Category Archives: Google

Google Diminta Menjadi Kata Kerja dan Tidak Menjadi Merek Berpaten Lagi

Kata “Google” atau “googling” identik dengan fungsi search engine di internet dan seringkali diasosiasikan dengan kegiatan mencari informasi.

Di Amerika Serikat, orang sering berkata “just Google it”, saking terbiasanya dengan kata unik itu. Hal ini dijadikan sebagai dasar tuntutan hukum oleh seorang pria asal Arizona, Amerika Serikat, yang menginginkan kata “Google” tidak lagi dinyatakan sebagai merek dagang.

Oleh Google, David Elliott, si pria tersebut, sebelumnya dipaksa menyerahkan hak atas 750 nama domain yang mengandung nama “Google” di dalamnya lewat pengadilan.

Apa pasal? Rupanya Google kurang setuju namanya dipakai dalam ratusan domain bikinan Elliott, contohnya antara lain “googlegaycruises.com” and “googledonaldtrump.com”.

Menurut Elliott, ke-750 domain yang memakai nama Google tersebut diperlukan olehnya untuk menjalankan “bisnis perdagangan, amal, kesehatan dan lain-lain” miliknya.

Elliott pun balik menuntut Google. Dalam tuntutannya Elliott menyatakan bahwa “Google” adalah kata kerja transitif yang maknanya adalah “mencari di internet”, dan karena itu tidak bisa lagi digunakan sebagai merek dagang atau trademark.

Pria ini pun mengutip pernyataan dari American Dialect Society yang mengatakan bahwa Google adalah “kata paling populer dekade ini (word of the decade)”.

Ada juga kutipan dari sebuah laporan yang memuat pernyataan Google bahwa perusahaan itu bisa kehilangan merek dagang atas kata “Google” bila kata yang bersangkutan diterima secara luas sebagai ganti istilah “mencari di internet.”

Sebelum ini, telah terjadi beberapa kehilangan merek dagang akibat kebiasaan konsumen menggunakan kata terkait untuk merujuk pada satu jenis produk yang belum tentu dibuat oleh perusahaan pemegang merek. Contohnya antara lain “Zipper”, “Yo-yo”, dan “Thermos”.

Kata “Google” sendiri pertama kali dijadikan merek dagang pada 1997. Sejak itu Google telah menerima sejumlah sertifikat yang mendukung penggunaan kata tersebut sebagai merk dagang.

Google Didesak Untuk Atasi Peredaran Software Bajakan Milik Microsoft

Google menerima banyak komplain terkait dengan maraknya website yang diyakini memfasilitasi praktek download ilegal, terutama yang menyasar produk Microsoft. Komplain tersebut melaporkan banyaknya praktik pembajakan pada material yang diproduksi perusahaan hiburan.

Dikutip dari Economic Times, Jumat (25/5/2012), mereka yang melaporkan tentunya berharap penegakan hukum yang lebih tegas terhadap praktik pembajakan online.

Pembajakan yang kian merajelela ini terlihat pada data terbaru yang dirilis Google. Adapun tujuan dirilisnya data ini adalah memberikan pemahaman yang lebih baik akan penyalahgunaan properti intelektual di internet.

Laporan yang diterima Google sejak Juli 2011 tersebut meminta sang raksasa internet menghapus konten yang melanggar hak cipta dari indeks mesin pencarian.

Berkenaan dengan Microsoft, tercatat ada lebih dari 2,5 juta komplain yang meminta Google menghapus link yang melanggar hak cipta raksasa software tersebut. Microsoft sendiri memang telah lama mengadukan praktik download ilegal software besutannya.

Pengguna Google Chrome Ternyata Lebih Cerdas Daripada Pengguna Firefox

Situs web permainan puzzle angka Calcudoku, http://www.calcudoku.org, beberapa waktu lalu menyatakan, pengguna browser Chrome tampak memiliki tingkat kecerdasan numerik tinggi ketika memecahkan teka-teki puzzle di situs tersebut.

Calcudoku baru saja memublikasi hasil riset para pemain puzzle berdasarkan penggunaan browser selama 2010 dan 2011.

Menurut data yang telah dianalisis Calcudoku, orang yang menggunakan browser Chrome termasuk dalam orang-orang yang dapat memecahkan teka-teki puzzle paling cepat. Sedangkan pengguna Firefox berada di posisi 2, dan pengguna Internet Explorer (IE) di posisi 3.

