Monthly Archives: April 2016

Opera Kini Bisa Blokir Iklan dari ISP Indonesia

Opera sedang melakukan uji coba terhadap fitur pemblokir iklan yang disisipkan langsung ke dalam layanan perambannya. Ini ditandai dengan dirilisnya browser Opera versi developer terbaru yang sudah memiliki fitur tersebut. Browser yang baru diakusisi oleh perusahaan konsorsium asal China ini mengklaim bahwa fitur pemblokir yang ‘ditanam’ langsung ke dalam browser akan lebih optimal ketimbang menggunakan plug-in pihak ketiga.

Menurut Opera, metode yang mereka terapkan berhasil mempercepat pemuatan laman web hingga 90 persen dan lebih cepat 40 persen jika dibandingkan dengan plugin pemblokir iklan yang ada. Hal ini sebenarnya cukup mengejutkan karena Opera sendiri memiliki sebuah perusahaan periklanan online.

“Iklan (sebetulnya) adalah bahan bakar internet yang memungkinkan pengguna untuk menikmati berbagai layanan secara gratis,” kata Krystian Kolondra, SVP Engineering and Head of Opera untuk divisi komputer. Namun, di sisi lain Opera juga ingin meningkatkan pengalaman pengguna saat browsing.

“Tapi, penelitian terbaru kami menunjukkan bahwa sebagian besar halaman web saat ini diperlambat secara signifikan oleh iklan yang berlebihan. Kami tidak bisa menerima itu. Sebagai pengguna, kami ingin web menjadi tempat yang lebih baik bagi kita semua,” lanjut Krystian Kolondra.

Sama seperti dengan pemblokir iklan pihak ketiga, pengguna diizinkan untuk mengatur sendiri jika tak ingin memblokir iklan pada laman web tertentu. Opera juga menyertakan fitur yang memungkinkan pengguna untuk membandingkan waktu loading saat pemblokir iklan diaktifkan dan dinonaktifkan. Jumlah iklan sudah diblokir pun akan ditampilkan secara real time

Opera Kini Pasang Fitur VPN Yang Bisa Akses Situs Yang Diblokir

Opera Software melakukan pembaruan dengan menyematkan beberapa fitur yang mengesankan. Sebab kini peramban ini disematkan layanan Virtual Private Network (VPN) secara gratis.

Sesuai namanya, VPN biasanya fitur untuk memanipulasi lokasi jaringan akses internet. Sehingga dapat menembus situs atau laman yang terbatas di negara tertentu saja atau malah diblokir sama sekali. Sebagai contoh, bila ingin mendapatkan katalog lebih lengkap di Netflix, pengguna harus berada atau menggunakan IP Addres asal Amerika Serikat.

Dengan kehadiran VPN dan disematkan fiturnya di Opera, maka pengguna cukup mengganti lokasi VPN yang berada di kiri kolom alamat situs dan menggantinya ke lokasi Amerika Serikat. Sejauh ini VPN gratis di Opera versi Developer baru tersedia di 3 negara, Amerika Serikat, Jerman dan Kanada.

Alat peramban asal Norwegia ini sendiri punya alasan khusus mengapa mereka akhirnya menyematkan fitur VPN secara gratis di Opera. Seperti dikutip dari blog resminya, Opera Software menukil hasil survei dari Indeks Web Global yang menyatakan lebih dari setengah miliar atau 24 persen dari populasi pengguna internet di dunia telah mencoba menggunakan layanan VPN.

Nah, menurut penelitian tersebut, ada alasan utama bagi orang menggunakan VPN ini:

– Untuk mengakses konten hiburan yang lebih baik (38 persen)
– Untuk menjaga anonimitas saat browsing (30 persen)
– Untuk mengakses jaringan dibatasi dan situs di suatu negara (28persen)
– Untuk mengakses situs yang dibatasi di tempat kerja (2 7persen)
– Untuk berkomunikasi dengan teman / keluarga di luar negeri (24 persen)
– Untuk mengakses situs-situs berita yang terbatas di suatu negara (22 persen)

Memang tak selamanya VPN digunakan hal yang lumrah, karena tidak bisa dipungkiri bagai Pisau Bermata Dua, fitur ini mungkin saja dimanfaatkan untuk akses-akses dilarang karena norma, budaya setempat serta mengancam kelanggengan kekuasaan pemerintah. Sehingga, tanggung jawab ada sepenuhnya di tangan pengguna Opera dan memang dari dulu tanggung jawab selalu ada ditangan masing-masing orang dan bukan pemerintah.

