Monthly Archives: October 2012

Ironi Dari Apple … Setelah Menuduh Pencurian Hak Cipta Kini Mengaku Mencuri Hak Cipta Desainer Jam

Ironi dari Apple (AAPL) dituduh mencuri kekayaan intelektual dari seorang desainer jam Swiss tidak hilang pada pers teknologi yang baru saja menghabiskan bulan menutupi pelanggaran paten perusahaan gugatan terhadap Samsung.

Jadi ketika kereta api Swiss Operator SBB sopan mengeluh tiga minggu lalu bahwa wajah dari aplikasi jam di iOS 6 diangkat dari desain (dan merek dagang) ikonik akrab bagi siapa saja yang pernah menunggu kereta berikutnya dari Zurich tuduhan yang dibuat untuk beberapa hari headline geli.

Pada hari Jumat, cerita akhirnya mencapai semacam penutupan ketika SBB mengumumkan bahwa penyelesaian telah dicapai:

“Untuk penggunaan clockface pada perangkat Apple tertentu seperti iPads dan iPhone, para pihak telah menegosiasikan kesepakatan yang memungkinkan Apple untuk menggunakan jam stasiun SBB bawah perjanjian lisensi,” kata SBB dalam sebuah pernyataan. “Para pihak telah sepakat bahwa jumlah biaya lisensi dan rincian lebih lanjut dari pengaturan perizinan akan tetap rahasia.”

Advertisements

Huawei dan ZTE Dicap Kongres Membahayakan Keamanan Amerika Serikat

Dua raksasa perusahaan telekomunikasi Cina, Huawei dan ZTE, dinilai sebuah panel Kongres Amerika Serikat menimbulkan ancaman keamanan terhadap negara itu. Peringatan ini disampaikan setelah penyelidikan mereka lakukan terhadap dua perusahaan tersebut.

Karena itu, mereka menyarankan agar kedua perusahaan dilarang dari setiap merger dan akuisisi oleh AS. Panel komisi intelijen Kongres mengatakan perusahaan gagal meredakan kekhawatiran soal hubungan mereka dengan pemerintah dan militer Cina.

Perusahaan itu–dikenal sebagai produsen peranti jaringan terbesar di dunia–membantah tuduhan tersebut. Pada Senin, 8 Oktober, ZTE mengeluarkan pernyataan yang menyebut semua peranti mereka memenuhi semua standar AS dan tidak menimbulkan ancaman. “ZTE telah menetapkan standar baru bagi kerja sama oleh perusahaan Cina dengan penyelidikan Kongres,” tulis Xinhua.

Huawei belum menanggapi secara resmi tuduhan ini. Namun wakil presiden perusahaan itu, William Buckley, sebelumnya mengecam tuduhan sebagai “gangguan politik yang berbahaya”.

Laporan intelijen Kongres sangat kritis terhadap dua perusahaan itu. “Cina memiliki sarana, kesempatan, dan motif untuk menggunakan perusahaan telekomunikasi untuk tujuan yang tidak baik,” kata laporan itu. “Berdasarkan informasi rahasia, Huawei dan ZTE tidak bisa dipercaya untuk bebas dari pengaruh negara asing dan dengan demikian menimbulkan ancaman keamanan bagi Amerika Serikat dan sistem kita.”

Berbicara kepada jaringan CBS pada Minggu, 7 Oktober, ketua komite intelijen dari Partai Republik, Mike Rogers, sedikit menyinggung hal ini. “Carilah vendor lain jika Anda peduli pada kekayaan intelektual Anda, jika Anda peduli tentang privasi konsumen Anda, dan Anda peduli tentang keamanan nasional Amerika Serikat,” katanya.

Kementerian Luar Negeri Cina mendesak AS membuang jauh prasangka mengenai kedua perusahaan. “Mereka telah mengembangkan bisnis internasional mereka berdasarkan prinsip-prinsip ekonomi pasar,” kata juru bicara Kementerian, Hong Lei. “Investasi mereka di Amerika Serikat mewujudkan sifat yang saling menguntungkan dari hubungan ekonomi dan perdagangan Cina-AS.”

Huawei dirintis oleh Ren Zhengfei, mantan anggota Tentara Pembebasan Rakyat, pada 1987. Kini perusahaan itu telah berkembang menjadi salah satu pemain global terbesar di sektor ini.

Review dan Spesifikasi Sony Cyber-shot DSC-RX100 Kamera Saku Bersensor Hampir Sebesar Full Frame

Di era digital, membuat foto semudah membalikkan telapak tangan. Banyak media yang bisa digunakan untuk merekam momen penting, misalnya telepon seluler dan komputer tablet.

Tapi, bagi para fotografer, gambar yang dihasilkan ponsel ataupun tablet masih jauh dari harapan. Selain itu, kedua perangkat digital tersebut memiliki fungsi terbatas karena memang bukan ditujukan sebagai alat fotografi.

