumennya hilang. Selain itu, tidak ada keterangan pula dari si peretas, tebusan senilai 0,1 Bitcoin itu berlaku hanya untuk satu dokumen atau untuk semua dokumen.Alfons menyarankan para korban agar tidak memberi tebusan. “Kalau dibayar akan makin menjadi-jadi dan kenyataannya sudah makin menjadi-jadi. Mau tidak mau kita harus kehilangan data,” ujar Alfons.

Menurut data dari situs VirusRadar.com, virus yang disebut CTB Locker menyebar di 0,16 persen komputer bersistem operasi Windows XP, Windows Vista, Windows 7, dan Windows 8, di Indonesia. Vaksincom memprediksi varian ransomware akan berlipat dua kali lipat dibandingkan tahun 2014. Artinya, jumlah ransomware ini akan terus berkembang dan mengancam para pengguna komputer.

Advertisements

Kini Main Internet Dengan Kecepatan 100Mbps Seharga Rp. 5.000 Tersedia Diseluruh Indonesia

Internet cepat dan murah tak lagi jadi barang langka berkat agresivitas Telkom dalam menghadirkan layanan Wifi.id yang menawarkan akses unlimited dengan speed 100 Mbps selama 24 jam nonstop hanya dengan Rp 5 ribu saja. Hal ini sejalan dengan mandat Presiden Joko Widodo yang berpesan kepada Direktur Utama Telkom Alex Janangkih Sinaga, agar seluruh lapisan masyarakat bisa menikmati layanan internet berkualitas dengan tarif terjangkau.

“Saya harapkan layanan Wifi.id corner dan IndiHome milik Telkom bisa dinikmati semua masyarakat Indonesia,” kata Jokowi belum lama ini saat meresmikan jaringan serat optik SMPCS Telkom di Manokwari, Papua Barat. Telkom pun langsung merespons permintaan Presiden dengan ekspansi Wifi.id melalui Wifi Corner (Wico) selain juga membangun Indihome untuk broadband di perumahaan dan 4G untuk seluler via anak usaha Telkomsel.

“Tahun ini 100 ribu titik Wifi.id akan menyebar di seluruh wilayah Indonesia. Selain di pusat-pusat keramaian, di tiap sudut Kandatel Telkom juga akan ada Wifi Corner,” kata Alex Sinaga. Untuk memberi kemudahan masyarakat melakukan akses internet, Telkom mengoperasikan Wifi Corner dengan akses internet up to 100 Mbps yang ditempatkan di sejumlah area strategis.

Menurut Kepala Kantor Regional 2 Telkom, Prasabri Pesti, saat ini sudah dibangun 1.406 lokasi Wifi Corner yang dilengkapi 4.327 access point tersebar di wilayah Jabodetabek dan Serang. “Keberadaan Wifi Corner dengan kecepatan up to 100 Mbps diharapkan memudahkan masyarakat untuk internet, baik itu sekadar browsing, mengakses video, bahkan download,” ujar Prasabri di Jakarta, Minggu (17/5/2015).

Menurutnya, Wifi Corner sengaja ditempatkan di wilayah strategis seperti kampus, mal, restoran, kafe, retail modern dan pusat-pusat keramaian agar bisa tetap menunjang kebutuhan internet. Wifi.id ini juga sinergis dengan layanan Telkomsel. Menggunakan fasilitas Flashzone Seamless, pelanggan yang memiliki kartu akses, coin card, atau kartu perdana yang berisi username dan password, bisa digunakan untuk login akses internet broadband.

“Di Jabodetabek dan Serang ada 95 retail modern yang sudah terpasang Wifi.id dengan jumlah access point sekitar 183 buah,” tambah Prasabri. Yohana, mahasiswi perguruan tinggi swasta di Jakarta Selatan, merupakan salah satu pengguna aktif di Wifi Corner. Sebagai pengguna paket data Telkomsel, dia setiap masuk ke area Wifi.id selalu memanfaatkan paket Flashzone Seamless. “Speednya kenceng, apalagi kalau nongkrong di retail modern, speednya bisa di atas 80 Mbps. Saya sering gunakan untuk streaming YouTube maupun download lagu-lagu,” ujarnya.