Opera mengklaim jadi browser besar pertama yang menyediakan fungsi Virtual Private Network (VPN). VPN tersebut bisa dipakai pengguna Opera untuk memanipulasi tempat di mana mereka mengakses Interent. Dalam pilihannya hanya ada tiga negara, Amerika Serikat, Kanada dan Jerman. Fungsi pada browser sebenarnya bukan hal baru, namun biasanya pengguna harus mengunduh ekstensi atau membayar ke layanan tertentu untuk mendapatkannya. Opera mengambil langkah radikal.

“Kami adalah browser besar pertama yang mengintegrasikan fungsi VPN secara gratis dan tanpa batas,” tulis pernyataan Opera pada situs resminya. Fungsi ini tercipta setelah Opera mengakuisisi SurftEasy pada Maret 2016 lalu. SurftEasy sendiri merupakan plugin VPN khusus untuk Opera yang saat ini masih tersedia dengan berlangganan US$ 4 sebulan.

VPN gratis yang ditawarkan Opera tidak kalah canggih dengan layanan sejenis yang berbayar. Masih menawarkan enkripsi 256-bit, mampu menyembunyikan alamat IP pengguna, dan dapat mengakses situs-situs tertentu yang diblokir oleh pemerintah atau hanya diakses terbatas di negara tertentu saja.

Sejauh ini fungsi VPN hanya tersedia di Opera Developer versi komputer, namun ke depannya fungsi ini akan diperluas ke versi lainnya. Seperti terobosan lain yang mereka lakukan yakni, pemblokir iklan. Fungsi pemblokir iklan yang biasa disediakan pihak ketiga itu ditanamkan Opera sejak Maret 2016. Menurut Opera, cara ini diklaim Opera dapat mempercepat pemuatan laman web hingga 90 persen.

‚ÄúPenelitian kami menunjukkan bahwa sebagian besar halaman web saat ini diperlambat secara signifikan oleh iklan yang berlebihan. Kami tidak bisa menerima itu. Sebagai pengguna, kami ingin web menjadi tempat yang lebih baik bagi kita semua,” kata Krystian Kolondra, SVP Engineering and Head of Opera untuk divisi komputer.

36 Persen Perusahaan di Indonesia Terkena Serangan Hacker

Perusahaan keamanan FireEye mengungkapkan hasil penelitiannya selama kuartal kedua 2015. Dari data tersebut, tercatat sebanyak 36 persen perusahaan di Indonesia yang terkena serangan siber cukup serius. “Semua organisasi rawan diserang. Kebanyakan, yang diserang adalah pemerintahan, militer, finansial dan berbagai perusahaan besar,” kata Bryce Boland, CTO FireEye Asia Pasifik.

Sayangnya ia enggan membeberkan berapa jumlah perusahaannya. Yang pasti, perusahaan yang disurvei adalah pelanggan FireEye di Indonesia baik lokal maupun internasional. Berdasarkan data yang dikumpulkan, setidaknya ada 4 kelompok peretas yang berusaha menyerang Indonesia. 3 di antaranya dari China, sedangkan sisanya berasal dari Eropa Timur.

Ia juga menjelaskan bahwa tingkat kematangan keamanan siber ada tiga, yakni Detection, Response, dan Hunting. Indonesia sendiri baru bisa mencapai tingkat yang paling rendah, yakni Detection. Ini dikarenakan keamanan siber masih belum menjadi prioritas utama.

“Perusahaan di Indonesia punya budget yang cukup banyak, tapi dipakai untuk yang lain, Bukan untuk memelihara dan mengembangkan keamanan sistemnya,” lanjutnya. Di saat yang sama, Bryce juga mengungkapkan hasil riset dari Australian Strategic Policy Institute tentang tingkat kematangan keamanan siber di Asia Pasifik pada tahun 2015.

Hasilnya, kematangan infrastruktur keamanan siber di Indonesia, menempati urutan 14 dengan angka 46,4 persen setelah Thailand (49,1 persen) dan Filipina (46,8 persen). Posisi pertama sendiri ditempati oleh Amerika Serikat dengan angka 90,7 persen. Disusul oleh Jepang (85,1 persen), Korea selatan (82,8 persen), Singapura (81,8 persen) dan Australia (79,9 persen)

Alat Meretas Hacking iPhone Yang Dipakai FBI Ternyata Dijual Bebas

Biro investigasi Amerika Serikat, FBI, mengaku telah memiliki alat dan metode rahasia untuk membuka iPhone 5c milik Syed Ridwan Farook yang melakukan penembakan di San Bernardino, California. Tetapi alat itu tidak bekerja jika dipakai pada iPhone model baru. Direktur FBI James Comey mengatakan, alat mereka tidak akan bekerja pada iPhone 5s, iPhone 6, dan iPhone 6s.

