Category Archives: Monitor

AMD Luncurkan Radeon HD 6670 Berharga Murah Kurang Dari 1 Juta Rupiah

Rangkaian kartu grafis baru AMD Radeon HD 6670, HD 6570, dan HD 6450 yang diluncurkan hari ini harganya tak sampai 1 Juta Rupiah AS tapi handal untuk para gamer.

Siaran pers AMD yang diterima ANTARA News hari ini menyebutkan konsumsi kartu grafis itu berdaya listrik di bawah 75 watt dan tetap ideal untuk permainan high definition, pemutar video, dan aplikasi produksi.

“Pengembangan konten high definition dan 3D lebih menekankan pada kualitas pengalaman visual, dan kartu-kartu grafis AMD Radeon memberikan kualitas gambar terbaik di industri ini,” kata Matt Skynner, Corporate Vice President dan General Manager AMD Graphics Division.

AMD Radeon terbaru imenawarkan pengalaman bermain game tiga dimensi dan produktivitas lebih baik dengan teknologi AMD Eyefinity, menjadikan tiga monitor atau lebih ke satu permukaan yang sangat lebar.

Kartu grafis itu juga memberikan dukungan Stereo 3D untuk film-film Blu-ray 3D terbaru dan meningkatkan kualitas gameplay dengan teknologi AMD HD3D.

Terdapat juga AMD App Acceleration meningkatkan kecepatan browsing, memperbaiki kualitas special effect dan pemutaran video yang mulus tanpa putus-putus.

Lebih dari 50 aplikasi kini memanfaatkan keunggulan AMD App Acceleration, termasuk DivX, Internet Explorer, versi terbaru Google Chrome dan Mozilla Firefox.

Kartu-kartu grafis AMD Radeon HD 6450, HD 6570 and HD 6670 dapat dibeli melalui system builder dan toko-toko online terkemuka seperti Amazon, CyberPower, iBuyPower, Newegg, NCIX, dan TigerDirect.

“Ketika konsumen ingin mencari solusi gaming 3D stereo ataupun kartu grafis hemat energi dengan harga terjangkau, mereka bisa menikmati pengalaman visual yang menakjubkan dengan kartu grafis AMD Radeon HD 6000 Series ini.” ucap Bernard Luthi, Vice President of Marketing, Web Management and Customer Service, Newegg.com

Layar TV Futuristik Yang Semakin Tipis dan Lebar

Tidak ada yang menduga kalau teknologi televisi yang mulai diperkenalkan secara komersial pada tahun 1920-an mengalami perkembangan yang sangat pesat tidak hanya menjadi sebuah kotak yang bisa mengeluarkan gambar dan suara saja. Perangkat TV abad ke-21 mengalami pergeseran paradigma.

TV yang menjadi bagian dari perabot rumah tangga sekarang menjadi perangkat pièce de résistance, perangkat yang meningkatkan kualitas kehidupan berbagai keluarga di seluruh dunia. Desain menarik, kualitas gambar semakin tajam dan jernih, serta pilihan tayangan semakin luas dan beragam menjadikan TV perangkat diidamkan banyak orang.

Keseluruhan kemajuan teknologi televisi sekarang ini diejawantahkan Samsung, perusahaan teknologi asal Korea Selatan, ketika memperkenalkan seri TV terbarunya disebut sebagai Series 9 LED. Memiliki tiga ukuran, yaitu 40 inci (diagonal 1,01 meter), 46 inci (diagonal 1,1 meter), dan 55 inci (diagonal 1,39 meter), produk TV terbaru Samsung ini menjadi state of the art teknologi televisi.

Series 9 LED 55 inci (disebut juga seri UA55C9000) menjadi TV yang memberikan makna rancang desain dan konstruksi yang mampu menghasilkan dimensi televisi futuristik dengan ukuran 1.295,6 x 873,3 x 306,1 mm. Dengan ketebalan setipis majalah, Series 9 LED dengan fitur 3D (tiga dimensi) merupakan perpaduan rancang industri produk mewah serta menghadirkan dimensi baru pertelevisian.