Jadwal Tata Ulang Perdana 4G di 1.800 MHz

Penataan frekuensi di 1.800 MHz agar bisa digunakan untuk layanan seluler 4G LTE telah dimulai. Meskipun tahap awal migrasi berlangsung sukses, bukan tak mungkin bakal ada gangguan di penataan berikutnya. Gangguan bisa saja terjadi pada layanan suara (voice call), pesan singkat (SMS), dan akses data dengan mode GPRS dan EDGE. Gangguan ini akan sebisa mungkin diminimalisir pada jam eksekusi antara pukul 00.00-03.00 WIB.

Pada saat eksekusi penataan, pengguna Telkomsel, XL Axiata, Indosat, dan Hutchison 3 Indonesia, diharapkan menggunakan ponselnya secara bijaksana, dan diusahakan tidak melakukan transaksi pembelian paket melalui layanan SMS dan UMB atau SMS Banking di jam-jam tersebut. Agar bisa mengantisipasi kalau-kalau terjadi gangguan layanan yang telah disebutkan di atas, ada baiknya kita menyimak daerah-daerah mana saja yang akan terkena penataan ulang beserta harinya.

Berikut adalah jadwal penataan frekuensi oleh keempat operator tersebut sesuai data yang terima dari Muhammad Ridwan Effendi, Anggota Komisioner Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia, Rabu (6/5/2015).

4 Mei – 11 Mei – Maluku
4 Mei – 11 Mei – Maluku Utara
12 Mei – 20 Mei – Papua
12 Mei – 20 Mei – Papua Barat
20 Mei – 27 Mei – Kalimantan Timur
20 Mei – 27 Mei – Kalimantan Utara
27 Mei – 8 Juni – Kalimantan Selatan
27 Mei – 8 Juni – Kalimantan Tengah
10 Juni – 17 Juni – Sulawesi Tenggara
10 Juni – 17 Juni – Sulawesi Selatan
10 Juni – 17 Juni – Sulawesi Barat
22 Juni – 29 Juni – Aceh
22 Juni – 29 Juni – Kepulauan Riau
22 Juni – 29 Juni – Nusa Tenggara Barat
22 Juni – 29 Juni – Nusa Tenggara Timur
3 Agustus – 10 Agustus – Riau
3 Agustus – 10 Agustus – Tapanuli
12 Agustus – 20 Agustus – Medan
12 Agustus – 20 Agustus – Sumatera Barat
24 Agustus – 31 Agustus – Lampung
24 Agustus – 31 Agustus – Bangka Belitung
31 Agustus – 7 September – Bengkulu
31 Agustus – 7 September – Jambi
7 September – 14 September – Sumatera Selatan
7 September – 14 September – Sulawesi Utara
14 September – 21 September – Bali
14 September – 21 September – Surabaya
28 September – 5 Oktober – Gorontalo
28 September – 5 Oktober – Sulawesi Tengah
28 September – 5 Oktober – Malang
28 September – 5 Oktober – Madiun
7 Oktober – 15 Oktober – Tegal
7 Oktober – 15 Oktober – Yogyakarta
19 Oktober – 26 Oktober – Semarang
19 Oktober – 26 Oktober – Cirebon
19 Oktober – 26 Oktober – Kalimantan Barat
28 Oktober – 4 November – Bandung
28 Oktober – 4 November – Purwakarta
9 November – 14 November – Sukabumi
9 November – 14 November – Bogor Depok Tangerang Bekasi
18 November – 23 November – Jakarta

Keempat operator seluler itu juga telah sepakat untuk memproses penataan frekuensi di 1.800 MHz dengan sistem clustering dan metode step-wise di 11 region atau 42 cluster. Penataan ini ditargetkan selesai akhir November 2015 nanti. Step-wise berarti migrasi frekuensi dilakukan secara bergantian. Misalnya, operator A memindahkan frekuensi ke operator B dan sebaliknya hingga tercapai tujuan migrasi.

