Pemakai WhatsApp Tembus 500 Juta Nomor Telepon

Ambisi Chief Executive Officer Facebook Mark Zuckerberg yang ingin agar pengguna WhatsApp mencapai 1 miliar tampaknya bakal segera terwujud. Dua bulan berselang setelah Facebook mengakuisisi layanan pesan instan itu, jumlah pengguna aktif WhatsApp sudah menembus 500 juta.

Saat diakuisisi pada Februari lalu, pengguna aktif WhatsApp sekitar 450 juta. “Pertumbuhan tercepat berasal dari pengguna Brasil, India, Meksiko, dan Rusia,” tulis WhatsApp di blog-nya, sebagaimana dikutip CBS News, Kamis, 24 April 2014.

Jika dihitung secara statistik, per harinya jumlah pengguna WhatsApp bertambah satu juta. Ini hal yang luar biasa, mengingat jumlah karyawan WhatsApp tidak lebih dari 50 orang.

WhatsApp ternyata justru populer di luar negara asalnya, Amerika Serikat. Per harinya, sebanyak 700 juta foto dan 100 juta video terkirim lewat layanan ini. Sebagai perbandingan, media sosial populer lainnya, Twitter, jumlah penggunanya mencapai 241 juta pada akhir 2013. Namun berdasarkan penelitian, 44 persen di antaranya terbukti tidak pernah mencuit.

Pendiri dan CEO WhatsApp, Jan Koum, menyatakan sejak awal layanan tersebut mengunggulkan kesederhanaan. Dia berjanji tidak akan banyak menambah fitur dan gimmick, seperti game dan iklan mobile.

Satu-satunya fitur baru yang segera meluncur adalah pesan suara. Dalam ajang Mobile World Congress di Barcelona, Februari lalu, Koum mengatakan pesan suara akan tersedia dalam beberapa bulan mendatang. “Fitur ini tersedia gratis,” katanya.

Sebelumnya, Zuckerberg mengatakan akuisisi Facebook tidak akan mengubah model layanan WhatsApp. Seperti diketahui, dari segi pemasukan, model bisnis Facebook dan WhatsApp sangat berbeda. Facebook meraup banyak pemasukan lewat iklan mobile.

Facebook menjadikan WhatsApp sebagai unit bisnis terpisah. Hal ini seperti halnya Instagram, yang berfokus sebagai aplikasi berbagi foto. Instagram sendiri diakuisisi Facebook pada 2012.

Spesifikasi Smartphone OnePlus One … Android Premium Berharga Murah

Setelah bocorannya sempat beredar selama beberapa waktu, akhirnya prerusahaan rintisan OnePlus asal asal Shenzhen, Tiongkok, benar-benar memperkenalkan produk samrtphone andalannya yang bernama “One”.

OnePlus One yang mengusung nama serupa dengan produk andalan dari HTC ini ramai disebut sebagai “pembunuh” alias pesaing kuat smartphone seri Nexus dari Google. Sebabnya, ia memiliki daya tarik berupa spesifikasi dan banderol menggiurkan.

Smartphone Android ini dibekali komponen kelas atas seperti prosesor quad-core Snapdragon 2,5 GHz, RAM 3 GB, kamera belakang 13 megapixel dan kamera depan 5 megapixel, baterai 3.100 mAh, dukungan 4G LTE, serta layar IPS 5,5 inci (1920×1080) berlapis Gorilla Glass 3

OnePlus belum mengumumkan harga resmi One. Namun, berdasarkan laporan Engadget, kuat diduga bahwa ponsel tersebut bakal dihargai 299 dollar AS atau sekitar Rp 3,5 juta untuk versi dengan memori internal 16 GB.

Sementara, versi lain dengan memori internal berukuran jauh lebih lega, 64 GB, disebut akan dijual seharga 350 dollar AS atau sekitar Rp 4,1 juta. Spesifikasi komponen lain tak berbeda dengan varian 16 GB.

Apabila benar, maka harga jual OnePlus One lebih murah dibandingkan smartphone Android lain yang spesifikasinya sekelas, termasuk Nexus 5 dari Google yang dijual 350 dollar AS (16 GB) dan 400 dollar AS (32 GB) di pasaran internasional.