Sebagai luxury good, Samsung Series 9 LED 55 inci adalah televisi generasi baru. Yang mengesankan, selama ini perusahaan teknologi dan elektronika Korsel ini menjalin kerja sama dengan Bang & Olufsen, perusahaan audio video ternama asal Denmark. Namun khusus untuk Series 9 ini, untuk pertama kalinya Samsung mengerjakannya sendiri.

Hasilnya, sebuah TV masuk kategori produk premium yang memberikan makna penting bagi penonton televisi di mana saja di dunia. Dirancang menggunakan bahan stainless stell pada bagian depan dan belakang, hasil yang mampu dicapai para perancang dan insinyur di Samsung adalah TV ajaib yang hanya memiliki ketebalan 8 mm.

Aksentuasi

Rancang desain TV Samsung ini pun mampu menghias desain interior yang menghasilkan sebuah sistem sinema rumah yang utuh dalam ukuran yang memadai menghadirkan pengalaman menonton berbagai tayangan menjadi berbeda dengan sebelumnya.

Secara bersamaan, Samsung Series 9 LED 55 inci ini pun tidak dirancang hanya menyaksikan televisi saja, tetapi juga mengikuti kemajuan teknologi komunikasi informasi. Ini yang menjelaskan berbagai rongga disediakan perangkat TV ini. Tidak hanya standar keperluan audio dan video saja, tetapi TV Samsung menjadi sentra digitalisasi yang mampu berhubungan dengan jejaring internet, komputer notebook, komputer tablet, dan sebagainya.

Artinya, anggota keluarga bisa menjadikan TV 55 inci ini sebagai jendela penting berinteraksi secara digital, menyaksikan tayangan video YouTube, mengakses situs-situs jejaring sosial digital seperti Facebook, atau memeriksa e-mail. Berbagai informasi menyemarakkan rumah tangga, tidak hanya melulu pada hiburan tayangan definisi tinggi (HD dengan resolusi 1080p).

Kombinasi rancangan TV sangat tipis mampu menghasilkan tampilan yang mengagumkan melalui detail yang sangat tajam pada tayangan Bluray, warna yang sangat kontras, serta sistem tata suara surround melalui teknologi pemrosesan suara Dolby Digital Plus dan SRS Theater Sound.

Tingkat kontras yang sangat dalam pada Samsung Series 9 LED 55 inci ini mampu menghilangkan persoalan yang selalu menjadi isu ketika menyaksikan tayangan definisi tinggi, seperti gelombang, pengotakan, atau guncangan pada gambar ketika menyaksikan tayangan definisi tinggi. Namun, pada film seperti Avatar berkualitas definisi tinggi, persoalan ini ternyata tidak muncul bahkan tingkat kebisingan yang diakibatkan pada kompleksitas warna maupun kualitas yang ingin ditampilkan oleh video definisi Bluray.

Samsung Series 9 juga disebut sebagai C9000, serta berbagai fitur futuristik di dalamnya memiliki aksentuasi estetika sangat tinggi menjadikan produk ini sejajar dengan kemewahan tampilan jam Rolex atau mobil Ferrari. Kemewahan ini diraih melalui tidak hanya rancang desainnya yang memang mewah, tetapi juga kualitas yang dihasilkannya mampu mendudukkan produk Korsel ini adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kemewahan.

Tablet Semakin Menjamur dan Tren di Masyarakat

Munculnya iPad tahun lalu memang fenomenal, sekalipun ide membuat tablet itu sudah ada sekitar 10 tahun lalu. Sukses ini menjadi tren dan sekarang mulai muncul pesaing-pesaing tablet bikinan Apple itu dari berbagai sistem operasi dan variasi tampilan yang menawan. AW Subarkah

Bahkan tablet atau ”sabak elektronik” iPad sudah menjadi impian penggemar gadget, setidaknya bagi para pengguna iPhone, ponsel pintar yang juga buatan Apple. Bahkan, tidak jarang bagi yang berduit memburunya sampai ke luar negeri, setidaknya ke Singapura.