Penataan tersebut pun dilakukan pada tengah malam dan diukur tingkat keberhasilan serta kegagalannya. Ketika perpindahan dilakukan dan terjadi kegagalan, maka operator yang sedang memprosesnya mesti menghentikan terlebih dulu dan kemudian mengulanginya kembali keesokan harinya.Kementerian Kominfo bersama operator seluler di spektrum 1.800 MHz merasa lega karena berhasil melewati rintangan pertama untuk penataan frekuensi yang nantinya juga akan dialokasikan untuk layanan 4G LTE tersebut.

Menurut Anggota Komisioner Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia, Muhammad Ridwan Effendi, penataan perdana di Maluku dan Maluku Utara telah tuntas dieksekusi tadi malam hingga dinihari oleh dua operator.”Sukses tanpa hambatan, tidak ada yang fallback saat Telkomsel dan XL Axiata melakukan perpindahan kanal,” ujarnya kepada detikINET saat ditemui di sela acara pisah sambut pengurus Mastel di Club Merchantile, World Trade Center, Jakarta.

Dalam penataan tahap pertama itu, Telkomsel memindahkan kanal untuk sekitar 500 base transceiver station (BTS) miliknya. Sedangkan XL hanya enam BTS saja. Meskipun dari sisi persentasi tidak berimbang, namun migrasi berlangsung mulus.Setelah penataan ini, masih akan ada lanjutan untuk penataan berikutnya di wilayah lain. Selain Telkomsel dan XL, penataan juga akan dilakukan secara bergantian dengan operator lain seperti Indosat dan Hutchison 3 Indonesia.

Keempat operator ini telah sepakat untuk memproses penataan frekuensi di 1.800 MHz dengan sistem clustering dan metode step-wise di 11 region atau 42 cluster. Penataan ini ditargetkan selesai akhir November 2015 nanti. Step-wise berarti migrasi frekuensi dilakukan secara bergantian. Misalnya, operator A memindahkan frekuensi ke operator B dan sebaliknya hingga tercapai tujuan migrasi

Penataan tersebut pun dilakukan pada tengah malam dan diukur tingkat keberhasilan serta kegagalannya. Ketika perpindahan dilakukan dan terjadi kegagalan, maka operator yang sedang memprosesnya mesti menghentikan terlebih dulu. Setelah penataan rampung, keempat operator ini akan memiliki frekuensi yang berurutan dimana XL akan menempati frekuensi paling kiri dengan total 22,5 MHz, kemudian selanjutnya Tri 10 MHz , Indosat 20 MHz, dan Telkomsel di paling kanan 22,5 MHz.

Sebelumnya, BRTI juga telah mengingatkan bahwa pada saat eksekusi penataan, pengguna diharapkan menggunakan ponsel secara bijaksana, dan diusahakan tidak melakukan transaksi pembelian paket melalui layanan SMS dan UMB atau SMS Banking. Gangguan bisa saja terjadi pada layanan suara (voice call), pesan singkat (SMS), dan akses data dengan mode GPRS dan EDGE. Gangguan ini akan sebisa mungkin diminimalisir pada jam eksekusi antara pukul 00.00-03.00 WIB.

4 Miliar Penduduk Bumi Belum Terhubung Internet

Berdasarkan survei dari Internet.org yang diprakarsai Facebook, sekitar 60 persen penduduk dunia atau sekitar empat miliar orang belum dapat mengakses internet. Praktis dari 7,2 miliar penduduk bumi, hanya sekitar 40 persen penduduk di belahan dunia yang sudah bisa menikmati fasilitas dunia maya.