Menurut Calcudoku, pengguna IE tergolong lambat dalam memecahkan teka-teki angka. Mereka juga cenderung lebih cepat menyerah dibandingkan pengguna Chrome atau Firefox.

Sedangkan untuk pengguna browser Safari dari Apple, tidak terkumpul data yang cukup untuk dibandingkan dengan ketiga browser lainnya.

Di laporan Calcudoku, situs tersebut menyatakan bahwa ada kemungkinan Chrome adalah browser pilihan bagi orang yang menyukai hal teknis, mereka yang cenderung memiliki keahlian dengan angka.

Dan, kemungkinan karena IE adalah browser default untuk sistem operasi Windows, maka yang menggunakannya adalah pengguna umum dari segala kalangan dengan latar pendidikan mulai dari yang rendah hingga tinggi.

Daftar Pebedaan Kelebihan dan Kekurangan Browser Firefox dan Google Chrome

Pada February 2012, Firefox dan Chrome sama-sama kuat dalam persaingan menjadi web browser paling populer.

Keduanya mendapat 36% suara dalam statistik yang dikeluarkan W3Schools. Firefox dan Chrome keduanya menawarkan fitur dan kelebihannya masing-masing.

Faktor penting seperti kecepatan dan keamanan keduanya sepertinya juga berimbang sehingga keputusan pemilihan browser akan bergantung pada mana yang memiliki fitur yang lebih Anda butuhkan.

Untuk membantu Anda menentukan keputusan, berikut beberapa bahan yang perlu disimak.

Struktur Software

Chrome dan Firefox memiliki dua struktur kebijakan yang berbeda.

Firefox milik Mozilla adalah sebuah proyek open-source dengan banyak kontributor, sementara Chrome bersifat closed-source dan dokumentasinya tidak dibuka.

Sebenarnya, Google juga memiliki browser open-source, namanya Chromium bukan Chrome.

Dengan struktur kebijakan seperti itu, potensi Firefox dalam mengatasi kelemahan atau bug yang ada menjadi lebih besar.

Di belakang layar, terdapat dua browser engines yang berbeda. Firefox menggunakan Gecko browser engine, sementara Chrome dibuat berdasarkan Webkit.

Webkit yang juga digunakan dalam browser Safari-nya Apple, lebih sering dijumpai dalam peranti mobile.

Di masa depan, kemungkinan peranti mobile yang akan menguasai dunia browsing (melalui smartphone dan tablet).

Firefox tersedia untuk banyak sistem operasi, termasuk Mac OS X, Linux, Windows, Sun Solaris, Open BSD, dan Free BSD.

Sedangkan Chrome hanya tersedia untuk Linux, Windows, dan Mac. Sistem operasi lainnya harus menggunakan Chromium.

Keamanan

Salah satu aspek penting untuk setiap browser adalah keamanannya.

Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh Accuvant, Chrome ternyata memiliki tingkat keamanan yang lebih tinggi dibandingkan Firefox dan Internet Explorer.

Chrome mendapat nilai tertinggi karena memiliki sejumlah langkah keamanan yang tidak dimiliki yang lainnya.

Meskipun Firefox dan Chrome sama-sama mengimplementasikan teknik “sandboxing” untuk mengisolasi serangan berbahaya, Chrome melakukannya lebih sering dan untuk lebih banyak proses.

Chrome juga menawarkan tingkat keamanan yang lebih tinggi untuk plug-ins, dan secara otomatis akan mematikan sebuah plug-ins jika ia sudah terlalu tua.

Jika plug-ins yang Anda gunakan dinilai sudah uzur, Chrome akan mematikannya tanpa mau tahu Anda masih memerlukannya atau tidak.

Tabs

Fitur unik milik Chrome adalah dibuatkannya proses yang berbeda untuk setiap ‘window’ dan ‘tab’.

Jika Anda membuka ‘tab’ atau ‘window’ baru, Chrome akan menempatkan ‘tab’ atau ‘window’ dalam prosesnya masing-masing.

Artinya, jika ada satu situs yang lambat di satu ‘tab’ atau ‘window’, ia tidak akan memperlambat proses loading di ‘tab’ atau ‘window’ lainnya.

