Smartfren Akan Digusur ke 2.300 Mhz Karena Mengganggu Kinerja Telkomsel dan Indosat

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) berencana memindahkan frekuensi operator telekomunikasi Smarfren dari 1.900MHz ke 2.300MHz. Jika rencana itu direalisasikan, Smartfren mengaku siap karena mereka tak bisa menolak permintaan pemerintah. Direktur Jaringan Smartfren, Merza Fachys mengatakan, rencana ini masih sekadar wacana dan pihaknya belum terlibat pembicaraan formal dengan pemerintah.

“Sebenarnya kalau ditanya mau tidak mau, ya kami tidak mau. Tapi kalau memang sudah ada perintah, kami tidak bisa menolak, karena ada aturan yang mewajibkan kami ikut pemerintah,” kata Merza dalam diskusi terbatas di Jakarta, Jumat (11/4/2014). Jika Smartfren jadi pindah ke 2.300MHz, Mirza berencana langsung memanfaatkan frekuensi tersebut untuk jaringan nirkabel generasi keempat (4G) Long Term Evolution (LTE).

Selama ini, radio yang digunakan Smartfren belum mendukung spektrum frekuensi 2.300MHz. Karena itulah, Merza menilai akan lebih baik jika frekuensi 2.300MHz itu langsung digunakan untuk 4G LTE. “Migrasi ini sangat material, sama saja membangun infrastruktur baru, investasi baru, dan instalasi yang makan waktu lagi,” ujarnya. Mirza memprediksi, migrasi frekuensi ini membutuhkan waktu setidaknya dua tahun agar performa layanan Smartfren bisa sebaik saat ini.

Menurut Johnny Syuwandi Syam, Komite Tetap Telekomunikasi Kamar Dagang Indonesia (Kadin), pemindahan frekuensi sebelumnya pernah dilakukan pemerintah pada layanan Telkom Flexi dan Indosat StarOne. Ini dilakukan untuk menata ulang sumber daya frekuensi. “Frekuensi itu domain-nya pemerintah, ya sudah kita patuh saja dengan pemerintah,” tutur Johnny.

Rencana pemerintah memindahkan frekuensi Smartfren didasari karena selama ini teknologi CDMA di 1.900MHz mengganggu jaringan GSM 3G di frekuensi 2.100MHz yang dimiliki Telkomsel, Indosat, XL, dan Tri. Sehingga, daya jaringan CDMA yang terlalu besar mengganggu GSM yang berada di dekatnya. Selama ini Smartfren memanfaatkan lebar frekuensi 7,5MHz (dikali dua untuk downlink dan uplink) di 1.900MHz. Merza meminta kompensasi dari pemerintah agar memberi kemampuan frekuensi yang setara jika Smartfren harus pindah ke 2.300MHz.

Selain di 1.900MHz, Smartfren juga memanfaatkan spektrum frekuensi 850MHz dengan lebar 5MHz (dikali dua untuk downlink dan uplink). Smartfren memang tertarik mengadopsi teknologi jaringan nirkabel generasi keempat (4G) Long Term Evolution (LTE). Namun, untuk sekarang hingga beberapa tahun mendatang, Smartfren masih akan mengandalkan teknologi code division multiple access (CDMA).

Smartfren meyakini teknologi CDMA yang diusungnya masih bertahan lama kendati 4G LTE sedang menggempur pasar global. Direktur Jaringan Smartfren Merza Fachys, memberi contoh, di mana teknologi 2G masih bertahan hingga kini meskipun adopsi 3G terus meningkat. “Teknologi memang harus terus kita ikuti untuk komunikasi global, tapi (teknologi) yang lama tetap kita pegang,” ujar Merza dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (5/3/2014). Ketika ditanya kapan Smartfren akan beralih ke 4G LTE, Merza belum punya jawaban pasti karena semua itu menunggu regulasi dari pemerintah.

Perusahaan masih fokus meningkatkan kualitas layanan data (internet) dan memperluas jangkauannya, karena data menjadi sumber pendapatan utama. Dari total pendapatan Rp 2,4 triliun pada 2013, sebesar 70 persen disumbang dari layanan data. Secara keseluruhan, pendapatan Smartfren di 2013 tumbuh hampir 50 persen dibandingkan 2012 yang mencapai Rp 1,649 triliun.

Keterbatasan jumlah perangkat CDMA
Industri telekomunikasi CDMA saat ini menemukan kendala di mana makin sedikit importir yang mau membawa ponsel pintar atau tablet yang mendukung CDMA. Sebagian besar importir hanya mau membawa perangkat GSM. Karena itu, Smartfren menjadikan dirinya sebagai importir ponsel dan tablet di bawah merek dagang Andromax untuk menjaga ekosistem CDMA serta meningkatkan jumlah pelanggan dan pendapatan. Usaha itu tak sia-sia, jumlah aktivasi perangkat Andromax pada bulan Februari mencapai 300 ribu.