“Hampir 4,5 miliar orang tak menggunakan internet,” kata penggagas Internet dot org, Mark Zuckerberg beberapa waktu lalu. Dilansir Kamis (26/2/2015) dari Mashable, kebanyakan masyarakat yang tak terhubung internet adalah warga negara-negara berkembang. Data menunjukkan, dari 40 persen orang yang terhubung internet, 76 persen berasal dari negara maju dan sisanya berasal dari negara berkembang.

Wilayah dengan penduduk paling banyak terkoneksi internet adalah Amerika Utara, sedangkan yang paling sedikit adalah Asia Selatan. Untuk wilayah Asia Pasifik, di mana Indonesia masuk di dalamnya, jumlah penduduk yang terkoneksi sebesar 43,9 persen.

Temuan data tersebut merupakan tantangan bagi Internet dot org. Pasalnya, gerakan tersebut membawa misi untuk menghubungkan semua orang di seluruh dunia dengan internet. Tahun ini, Internet.org berharap tiga miliar orang dapat terhubung lewat internet.

Jika ingin mewujudkan visinya, tampaknya Internet.org harus berusaha lebih keras. Pasalnya, pertumbuhan adopsi internet sepanjang tahun 2014 dilaporkan lambat, yakni hanya meningkat 6,6 persen. Padahal, pertumbuhan adopsi internet tahun 2010 mencapai 14,7 persen.

Walau begitu, masih ada harapan untuk memgsosialisasikan penggunaan akses internet, terutama di daerah-daerah terpencil yang mungkin menganggap asing istilah internet. Potensi koneksi internet sebenarnya cukup besar. Hampir 80 persen populasi dunia, berdasarkan survei, sebenarnya memiliki jangkauan internet. “Artinya, kita harus lebih melihat isu kesadaran dan pengetahuan masyarakat untuk terkoneksi ke internet,” begitu kata perwakilan Facebook.

Untuk itu, Facebook terus menggodok strategi untuk melawan tiga hambatan dalam mencapai misi “masyarakat terkoneksi”, yakni infrastruktur, keterjangkauan, dan relevansi. Ke depannya, relevansi perlu digenjot karena mengacu pada ketidaktahuan masyarakat tertentu atas internet. Laporan Internet.org selengkapnya dapat dilihat di sini

Zuckerberg sempat mengunjungi Jakarta untuk mensosialisasikan program penyebaran internet tersebut pada Oktober tahun lalu. Kedatangan Zuckerberg untuk memberi wawasan kepada pengembang aplikasi di Indonesia agar bisa menggunakan jaringan secara efisien dan membuat aplikasi yang dioptimalkan untuk kondisi jaringan internet di negara-negara berkembang.

Bolt Akan Pidanakan Pemakai Modem Unlock Bolt

Chief Executive Officer Bolt Super 4G LTE, Dicky Moechtar, memberikan komentarnya terhadap perilaku sejumlah pelanggan Bolt yang melakukan unlock modem internet milik Bolt. Menurut Dicky, tindakan tersebut bertentangan dengan tujuan Bolt menyelenggarakan layanan 4G LTE selama ini dan bisa dikategorikan sebagai tindakan kriminal.

“Kalau (modem) di-unlock, itu kan mereka jual lagi dengan harga yang lebih mahal, padahal tujuan kami (Bolt) adalah memberikan layanan internet yang berkualitas dan terjangkau,” demikian ujar Dicky di sela acara jumpa media, Selasa (24/2/2015) di Jakarta.

Selain itu, Dicky juga menyebut bahwa tindakan unlock modem Bolt itu juga termasuk ke dalam tindakan kriminal. “Itu bisa dikategorikan sebagai kriminal karena firmware yang ada di dalam modem itu dilindungi hak karya cipta,” katanya.

