Cara dan Tehnik Astrofotografi Yaitu Memotret Bulan dan Bintang Dengan Smartphone

Memakai smartphone untuk mengabadikan momen sehari-hari, sudah biasa. Bagaimana jika menggunakannya untuk menghasilkan karya astrofotografi? Mungkinkah? Muhammad Rayhan, astronom amatir yang juga gemar membuat karya astrofotografi mengungkapkan, hal itu sangat mungkin.

Apa saja yang bisa dijepret? “Banyak. Bisa matahari tenggelam dan matahari terbit. Lalu ada gerhana Bulan dan gerhana Matahari. Bisa juga halo Bulan atau halo Matahari,” kata Rayhan ketika dihubungi Kompas.com, Minggu (10/7/2011).

Ada beberapa tips agar karya astrofotografi maksimal dengan kamera smartphone. Secara umum, Rayhan mengatakan, “Gunakan semaksimal mungkin fitur-fitur yang ada di kamera smartphone seperti mode dusk/dawn atau night mode.”

Selain itu, Menggunakan atau tidak menggunakan flash juga dapat dicoba untuk melihat perbedaan hasil temaran sunset atau sunrise. Bila memang kamera sudah default, maka cukup menghindari arah langsung ke Matahari sebab akan over exposure.

Bila akan memotret gerhana Matahari parsial atau cincin, ada tips khususnya, yakni memakai filter. Tak perlu repot sebab filter bisa dibuat dengan kacamata hitam ataupun roll film. “Bahkan memotret di balik jendela mobil yang berlapis filter gelap juga bisa,” kata Rayhan.

Sementara, untuk fenomena halo Matahari, lingkaran pelangi di siang hari, tak perlu memakai filter. “Tujuan kita memotret kontras halonya, bukan kontras Mataharinya, maka kita tidak menggunakan filter. Biarkan over exposure, yang penting kita dapat halo-nya,” urai mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah ini.

Jika ingin memotret halo, maka pengguna tinggal mengarahkan langsung smartphone ke halo. Namun, ada 2 hal yang mesti diketahui. Halo hanya bisa tertangkap kamera jika terlihat nyata dan menghadapkan langsung ke kamera ke arah halo beresiko pada sensor kamera di smartphone.

Bagaimana dengan gerhana Bulan dan Matahari Total, Galaksi Bimasakti dan Komet? Untuk gerhana Bulan dan Matahari total, bisa ditangkap dengan mudah. Namun, untuk komet dan Bimasakti, sulit diperoleh dengan kamera smartphone sebab dengan kamera DSLR pun sulit.

Untuk memotret Bimasakti misalnya, Rayhan mengatakan, “Intinya smartphone harus punya sensitivitas sensor minimal ISO 800 dan exposure time minimal 5 detik. Sepertinya aku belum pernah denger ada smartphone yang punya kemampuan itu.”

Tapi tak perlu kecewa, sebab dengan teknik yang baik, fenomena macam gerhana dan halo pun akan tampak bagus. Fenomena itu bahkan bisa ditangkap dengan kamera 2MP dan dengan kamera 5MP, hasilnya maksimal. Bagaimana, berminat mencoba? Desember nanti akan ada gerhana Bulan lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s