Penggunaan Teknologi Informasi Yang Lemah Membuat Indonesia Kehilangan Daya Saing

Naiknya peringkat daya saing Indonesia dalam Indeks Kompetisi Global 2010-2011 yang dikeluarkan Forum Ekonomi Dunia disambut positif pemerintah dan sebagian kalangan usaha. Peringkat GCI Indonesia yang tahun sebelumnya hanya pada peringkat ke-54 dari 133 negara naik menjadi urutan ke-44 dari 139 negara.

Meski nilai secara keseluruhan membaik, Indonesia hanya berada pada urutan ke-103 dalam subkategori penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang bisa mendorong efisiensi dan meningkatkan daya saing ekonomi. Dalam subkategori itu, hal yang dinilai adalah jumlah pengguna internet yang menempatkan Indonesia di peringkat ke-107, pelanggan internet (99), dan lebar pita jaringan internet (102).

Dibandingkan dengan delapan negara ASEAN yang disurvei, selain Myanmar dan Laos, peringkat penggunaan TIK Indonesia hanya lebih baik dibandingkan Kamboja (129). Sedangkan dibandingkan negara-negara BRIC (Brasil, Rusia, India, China) yang ekonominya tumbuh pesat, posisi Indonesia hanya lebih baik dibandingkan India (118). Walau jumlah penggunanya rendah, India merupakan eksportir produk peranti lunak dan ahli-ahli TIK dalam jumlah besar.

Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika Gatot S Dewa Broto di Jakarta, Rabu (15/9), mengatakan, rendahnya peringkat Indonesia disebabkan rendahnya ketersediaan infrastruktur TIK.

Hingga kini, masih ada sekitar 7.000 desa dari sekitar 72.000 desa yang belum terhubung jaringan telepon berbasis suara. Desa-desa itu umumnya tersebar di Sulawesi, Maluku, dan Papua yang memiliki hambatan geografis. Jaringan serat optik Indonesia juga belum menjangkau pulau-pulau itu sehingga akses telepon masih dilakukan melalui satelit yang mahal biayanya.

Untuk telepon berbasis internet, ditargetkan akan menjangkau 5.000 desa di ibu kota kecamatan akhir tahun ini. Pemerintah saat ini sedang menyelesaikan pembangunan jaringan serat optik antara Mataram, Nusa Tenggara Barat, dan Kupang, Nusa Tenggara Timur. Sedangkan serat optik yang menghubungkan Sulawesi-Maluku-Papua belum terbangun.

”Daerah yang semua desanya sudah terakses telepon berbasis suara dan internet adalah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi),” kata Gatot.

Pengguna internet di Indonesia diperkirakan baru mencapai 50 juta orang atau sekitar 20 persen dari jumlah penduduk. Dari 180-an perusahaan penyedia jasa internet, sekitar 150 perusahaan di antaranya beroperasi di Jabodetabek. Sisanya berada di kota-kota besar saja, seperti Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Medan, dan Makassar.

Sekretaris Jenderal Masyarakat Telematika Indonesia Mas Wigrantoro Roes Setiadi mengingatkan pemerintah untuk membangun infrastruktur TIK secara proporsional, berdasarkan kebutuhan daerah dan ketersediaan sarana yang ada. Namun, kesenjangan infrastruktur antardaerah, baik dalam kuantitas maupun kualitas, juga harus ditekan sehingga akses masyarakat terhadap TIK merata.

Guru Besar Teknik Komputer Universitas Indonesia Kalamullah Ramli mengatakan, jika persoalan infrastruktur informasi dan telekomunikasi nantinya selesai dibangun, pemerintah perlu memberdayakan masyarakat agar bisa menggunakan internet secara positif dan aktif. Internet selama ini cenderung digunakan untuk hal-hal yang kurang produktif, seperti akses jejaring sosial atau situs pornografi.

”Penggunaan internet seharusnya bisa meningkatkan ekonomi masyarakat,” katanya.

Penggunaan internet juga dinilai Kalamullah belum merata. Internet masih dianggap sebagai barang mahal. Hanya kelompok menengah atas yang bisa berlangganan internet. Sedangkan kelompok menengah bawah mengakses internet melalui warung-warung internet yang lokasinya terbatas.

Menurut Wigrantoro, untuk meningkatkan penggunaan TIK demi mendorong daya saing ekonomi Indonesia, pemerintah perlu melakukan rekayasa sosial untuk mengarahkan pemanfaatan internet secara intensif dan ekstensif.

Penggunaan TIK secara intensif perlu dilakukan agar pemanfaatan teknologi itu dapat meningkatkan efisiensi dan mendorong daya saing ekonomi masyarakat yang sesungguhnya. Sedangkan upaya mendorong penggunaan TIK secara ekstensif dapat dilakukan dengan penggunaan TIK di berbagai sektor pembangunan.

”Konsistensi kebijakan penggunaan TIK juga harus dijaga,” ungkap Wigrantoro.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s