Dicky mengatakan bahwa Bolt sudah mengetahui praktik-praktik unlock tersebut dan saat ini sedang memikirkan tindakan hukum apa yang akan diambil oleh penyedia layanan internet 4G pertama di Indonesia itu. “Nanti kita sedang bahas dan siapkan, kalau sudah diberi tahu,” ujar Dicky.

Modem 4G yang dijual oleh Bolt memang dibuat khusus agar bekerja dengan kartu SIM yang disediakan oleh Bolt. Untuk menyediakan modem tersebut, Bolt bekerja sama dengan vendor Huawei dan ZTE. Praktik unlock terhadap modem yang dipasarkan Bolt itu kini banyak dilakukan oleh pengguna internet di Indonesia. Tujuannya, dengan melakukan unlock, mereka bisa dengan bebas memasang kartu SIM milik operator penyedia layanan internet lain.

Sejarah dan Cara Kerja Teknologi 1G Hingga 4G

Teknologi komunikasi seluler 4G sedang jadi topik hangat mengingat penerapannya tergolong baru di Indonesia. Namun sejatinya, teknologi yang ada tak melulu 4G. Ada sejumlah teknologi lain yang mendahului hingga bisa mencapai tahap tersebut. Seperti yang dirangkum dari berbagai sumber, teknologi komunikasi nirkabel bermula dari 1G atau generasi pertama. Teknologi tersebut kemudian dikembangkan menjadi 2G, 3G hingga 4G yang kita kenal saat ini.

1G
Generasi pertama atau 1G tersebut diperkenalkan mulai 1970-an. Jangan bayangkan sudah ada koneksi internet pada teknologi komunikasi tahap ini. Teknologi 1G bekerja memanfaatkan transmisi sinyal analog. Saat itu, teknologi ini hanya dapat digunakan untuk panggilan telepon saja. Ukuran ponsel 1G pun tergolong besar, bila dibandingkan dengan ponsel masa kini. Contohnya ponsel Motorola DynaTAC yang cukup populer pada masanya. Ponsel yang dibuat pada kurun 1984-1994 ini punya bobot 794 gram. Dengan bobot hampir satu kilogram, berat DynaTAC hampir setara dengan bobot Ultrabook.

Kemunculan teknologi 1G tersebut juga berperan besar dalam mendorong pertumbuhan pasar telepon genggam. Dikutip dari Bright Hubu, pangsa pasar telepon genggam saat itu tumbuh dari 30 menjadi 50 persen dalam tiap tahunnya. Bahkan pada 1990, pengguna teknologi 1G di seluruh dunia hampir mencapai angka 20 juta jiwa.

2G
Teknologi 1G terus digunakan hingga digantikan dengan teknologi 2G. Perbedaan utama antara kedua teknologi tersebut adalah pada sinyal radio yang digunakan. 1G menggunakan sinyal analog, sedangkan 2G menggunakan sinyal digital. Ponsel yang menggunakan teknologi 2G mulai diperkenalkan pada kurun 1990. Ponsel yang sudah menerapkan teknologi ini bisa digunakan untuk berkirim dan menerima data dalam ukuran kecil. Maksudnya data di sini adalah pengiriman pesan teks (SMS), pesan bergambar serta pesan multimedia (MMS).

Teknologi 2G sendiri utamanya dibuat untuk layanan suara dan koneksi data yang cenderung lambat. Pemutakhiran pada jaringan ini kemudian memunculkan istilah 2.5G dan 2.75G. Istilah 2.5G mengacu pada teknologi komunikasi 2G yang sudah dikombinasikan dengan General Packet Radio Service (GPRS). Secara teori, kecepatan transfer data menggunakan teknologi ini bisa mencapai 50 kbps.

Selanjutnya, istilah 2.75G adalah teknologi komunikasi 2G yang dikombinasikan dengan standar Enchanced Data Rates for GSM Evolution (EDGE). Secara teori, kecepatan transfer datanya melebihi 2.5G, yaitu maksimal pada 1 Mbps.