Smartfren juga berhasil menjadi importir ponsel pintar terbesar kedua di Indonesia sejak 2013. Prestasi tersebut dipertahankan Smartfren hingga kuartal empat 2014 dengan mengirimkan sekitar 581 ribu unit ponsel pintar, menurut data lembaga riset IDC. Sepanjang 2013, Smartfren mengklaim telah mengirimkan 1,2 juta unit ponsel pintar Andromax di Indonesia. Sementara untuk tahun 2014, perusahaan menargetkan dapat mengimpor 4 juta unit ponsel pintar.

Kesuksesan Andromax dinilai Merza tak lepas dari kebutuhan pasar atas perangkat yang dibanderol dengan harga terjangkau. Merza berpendapat ada celah pasar di mana konsumen cenderung tidak mementingkan sebuah merek ataupun teknologi. “Ada yang tidak peduli dengan merek dan teknologi di belakangnya. Yang mereka mau adalah kepuasan dan kenyamanan,” tuturnya seraya mengatakan Smartfren akan memanfaatkan celah pasar itu.

Layanan Telkom Flexi dan Indosat StarOne, berencana mengganti basis teknologinya dari CDMA menjadi E-GSM. Bagaimana dengan operator CDMA Smartfren? Smartfren yang lekat dengan merek smartphone Andromax ini ternyata tetap yakin dengan basis teknologi CDMA. Direktur Smartfren Telecom, Merza Fachys meyakini CDMA dapat bersaing di Indonesia. Perusahaan kini mengimplementasikan jaringan EV-DO Rev B dan justru terus memperbarui teknologi menuju Data Optimized (DO) Advanced.

Ia mengatakan, teknologi DO Advanced telah tersedia di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Semarang. Teknologi hasil kerjasama dengan Qualcomm ini, digunakan untuk mengantisipasi kenaikan trafik data (internet). Jika nanti Kementerian Komunikasi dan Informatika membuat aturan main 4G LTE, Smartfren pun berencana memperbarui teknologinya ke LTE. “Tentu kita tidak boleh ketinggalan teknologi sebagai penyelenggara telekomunikasi. LTE adalah dunia 4G,” katanya saat dihubungi KompasTekno, Kamis (19/13/2013).

Merza mengomentari rencana Flexi dan StarOne yang hendak beralih ke GSM. Menurutnya, rencana itu didasarkan karena grup Telkom dan Indosat telah memiliki jaringan GSM. Akan tetapi, peralihan teknologi itu dimungkinkan jika ada izin dari Kementerian Komunikasi dan Informatika. Melihat pesaingnya berencana beralih ke GSM, Smartfren tak mau latah beralih ke GSM. Secara teknis, teknologi GSM (yang berasal dari Eropa) dan CDMA (dari Amerika Serikat) sangat berbeda. “Jika kami beralih ke GSM, ini berarti semua jaringan kami harus ganti. Kami tidak membayangkan kalau itu sampai terjadi,” tutur Merza.

Di antara pemegang saham Smartfren, juga tidak pernah ada pembicaraan untuk beralih teknologi ke GSM.

Menyediakan perangkat CDMA
Pihak Telkom dan Indosat berpendapat, teknologi CDMA tidak berkembang. Ekosistemnya juga tidak didukung oleh produsen perangkat telekomunikasi. Tak mengherankan jika di pasar lebih banyak ponsel dan tablet yang mendukung GSM dibandingkan CDMA. Smartfren selama ini mendatangkan ponsel, tablet, dan modem berbasis CDMA untuk mengatasi masalah tersebut. Merza mengklaim, langkah itu merupakan strategi perusahaan untuk menyediakan perangkat dengan banyak fitur dan harga terjangkau, agar pelanggan mendapatkan pengalaman terbaik.

“Kenyataannya, Smartfren Andromax diterima masyarakat Indonesia. Handset-nya canggih, dan yang terpenting sesuai kantong konsumen,” tutur Merza. Menurut data lembaga riset IDC, Smartfren kini berada di peringkat kedua sebagai perusahaan yang mengirimkan ponsel pintar terbanyak di Indonesia melalui lini produk Andromax. Smartfren mengirimkan 339.000 unit ponsel pintar pada kuartal ketiga 2013.

Capaian itu mengalahkan BlackBerry yang menempati peringkat ketiga produsen ponsel pintar terbesar di Indonesia, dengan 330.000 unit pengiriman ponsel pintar di kuartal ketiga 2013. Posisi pertama masih ditempati Samsung yang mengirimkan 1.054.000 unit ponsel pintar.

Hingga kuartal ketiga 2013, Smartfren memiliki 12,5 juta pelanggan, dan 5,5 juta di antaranya adalah pelanggan data. Perusahaan telah membangun base transceiver station (BTS) di Jawa, Bali, Sumatera, dan kota besar di Sulawesi. Sepanjang 2013, Smartfren juga memperluas bisnisnya dengan membuka galeri yang totalnya telah mencapai 185 galeri di seluruh Indonesia.

5 responses to “Smartfren Akan Digusur ke 2.300 Mhz Karena Mengganggu Kinerja Telkomsel dan Indosat

  1. hmm, jadi gara2 smartfren sinyal suka terganggu ya? -_-

  2. wow ada maling ternyata

  3. gemala bintang

    yeeyyy.,berarti im3 ku makin kenceng yaakk hehehe

  4. hidup smartfrend

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s