Nah, Sony melihat pasar masih terbuka lebar untuk menggelontorkan kamera saku yang menghasilkan foto jauh lebih baik dibanding ponsel atau tablet. Bulan lalu perusahaan asal Jepang ini meluncurkan Sony Cyber-shot DSC-RX100.

Harganya memang tidak murah, sekitar Rp 6,9 juta. Tapi, penampilan kamera ini elegan dan sudah dilengkapi dengan fitur kelas atas. Di antaranya, kemampuan mengambil gambar di ruang minim cahaya, menghasilkan warna yang sangat hidup, dan merekam video dalam definisi tinggi dengan suara jernih.

Cyber-shot DSC-RX100 dibuat untuk mereka yang menginginkan kamera saku dengan kualitas tinggi, tapi tak memerlukan kamera yang bisa berganti lensa. Juga tak perlu GPS, geocoding atau 3D movie, dan tak terpengaruh harga.

Selama sepekan ini Tempo sempat mencoba kamera yang dibalut bahan terbuat dari metal berwarna serba hitam dengan resolusi sensor besar ini. Ukuran fisiknya mirip ponsel BlackBerry 8520.

Yang menjadi daya tarik kamera ini, menurut Tempo, adalah kemampuan mengambil gambar yang sama baiknya dalam kondisi gelap maupun di luar ruangan pada siang hari. Ini berkat sensor besar yang ditanamkan di dalamnya.

SENSOR

DSC-RX100 memiliki sensor 20,2 megapiksel yang mampu menghasilkan gambar setara dengan 5.472 x 3.642 pixel. Yang tak kalah menarik dari resolusi yang dihasilkan adalah sensornya itu sendiri.

Ukuran sensornya 13,2 x 8,8 milimeter. Ukuran ini hampir empat kali lebih besar ketimbang sensor kamera saku pada umumnya. Artinya, DSC-RX100 mampu menghasilkan gambar tajam dalam rentang cahaya lebih lebar.

Berkat sensor yang besar, DSC-RX100 mampu menghasilkan warna akurat tanpa mengorbankan detail, misalnya pada bayangan. Dalam kondisi minim cahaya, kamera ini mampu meningkatkan sensitivitas tanpa menambah noise.

Sensitivitas yang tersedia antara ISO 125 dan ISO 6.400, masih bisa ditingkatkan hingga ISO 80/100. Pilihan paling tinggi yang tersedia adalah ISO 25.600 dengan menggunakan multi-frame noise reduction. Hal tersebut memungkinkan dilakukan penyesuaian dari +/-3.0EV pada 1/3EV.

LENSA

Besarnya sensor yang ditanamkan tak mungkin akan menghasilkan gambar yang jernih dan akurat tanpa penggunaan lensa yang mumpuni. Untuk itu lensa DSC-RX100 dibuat mampu menghadirkan 3,6 kali zoom optikal atau setara dengan 28-100 milimeter pada kamera reguler 35 milimeter.

DSC-RX100 juga dilengkapi dengan control ring atau cincin serbaguna di sekitar lensa. Fungsinya tergantung pada keinginan, bisa untuk zoom secara manual, exposure, sensitivitas, white balance, efek gambar, serta kecepatan shutter atau aperture. Jika ditaruh pada mode standar, fungsinya berubah sesuai dengan mode shooting yang dipilih.

Pada mode Aperture, ring akan mengontrol aperture. Pada Shutter mode akan mengatur kecepatan shutter. Sedangkan pada Intelligent Auto, zoom yang diatur. Keberadaan ring ini merupakan ide luar biasa. Fungsinya sama dengan i-Function pada kamera Samsung NX210.

Salah satu kelemahan kamera ini, menurut Tempo, adalah virtual gearing yang sedikit lamban. Artinya, diperlukan sedikit usaha untuk mengubah aperture. Untuk mengganti aperture dari f/1.8 ke f/11, misalnya, dibutuhkan tiga putaran. Sedangkan untuk mengubah dari 30 detik ke 1/2,000 detik diperlukan 12 kali memutar ring tersebut.

KESIMPULAN

Sony Cyber-shot DSC-RX100 adalah kamera saku bagi kalangan profesional yang dilengkapi dengan resolusi tinggi. Sensor yang besar mampu mengurangi noise yang biasa timbul pada kondisi cahaya minim. Malah, noise hampir tak terlihat saat kamera digunakan pada ISO 800.

Performa yang dihadirkan kamera ini membuat harga melambung. Bahkan melebihi harga Sony Alpha A37 yang sudah cukup mumpuni. Meski begitu, Sony Cyber-shot DSC-RX100 bisa dibilang sebagai kamera saku terbaik yang ada saat ini.