Namun, pada awal November lalu muncul pesaing baru dengan menggunakan sistem operasi berbeda. Setidaknya selain Galaxy Tab dari Samsung, juga ada Handroid dari perusahaan lokal CSL, mereka ini menggunakan sistem operasi Android, sebuah sistem operasi open source yang dimotori Google.

Sementara saat itu pengguna BlackBerry juga sedang menunggu-nunggu sabak-e (sabak elektronik) keluaran perusahaan Kanada itu. Perangkat yang disebut Playbook itu menjadi andalan bagi perusahaan Research in Motion (RIM), Kanada, untuk mengisi kebutuhan gadget kelas sabak.

Belum lagi Microsoft sebagai pencetus konsep sabak-e, tahun ini akan ikut terjun dengan sistem operasi Windows 7 melalui beberapa vendor. Setidaknya raksasa komputer dari Asia, seperti Acer dan Asus, akan menurunkan versi Windows 7, selain juga HP yang sedang sibuk mempersiapkan sistem operasi Palm.

Dari peta ini saja sudah terlihat betapa serunya persaingan global pada kelas sabak mulai tahun ini. IPad yang sudah melenggang setahun lebih awal akan menghadapi persaingan yang sangat berat. Bahkan, persaingan ini tidak hanya terjadi antarsistem operasi pada sabak-e, tetapi juga menekan keberadaan netbook yang sempat mengisi pasar notebook mobile beberapa tahun ini.

Pada awalnya netbook sepertinya dimaksudkan untuk mengisi kebutuhan notebook yang ringan dan mudah dibawa-bawa serta untuk tugas yang tidak berat. Namun, hadirnya sabak-e iPad membuat produsen netbook harus mendefinisikan ulang, paling tidak mendorong kecepatan lebih tinggi dan lebih banyak aplikasi sekelas notebook. Sebab, tablet yang baru sebagian sudah dilengkapi dengan papan ketik mekanis.

Android merajalela

Tidaklah mengherankan apabila munculnya gadget kelas sabak menjadi incaran para vendor komputer yang sangat tergiur untuk bermain di ranah perangkat bergerak. Setidaknya seperti Acer sudah mendahului dengan meluncurkan smarthandheld Liquid E, baru kemudian disusul Garmin-Asus.

Agresivitas mereka sedikit terhambat dengan kesiapan sistem operasi, bahkan Acer sempat menunda produk sabak-e-nya karena sistem operasi Android versi 3.0 atau Honeycomb belum siap. Sepertinya produk yang berafiliasi ke Google akan menghadang iPad dengan Honeycomb.

Kebanyakan sabak-e Android yang sudah keluar tahun lalu, seperti Galaxy Tab atau CSL, menggunakan sistem operasi versi 2.2 atau Froyo, beberapa malah masih v2.1 (Éclair). Setidaknya perlu di-upgrade ke v2.3 (Gingerbread) sebelum masuk ke v3.0 (Honeycomb).

Dari sisi mesin, sabak-e Android baru akan menggunakan prosesor dual-core 1 GHz dan ke depannya sedang dipersiapkan quad-core yang meningkatkan kecepatan secara dramatis. Meskipun kinerja sabak-e masih juga tetap bergantung pada jaringan komunikasi yang digunakan. Jika jaringan lelet, semua kecanggihan itu menjadi tidak berarti.

Yang menonjol dari sabak-e Android ataupun Windows 7 adalah kemampuan menyesuaikan dengan perkembangan jaringan. Di antaranya, siap diaplikasikan untuk jaringan long term evolution (LTE), jaringan nirkabel pra-generasi keempat (4G) yang baru dicoba tahun lalu di Jakarta. Ini sangat penting karena sabak-e memang dirancang sebagai perangkat komputer bergerak.