Demikian pula, jika ada satu ‘tab’ yang crash, ia tidak akan membuat crash seluruh browser. Sementara itu, Firefox tetap mengelola ‘tab’ dan ‘jendela’ dalam satu kesatuan. Satu crash, crash semua.

Ditinjau dari keamanan, pemisahan proses oleh Chrome membuat browsing lebih aman secara keseluruhan.

Dilihat dari sisi lain, Chrome memangsa lebih banyak memori yang tersedia.

Setiap tab atau window akan tampil sebagai satu proses atau aplikasi yang terpisah yang memerlukan sumber daya sistem tersendiri.

Ekstensi

Melihat ekstensi browser yang tersedia, Firefox memiliki lebih banyak pilihan dibandingkan Chrome.

Firefox juga sudah memiliki ekstensi bawaannya sendiri. Ini akan memperlambat waktu loading awal—mungkin cuma beberapa detik.

Jika Anda mencari browser dengan waktu loading awal (beberapa detik) lebih cepat, Chrome pilihannya.

Jika Anda ingin pilihan fitur tambahan yang lebih banyak, Firefox jawabannya. Saat ini, pilihan ekstensi Firefox untuk menangani keamanan jumlahnya lebih banyak dibandingkan Chrome.

Jadi, mana yang akan Anda pilih: Chrome atau Firefox?

Google Segera Luncurkan Lemari Virtual GDrive

Google berencana meluncurkan GDrive, sebuah penyimpanan online atau “lemari” virtual tempat menaruh data.

“Rencananya, layanan itu akan dirilis pekan pertama, April nanti,” kata blogger Om Malik, mengutip sumbernya di Google.

Seperti dilansir Dailymail, Kamis, 29 Maret 2012, jenis data yang dapat disimpan dalam Google Drive seperti video, dokumen, dan musik. Selama ini, raksasa mesin pencari itu baru menyediakan Google Documents dengan kapasitas sebesar 1 gigabita.

Dengan layanan ini, pengguna gadget apa pun bisa menyimpan dan mengambil data yang mereka letakkan di “lemari” virtual, kapan dan di mana saja, asalkan terkoneksi ke Internet.

Di samping Google, Apple dan Microsoft sudah menyediakan layanan sejenis bernama iCloud dan Office 365. Begitu juga dengan Dropbox.

Dikonfirmasi terkait GDrive, Google menolak berkomentar.

Pemerintah Meminta Google Buka Data Center Di Indonesia Karena Penyedia Layanan Komunikasi Indonesia Sudah Menyerah Hadapi Lonjakan Data Ke Luar Negeri

Pemerintah meminta Google untuk membangun data center di Indonesia. Penyataan itu diungkapkan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Perdagangan Kementerian Perdagangan Bachrul Chairi saat acara seremonial pembukaan kantor perwakilan Google di Indonesia.

Dengan Google membangun data center di Indonesia, biaya koneksi Internet bagi perusahaan telekomunikasi Indonesia bisa menjadi jauh lebih murah dan akan meningkatkan keuntungan bagi pemain telekomunikasi Indonesia. Sedangkan bagi pemakai internet, keuntungan yang didapat hanya berupa kecepatan membuka halaman utama google makin cepat.

Infrastruktur didalam Indonesia dianggap sudah mampu untuk mendukung pembangunan data center. Kementerian Perdagangan juga sudah meminta secara langsung agar Google membangun data center di Indonesia. Sedangkan untuk membangun infrastruktur jaringan keluar negeri memerlukan biaya tinggi dan keuntungan yang kecil apalagi banyak industri telekomunkasi terbiasa mengambil untung besar dan tidak efisien dalam mengelola teknologi.

Bachrul mengatakan Indonesia merupakan pasar yang menarik bagi pelaku usaha global, tidak terkecuali Google. Dengan jumlah penduduk 240 juta, pertumbuhan Internet 30 persen per tahun serta pertumbuhan ekonomi yang positif menjadi ‘pesona’ bagi pebisnis global meski tingkat belanjanya masih rendah.

Menanggapi permintaan Menteri Gita tersebut, Country Head Google Indonesia Rudy Ramawy mengatakan Google sudah membangun data center di Singapura, Taiwan, dan Hong Kong. “Itu untuk melayani kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia,” katanya.