Terlebih, OnePlus One turut datang dengan OS Android 4.4 “polos” versi CyanogenMod 11S. Cyanogen Mod populer di kalangan power user Android karena bisa diutak-atik. OnePlus One bakal menjadi ponsel komersil pertama yang menyertakan Android CyanogenMod langsung dari pabrik.

Pihak pembuatnya turut menyediakan aneka pilihan cover belakang dari aneka abahan seperti kayu dan kevlar yang bisa digunakan untuk mengganti cover standar.

OnePlus One yang pada awalnya bakal tersedia dalam pilihan warna hitam dan putih rencananya akan mulai memasuki pasar di sejumlah negara Asia dan Eropa mulai pertengahan bulan Mei mendatang.

Cara Membersihkan File Sisa Pada Perangkat Android

Salah satu hal yang menyebabkan smartphone Android berjalan lambat dalam melakukan perintah adalah kapasitas memori tersisa yang sudah sempit, terlebih jika banyak aplikasi pre-installed dari pabrikan.

Ada beberapa aplikasi yang bisa digunakan untuk membersihkan file “sampah” di dalam smartphone sehingga kapasitas penyimpanan internal menjadi lebih lega. Dengan demikian, smartphone bisa mengerjakan tugas berjalan dengan lebih cepat tanpa harus melakukan rooting.

Rooting perangkat smartphone atau tablet Android memang memberikan kebebasan aplikasi mana saja yang bisa berjalan, atau memindahkannya ke eksternal memori. Namun, terkadang rooting juga menyebabkan garansi pabrikan hilang.

Solusinya, untuk membuat penyimpanan internal menjadi lebih lapang, adalah menghapus file-file “sampah” yang sudah tidak terpakai lagi, seperti file-file download atau data cache yang tersimpan.

Untuk melakukannya, berikut adalah aplikasi-aplikasi yang bisa digunakan.

ES File Explorer – Untuk mengatur file-file mana saja yang ingin disimpan dan dihapus, seperti file hasil download, email, dan sumber lainnya, aplikasi file manager bisa digunakan, seperti ES File Explorer. Aplikasi ini juga terintegrasi dengan layanan penyimpanan cloud populer, seperti Google Drive, Dropbox, dan lainnya.

Selain menghapus file, pengguna juga bisa mem-backup file-file tersebut ke situs layanan penyimpanan cloud tadi. Apalagi untuk file-file foto atau video yang sayang jika dihapus.

Jika tidak, pengguna bisa memindahkan data foto atau video tersebut ke penyimpanan eksternal dengan mentransfer file tersebut ke PC atau laptop.

1 Tap Cleaner dan Clean Master – Aplikasi 1 Tap Cleaner juga bisa digunakan untuk menghapus file-file cached yang sudah tidak terpakai lagi. File cached ini akan terus menumpuk jika tidak dibersihkan, apalagi jika smartphone memiliki beragam aplikasi. Aplikasi sejenis yang bisa dicoba adalah Clean Master.

Review LG Android G Pro 2

Pesta gadget Mobile World Congress (MWC) sejatinya baru dimulai pada 24 Februari 2014 mendatang. Namun, sebelum ajang tersebut benar-benar dimulai, sudah ada vendor yang mulai memperkenalkan ponsel andalannya.

Salah satu vendor tersebut adalah LG. Perusahaan asal Korea Selatan ini telah memperkenalkan ponsel andalan terbarunya, LG G Pro 2.

Perangkat ini sendiri merupakan seri penerus dari G Pro, yang dirilis ke pasaran pada tahun 2012 lalu.

Tidak berbeda dari perangkat generasi pertama, LG G Pro 2 dapat dimasukkan ke dalam kategori phablet. Produk yang satu ini dipersenjatai layar dengan bentang 5,9 inci Full HD 1.920 x 1.080 piksel. LG G Pro generasi pertama memiliki layar berukuran 5,5 inci.

