Monthly Archives: December 2011

Daftar Para Pemenang SparxUp Awards 2011 Yang Sukses Dan Dapat Layak Untuk Dicontoh

Ajang SparxUp Awards 2011 telah memasuki babak akhir. Setelah melewati masa penjurian, 10 hingga 14 Oktober 2011, akhirnya dewan juri memutuskan nama-nama pemenang. Para pemenang ini masih akan memperebutkan gelar Best of The Best tahun ini dengan mengikuti pitching di Kempinski Grand Ballroom, Grand Indonesia, Jumat (21/10/2011).

Pemenang yang terpilih menjadi “The Best Rising Star” akan mendapatkan total uang tunai Rp 150 juta, mendapat sesi mentoring selama 6 bulan, trofi, winner badge, dan publikasi. Sedangkan pemenang dengan gelar “The Most Promising StartUp” akan mendapatkan total uang tunai Rp 50 juta, mendapat sesi mentoring selama 6 bulan, trofi winner badge, dan publikasi.

Ada tiga pemenang untuk masing-masing kategori kecuali untuk kategori “Best WAP” yang jatuh ke satu pemenang saja. Total ada 25 startup dan produk yang mendapat penghargaan. Daftar para pemenang diantaranya sebagai berikut :

Best Portal:

Dealgoing.com
BisnisUKM.com
Telunjuk.com
Best Social Network:

Bistip.com
Jelajah.me
Sneepet.me
Best User Generated Content:

Bistip.com
Ngomik.com
Sribu.com
Best e-Commerce:

PesanDulu.com
MySellr.com
KlikHotel.com
Best Use of Tech:

Wooz.in
AndTechnology
sneepetUOT
Best Game:

NyonNyonNyon
Stack The Stuff
Mad Warrior
Best WAP:
Bouncity Mobile

Best Mobile:

Android Samsung Mobile Apps:

Android Base Link Control
NgaturDuit.com – Android App
Kurs Rupiah2.
General Mobile Apps:

Bouncity
CampusLife
Inkuiri for BlackBerry
Para pemenang dari 8 kategori masing-masing akan mendapatkan gratis satu tahun hosting VPS B senilai Rp 6 juta di Jagoanhosting.com, Samsung Galaxy S 5” Wifi (kecuali kategori General Mobile Apps), dan trophy, winner badge, serta publikasi.

Advertisements

Cara Mengikat Pembeli Toko Online Agar Selalu Berbelanja Di Toko Anda

Blibli.com boleh dibilang agak terlambat memasuki pasar e-commerce di Indonesia. Oleh karena itu, mereka mencoba cara kreatif untuk menarik dan “mengikat” pembeli.

Ivan W. Hudyana, Head of Marketing Blibli.com, menceritakannya pada seminar Sparx Up “Gamification and Convergence” di International Design School, Jakarta, Jumat (23/12/2011).

Ivan mencontohkan, saat menjual kamera, mereka membuat sebuah kompetisi foto. Bagi yang fotonya paling banyak disukai di jejaring sosial, berhak mendapatkan diskon terbesar.

Harapannya, sang pemenang memang betul-betul menyukai fotografi. Setidaknya, ia yang mendapatkan diskon memang ingin memiliki kamera.

“Kami tidak ingin orang belanja hanya karena tergiur diskon. Kami ingin orang belanja karena mereka memang butuh dan benda tersebut memang digunakan setelah dibeli,” ujar Ivan.

Contoh lainnya, saat menjual Samsung Galaxy Y mereka mengadakan game di page Facebook. Ini sesuai dengan target pasar Galaxy Y dari kalangan anak muda, mahasiswa dan SMA.

Di Facebook, calon pembeli bisa langsung melihat berbagai fitur Galaxy Y. Kemudian mereka harus membuat tulisan betapa inginnya terhadap ponsel itu. Tulisan yang paling menarik akan mendapatkan kesempatan diskon paling besar.

Strategi seperti di atas diklaim mampu menghindari/meminimalisir transaksi dengan calo atau pedagang yang mencari diskon hanya untuk dijual kembali.