Termasuk seperti Motorola Xoom yang sudah dipersiapkan untuk bisa di-upgrade mengantisipasi hadirnya LTE agar tidak ketinggalan. Sabak-e ini, selain sudah Android versi Honeycomb, juga menggunakan prosesor dual-core Nvidia Tegra 2 berkecepatan 1 GHz.

Adapun soal media penyimpan sudah bukan masalah lagi. Dengan eXtended Capacity (SDXC) sebesar prangko itu mampu menyimpan dari 32 GB (gigabyte) sampai 2 TB (terabyte). Jelas kapasitas yang tidak bisa dipenuhi oleh CD-ROM yang pernah populer pada era notebook ataupun desktop.

Memang kartu SDXC saat ini masih mahal, dan yang sudah biasa digunakan adalah Secure Digital High Capacity (SDHC) yang sudah umum digunakan. Format SDHC yang menyimpan 4 GB-32 GB sama dengan format SD ataupun SDXC.

Inilah masa depan gadget yang sudah tampak semakin nyata di depan mata kita. Komputer bergerak adalah sabak-e. Hati-hati memilih, di negeri ini pun akan semakin banyak sabak elektronik dijajakan

Bahan Baku Teknologi Layar Sentuh Makin Murah

Teknologi layar sentuh sekarang ini sudah sangat identik dengan smartphone, termasuk juga sabak elektronik (sabak-e) atau tablet. Jika pada awalnya masih menggunakan pena stylus, sekarang cukup dengan ujung jari sudah dengan nyaman dan akurat mengendalikan operasi lewat layar.

Namun, kecanggihan sentuhan ini masih dibayang-bayangi kekhawatiran akan terbatasnya bahan baku yang digunakan. Bahan elektroda wafer-tipis yang terbuat dari indium-tin-oxide (ITO) masih merupakan elemen yang mahal dan jumlahnya terbatas.

Memang bahan ini terbilang ideal untuk layar sentuh, tetapi deposit indium di dunia ini sangat sedikit. Dikhawatirkan dalam jangka panjang pembuat gadget elektronik akan menggantungkan pada harga ITO yang dibuat pemasok.

Inilah sebabnya mengapa Institut Fraunhofer Jerman tergerak untuk mencari teknologi pengganti yang lebih murah dan bahannya ada di mana-mana. Dengan demikian, harga elektronik tidak dikendalikan oleh bahan yang juga disebut ”logam strategis” itu.

Upaya ini tidak sia-sia, para peneliti Fraunhofer berhasil mengembangkan layar sentuh dari bahan dengan kemampuan setara dengan ITO, tetapi harganya jauh lebih murah. Komponen utamanya adalah carbon nanotube dan polimer murah.

Foil elektroda baru ini terdiri dari dua lapis, satu sebagai pembawa, berupa foil tipis polyethylenterephthalate (PET) murah yang biasa digunakan membuat botol plastik. Kemudian, gabungan carbon nanotube dan polimer konduktor listrik ditambahkan dengan PET sebagai pelarut dan pembentuk film tipis saat kering.

Fungsi carbon nanotube membuat lapisan kombinasi plastik itu menjadi stabil sehingga tahan terhadap kelembaban, tekanan, atau sinar ultraviolet yang membuat rapuh polimer itu. Carbon nanotube yang mengeras dalam PET membuat sebuah jaringan sehingga lapisan itu menjadi awet.

Sebuah harapan yang melegakan, suatu saat pengguna gadget sudah terbiasa menggunakan layar sentuh, maka ledakan permintaan bahan layar sentuh bisa ditangani dan harganya makin murah.

Kemewahan Remote Control TV Futuristik Samsung

Kemewahan produk apa pun selalu memberikan tekanan pada detail, rancang desain, dan pilihan kualitas bahan untuk membuat produk itu mampu memberikan nuansa kemewahan. Semua tekanan ini ingin ditampilkan pada produk televisi Samsung, khususnya Series 9 LED 55 inci.