Dari segi “jeroan”, LG G Pro 2 memiliki spesifikasi yang sangat bertenaga. Ia dilengkapi dengan prosesor Snapdragon 800 2,6 GHz quad-core dari Qualcomm, RAM 3 GB, media penyimpanan 16/32 GB, dan baterai 3.200 mAh.

Kameranya memiliki sensor gambar 13 megapiksel pada bagian belakangnya. Fitur yang dimiliki kamera tersebut cukup istimewa, yaitu mampu mengambil gambar dalam resolusi 4K dan slow-motion hingga 120 FPS.

LG G Pro 2, seperti dikutip dari Pocket-Lint, Kamis (13/2/2014), sendiri akan berjalan di sistem operasi Android 4.4 KitKat. Produk itu juga akan dilengkapi dengan berbagai fitur menarik, seperti dual-browser web surfing, Knock On (menghidupkan layar hanya dengan cara mengetuknya), dan mengunci konten dalam perangkat.

Tanggal kehadiran dan harga dari LG G Pro 2 masih belum diumumkan. Perangkat tersebut dikatakan sudah akan dipamerkan pada ajang MWC mendatang.

LG Optimus L1 II Tri Ponsel Android Dengan 3 Kartu SIM Aktif

LG ingin tampil beda melalui ponsel terbarunya, Optimus L1 II Tri. Jika umumnya sebuah ponsel mendukung dua kartu SIM, ponsel tersebut dilengkapi dengan dukungan kartu yang lebih banyak, yaitu tiga kartu SIM.

Perangkat ini masuk kategori low-end. Ia dilengkapi dengan layar 3 inci dengan resolusi 240 x 320 pixel, dukungan koneksi jaringan 3G, RAM 512 MB, media penyimpanan berkapasitas 4 GB, slot kartu microSD, dan berjalan dengan sistem operasi Android 4.1 Jelly Bean.

Dikutip dari Phone Arena, perangkat ini dilengkapi dengan kamera 2 megapiksel di bagian belakang. Tidak ada kamera depan pada perangkat ini.

Adapun perangkat LG Optimus L1 II Tri ini dipersenjatai dengan baterai sebesar 1.540 mAh. Tidak dijelaskan kemampuan dari baterai tersebut. Namun, tampaknya baterai ini tidak mampu menopang daya hidup yang lama, mengingat perangkat tersebut mendukung pemakaian tiga kartu SIM secara bersamaan.

Perusahaan Kore Selatan ini menargetkan LG Optimus L1 II Tri untuk pasar negara berkembang. Hingga berita ini ditayangkan, produk tersebut baru dipasarkan di Brasil.

Produk ini dibanderol dengan harga 127 dollar AS atau sekitar Rp 1,5 juta. Ada tiga pilihan warna, yaitu hitam, putih, dan merah muda. Belum diketahui apakah LG Optimus L1 II Tri akan dipasarkan di Indonesia atau tidak.

LG Luncurkan 3 Ponsel Android 4.4 KitKat

Pabrikan elektronik asal Korea Selatan, LG, memperbarui lini produk smartphone seri menengah L Series dengan melepas tiga produk baru dalam acara peluncuran di Jakarta, Rabu (23/4/2014). Ketiga ponsel pintar yang kesemuanya mengusung sistem operasi Android 4.4 terbaru (Kitkat) itu adalah LG L90, L70, dan L40. L Series yang pertama kali diluncurkan dua tahun lalu adalah lini produk ponsel dari LG untuk segmen pasar menengah.

Menurut informasi dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas Tekno, dari ketiga produk baru yang diluncurkan, LG L90 mengusung spesifikasi teratas dengan prosesor quad-core 1,2 GHz, memori internal 8 GB, layar 4,7 inci (960×540), RAM 1 GB kamera, 8 MP, dan baterai berkapasitas 2.460 mAh. Harganya dipatok sebesar Rp 3 juta.

LG L70 diposisikan di bawah L90 dan diperkuat prosesor dual-core 1,2 GHz, layar 4,5 inci (800×480), RAM 1 GB, memori internal 4 GB, kamera 5 MP, dan baterai 2.100 mAh. Produk ini dijual seharga Rp 2,1 juta.

