Review dan Spesifikasi Lenovo IdeaCentre Flex 20

Lenovo IdeaCentre Flex 20 bukanlah tablet atau sabak digital. Peranti ini merupakan PC portabel all-in-one yang mencoba meraih kesuksesan seperti pendahulunya, Lenovo IdeaCentre Horizon 27. Berbeda dengan sang abang, ukuran Flex 20 lebih kompak dengan harga jual lebih murah.

Dibanderol sekitar Rp 13,699 juta, IdeaCentre Flex 20 bisa dibilang dibuat untuk kalangan menengah. Tengok saja prosesor yang dibenamkan, yakni Intel Core i5 generasi keempat dengan layar 19,5 inci beresolusi high definition alias belum full HD.

Meski begitu, sistem operasi yang menjalankannya adalah Windows 8.1. Sedangkan respons layar sentuhnya sangat responsif seperti kebanyakan sabak digital. Tapi, untuk dikatakan sebagai sabak digital, ukuran layar Flex 20 terlalu besar. Sedangkan bila disebut PC all-in-one, layarnya terlalu kecil.

Nah, untuk mengenal lebih jauh kelebihan maupun kekurangan Lenovo IdeaCentre Flex 20 ini, dalam sepekan terakhir Tempo mendapat kesempatan mencobanya. Lenovo mengklaim ini merupakan PC all-in-one mereka pertama yang menggunakan baterai.

Desain

Dilihat dari depan, IdeaCentre Flex 20 mirip dengan sebuah sabak digital, tentu saja dengan mengabaikan ukurannya yang superjumbo. Layar 19,5 inci yang diusungnya dikelilingi oleh bezel hitam glossy selebar 1,5 inci. Menurut Tempo, ini membuat layar terlihat lebih kecil dari semestinya.

Pada bagian atas layar terdapat logo Lenovo berwarna kromium, webcam, dan lampu kilat LED. Sedangkan pada bagian tengah bawah, terdapat satu tombol fisik dengan logo Windows sebagai tombol Home. Tombol power dan volume diletakkan di bagian atas. Tak terlalu sulit untuk menjangkaunya.

Pada sisi belakang PC portabel all-in-one ini terdapat kaki yang memungkinkan perangkat ini berdiri tegak. Untuk mengeluarkannya, tarik pengait yang menguncinya. Engsel yang menahan kaki tersebut cukup kuat dan tak mudah bergerak. Diperlukan sedikit tenaga tambahan untuk merebahkannya. Ketika didorong ke belakang, ia akan rebah dengan sempurna sejajar dengan permukaan di bawahnya.

Satu kekurangan dari Flex 20 adalah konektivitas. Lenovo hanya menyediakan dua port USB, keduanya versi 3.0, dan sebuah headphone/microphone jack. Tak ada slot video-out atau video-in dan tak ada pula card reader.

Yang menjadi persoalan adalah ketika Flex 20 difungsikan sebagai PC all-in-one. Sebab, keyboard dan mouse nirkabel yang disediakan terhubung melalui adapter USB. Artinya, port USB yang tersedia tinggal satu. Ini akan terasa kurang ketika dibutuhkan lebih dari satu port USB.

Layar

Resolusi layar Flex 20 adalah 1.600 x 900 piksel. Ini jauh dari yang dimiliki Horizon 27 dengan resolusi 1.920 x 1.080 piksel. Akibatnya, ketajaman gambar sedikit menurun. Meski begitu, dengan layar 19,5 inci, menonton video atau bermain game masih terasa nyaman.

Situs teknologi laptopmag.com sempat menguji tingkat kecerahan layar Flex 20. Hasilnya, didapat 274 lux. Angka itu lebih baik dibandingkan dengan PC all-in-one milik Sony, VAIO Tap 20, yang tingkat kecerahannya 254 lux. Tapi masih kalah jika dibandingkan dengan Dell XPS 18, yang mencapai 304 lux.

Di luar itu, layar sentuh dengan 10 titik ini terasa mulus dan sangat responsif. Ketika Tempo melakukan zoom-in maupun zoom-out pada layar sentuhnya, teks dan gambar langsung membesar dan mengecil tanpa ada jeda.

Keyboard dan Mouse

Salah satu yang menarik dari Flex 20 adalah desain keyboard dan mouse. Ketika Tempo mencoba keyboard nirkabel ini, terasa lega, empuk, dan mudah digunakan, terutama ketika mata harus lama menatap layar monitor. Kemungkinan salah mengetik sangat minimal lantaran jarak antara tuts cukup lebar.

Begitu pula dengan mouse bawaannya yang terhubung melalui Bluetooth. Meski tampilannya biasa saja, cukup nyaman untuk digunakan. Teknologi sensor yang dipakai berjenis invisible laser, yang artinya tak ada lampu berwarna merah atau biru pada bagian bawah mouse ini.

Aplikasi Aura

Lenovo Flex 20 dilengkapi dengan touch screen interface bernama Aura, yang didesain khusus untuk digunakan pada perangkat layar sentuh saat berada dalam posisi rebah. Tujuannya agar PC all-in-one ini dapat diubah menjadi perangkat serbaguna sehingga membagi foto, video, dan games lebih mudah.

Ketika Flex 20 direbahkan sejajar dengan bidang di bawahnya, akan muncul menu Aura yang dapat dioperasikan dengan cara menyentuhnya. Ketika sebuah foto dibuka, posisinya dapat dipindah-pindahkan di seluruh bagian layar sesuai dengan keinginan atau mengubah ukurannya dengan sekali sentuh.

Lenovo juga menawarkan aksesori unik untuk memainkan game berupa joystick. Ada empat joystick yang disertakan. Gunanya sebagai alat pengontrol di atas layar pada saat memainkan game atau sebagai pion ketika memainkan game semacam ludo.

Konklusi

Lenovo IdeaCentre Flex 20 bukanlah sabak digital. Tapi kemampuannya untuk dibawa ke mana saja membuat PC all-in-one ini memiliki fungsi hampir sama dengan sebuah sabak digital. Bobotnya yang sekitar 3,5 kilogram membuat perangkat ini cukup nyaman untuk ditenteng dengan satu tangan.

Hanya, daya tahan baterainya yang tergolong boros, sekitar 3 jam 37 menit, membuat perangkat ini tak bisa digunakan terlalu jauh dari sumber listrik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s