Rudy mengatakan, dengan pembangunan data center di tiga negara itu, akan meningkatkan pengalaman ber-Internet pengguna di kawasan Asia Pasifik. “Menjadi lebih baik dan lebih cepat dalam menggunakan informasi yang disajikan Google,” katanya.

Daftar Lowongan Pekerjaan Di Google Indonesia

Raksasa mesin pencari, Google Indonesia, membuka lowongan untuk pembukaan kantor baru di Indonesia. Dalam siaran pers yang diterima Tempo, Jumat, 30 Maret 2012, Google Indonesia membuka sejumlah posisi untuk kantor Jakarta.

Keterangan lengkap bisa dilihat di alamat www.google.co.id/jobs. Di kawasan Asia Tenggara, ini adalah kantor keempat Google. Perusahaan yang didirikan oleh Larry Page dan Sergei Brin itu telah menancapkan kekuatannya di Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Di Indonesia, Google Inc menunjuk Rudy Ramawy sebagai Country Head. Rudy adalah mantan Direktur Programming dan Produksi di RCTI.

Rudy pernah juga bekerja untuk Procter & Gamble, Sony Music Entertainment, Warner Music, dan Axis Telecom Indonesia.

Pembukaan kantor Google dijadwalkan akan dihadiri Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu dan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan. Namun, ternyata dua orang menteri itu batal hadir.

Google resmi mengumumkan kehadirannya di Indonesia pada hari ini, Jumat (30/3/2012). Pembukaan kantor tersebut menandai keseriusan Google untuk berinvestasi di Tanah Air.

Google hadir di Indonesia adalah agar Google bisa lebih dekat dengan mitra-mitranya di Indonesia, seperti developer, pengiklan, dan operator. Selain itu, Google juga menawarkan layanan internet yang membuat kegiatan sehari-hari para pengguna di Indonesia menjadi lebih mudah.

“Sebetulnya Google masuk Indonesia sudah sejak lama, yakni sejak diresmikannya Google.co.id. Peresmian tim Google Indonesia merupakan strategi lanjutan dari apa yang sudah dilakukan Google untuk Indonesia, untuk menambah pengalaman berinternet masyarakat Indonesia,” ujar Rudy Ramawy, Country Head Google Indonesia, dalam jumpa pers di Gedung Cyber 2, Jakarta, Jumat (30/3/2012).

Layanan berbahasa Indonesia yang telah dimiliki Google adalah Google Maps Indonesia, Google Terjemahan, dan juga toko Chrome Web Store yang diluncurkan bulan Februari 2012 lalu. Dalam Web Store ini, Google telah merangkul developer-developer lokal untuk mengembangkan aplikasi buatannya.

Google Akan Buka Toko Online Khusus Tablet

Google Inc berencana untuk membuka sebuah toko online untuk menjual tablet PC langsung kepada konsumen. Demikian laporan di The Wall Street Journal pada Kamis.

Toko online akan menawarkan tablet yang dibuat oleh Samsung Electronics Co dan Asustek Computer Inc berbasis perangkat lunak Android, menurut laporan, yang mengutip sumber anonim. Google menolak memberikan komentar.

Google secara singkat sukses menjual smartphone Android yang didesain khusus – Nexus One – langsung ke konsumen pada tahun 2010. Namun toko itu ditutup setelah beroperasi selama empat bulan, dengan alasan tidak sesuai harapan.

Google sekarang bergantung pada mitra ritel dan operator untuk menjual smartphone Android yang dibuat oleh berbagai produsen handset. Android telah menjadi nomor satu dalam sistem operasi untuk smartphone, menyusul iPhone buatan Apple Inc. Namun Apple masih mendominasi pasar untuk layar sentuh komputer tablet dengan iPad sebagai andalannya.

Google berancang-ancang untuk melakukan co-branding dengan beberapa merek tablet untuk dijual di toko mereka. Dengan begitu, mereka akan bisa menyajikan harga yang kompetitif, paling tidak dibanding Kindle Fire yang saat ini dipasarkan hanya seharga USD 199 saja.

Daftar 23 Antivirus Terbaik Untuk Android

Pengujian ulang terhadap 41 aplikasi anti-virus di platform Android menunjukkan hanya 23 aplikasi yang secara efektif menghambat laju ancaman virus ataupun perangkat lunak berbahaya (malware).

“Beberapa bagian dalam laporan dan metodologi tes kami dianggap tidak tepat atau cacat oleh pihak pengembang,” kata Andreas Marx, Pemimpin AV-Test–salah satu lembaga penguji keamanan teknologi informasi independen di Jerman.