Diskon Sekali Waktu

Selain itu, kadang Blibli memberi diskon 50 persen tetapi hanya selama beberapa jam. Jika jam promo lewat, maka harga produk akan kembali ke harga normal.

Untuk diskon sekali waktu seperti itu, pengumumannnya diadakan di stasiun radio dan media cetak. “Buat kami tidak rugi, karena kami menyasar target pembeli kami. Kami sudah memperhitungkan harga yang harus kami keluarkan, bahkan kami tidak beriklan di televisi,” jelas Ivan.

Prinsipnya, kata Ivan, selain edukasi tentang belanja pihaknya juga ingin menjaga hubungan baik. “Ketika produk tidak ada, kami akan memasukkannya ke request list sehingga ketika barang ada, kami langsung menghubungi orang yang membutuhkan,” tambah Ivan.

Ivan berharap, pembeli tidak akan pernah merasa rugi berbelanja di tempatnya. “Jangan sampai pembeli kami seperti pembeli diskon night sale. Semua yang diskon dibeli, tapi sampai rumah, semuanya tidak terpakai,” tutupnya.

Tips Memakai Sosial Media Untuk Mendapatkan Keuntungan Dari Bisnis Anda

Tak bisa dipungkiri, penjualan dari individu ke individu atau peer to peer yang mengandalkan rekomendasi sangat dipercaya oleh orang.

Rekomendasi seseorang menjadi salah satu keberhasilan sebuah produk bisa diterima masyarakat. Kini, hal tersebut juga berlaku di sosial media. Pengusaha startup di tahun depan, harus memanfaatkan momentum ini untuk bisa meraup konsumen.

Demikian disampaikan Danny W. Wirianto, co-founder Mind Talk yang menjadi pembicara dalam seminar Sparx Up “Gamification and Convergence” di International Design School, Jakarta, Jumat (23/12/2011). “Yang akan menjadi tren adalah 3 S, yakni Social, Share, and Speed,” jelasnya.

“Social” adalah bagaimana seseorang terhubung dengan orang lain dan saling berbagi. “Share” adalah bagaimana seseorang membagikan pengalamannya kepada orang lain, melalui teks, foto, video, apapun itu, melalui jejaring sosial. “Speed” adalah bagaimana jejaring sosial bisa memberikan informasi yang sangat cepat, melebihi kecepatan dari wartawan menuliskan berita meskipun informasi yang diberikan seringkali tidak akurat.

Hal yang harus menjadi bagian yang harus dikembangkan oleh pengusaha startup di tahun 2012, yakni menjaga hubungan sosial dengan masyarakat, sharing informasi yang dibutuhkan masyarakat, dan memiliki kecepatan dalam menanggapi keluhan masyarakat mengenai produk atau layanan yang ditawarkan.

Selain itu, masyarakat juga menyukai penghargaan. Oleh karena itu, buatlah sebuah perusahaan startup yang bisa menghibur dan menjadi sesuatu yang dicari oleh masyarakat. “Kita sudah stress dengan pekerjaan, kehidupan sudah sulit, la;u baca berita isinya berita buruk semua, tambah stress orang-orang. Anda tahu bagaimana Foursquare bisa lebih populer dari situs check-in lainnya? Karena ada badge, ada penghargaan yang membuat orang lain bangga walau cuma check-in doang,” jelas Danny.

Kemudian menurut Danny, mengapa teknik pemasaran dengan gamification akan laku di tahun depan? karena kebutuhan masyarakat akan hiburan dan penghargaan juga besar. Maka, bisa memenangkan sebuah game dan mendapat penghargaan meskipun itu vrtual juga menjadi hiburan yang berarti. Lahan ini akan subur jika peruahaan start-up ingin mencobanya.

Namun tetap, kembali lagi Danny mengingatkan bahwa startup harus fokus kepada satu bidang tertentu. Jika ingin mengembangkan game, fokus di game. Jika ingin mengembangkan aplikasi yang memiliki fungsi, seperti Instagram misalnya, fokuslah membuat aplikasi untuk foto.