3G
Penerapan standar GPRS pada teknologi komunikasi 2G membuka jalan untuk akses data yang lebih cepat. Selepasnya, muncul teknologi yang dikenal sebagai generasi ketiga atau 3G pada 1998. Teknologi komunikasi 3G disebut juga sebagai mobile broadband pertama. Sebutan itu muncul karena kemampuannya mengakses internet dan bisa digunakan sebagai pengganti koneksi internet melalui kabel.

Selain kecepatan transfer data yang membuat akses internet cukup lancar, teknologi ini sudah memungkinkan digunakan kegiatan yang terkait dengan transfer audio, grafis maupun video. Singkatnya, teknologi komunikasi tersebut sudah mampu digunakan streaming video atau melakukan video call.

International Telecommunication Union menyebutkan bahwa teknologi 3G ini diharapkan bisa mewujudkan kecepatan transfer data minimal 2 Mbps untuk pengguna yang sedang diam atau berjalan, dan 348 kbps jika sedang bergerak dalam kecepatan tinggi. Namun tidak dijelaskan secara baku berapa kecepatan maksimal yang diharapkan.

Pelan-pelan, teknologi komunikasi 3G pun berkembang ke masa transisi menuju generasi keempat atau 4G. Teknologi pada masa transisi tersebut dikenal sebagai 3.5G dan 3.75G. Teknologi 3.5G disebut juga sebagai High Speed Packet Access (HSPA). Pada tahap ini, kecepatan transfer data meningkat dengan batas maksimum unduh 14 Mbps, dan kecepatan unggah 5,76 Mbps. Teknologi tersebut kemudian dikembangkan lagi menjadi 3.75G atau HSPA+. Secara teori, jaringan telekomunikasi yang menerapkan teknologi ini bisa memperoleh kecepatan unduh hingga 168 Mbps dan unggah hingga 22 Mbps.

Batas tersebut merupakan perhitungan teoritis, sedangkan pengguna dalam keadaan nyata akan merasakan kecepatan transfer data yang lebih rendah tergantung situasi.

4G
Teknologi komunikasi generasi ketiga itu selanjutnya dikembangkan menjadi generasi keempat atau 4G. Ada dua sebutan untuk teknologi komunikasi 4G yang saat ini dikenal. Pertama adalah Long Term Evolution (LTE) serta Long Term Evolution-Advance (LTE-A). Teknologi LTE, secara teori menawarkan kecepatan unduh (download) hingga 100 Mbps dan kecepatan unggah (upload) hingga 50 Mbps. Kecepatan tersebut bisa lebih cepat lagi, tergantung rilis teknologi yang digunakan oleh operator. Meskipun begitu, LTE sebenarnya masih diberi label teknologi pra-4G.

Pelabelan tersebut dikarenakan kecepatan teoritis yang ditawarkan LTE belum mencapai standar 4G dari International Telecommunications Union-Radio communication sector (ITU-R). Organisasi internasional tersebut mengeluarkan International Mobile Telecommunication-Advanced (IMT-A) yang berisi syarat sebuah teknologi komunikasi 4G. Syarat tersebut menyatakan bahwa sebuah teknologi 4G harus memiliki kecepatan unduh maksimal 1 Gbps dan unggah maksimal 500 Mbps.

Sedangkan LTE yang seringkali disebut sebagai 4G oleh operator seluler, belum mencapai syarat tersebut. Berdasarkan hal tesebut, maka teknologi LTE-A lah yang didorong untuk muncul sebagai teknologi True 4G.

