Microsoft Kinect Bermain Games Sekaligus Berolahraga

Dengan penuh semangat Tommy Alden France meloncat, kadang ke kiri kadang ke kanan, di dalam rumahnya di Kebayoran Baru, Jakarta. Jangan berpikir ia bergerak tidak keruan. Sambil melakukan itu, matanya tajam menempel ke layar televisi yang sedang memampangkan video game River Rush dari konsol Microsoft Xbox.

Game itu mirip arung jeram, sederhana: sebuah perahu karet kecil melaju mengikuti sungai. Pemain mesti ke kiri, ke kanan, miring, atau meloncat agar perahu terkendali. Biasanya, untuk menggerakkan karakter ke kiri atau ke kanan dalam video game, pemain mesti memijit tombol, menggerakkan joystick, atau mengayunkan pengendalinya. Tapi bukan itu yang dilakukan Tommy. Ia benar-benar meloncat atau bergerak ke kiri saat adegan membutuhkannya seperti itu. Persis arung jeram betulan, cuma tidak basah.

Setiap kali Tommy bergerak, karakter di dalam video game itu ikut bergerak. Ia tidak menggunakan tombol atau pengendali yang mesti dipegang tangan seperti Xbox konvensional. Seluruh gerakan badannya dibaca oleh Xbox dengan peranti tambahan serupa kamera yang disebut Kinect. “Tubuh kita sebagai pengendali (game),” kata Tommy. Perangkat ini Sabtu petang pekan lalu baru dua jam menjadi miliknya.

Tommy, mahasiswa semester pertama Universitas Bina Nusantara, bukan satu-satunya yang sedang tergila-gila dengan Kinect. Meski Kinect baru diluncurkan kurang dari sebulan, sekarang sudah lebih dari satu juta orang di seluruh dunia merogoh isi dompet dan membawanya pulang ke rumah.

Tidak mengherankan Kinect laris manis, karena ia memungkinkan cara memainkan game yang revolusioner. Tommy, yang menggemari video game sejak berusia 10 tahun, merasakan benar bedanya. Sampai sekarang, permainan favoritnya adalah Prince of Persia yang diputar di konsol Xbox (tanpa Kinect). Permainan semacam Prince of Persia boleh dibilang masih menggunakan cara bermain generasi pertama, seperti saat video game muncul pada 1970-an. Orang mesti memijit-mijit tombol atau menggerakkan joystick untuk menggerakkan jagoannya.

Di rumah Tommy tidak hanya ada Xbox. Ia juga memiliki Sony PlayStation 3 serta Nintendo Wii. Wii itu boleh disebut generasi berikut setelah cara bermain model tombol atau joystick. Dengan Nintendo Wii, saat memainkan game golf, misalnya, pengguna memegang tongkat pengendalinya seperti memegang tongkat golf. Saat, wusss, tangan mengayunkan pengendali itu, ia juga menggerakkan tongkat golf dalam video game.

Tapi Kinect, seperti yang dimainkan Tommy sekarang, lebih jauh melangkah. Orang tidak perlu lagi memegang pengendali apa pun untuk memainkannya. Kinect membuat para pemain game lebih banyak menggerakkan anggota badan. Tak aneh, Tommy hanya sanggup bertahan satu jam saat memainkan River Rush. “Capai, badan kita bergerak terus,” katanya.

Kinect itu diletakkan di atas televisi dan Tommy bisa bermain sekitar dua meter dari sensor geraknya. Di sana ada beberapa pemindai yang bertugas mengenali manusia dan menangkap gerakannya. Saat kita memutar tangan, tokoh di video game juga akan memutar tangan. Saat kaki menendang, tokoh dalam video game akan menendang pula. Teknologi Kinect juga bisa mengenali wajah pemain.

Microsoft mengumumkan akan memasarkan Kinect sejak Juni tahun lalu. Saat itu rencananya masih disebut Proyek Natal (Natal Project), mengikuti kebiasaan Microsoft menggunakan nama kota sebagai sandi proyek baru. Natal adalah nama kota di Brasil tempat Alex Kipman, penggagas Kinect, lahir.

Teknologi yang bisa mengenali manusia dan geraknya sekaligus itu dirancang perusahaan yang berpusat di Tel Aviv, Israel, yakni PrimeSense. Sensor gerak dan wajah itu semula memiliki mikroprosesor sendiri, tapi Microsoft, yang kemudian membeli teknologinya, memutuskan mencopotnya. Sebagai gantinya, kerja sensor diotaki prosesor yang sudah ada di Xbox.

Awalnya, kerja sensor ini disebut menghabiskan sampai 15 persen kemampuan prosesor. Tapi kemudian Kipman mengatakan teknologi kendali baru itu menggunakan tidak lebih dari 10 persen kemampuan kerja Xbox. “Turun dari sebelumnya,” kata Kipman.

Nama resmi Kinect, dan soal pemasaran November ini, diumumkan pada Juni lalu. Amerika mendapat jatah peluncuran pertama pada 4 November. Berturut-turut beberapa tempat lain mendapat jatah pemasaran ini. Singapura, misalnya, mendapat jatah 18 November.

Namun, seperti Xbox, produk itu tidak dijual resmi oleh kantor Microsoft di Indonesia. Penggemar seperti Tommy akhirnya membeli di toko video game langganannya di Blok M Plaza. Toko itu mengambil barang dari Singapura dan mengirimkannya ke rumah Tommy dua hari setelah peluncuran.

Penjualan di Indonesia lumayan. Toko di Blok M itu mengatakan stok yang ia ambil dari Singapura langsung ludes dalam beberapa hari, padahal ia belum sempat mencobanya. “Barang datang langsung keluar,” kata Kelly Patra Ramadana, pemilik toko. Ia terpaksa menunggu kiriman barang berikutnya yang sudah ia pesan dari Singapura untuk menikmati permainan revolusioner ini. “Nanti kiriman yang kedua ini mau saya simpan satu di rumah, buat saya pakai,” katanya.

Meski demikian, Kelly mengatakan Kinect tidak selaris Nintendo Wii saat datang pertama kali ke Indonesia. “Mungkin karena harganya mahal,” katanya. Di berbagai tempat, Kinect ditawarkan dengan kisaran harga Rp 2,2 juta. Tapi Kinect hanya alat pengendali game. Harga ini belum termasuk konsol Xbox, yang harganya setara dengan Kinect. Bandingkan dengan Nintendo Wii, yang pertama kali muncul sudah di kisaran Rp 2 juta dan siap dimainkan.

Jadi, beruntunglah mereka yang sebelumnya sudah memiliki Xbox seperti Tommy. Ia hanya perlu mencolokkan Kinect dengan Xbox, langsung meloncat-loncat saat memainkan River Rush di rumahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s