Adapun LG L40 merupakan tipe termurah dengan harga jual Rp 1,3 juta. Perangkat ini mengusung prosesor dual-core 1,2 GHz, layar 3,5 inci, RAM 512 MB, memori internal 4 GB, kamera 3 MP, dan baterai 1.700 mAh.

Ketiga trio ponsel Android Kitkat yang sudah tersedia di pasaran Indonesia ini juga turut dilengkapi fitur keamanan baru bernama Knock Code. Fitur tersebut memungkinkan pengguna mengunci ponsel dengan memakai pola ketukan pada layar.

Di samping L90, L70, dan L40, LG juga berencana melepas model smartphone L80 pada akhir Mei mendatang. Produk dengan bentang layar 5 inci ini rencananya akan dibanderol seharga Rp 2,5 juta.

Spesifikasi dan Review Google Glass Yang Dijual Telkomsel

Operator telekomunikasi Telkomsel berencana menjual Google Glass di Indonesia. Perusahaan sedang mempelajari peluang untuk memasarkan kacamata pintar buatan Google tersebut. Vice President Technology & System Telkomsel Ivan C Permana mengatakan, pihaknya masih berkomunikasi dengan Google untuk peluang kerja sama tersebut. Namun, Ivan belum bisa memastikan kapan produk itu bakal dikomersialkan di Indonesia.

Telkomsel rencananya akan mendatangkan Google Glass melalui SingTel, salah satu pemegang saham Telkomsel. Jika hal itu memungkinkan, maka Telkomsel bakal menjual Google Glass di kisaran Rp 15 juta sampai Rp 20 juta, dan dibundel dengan layanan Telkomsel. “Kita masih pelajari dan melihat animo masyarakat. Dari sana akan kelihatan berapa unit yang diperlukan,” ujarnya di sela acara Telkomsel Digi Expo 2014 di Jakarta, Selasa (22/4/2014). Ivan melanjutkan, Telkomsel juga memerhatikan soal izin dari regulator karena produk ini kerap dikaitkan dengan isu privasi.

Di acara Telkomsel Digi Expo 2014 ini, Google Glass menjadi salah satu produk yang dipamerkan Telkomsel. Google Glass masuk dalam kategori perangkat pintar yang bisa dipakai di tubuh manusia atau wearable device. Produk yang diperkenalkan dalam konferensi pengembang aplikasi Google I/O pada Juni 2012 ini sebelumnya hanya dijual kepada orang-orang terpilih. Untuk umum, Google telah menggelar penjualan Glass pada Selasa (15/4/2014). Dalam penawaran yang berlaku selama satu hari tersebut, Google membanderol Glass seharga 1.500 dollar AS (sekitar Rp 17 juta), ditambah bonus sepasang kaca lensa atau sebuah bingkai.

Pada penjualan perdana tersebut, Google Glass ludes terjual, dibeli oleh mereka yang penasaran dengan kemampuan yang dimiliki kacamata pintar ini. Meski keberadaannya telah diumumkan sejak 2012 lalu, Google Glass masih jarang ditemui di negeri asalnya, apalagi di Indonesia. Kacamata pintar tersebut memang masih berada dalam tahap “beta” alias belum diproduksi massal.

Penggunanya pun terbatas. Mei lalu, Google mengirimkan Glass Explorer Edition versi awal ke 8.000 individu terpilih yang mengikuti program Glass Xplorer. Salah satu dari mereka adalah Ivan Yudhi, seorang programmer asal Indonesia yang bekerja di perusahaan software AS, OSIsoft.

Google mengundang orang-orang yang tinggal di AS untuk berpartisipasi dalam program Glass Explorer. Ada satu syarat yang mesti dipenuhi agar bisa mendapat kiriman Glass Explorer Edition dari Google, yaitu memberi penjelasan yang meyakinkan tentang tujuan pemakaian Google Glass itu nantinya. “Saya bilang saja mau pakai Glass untuk main gitar,” ujar Ivan, yang memang hobi memainkan alat musik tersebut.