4G di Indonesia
Indonesia sendiri saat ini sudah mulai bisa merasakan keberadaan teknologi 4G LTE, meskipun belum menyeluruh dan belum mudah dijangkau. Masalahnya, baru tahap pertama saja yang digelar di frekuensi 900 MHz. Jaringan 4G LTE yang digelar oleh operator-operator telekomunikasi Indonesia, XL Axiata, Indosat, serta Telkomsel pun jangkauannya masih terbatas di beberapa wilayah. Kendala lainnya adalah belum banyak perangkat yang bisa digunakan untuk mengakses 4G LTE di frekuensi 900 MHz.

Kementerian Komunikasi dan Informatika Indonesia (Kemenkominfo) sekarang sedang bersiap mengumumkan 4G LTE tahap dua yang diterapkan di frekuensi 1.800 MHz. Rencananya, pengumuman kebijakan untuk teknologi itu akan dilakukan pada pertengahan Februari 2015 ini.

“Kebijakannya bahwa ini (4G) akan diimplementasikan segera akan kami keluarkan bulan Februari. Indonesia akan terapkan 4G/LTE di band 1.800 MHz tahun ini. Setelah policy itu keluar, itu (dilanjutkan) penataannya,” ujar Menkominfo Rudiantara, beberapa waktu lalu.

Jika teknologi tersebut sudah diterapkan di frekuensi 1.800 MHz, Rudiantara berharap 4G LTE akan lebih mudah dinikmati masyarakat. Karena menurut dia, saat ini sudah ada banyak pilihan perangkat yang sebenarnya bisa digunakan untuk mengakses 4G LTE di frekuensi itu.

Pengguna internet masih harus bersabar untuk bisa mengetahui seberapa muluskah kecepatan transfer data yang nanti terwujud di Indonesia. Setidaknya, kecepatan akses yang lebih tinggi diprediksi membuka banyak kemungkinan baru.

Daftar Lonjakan Tarif Data Per Operator Seluler Pada Tahun Baru

Saat pergantian tahun 2014 ke 2015 terjadi peningkatan aktivitas komunikasi di Indonesia. Ini ditandai oleh naiknya trafik layanan operator seluler. Secara keseluruhan, trafik data mengalami kenaikan.

Seperti pada layanan data PT Telkomsel yang mengalami kenaikan sebesar 124 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sebagai rinciannya dibandingkan pada hari biasa, kenaikan trafik layanan data mencapai 20 persen atau menjadi 1.046 terabita. Layanan pesan singkat atau SMS naik sebesar 1 persen menjadi 977 juta SMS. Sedangkan layanan suara turun 4 persen menjadi 1,35 miliar menit.

“Ini menunjukkan tingginya pertumbuhan penggunaan mobile data di Indonesia dari tahun ke tahun,” ujar Direktur Utama Telkomsel, Ririek Adriansyah, melalui siaran tertulis, Sabtu, 3 Januari 2015. Telkomsel sebelumnya sudah melakukan antisipasi dengan meningkatkan pelayanan pelanggan atau visitor location register (VLR) sebesar 1,2 persen atau 214 juta pelanggan. Adapun kapasitas home location register (HLR) sebesar 303 juta pelanggan masih dianggap mencukupi.

Peningkatan layanan data juga dialami PT Indosat, Tbk. Trafik data meningkat sebesar 33,72 persen dibandingkan hari biasa, trafik SMS juga mengalami kenaikan sebesar 8,25 persen. Berbeda dengan Telkomsel, layanan suara Indosat justru mengalami peningkatan 9,3 persen. Indosat mengklaim berhasil mengatasi kenaikan trafik layanannya. “Kami telah melakukan antisipasi dengan meningkatkan kapasitas dan optimalisasi jaringan di wilayah dengan trafik padat,” ujar Division Head Public Relations Indosat, Adrian Prasanto.

Dia melanjutkan, antisipasi dilakukan dengan menaikkan kapasitas data menjadi 1.075 terabita per hari. Layanan SMS ditingkatkan menjadi 1,285 miliar. Sedangkan kapasitas suara menjadi 2.349 juta menit per hari.