Tablet Semakin Menjamur dan Tren di Masyarakat

Munculnya iPad tahun lalu memang fenomenal, sekalipun ide membuat tablet itu sudah ada sekitar 10 tahun lalu. Sukses ini menjadi tren dan sekarang mulai muncul pesaing-pesaing tablet bikinan Apple itu dari berbagai sistem operasi dan variasi tampilan yang menawan. AW Subarkah

Bahkan tablet atau ”sabak elektronik” iPad sudah menjadi impian penggemar gadget, setidaknya bagi para pengguna iPhone, ponsel pintar yang juga buatan Apple. Bahkan, tidak jarang bagi yang berduit memburunya sampai ke luar negeri, setidaknya ke Singapura.

Namun, pada awal November lalu muncul pesaing baru dengan menggunakan sistem operasi berbeda. Setidaknya selain Galaxy Tab dari Samsung, juga ada Handroid dari perusahaan lokal CSL, mereka ini menggunakan sistem operasi Android, sebuah sistem operasi open source yang dimotori Google.

Sementara saat itu pengguna BlackBerry juga sedang menunggu-nunggu sabak-e (sabak elektronik) keluaran perusahaan Kanada itu. Perangkat yang disebut Playbook itu menjadi andalan bagi perusahaan Research in Motion (RIM), Kanada, untuk mengisi kebutuhan gadget kelas sabak.

Belum lagi Microsoft sebagai pencetus konsep sabak-e, tahun ini akan ikut terjun dengan sistem operasi Windows 7 melalui beberapa vendor. Setidaknya raksasa komputer dari Asia, seperti Acer dan Asus, akan menurunkan versi Windows 7, selain juga HP yang sedang sibuk mempersiapkan sistem operasi Palm.

Dari peta ini saja sudah terlihat betapa serunya persaingan global pada kelas sabak mulai tahun ini. IPad yang sudah melenggang setahun lebih awal akan menghadapi persaingan yang sangat berat. Bahkan, persaingan ini tidak hanya terjadi antarsistem operasi pada sabak-e, tetapi juga menekan keberadaan netbook yang sempat mengisi pasar notebook mobile beberapa tahun ini.

Pada awalnya netbook sepertinya dimaksudkan untuk mengisi kebutuhan notebook yang ringan dan mudah dibawa-bawa serta untuk tugas yang tidak berat. Namun, hadirnya sabak-e iPad membuat produsen netbook harus mendefinisikan ulang, paling tidak mendorong kecepatan lebih tinggi dan lebih banyak aplikasi sekelas notebook. Sebab, tablet yang baru sebagian sudah dilengkapi dengan papan ketik mekanis.

Android merajalela

Tidaklah mengherankan apabila munculnya gadget kelas sabak menjadi incaran para vendor komputer yang sangat tergiur untuk bermain di ranah perangkat bergerak. Setidaknya seperti Acer sudah mendahului dengan meluncurkan smarthandheld Liquid E, baru kemudian disusul Garmin-Asus.

Agresivitas mereka sedikit terhambat dengan kesiapan sistem operasi, bahkan Acer sempat menunda produk sabak-e-nya karena sistem operasi Android versi 3.0 atau Honeycomb belum siap. Sepertinya produk yang berafiliasi ke Google akan menghadang iPad dengan Honeycomb.

Kebanyakan sabak-e Android yang sudah keluar tahun lalu, seperti Galaxy Tab atau CSL, menggunakan sistem operasi versi 2.2 atau Froyo, beberapa malah masih v2.1 (Éclair). Setidaknya perlu di-upgrade ke v2.3 (Gingerbread) sebelum masuk ke v3.0 (Honeycomb).

Dari sisi mesin, sabak-e Android baru akan menggunakan prosesor dual-core 1 GHz dan ke depannya sedang dipersiapkan quad-core yang meningkatkan kecepatan secara dramatis. Meskipun kinerja sabak-e masih juga tetap bergantung pada jaringan komunikasi yang digunakan. Jika jaringan lelet, semua kecanggihan itu menjadi tidak berarti.

Yang menonjol dari sabak-e Android ataupun Windows 7 adalah kemampuan menyesuaikan dengan perkembangan jaringan. Di antaranya, siap diaplikasikan untuk jaringan long term evolution (LTE), jaringan nirkabel pra-generasi keempat (4G) yang baru dicoba tahun lalu di Jakarta. Ini sangat penting karena sabak-e memang dirancang sebagai perangkat komputer bergerak.

Termasuk seperti Motorola Xoom yang sudah dipersiapkan untuk bisa di-upgrade mengantisipasi hadirnya LTE agar tidak ketinggalan. Sabak-e ini, selain sudah Android versi Honeycomb, juga menggunakan prosesor dual-core Nvidia Tegra 2 berkecepatan 1 GHz.

Adapun soal media penyimpan sudah bukan masalah lagi. Dengan eXtended Capacity (SDXC) sebesar prangko itu mampu menyimpan dari 32 GB (gigabyte) sampai 2 TB (terabyte). Jelas kapasitas yang tidak bisa dipenuhi oleh CD-ROM yang pernah populer pada era notebook ataupun desktop.

Memang kartu SDXC saat ini masih mahal, dan yang sudah biasa digunakan adalah Secure Digital High Capacity (SDHC) yang sudah umum digunakan. Format SDHC yang menyimpan 4 GB-32 GB sama dengan format SD ataupun SDXC.

Inilah masa depan gadget yang sudah tampak semakin nyata di depan mata kita. Komputer bergerak adalah sabak-e. Hati-hati memilih, di negeri ini pun akan semakin banyak sabak elektronik dijajakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s