Review Smartphone Quad Core Red Rice Xiaomi Seharga 1,3 Juta Rupiah

Telepon pintar asal Cina, Xiaomi, dipastikan bakal dipasarkan di Indonesia mulai Agustus mendatang. Hal tersebut disampaikan oleh Vice President Global Xiaomi Hugo Barra di pameran Indonesia Celluler Show (ICS), Jakarta Convention Center. “Prosesnya kemungkinan akan selesai dalam beberapa bulan mendatang,” ujar Barra, di Jakarta, seperti dilansir Tech in Asia, Kamis, 5 Juni 2014.

Erajaya dipastikan menjadi distributor Xiaomi di Indonesia. Gerai Erafone milik Erajaya turut memamerkan ponsel Xiaomi di gelaran ICS yang berlangsung hingga Minggu, 8 Juni 2014. Meskipun kehadirannya sudah dipastikan, Barra belum bisa memastikan ponsel dan aksesoris Xiaomi mana yang akan dijual di Tanah Air. Dia menyebutkan produk yang dipasarkan akan mengunggulkan sifat lokal, salah satunya adalah fitur bahasa Indonesia.

Barra juga menyatakan dalam memasarkan Xiaomi di Indonesia, perusahaannya akan menggandeng sejumlah mitra. “Tidak ada mitra eksklusif,” kata dia menambahkan. Untuk menunjang ketersediaannya, akan ada 16 service center yang tersebar di Tanah Air. Xiaomi, yang disebut-sebut sebagai Apple dari Negeri Tirai Bambu, juga akan berekspansi ke beberapa negara pada tahun ini, antara lain Filipina, Vietnam, Thailand, dan India. Tahun 2015, perusahaan akan merambah ke Amerika Utara. Sebelumnya, Xiaomi sudah dikenal di Singapura dan Malaysia.

Bekerja sama dengan raksasa Internet Cina, Tencent, Xiaomi meluncurkan smartphone anyar Red Rice yang siap dijual dengan harga terjangkau. Melalui jejaring sosial Sina Weibo, Xiaomi mengumumkan pada Rabu, 31 Juli 2013 kalau ponsel pintar Red Rice siap bersaing dengan ponsel pintar lainnya yang ada di pasaran sekarang ini. Red Rice yang hadir dengan model dual SIM TD-SCDMA, konon telah diuji oleh operator telekomunikasi dan diklaim sebagai perangkat mobile dengan kinerja tinggi.

Red Rice memiliki lebar layar 4,7 inci dengan resolusi 1280 x 720 dan berjalan pada sistem operasi Xiaomi Version 5. Sistem Android berbasis MIUI ini telah dirombak sendiri oleh Xiaomi.

Performa kinerja ponsel asal Cina ini didukung prosesor quad-core 1.5GHz MT6589T dan dilengkapi dengan RAM 1 GB dan 4GB memori penyimpanan internal yang dapat diperluas. Untuk kameranya, Red Rice juga dilengkapi kamera belakang 8 megapiksel dan 1,3 megapiksel kamera belakang. Debut eksklusif ponsel Red Rice hadir di ritel Qzone akhir Juli 2013 dengan ketersediaan ponsel sebanyak 100 ribu unit dan dibanderol US$130 atau sekitar Rp 1,3 juta. Untuk penjualanan ke ritel lainnya dimulai pada 12 Agustus 2013.

Belakangan ini, Xiaomi semakin menunjukkan kesuksesannya untuk menjadi produsen ponsel mobile yang disukai konsumen. Berdasarkan laporan situs The Next Web, pendapatan Xiaomi pada enam bulan pertama tahun 2013 berhasil mencapai RMB 13.27 miliar, melebihi pendapatan pada tahun 2012 yang hanya RMB 12.6 miliar.

Xiaomi mungkin masih asing bagi kita. Namun, perusahaan asal Cina itu adalah salah satu perusahaan teknologi dengan pertumbuhan tercepat secara global. Bahkan, Xiaomi mengalahkan penjualan produk Apple di Cina. Lewat ekspansinya ke sejumlah negara, termasuk Indonesia, Xiaomi yang disebut sebagai Apple dari Cina itu siap menghadang para pemain besar teknologi. “Xiaomi menjadi produsen telepon pintar keenam terbesar di dunia dan nomor tiga di Cina,” tulis Bloomberg Businessweek, Kamis, 5 Juni 2014. Pada saat ini penjualan terbanyak di Cina diraih Samsung, disusul oleh Lenovo.

