Oculus Rift Kacamata Virtual Reality untuk Gamers Diluncurkan

Virtual reality terdengar hampir kuno di zaman OLEDs, 4K, Kinect, glasses-free 3-D dan semua cara menakjubkan lainnya yang ada saat ini untuk berinteraksi dengan game. Namun, virtual reality bakal kembali dalam cara yang sangat menakjubkan dengan kehadiran Oculus Rift, perangkat yang diperkenalkan di Consumer Electronics Show, Las Vegas, Nevada, 7-10 Januari lalu.

Oculus Rift tampak seperti sepasang kacamata ski. Di dalamnya terdapat dua lensa, satu untuk setiap mata, yang mengarah pada layar LCD tunggal. Layar akhir akan menjadi 7 inci, sedang prototipe yang diuji 5,6 inci. Layar itu memberikan dua gambar terpisah, satu untuk masing-masing mata, sehingga pengguna mendapatkan stereoscopic 3-D.

Inilah yang menakjubkan, yakni sensor di accelerometer dan gyroscope yang masuk ke dalam game PC. Ketika pengguna memutar kepala, pandangannya bergerak hampir sempurna dengan alat ini, 360 derajat, serta pandangan ke atas dan ke bawah.”Hal ini pengalaman interaktif yang paling mendalam yang pernah saya lihat,” ujar Dan Nosowitz dari Popular Science. Situs Oculus mengatakan Rift menggunakan teknologi pelacakan khusus yang membuat latency pelacakan kepala 360 derajat sangat rendah sehingga memungkinkan pengguna secara mulus melewati dunia maya seperti di kehidupan nyata. Setiap gerakan halus kepala pengguna dilacak secara real time sehingga menciptakan pengalaman alami dan intuitif.

Perangkat canggih ini bekerja seperti sebuah peripheral. Anda menghubungkan ke komputer Anda dan bermain game PC dengannya. Ia membutuhkan sebuah PC gaming berkemampuan besar pada saat ini. Oculus Rift dimulai sebagai proyek hobi Palmer Luckey. Pria ini mengawali idenya dengan membongkar smartphone dan lantas membuatnya sebagai pendahulu Oculus Rift. Luckey menulis proyeknya di sebuah forum, tempat dia bertemu John Carmack, seorang legenda game pencipta Doom, Quake, Wolfenstein 3D dan banyak lagi. Carmack meminta Luckey melakukan pengujian produk. Ia menyukainya dan menjadi pendukung terbesarnya.

Carmack juga membawa Luckey ke atas panggung di konvensi game E3 dan bahkan membantunya dalam proses pengembangan. Kemudian proyek itu digarap Kickstarter, sebuah platform pendanaan terbesar di dunia untuk proyek-proyek kreatif. Ketika menguji layar prototipe Oculus Rift, Nosowitz mengakui tim pengembang telah bekerja sangat keras untuk menghilangkan latency yang terjadi. Desainnya juga sedikit berbeda. “Tapi apa yang begitu mengejutkan dan mengesankan tentang Oculus Rift adalah bahwa ia benar-benar bekerja,” kata Nosowitz, Rabu, 5 Februari 2014.

Pengguna yang memakai Oculus Rift akan masuk ke dunia yang sama sekali baru. Gerakan tubuh mereka bakal merespons seperti di dunia nyata. Sangat nyaman dan alatnya tidak terlalu berat, hanya 369 gram. Benar-benar seperti kacamata ski. Rift menyediakan sudut pandang sekitar 110 derajat. Kombinasi sudut pandang lebar dengan pelacakan kepala dan stereoscopic 3D inilah yang diklaim pengembangnya menciptakan pengalaman virtual reality masa depan.

Satu-satunya masalah yang ditemukan Nosowitz adalah kecenderungan untuk memindahkan seluruh tubuhnya dan bukan hanya headset. Jika Anda bersandar untuk melihat sekitar sudut, misalnya, headset tidak dapat menerjemahkannya ke dalam gerakan dalam game. Selain itu, ada masalah mabuk, istilah yang ditolak Oculus. Mereka lebih suka menyebutnya “disorientasi”, meskipun itu hal yang sama. Nosowitz mengaku agak sulit untuk mengetahui apakah penyebab mualnya karena Rift atau terlalu lama bermain. Namun, hal itu bukan sesuatu yang bisa dianggap enteng. Beberapa orang mungkin akan bereaksi lebih buruk daripada yang lain.

Development Kit diharapkan keluar bulan Maret dan perusahaan berharap versi consumer product dapat dirilis tidak terlalu lama pada tahun ini. Oculus mengatakan harganya sekitar US$ 300. Menurut Nosowitz, produk Rift ini merupakan salah satu hal yang paling menakjubkan di CES tahun ini. Kacamata pintar atau smart glass tampaknya kini menarik perhatian perusahaan teknologi besar. Setelah Google berhasil merilis smart glass Google Glass, kini giliran Microsoft. Meskipun baru pengajuan paten, kacamata pintar Microsoft memiliki fungsi yang sedikit berbeda dari Google Glass.

Perusahaan teknologi besutan Bill Gates itu telah mengajukan paten teknologi smart glass berbasis Augmented Reality (AR) pada November 2012 dan telah disetujui oleh lembaga paten dan merek dagang Amerika Serikat belum lama ini, seperti dilansir situs Engadget. Konsep teknologi smart glass Microsoft yang dipatenkan meliputi teknologi informasi eye tracking depth, pengenal wajah, perangkat layar potential player head mounted, dan data suara potential player.

Jika Google Glass memiliki fungsi yang nyaris sama dengan smartphone, Microsoft mendesain kacamatanya khusus untuk penggila games. Rencananya, kacamata pintar yang belum memiliki nama ini juga akan berfungsi sebagai kontroler game Xbox One. Para pengembang teknologi berharap teknologi AR pada smart glass yang dibawa Microsoft dapat menyempurnakan perangkat navigasi Kinect yang ada sehingga mampu menjadi kontroler Xbox One yang canggih.

Meskipun paten smart glass Microsoft telah dipublikasikan, Microsoft masih belum mau memberikan detil lanjut pengembangan produknya itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s