Ivan lantas membawa Google Glass ke Indonesia, tepatnya di kantor Kibar Kreasi Indonesia, bilangan Menteng, Jakarta, pada hari menjelang malam Natal, 24 Desember 2013. Dia berinisiatif memboyong perangkat itu ke Tanah Air setelah berkenalan dengan Chief Executive Kibar, Yansen Kamto, untuk keperluan pengembangan aplikasi yang sesuai di Indonesia. Sejumlah developer yang sengaja didatangkan antusias mencoba perangkat yang bagi kebanyakan orang terkesan “misterius” ini, tak terkecuali. Bingkai dengan layar

Pertama melihatnya secara langsung, Google Glass ternyata tak benar-benar memiliki “kaca” seperti yang mungkin dikesankan oleh namanya. Perangkat ini berbentuk serupa frame kacamata sederhana dengan sisi kanan yang tebal, dilengkapi sepasang dudukan untuk hidung dan sebuah layar (prisma) kecil yang terpasang di bagian tempat mata kanan berada.Frame tebal tadi merupakan touchpad sekaligus bagian utama Google Glass yang menampung semua komponen utama perangkat ini, termasuk SoC, flash memory 16 GB, serta kamera 5 megapiksel dengan lensa wide yang menghadap ke arah depan. Tak ketinggalan speaker bone transducer yang menempel ke bagian kepala persis di belakang telinga.

Google Glass akan membuat pemakainya terlihat seperti tokoh-tokoh dalam film fiksi ilmiah futuristis, dengan perangkat “visor” bertengger di kepala. Layar prisma kecil berperan sebagai medium interaksi utama dan memajang berbagai macam informasi dalam antarmuka sederhana. Tampilan layar itu ternyata cukup tajam meski berukuran kecil. Tulisan-tulisan dan gambar terlihat jelas, walaupun awalnya terasa agak aneh karena kesan yang didapatkan seperti melihat televisi mungil yang menggantung di sisi kanan bidang pandang.

Suara dari Glass terdengar sangat jelas, seolah berasal dari dalam kepala karena disalurkan langsung ke tulang di belakang telinga yang bertanggung jawab soal pendengaran. Karena hal ini pula, audio Glass hanya bisa didengar oleh pemakainya sendiri.Mungkin lantaran belum terbiasa, ketika sibuk memandangi layar Google Glass, kita jadi tak sepenuhnya awas dengan lingkungan sekitar. Kedua mata terlihat seperti melirik ke atas karena berusaha fokus dengan apa yang ditampilkan di layar. Perilaku ini terihat jelas oleh orang lain.

Soal interaksi, input diberikan lewat dua cara utama. Yang pertama adalah perintah suara dengan cue “Ok Glass”, diikuti komando yang diinginkan. Ketika pengguna mengucapkan “Ok Glass, take a picture,” misalnya, Google Glass akan menjepret foto. Begitu pula ketika pengguna ingin merekam video atau meminta panduan arah ke sebuah tempat

Lalu, ada pula cara swiping dengan menyapu touchpad di bagian kanan frame Google Glass. Satu kali tapping akan mengaktifkan display, sementara sapuan ke bawah dan ke atas masing-masing berfungsi untuk mematkan layar dan menjalankan fungsi navigasi “back”. Adapun swiping ke arah kiri dan kanan digunakan untuk menjelajah menu interface yang tersedia. Gesture untuk navigasi ini sengaja dibuat sederhana (atas-bawah-kiri-kanan) agar mudah digunakan. Di samping itu, ada pula opsi menengokkan kepala ke arah atas untuk menyalakan layar selama beberapa detik. Ini bisa digunakan untuk melihat jam di Google Glass dengan cepat.

Sebelum digunakan, Google Glass harus tersambung terlebih dahulu melalui Bluetooth ke smartphone berbasis Android atau iOS. Google menyediakan aplikasi bernama MyGlass untuk mempermudah hal ini. My Glass bisa diunduh di toko aplikasi masing-masing platform. Tersedia pula sejumlah aplikasi yang dirancang khusus untuk Google Glass di toko aplikasi Glassware, mencakup judul-judul populer seperti Facebook dan Twitter.

