Konten Digital Semakin Tidak Laku Hingga Harus Dijual Secara Retail

Bagi pemilik koran cetak yang mapan, strategi bisnis ke depan yang harus dilancarkan bukanlah bagaimana menambah oplah, tetapi menjaga koran agar tetap bertahan (survive). Di tengah kecenderungan orang, khususnya generasi muda, yang lebih akrab dengan internet, kecenderungan menurunnya oplah koran secara global tidak dapat terhindarkan.

Strategi mempertahankan oplah itu bukan semata-mata menciptakan rubrikasi yang beragam, katakanlah membuat rubrikasi yang disesuaikan dengan usia atau status pembaca. Strategi juga mencakup penciptaan format bentuk baru yang lain dari sekadar koran broadsheet dan strategi menjual koran berdasarkan subyek tertentu (paper on demand).

Menciptakan pembaca muda dan memelihara alih generasi pembaca adalah usaha tersulit insan pers dalam menjaga keajekan tiras harian. Terlebih lagi di saat generasi baru yang disebut digital native lebih akrab dengan gadget yang juga menghadirkan informasi online atau digital. Tidak dapat disangkal, menyeret atau mengalihkan pembaca muda untuk membaca koran adalah beban berat, tetapi tetap harus ditempuh agar tiras tidak terlalu terjun bebas.

Generasi lama yang fanatik membaca koran dengan sendirinya berkurang dan menghilang secara alamiah. Jika ”alih generasi” ini tidak segera diupayakan dengan berbagai program, kecenderungan menurunnya oplah akan semakin terasa. Akan tetapi, selalu ada upaya dan survive yang bisa dilakukan agar oplah koran tetap stabil atau malah bertambah meningkat.

Yang diperlukan adalah terobosan baru yang radikal, tidak lagi gradual dengan meredesain bentuk koran dari broadsheet menjadi tabloid. Lebih dari itu, mengapa misalnya tidak dicoba mengemas harian dalam bentuk majalah atau bahkan buku!

Konten dan rubrikasi tetap sama dengan versi broadsheet/- tabloid yang agak repot kalau dibawa-bawa, khususnya dibaca di kendaraan umum. Boleh jadi anak muda akan lebih tertarik membaca harian dalam format majalah atau buku itu.

Tentu saja cara ini tidak harus mengganti atau menghilangkan harian dalam format broadsheet/tabloid, tetapi pembaca atau pelanggan dihadapkan pada pilihan harian dalam bentuk lain yang lebih ringkas, yakni format majalah atau buku.

Hal lain yang bisa dilakukan adalah menjual konten berita dalam bentuk paper on demand (POD), sebagaimana yang telah dilakukan di dunia online untuk konten video, yakni video on demand (VOD). Ini mengadopsi pada kecenderungan koran- koran masa kini yang tetap harus bertahan, tapi dengan konten yang berisi kedalaman berita dan analisis komprehensif. POD tidak lagi memberitakan berita langsung atau update news sebagaimana yang diberitakan televisi atau media online, tetapi menyajikan cerita di balik berita, peristiwa di balik berita, juga analisis terhadap kecenderungan suatu peristiwa.

Wartawan yang menganalisis pun setingkat editor ke atas atau wartawan spesialis yang memang mendalami subyek tersebut. Kelemahan terbesar dari berita harian adalah terjebak mengulangi berita yang sudah disampaikan media elektronik (televisi atau radio) maupun media online.

Ambil contoh berita kemenangan pebulu tangkis ganda putra Indonesia Markis Kido/ Hendra Setiawan atas pasangan Malaysia Koo Kean Keat/Tan Boon Heong. Pencinta bulu tangkis Tanah Air tentu menyaksikan siaran langsung dari TVRI dan mengetahui bahwa pasangan Indonesia menyabet emas. Media online memberitakan ”Kido/Hendra Sabet Emas”. Maka akan terasa usang kalau koran-koran keesokan harinya menurunkan berita dengan judul ”Markis/Hendra Sabet Medali Emas”.

Harian harus memberitakan informasi ”beyond” atau ”further” dari sekadar suksesnya Markis/Hendra meraih emas sebab hal itu sudah bisa ditonton di televisi atau dibaca di media online kemarin. Koran bisa memberitakan sukses pasangan ini dengan menulis rencana selanjutnya, misalnya ”Kido/Hendra Bidik All England”, atau malah memberitakan haru biru kemalangan yang menimpa pasangan Malaysia. Siapa tahu ada berita ”Raih Medali Perak, Koo/Beon Gantung Raket”.

Benar bahwa pendengar radio, penonton televisi, pembaca online, dan pembaca harian adalah berbeda-beda sehingga masing-masing hanya membaca medianya sendiri. Namun, selalu ada irisan. Menjadi persoalan kalau irisan itu adalah pembaca fanatik harian yang kebetulan sudah menonton kemenangan Kido/Hendra di televisi dan telah pula membacanya di media online dan mobile, lalu harus membaca di harian dengan berita yang sama!

Koran akan tetap bertahan dan tidak harus khawatir turun oplah dengan catatan memuat kedalaman berita atau sisi lain dari peristiwa. Berita yang sifatnya straight (langsung) dan update biarlah menjadi ”santapan” media elektronik atau online. Media cetak harus lebih dalam dari sekadar informasi yang sudah disampaikan kedua jenis media tadi. Jika berita-berita straight sudah diambil semua oleh media elektronik/online, media cetak harus menghindari pengulangan itu!

Dari asumsi inilah, sebagaimana yang sudah sering ditulis para pakar jurnalistik, amat relevan menjual ketengan konten koran. Merujuk pada harian Kompas yang sedang Anda baca, bisa saja kelak dijual Kompas Ekonomi, Kompas Politik, Kompas Sport, Kompas Urban, Kompas Nusantara, dan seterusnya, menyusul Kompas Minggu, Kompas Anak, dan Kompas Muda yang sudah lebih dahulu ada.

Semua konten ketengan mengusung kedalaman informasi, latar belakang peristiwa, data dan angka, serta kecenderungan atau antisipasi terhadap suatu peristiwa. Mengapa tidak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s