Jadi, mengembangkan paltform media sosial dengan fokus kepada salah satu bidang tertentu sembari memikirkan penghargaan apa yang menarik bagi pengguna untuk tetap menggunakan produk kita merupakan cara startup bisa bertahan di tahun depan.

Kini Nama Pribadi Atau Perusahaan Bisa Jadi Domain Tanpa Harus Gunakan Akhiran Dot Com

Badan regulator Internet dunia, The Internet Corporation for Assigned Named and Numbers (ICANN) meluncurkan penawaran generic Top Level Domain (gTLD) atau nama domain top level, yang lebih personal dengan nama apapun. Nama domain baru ini diyakini akan lebih sederhana dan mudah diingat.

Dengan pemakaian gTLD, nantinya pengguna Internet bisa membeli nama domain sesuai keinginannya dan tidak menggunakan akhiran .com, .net, .org dan sebagainya. Namun bisa menggunakan nama domain pilihannya sendiri, seperti bank.mandiri, toyota.astra, batik.keris, kompas.tekno, dan lain-lain.

Anggota ICANN Chris Disspain menjelaskan nama domain yang lebih personal ini lebih cocok untuk kalangan pengusaha, pebisnis, pemerintah maupun komunitas di seluruh dunia.

“Nama domain yang lebih personal ini memungkinkan orang untuk menemukan informasi di Internet secara lebih mudah,” kata Chris di Jakarta, Rabu (14/12/2011).

Pengguna dapat mengajukan nama top level domain dengan bahasa latin atau berdasarkan internationalized domain name (IDN). IDN adalah nama domain yang mencakup karakter yang digunakan dalam representasi bahasa lokal yang tidak ditulis dengan ke-26 alfabet dasar latin (a-z). Sebuah IDN dapat mengandung huruf latin dengan tanda diakritik (contohnya aksen) atau bisa juga mengandung karakter dari bahasa non-Latin seperti Arab dan China.

Untuk dapat memesan domain baru tersebut, pengguna bisa mendaftar ke http://icann.org/newgtlds mulai 12 Januari 2012 hingga 12 April 2012. Sayangnya, biaya evaluasi untuk mendaftarkan gTLD tersebut sekitar 185.000 dollar AS atau sekitar Rp 1,6 miliar. Saat mendaftar, pengguna harus menyetor biaya deposit per pengajuan aplikasi sebesar 5.000 dollar AS. Dana 5.000 dollar AS tersebut akan dikurangi dari total biaya evaluasi.

“Proses evaluasi diprediksi sekitar 9-20 bulan. Ada beberapa tahapan sebelum mencapai keputusan akhir pemohon,” katanya.

Wakil Ketua Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) Ifik Arifin menjelaskan layanan nama domain baru ini lebih cocok untuk kalangan korporasi.

“Harganya mahal, kalau untuk personal tidak mungkin. Tapi kalau untuk korporasi, itu harga yang murah,” jelas Ifik.

Pemberlakuan nama domain baru ini dinilai lebih aman, agar nama domain tersebut tidak digunakan untuk hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi dengan harga yang mahal, syarat-syarat untuk mendapatkan nama domain tersebut juga diperketat. Misalnya harus menyerahkan kartu identitas, surat izin usaha perdagangan (SIUP) dan lain-lain.

“Bila terjadi masalah, kita dapat melacak pemilik website itu secara lengkap. Tidak seperti sekarang ini, orang dengan mudah membeli nama domain, tapi setelah dilacak ternyata pemiliknya palsu,” katanya.

Banyak Pejabat Masih Gunakan Email Gratisan Sehingga Berkesan Tidak Profesional

Di era masyarakat modern saat ini, memiliki akun e-mail menjadi sebuah keharusan. Kemajuan teknologi memudahkan orang untuk saling berkomunikasi tanpa batas. Akan tetapi, ada hal yang perlu diwaspadai, terutama oleh para pejabat publik. Para pejabat negara diminta untuk peduli dengan keamanan menggunakan sejumlah fasilitas yang tersedia di dunia maya. Salah satunya penggunaan domain gratis.