Pada 2013, Xiaomi menjual 18,7 juta ponsel yang memberikan pemasukan senilai US$ 5 miliar atau Rp 59,2 triliun. Tahun ini perusahaan itu menargetkan total penjualan yang cukup fantastis, yakni 60 juta unit di seluruh dunia. Selain menjual ponsel pintar, perusahaan yang bermarkas di Beijing ini juga memasarkan sabak digital, televisi HDTV berlayar jumbo, set-top box, router, casing ponsel, serta charger portable.

Produk andalan Xiaomi adalah ponsel pintar yang diberi nama Mi3. Ponsel ini disukai karena penampilannya yang minimalis, dengan ketebalan 8,1 milimeter. Layarnya ditunjang oleh teknologi LG dan prosesor dengan performa tinggi. Keistimewaan ponsel ini adalah sistem operasi MIUI berbasis Android, yang hanya dijumpai di produk Xiaomi. Ponsel ini juga mengunggulkan fitur untuk menghemat baterai.

Model bisnis Xiaomi terbilang unik. Mereka menjualnya secara online melalui situs. Mereka tidak memasarkan lewat gerai serta menolak beriklan secara konvensional. “Xiaomi hanya menggunakan 1 persen dari total pemasukannya untuk pemasaran produk,” tulis Bloomberg. Xiaomi memilih menghemat biaya pemasaran dan mengalokasikannya untuk dana pembelian komponen yang berkualitas. Hasilnya, mereka berhasil menjual produk dengan harga terjangkau. Sebagai contoh, Mi3 dibanderol seharga US$ 270 atau Rp 3,2 juta. Perusahaan mengklaim saat penjualan diumumkan di situs, ponsel tersebut terbeli dalam hitungan 86 detik.

Nama Xiaomi Technology mungkin memang asing bagi sebagian besar penduduk dunia. Tapi bagi warga Cina, nama ini sangat terkenal. Dalam beberapa hal, vendor smartphone ini bahkan kerap disejajarkan dengan raksasa digital Apple.

Dikutip dari Reuters, Senin, 10 Desember 2012, tiga tahun setelah didirikan, nilai perusahaan ini melonjak menjadi US$ 4 miliar, atau sekitar Rp 38,4 triliun.Pada peluncuran produk terbarunya, ada saja orang yang yang bersedia bolos kerja demi mendapatkan produk ini paling awal, mirip dengan kelakuan fanboy Apple di berbagai penjuru dunia.

Yang lucu adalah Lei Jun, pendiri Xiaomi juga kerap disamakan dengan pendiri Apple, Steve Jobs. Pria 42 tahun ini biasa berpakaian santai warna gelap yang dipadukan dengan jins, mirip mendiang Jobs. “Media Cina kerap menyatakan bahwa aku adalah Steve Jobsnya Cina. Aku menganggapnya sebagai pujian, namun perbandingan seperti ini menjadi beban tersendiri bagi kami,” kata Lei. Meski begitu, Lei tetap menyatakan bahwa Steve Jobs merupakan salah satu orang yang memberinya inspirasi.

Kemiripan Apple dengan Xiaomi belum berhenti sampai di sini. Strategi yang diterapkan Lei pada perusahaannya juga serupa dengan Apple, yaitu memberikan kesan eksklusif pada produknya, dan lebih menyasar pada pasar kelas menengah atas. Xiaomi Phone 2, misalnya, memiliki spesifikasi mirip dengan Samsung Galaxy S III, namun dijual seharga US$ 370 atau sekitar Rp 3,5 juta, separuh dari harga iPhone 5.

Berbeda dengan vendor besar Cina lain seperti Huawei dan Lenovo yang mengandalkan operator telekomunikasi untuk menjual produknya dalam jumlah besar, Xiaomi memilih untuk mendistribusikan produknya sedikit demi sedikit. Akibatnya peminat pun saling berebut untuk menjadi yang pertama mendapatkan produk ini. Sebanyak 50 ribu ponsel yang dilepas ke pasar untuk pertama kali pada 30 Oktober lalu misalnya, ludes hanya dalam waktu dua menit.

Toh metode penjualan ini tak membuat penjualan produk Xiaomi menjadi seret. Dalam waktu satu tahun lebih dua bulan, perusahaan ini membukukan penjualan tujuh juta unit smartphone, melampaui target awal sebesar dua juta unit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s