Kemewahan teknologi perusahaan asal Korea Selatan ini adalah memperkenalkan TV dengan ketebalan layar lebar 55 inci yang hanya 8 mm. Semua dilakukan dengan mengumpulkan seluruh komponen elektronik pada alas penyangga TV yang semuanya dibuat menggunakan bahan stainless steel.

Semua komponen elektronik Samsung seri UA55C9000 ini, seperti pengeras suara, digital tuner, rongga masukan seperti HDMI, DVI, maupun Component, disembunyikan pada bagian belakang penyangga TV yang sangat tipis ini. Konsekuensinya, TV terbaru buatan Samsung ini tidak mudah untuk digantung di tembok sebagaimana lazimnya TV layar lebar.

Bagian yang juga memberikan nuansa kemewahan pada produk TV Samsung Series 9 ini adalah pengendali jarak jauh yang berbeda dari perangkat sejenis yang dikenal selama ini. Ukurannya sendiri mirip dengan pengendali jarak jauh lainnya. Bedanya perangkat ini menggunakan layar sentuh berwarna 3 inci (diagonal 7,62 cm) menjadikannya sebagai pengendali TV yang mewah.

Berbeda dengan perangkat pengendali TV lain yang mengandalkan inframerah, kemewahan yang ingin diperdalam Samsung adalah menggunakan kendali nirkabel WiFi melalui tambahan alat nirkabel yang dimasukkan ke rongga USB.

Kendali ini tidak hanya berfungsi untuk mengatur kanal siaran TV maupun kendali suara, tetapi juga memiliki fungsi untuk menampilkan sebagai TV layar ukuran 3 inci, baik mencerminkan tayangan sama dengan layar lebar atau menampilkan kanal saluran TV sementara layar utama menayangkan video definisi tinggi Bluray.

Kemewahan Samsung Series 9 UA55C9000 ini setidaknya mampu untuk membawa pengguna dan keluarganya ke era baru menonton TV definisi tinggi dengan kualitas setara layar lebar bioskop serta kendali jarak jauh yang futuristik.

Tayangan Informasi Digital Dengan Proyektor Portable Isi Ulang

Ketika informasi dalam bentuk digital dikemas dalam berbagai bentuk, dari teks, audio, hingga video, pilihan untuk menampilkan beragam informasi ini tersedia dalam format, model, dan harga yang berbeda-beda. Menyajikan informasi menjadi persoalan di tengah maraknya lalu lintas informasi digital dalam era jejaring sosial.

Kehadiran berbagai bentuk komputer dari notebook, netbook, dan tablet adalah pengejawantahan yang memberikan kita pilihan untuk mengakses informasi di mana saja dan kapan saja. Harga yang terjangkau menjadikan semua perangkat teknologi ini menjadi produk seperti memiliki jam tangan, kalung, gelang, dan sebagainya.

Persoalan yang muncul adalah ketika informasi yang diserap pada perangkat- perangkat tersebut ingin dibagi ke orang lain dalam jumlah kuang dari sepuluh orang. Menggunakan netbook atau komputer tablet seperti iPad akan menjadi persoalan sendiri karena keterbatasan bidang yang bisa dilihat oleh orang-orang tersebut.

Menggunakan proyektor menjadi tidak nyaman karena dimensi perangkat ini tidak sesuai untuk membagi informasi pada kelompok kecil orang. Selain itu, persiapan penggunaan proyektor juga terlalu memakan waktu.

Proyektor ideal

Karena berbagai alasan di atas, kehadiran teknologi pico sebagai proyektor saku dianggap oleh kalangan industri dan bisnis teknologi komunikasi informasi sebagai pilihan perantara untuk mengisi celah dalam berbagai informasi pada khalayak dengan jumlah kurang dari 15 orang.

Awalnya, persoalan muncul ketika lumens yang disajikan dalam teknologi proyektor pico ini terlalu rendah, menyebabkan pencahayaan yang tidak memadai untuk menyerap beragam informasi tersebut. Teknologi ini pun diperbarui oleh Optoma Corporation dengan memperkenalkan proyektor saku PK301 menggunakan cip tayangan digital light processing (DLP) buatan Texas Instrument dengan resolusi 854 x 480 piksel.