Saat dikritik mengenai penggunaan e-mail dengan domain gratisan oleh Komisi VIII DPR, sejumlah anggota DPR termasuk Ketua DPR Marzuki Alie mengatakan bahwa mereka memang belum memiliki e-mail resmi dari domain @dpr.go.id. Selama ini mereka menggunakan e-mail dengan domain @yahoo.com atau @gmail.com.

“E-mail saya marzuki_alie@yahoo.co.id,” ungkap Marzuki kepada wartawan, Kamis (5/5/2011).

Wakil Ketua DPR RI Taufik Kurniawan juga mengaku tidak memiliki alamat e-mail dengan domain resmi DPR. Taufik menyebut satu alamat pribadinya dan satu alamat e-mail yang digunakan untuk menerima aspirasi dan berkomunikasi dengan kolega dan konstituen. Keduanya memiliki domain gratisan pula, @gmail.com.

“Kalau e-mail pribadi saya buka sendiri, tapi kalau yang terkait kedinasan DPR, saya memanfaatkan e-mail yang saya siapkan khusus dan dikelola oleh staf ahli saya. Biasanya terkait posisi tugas di DPR, e-mail langsung ke staf narilkirom@gmail.com,” kata politisi PAN ini.

Bahaya

Para anggota Dewan memang tak pernah memiliki alamat e-mail dengan domain resmi @dpr.go.id yang diberikan kesekretariatan kepada anggota sejak masuk pada akhir 2009. Mereka menilai, perdebatan e-mail resmi atau pribadi tak perlu diperdebatkan karena tak esensial. Yang penting, akses untuk menampung aspirasi dibuka seluasnya kepada masyarakat dan konstituen.

Akan tetapi, Pakar IT Security Ruby Alamsyah, bagi pejabat publik, pembuatan e-mail dengan domain gratisan justru harus dihindari. Mengapa?

“Dari kami, para pemerhati IT security, penggunaan domain gratisan sangat tidak aman. Ini sudah menjadi konsen kami sejak lama kepada para pejabat publik, karena sangat rentan. Bisa di-hack oleh para hacker umum dan tidak akan ketahuan. Ini kan bahaya, bisa disalahgunakan oleh negara-negara lain,” kata Ruby kepada Kompas.com, Jumat (6/5/2011).

Ruby mencontohkan, dalam salah satu kesepakatan yang tertuang dalam “terms and conditions” saat mendaftarkan sebuah akun di domain gratisan, ada klausul yang menyatakan bahwa pemilik e-mail menyerahkan hak kepada domain untuk mengakses e-mail tersebut.

“Misalnya, di gmail jelas tertulis di terms and conditions, pemilik e-mail memberikan hak kepada gmail untuk mengakses e-mailnya. Bukan membaca, tapi kata-katanya “mengakses”. Bayangkan kalau pejabat publik miliki e-mail pribadi seperti itu dan informasinya dibaca oeh pihak-pihak yang tidak berkepentingan. Itu kan mengerikan,” paparnya.

Apalagi, informasi yang terkandung dalam e-mail para pejabat publik itu menyangkut kepentingan dan rahasia negara. Oleh karena itu, Ruby menyarankan dan mengimbau kepada para pejabat publik untuk menghentikan penggunaan akun e-mail dengan domain gratisan. Menurutnya, lebih aman jika para pejabat membuat e-mail dari domain resmi masing-masing institusi. Hal ini dinilai lebih aman karena aktifitasnya akan terpantau oleh admin institusi itu sendiri.

Daftar 15 Nama Domain Termahal Didunia Tahun 2011

Untuk membeli sebuah nama domain, Anda cukup mengeluarkan uang sekitar Rp 100.000 saja, bahkan beberapa domain bisa lebih murah.

Namun, jika domain tersebut diminati banyak orang atau berpotensi menghasilkan banyak uang, sebuah nama domain akan bisa dijual sangat mahal.

Tahun lalu, domain Name Journal menyebutkan bahwa Sex.com merupakan nama domain dengan harga termahal di dunia, yakni terjual dengan harga 13 juta dollar AS (sekitar Rp 118 miliar).