Sementara iPhone 5c tergolong lama. Diperkenalkan pada tahun 2013 dan sejak itu telah dihentikan produksi juga penjualannya oleh Apple untuk menyediakan model yang lebih baru. “Kami memiliki alat yang bekerja pada sebagian kecil ponsel,” kata Comey dalam konferensi teknologi di Kenyon College, Ohio, Rabu lalu, seperti dikutip dari Reuters. Departemen Kehakiman pada Maret lalu mengatakan berhasil membuka iPhone milik penembak San Bernardino dengan bantuan pihak ketiga.

Karena alat terkini FBI belum bisa membobol iPhone yang lebih baru, penegak hukum Amerika Serikat akan terus meminta Apple untuk membuka enkripsi dari iPhone yang sempat dipakai oleh orang yang sedang diperiksa. Sampai hari ini sengketa hukum enkripsi antara Apple dengan FBI belum menemukan titik terang. Sebelumnya, Departemen Kehakiman telah meminta pengadilan New York untuk memaksa Apple membuka iPhone 5s terkait penyelidikan narkoba.

Hal ini memperlihatkan perusahaan teknologi berpotensi menghadapi masalah dengan pemerintah di suatu negara untuk urusan keamanan siber di masa depan. Ketika FBI sedang susah payah untuk membuka enkripsi iPhone 5c yang dipakai Syed Ridwan Farook, pelaku penembakan di San Bernardino, California, ada salah satu e-commerce di London yang menjual sebuah alat yang bisa melakukannya dengan mudah.

Alat yang bernama IP-BOX tersebut mampu menemukan kode sandi empat digit yang biasa digunakan untuk mengunci iPhone dalam hitungan detik, sampai hitungan jam. Fone Fun Shop, e-commerce yang menjual IP-BOX seharga US$170 (sekitar Rp2,3 juta) mengklaim bahwa alat tersebut membutuhkan 6 detik hingga 17 jam untuk menjebol kode sandi iPhone.

Direktur Fone Fun Shop, Mark Strachan percaya bahwa FBI pun menggunakan alat semacam IP-BOX untuk membuka iPhone 5c yang digunakan oleh Syed Farook tanpa bantuan Apple. Strachan mengatakan bahwa alat ini dikembangkan untuk membantu pemilik iPhone agar bisa mengambil foto atau kontak mereka saat perangkat dalam keadaan terkunci dan lupa kode sandi.

Ia juga mengatakan bahwa pada awalnya banyak orang yang skeptis akan kinerja IP-BOX. Namun seiring berjalannya waktu, alat ini terbukti bisa bekerja dengan baik. Salah satu surat kabar asal Inggris, Daily Mail sempat membeli dan mencobanya pada iPhone 5c. Hasilnya, IP-BOX berhasil menjebolnya dalam waktu 6 jam. Saat ini, IP-BOX baru bisa menjebol iPhone yang menggunakan iOS 7 atau di bawahnya. Ke depannya, Fone Fun Shop berencana untuk memperbarui alat ini sehingga bisa digunakan pada iPhone yang menggunakan iOS 9.

Surat kabar Yedioth Ahronoth melaporkan perusahaan penyedia peranti lunak forensik mobile Cellebrite asal Israel, sedang membantu FBI guna membuka enkripsi iPhone 5C yang digunakan oleh Syed Ridwan Farook, pelaku penembakan di San Bernardino, California. Jika langkah ini berhasil, FBI tidak lagi memerlukan bantuan Apple untuk membuka iPhone yang dienkripsi. Ini juga bisa menghentikan perdebatan yang lebih luas tentang data pribadi di Amerika Serikat.

Terkait dengan kasus ini, pihak Cellebrite enggan mengomentarinya. Sebelumnya, Apple terlibat masalah legalitas dengan Departemen Kehakiman Amerika karena menolak perintah pengadilan untuk membuat peranti lunak baru untuk membuka enkripsi pada iPhone yang digunakan oleh penembak.

Apple dan Departemen Kehakiman Amerika seharusnya bertemu lagi di pengadilan pada Selasa, 22 Maret 2016 lalu. Namun sehari sebelumnya, seorang hakim federal menyetujui permintaan pemerintah untuk menunda sidang setelah jaksa mengatakan bahwa ada pihak ketiga yang mungkin bisa membuka enkripsi iPhone. Cellebrite sendiri adalah anak perusahaan Sun Corporation yang berasal dari Jepang. Mereka menyediakan sistem forensik yang digunakan oleh penegak hukum, militer dan intelijen. Ini bisa dimanfaatkan untuk mengambil data tersembunyi di dalam perangkat mobile.