Optoma PK301 memiliki kemampuan pencahayaan yang lebih baik sampai 50 lumens pada penggunaan tenaga listrik dan 20 lumens ketika mengandalkan baterai isi ulang. Ukurannya dalam dimensi 120,1 x 69,8 x 29,7 mm dengan berat 227 gram, menjadikan proyektor saku ini ideal sebagai perangkat untuk berbagi informasi dalam forum yang lebih kecil.

Dengan rasio kontras 2000:1, Optoma PK301 ideal untuk menampilkan informasi sampai ukuran layar 136 inci (diagonal 345,44 cm), menjadi tayangan foto digital ataupun presentasi Powerpoint menjadi lebih menarik. Salah satu keunggulan produk ini adalah memiliki rongga Micro SD yang mampu menampung dan membaca informasi lebih banyak sampai dengan 32GB.

Produk ini juga memiliki pilihan koneksi yang beragam, mulai dari rongga HDMI Mini, Component, VGA, ataupun Composite untuk menyalurkan data audio dan video. Sebagai proyektor pico dengan ukuran dan berat yang sesuai untuk mereka yang memiliki mobilitas tinggi, pilihan koneksi ini menjadi penting sehingga sumber informasi yang ingin ditayangkan bisa diambil dari berbagai sumber.

Kendala yang dimiliki adalah pilihan format video Optoma PK301 ini hanya terbatas pada file dengan ekstensi .mp4, dan akan menjadi persoalan tidak bisa ditayangkan langsung tanpa melakukan konversi. Terlepas dari masalah ini, proyektor pico memang menjadi bagian penting dari perkembangan derasnya informasi digital sekarang ini.

Kamera Digital Merek Lokal Akses Ponsel

Kamera berbasis protokol internet (IP Cam) dua tahun terakhir ini menjadi perangkat teknologi komunikasi informasi paling cepat berkembang, dan diminati banyak pihak. Instalasi dan penggunaannya yang mudah serta harganya yang terjangkau, menjadikan IP Cam pilihan teknologi menarik dan akan bertumbuh pesat di tahun mendatang.

Salah satu merek yang meramaikan pasaran IP Cam di Indonesia adalah Magic Vision melalui mekanisme original equipment manufacturing (OEM), tetapi mengembangkan aplikasi akses pemantauan sendiri untuk bisa menjadi merek Indonesia yang mampu bersaing dengan merek lain.

Ada dua produk Magic Vision dicoba Kompas, yakni MV-7042 PT (foto kiri) dan MV- 7120 VP MD (foto kanan), sama-sama menggunakan kompresi video H.264. Melalui kompresi video ini, pemantauan disimpan dalam digital file yang lebih kecil dan mampu menghemat penggunaan akses jaringan sampai 30 persen.

Sebagai merek baru di pasaran, Magic Vision setidaknya mampu memberikan solusi pengamatan dan pemantauan keamanan yang menarik bagi perusahaan ataupun bagi keperluan pribadi di rumah. Aplikasi yang dikembangkan antara lain mampu mengakses kamera Magic Vision melalui ponsel, termasuk Blackberry.

Kamera Magic Vision ini bisa terhubung ke televisi, memudahkan pengguna di rumah memantau wilayah sekeliling dari TV tanpa harus menggunakan komputer. Seri MV-7042 PT juga dilengkapi dengan kendali infra merah yang bisa menggerakkan kamera ke berbagai arah. Kedua kamera ini juga bisa mendeteksi gerakan dan memberikan notifikasi ke e-mail.

Kehadiran IP Cam merek lokal dengan kualitas yang setara dengan merek terkenal setidaknya ikut meramaikan kehadiran penginderaan jarak jauh yang bisa memberikan rasa aman dan nyaman untuk keperluan apa saja. Dengan harga yang terjangkau, Magic Vision mampu memperpanjang jangkauan penglihatan siapa saja