Sebagai perbandingan, tahun ini, nama domain termahal hanya bernilai 2,6 juta dollar AS atau sekitar Rp 23 miliar.

Inilah daftar 15 nama domain termahal tahun 2011 :

  1.  Social.com, terjual 2,6 juta dollar AS (sekitar Rp 23 miliar) melalui Moniker atau Name Quiver.
  2. DomainName.com, terjual 1 juta dollar AS (sekitar Rp 9 miliar) melalui Boxcar atau Domain Consultant.
  3. Aktien.de, terjual 725.000 dollar AS (sekitar Rp 6,6 miliar) melalui Sedo.
  4. VU.com, terjual 700.000 dollar AS (sekitar Rp 6,3 miliar) melalui penjualan privat.
  5. RunningShoes.com, terjual 700.000 dollar AS (sekitar Rp 6,3 miliar) melalui penjualan privat.
  6. Answer.com, terjual 550.000 dollar AS (sekitar Rp 5 miliar) melalui Moniker atau SnapNames
  7. 11.com, terjuadl 525.000 dollar AS (sekitar Rp 4,78 miliar) melalui MediaOptions.
  8. 8. Puzzle.com, terjual 500.000 dollar AS (sekitar Rp 4,6 miliar) melalui AfternicDLS.
  9. GamesForGirls.com, terjual 500.000 dollar AS (sekitar Rp 4,6 miliar) melalui Sedo.
  10. Gay.xxx, terjual 500.000 dollar AS (sekitar Rp 4,6 miliar) melalui penjualan privat.
  11. Meet.me, terjual 450.000 dollar AS (sekitar Rp 4,1 miliar) melalui penjualan privat.
  12.  AutoInsurance.org, terjual 440.000 dollar AS (sekitar Rp 4 miliar) melalui media options.
  13. Look.com, terjual 400.000 dollar AS (sekitar Rp 3,6 miliar) melalui penjualan privat.
  14. 33.com, terjual 358.000 dollar AS (sekitar Rp 3,25 miliar) melalui DomainAdvisors.
  15. DataCenter.com, terjual 352.500 dollar AS (sekitar Rp 3,2 miliar) melalui Sedo.

Beberapa nama domain yang terjual di atas ternyata tak semuanya dapat diakses. Kemungkinan pembelian nama domain tersebut hanya sekadar mengamankan agar tidak dibeli orang lain atau untuk sementara belum digunakan

98% Orang Indonesia Lebih Suka Berkirim SMS Daripada Menelpon

Hampir semua orang Indonesia yang memiliki ponsel lebih memilih berkirim pesan pendek ketimbang menelepon.

Fenomena itu terungkap dalam penelitian yang dilakukan Pew Research Center. Riset tersebut menunjukkan 96 persen pengguna ponsel di Tanah Air lebih suka SMS-an ketimbang menelepon.

Kondisi serupa juga terjadi di Kenya dengan persentase 89 persen penduduknya yang memiliki handphone cenderung berkirim pesan pendek.

Perilaku yang bertolak belakang terdapat di Amerika Serikat. Di negara itu, “hanya” 67 persen orang yang sering ber-SMS. Untuk kegiatan berselancar di dunia maya, 29 persen laki-laki Spanyol menggunakan ponsel mereka untuk mengakses Internet. Sementara perempuan yang melakukan kegiatan serupa hanya 13 persen.

Kesenjangan antara lelaki dan perempuan dalam mengakses Internet juga terjadi di Jerman dengan perbandingan 26:11 persen, dan Turki (30:14 persen).

Sementara kegiatan berjejaring sosial umumnya ditemukan di negara makmur dengan kemampuan akses Internet yang tinggi. Misalnya, 53 persen responden di Israel dan 50 persen responden di Amerika mengatakan mereka aktif menggunakan media sosial. Sementara di India dan Pakistan, responden yang menggunakan jejaring sosial hanya 5 dan 2 persen.

Dalam penelitian tersebut, Pew Research Center melakukan survei dengan cara tatap muka dan melalui telepon. Jumlah responden yang diambil sekitar 5.000 orang dari berbagai negara.