KELEBIHAN

– Gambar tajam
– Tak masalah meski minim cahaya
– Sensor besar
– Control ring serbaguna

KEKURANGAN

– Dalam mode movie ada noise
– Control ring terasa lamban
– Harga tergolong mahal

SPESIFIKASI

Tipe produk: Kamera saku
Resolusi: 20,2 megapiksel
Resolusi video: 1080 p
Penstabil gambar: Ya
Zoom optikal: 3.6 x
Video frame rate: 50 fps
Luas layar: 3 inci
Berat: 240 gram
Dimensi: 101,6 x 58,1 x 35,9 milimeter
Warna: Hitam
Harga: Rp 6,9 juta

Autographer Kamera Baru yang Bisa Memotret Sendiri Dengan Hasil Memuaskan

Sebuah perusahaan yang berbasis di Inggris, Oxford Metrics Group (OMG), baru-baru ini mengumumkan kehadiran sebuah kamera digital yang unik bernama Autographer.

Autographer diklaim sebagai kamera pintar pertama yang mengusung konsep wearable (dapat dipakai seperti aksesori kalung) dan otomatis. Anda tidak perlu lagi menekan tombol shutter atau mengintip lubang bidik. Autographer hadir dengan sebuah lensa semi-fisheye yang dapat menghasilkan foto pada sudut 136° dan dilengkapi sensor backlit-CMOS beresolusi 5 MP. Hasil foto akan langsung disimpan di memori internal 8GB.

Autographer juga mengemas lima sensor seperti akselerometer untuk mengukur seberapa cepat dan lambat pergerakan pengguna, sensor warna untuk mendeteksi cahaya dan mengukur gelap terang, magnetometer untuk menentukan kemana arah kamera menghadap, PIR sensor untuk mendeteksi pergerakan subjek, sensor temperatur untuk mengukur suhu dan modul GPS untuk menentukan posisi kamera.

Lalu bagaimana kamera ini bekerja? Kamera ini bekerja dengan memanfaatkan lima sensor tersebut dan GPS. Dengan data yang diterima dari sensor, Autographer akan mengidentifikasi saat paling tepat untuk mengambil foto. Data tersebut dapat berupa perubahan cahaya dan warna, gerakan, arah dan suhu. Misalnya, Autographer (kemungkinan) akan merekam saat kita tiba-tiba berlari mengejar bis atau dikejar anjing, keluar dari ruangan di saat hujan atau saat bertemu dengan teman.

Simon Randall dari OMG Life mengatakan, “Yang menarik dari Autographer adalah Anda tidak perlu menghentikan aktivitas hanya untuk merekam foto. Anda tetap dapat menikmati hidup sementara Autographer terus menangkap cerita yang terjadi di sekeliling Anda secara spontan.”

Autographer hadir dengan aplikasi olah foto khusus dari OMG (tersedia versi smartphone dan PC) untuk membuat foto .GIF atau stop motion video. Selain itu, kamera ini juga telah dilengkapi dengan konektivitas Bluetooth yang berguna untuk memindahkan hasil foto atau melihat hasil foto Anda di tablet PC atau smartphone.

Konsep kamera ini sepertinya sulit dicerna jika tidak melihat aksinya secara langsung. Ada juga keraguan jika Autographer benar-benar mampu merekam momen yang kita anggap berharga, mengingat nyaris tidak ada fungsi pengaturan yang diberikan. Yang pasti, kamera ini diciptakan bukan untuk menggantikan kamera digital yang sudah ada, tapi lebih sebagai sebuah gadget yang menyenangkan.

Autographer dibanderol dengan harga $ 647 dan mulai dijual bulan November 2012. Anda dapat langsung membelinya di website resmi OMG.

Ponsel Berbentuk Sarung Tangan Kini Mulai Di Jual

– Kini, orang-orang yang tinggal di daerah empat musim tak perlu lagi khawatir telepon selularnya membeku saat musim dingin.

Sebuah perusahaan di Italia menciptakan produk ponsel unik. Sebuah sarung tangan yang disulap menjadi alat komunikasi.

Sarung tangan bagian kiri ini dipasangi speaker dan mikrofon yang dijahit pada posisi ibu jari dan jari kelingking. Tentu alat ini dipakai untuk bicara sekaligus melindungi pemakainya dari suhu yang dingin. Kabel-kabel speaker itu juga bisa disimpan.

Sedangkan pada bagian jari-jarinya memiliki benang khusus sehingga layar sentuh dapat digunakan. Ponsel sarung tangan ini akan dijual seharga 50 Poundsterling atau Rp 774 ribu pekan depan.

“The hi-Call Man Black” ini adalah produk sensasional untuk musim dingin tahun ini. Sarung tangan tersebut memiliki baterai isi ulang dengan kemampuan bicara hingga 20 jam.