“First person”
Tentu, salah satu hal yang paling mengundang rasa penasaran dari Google Glass adalah kemampuannya merekam gambar dari perspektif first-person alias sudut pandang orang pertama. Dengan unit kamera yang diletakkan persis di depan mata pengguna, Google Glass mampu menghasilkan foto atau video yang tampak seolah diambil dari apa yang dilihat dan dialami sendiri oleh pemakainya.

Lensa wide-angle membantu menangkap pemandangan yang ada di depan pengguna, terutama karena preview pandangan kamera tidak ditampilkan ketika mengambil foto. Akan tetapi, proses perekaman video bisa dilihat melalui layar.

Selain perintah suara, pengambilan gambar bisa dilakukan dengan menekan sebuah tombol kecil yang terletak di sisi atas frame bagian kanan. Untuk menjepret foto, tombol ini cukup ditekan satu kali, sementara perekaman video bisa dilakukan dengan menekan dan menahannya.Seperti apa kualitas tangkapan gambar Google Glass? Kamera 5 megapiksel dari perangkat ini ternyata bisa menghasilkan foto yang lumayan bagus dalam kondisi cukup cahaya di luar ruangan.

Kualitasnya bisa disetarakan dengan kamera di smartphone masa kini. Dalam situasi dalam ruangan, hasil foto akan menurun cukup jauh, tetapi ini merupakan hal wajar yang juga dialami oleh kebanyakan kamera di gadget mobile. Foto bisa diambil dengan aspect ratio 4:3 atau 16:9, dapat pula diimbuhi dengan keterangan terkait lokasi pengambilan foto seperti nama tempat dan keadaan cuaca karena Google Glass memiliki fasilitas GPS dan terkoneksi dengan berbagai layanan Google.

Kemampuan video Google Glass yang mencapai kualitas HD (1.280 x 720) juga cukup bagus, meski rekaman suara terdengar agak kasar. Contoh-contoh foto dan video dari Google Glass bisa dilihat di bawah ini.Berdasarkan pengalamannya, Ivan mengatakan bahwa perekaman video akan menguras tenaga baterai Google Glass. Perangkat ini akan kehabisan daya dalam waktu kurang dari satu jam apabila dipakai untuk merekam video terus-menerus.

Untuk penggunaan kasual sehari-hari, Ivan mengaku Google Glass miliknya bisa bertahan selama lebih kurang 8 jam. “Untungnya, waktu pengisian baterai relatif singkat, hanya sekitar satu setengah jam,” ungkap dia. Proses charging ini sama dengan kebanyakan gadget mobile, yaitu dengan menggunakan port micro-USB.

Bukan untuk yang berkacamata
Perjumpaan dengan Google Glass berlangsung relatif singkat, tetapi itu pun sudah cukup untuk meninggalkan kesan yang mendalam. Tak salah apabila perangkat ini dikatakan revolusioner sekaligus mengundang kontroversi. Karena praktis untuk mengambil gambar, misalnya, Google Glass banyak disukai, tetapi di sisi lain juga dibenci oleh kalangan yang khawatir dengan persoalan privasi orang lain. Aspek lain yang juga menyenangkan adalah semua aktivitas dengan Glass bisa dilakukan secara handsfree, setidaknya tanpa perlu menggenggam perangkat di tangan sehingga memberi kebebasan lebih bagi pengguna.

Sayang, sejauh ini Google baru menyediakan Glass untuk pengguna dengan mata normal alias tak berkacamata. Perangkat ini memang bisa “ditumpangkan” di atas frame kacamata, tetapi posisinya tak stabil dan rawan terjatuh. Google sendiri berjanji bakal merilis versi Glass yang kompatibel dengan prescription glass alias kacamata ketika sudah diproduksi masal nanti. Raksasa mesin pencari itu beberapa waktu lalu telah melepas Google Glass Explorer Edition 2.0, tetapi perangkat tersebut sejauh ini masih merupakan produk beta yang menggunakan para “explorer” sebagai pengujinya.