Pengujian yang dilakukan AV-Test terfokus pada kemampuan aplikasi untuk menahan jaringan malware dibanding serangan per satuan.

Dalam laporan yang dipublikasikan 15 Maret, AV-Test menyebut 10 perusahaan penyedia antivirus terbaik yang mampu mendeteksi lebih 90 persen malware di platform Android.

Kesepuluh perusahaan itu adalah Avast, Dr. Web, F-Secure, Ikarus, Kaspersky, Lookout, McAfee, MYAndroid (MYMobile Security), NQ Mobile/NetQin, dan Zoner.

Sisanya, sebanyak 13 produk mampu mendeteksi 65 hingga 90 persen malware yaitu AegisLab, AVG Mobilation, Bitdefender, BullGuard, Comodo, ESET, Norton/Symantec, QuickHeal, Super Security, Total Defense, Trend Micro, Vipre/GFI, dan Webroot.

“Produk-produk itu (13 produk di atas) berpotensi menjadi produk terbaik. Mereka hanya gagal mendeteksi satu atau dua jaringa malware yang mungkin tidak bisa dicegah pada kondisi tertentu,” tulis AV-Test dalam laporannya.

Facebook dan Google Harus Sharing Income Dengan Operator Telekomunikasi Indonesia

Tahukah Anda, semakin banyak orang yang mengakses Facebook, Google, BlackBerry, Skype, atau Twitter, semakin besar beban jaringan perusahaan operator seluler.

Sementara penyedia konten yang menggunakan jaringan Internet, atau yang biasa disebut Over The Top (OTT) tadi, tidak berbagi keuntungan dengan operator seluler di negara tempat mereka diakses.

“Itu karena OTT biasanya menumpang di atas infrastruktur jaringan operator dengan biaya operasional serta belanja model (capex) yang sangat rendah,” kata Johnny Swandi Sjam, Ketua Komite Tetap Bidang Telekomunikasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin), dalam seminar “Resisting the Doomsday of Telco Players” di Jakarta, Rabu, 14 Maret 2012.

Menurut dia, sebagian kalangan meyakini layanan seperti Google, BlackBerry, Facebook, Skype, atau Twitter itu bakal semakin membebani jaringan operator di tahun-tahun mendatang jika masih mengandalkan jasa tradisional sebagai pengantar data.

Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika, Muhammad Budi Setyawan, menambahkan keadaan ini membuat OTT dan operator saling mengklaim hak mereka.

Operator menyalahkan OTT karena memberikan layanan secara gratis, sementara OTT menganggap pihaknya telah berkontribusi menarik pengguna layanan data bagi operator. “Solusinya adalah menerapkan interkoneksi antara operator dan OTT,” ujar Budi.

Menanggapi persoalan tersebut, tiga operator seluler di Indonesia–Telkomsel, XL, dan Indosat–mengakui hal ini tengah menjadi topik hangat di kalangan operator.

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah mengatakan selama ini OTT sering mengatasnamakan kepentingan penggunanya. “Padahal yang paling banyak diuntungkan adalah OTT,” ujarnya.

Hal senada dinyatakan Harry Sasongko, Direktur Utama Indosat. “Masalah ini muncul karena pusat gravitasi Internet ada di luar Indonesia,” ujarnya.

Berdasarkan analisis internal Indosat, ia menyebutkan situs yang paling mendatangkan trafik adalah situs dari luar negeri, seperti Facebook dan Google.

Hasnul Suhaimi, Direktur XL Axiata, memberikan contoh jenis kerja sama yang dijalani antara pihak operator dan OTT bisa berupa pembangunan infrastruktur secara bersama-sama, atau melalui online selling.

Adapun Google sebagai pihak OTT yang hadir dalam acara ini menyatakan keberatan.

“Bisnis Google bergantung pada pengiklan. Sementara itu kondisi periklanan online di Indonesia masih sangat kecil, sehingga biarpun diadakan pembagian pendapatan, saya kira ini tidak akan menyelesaikan persoalan yang dihadapi operator,” kata Michelle Guthrie, Managing Director Business Development Google untuk Asia Tenggara.

Menurut dia, yang bisa dilakukan Google adalah mengedukasi pasar dan memperdalam penetrasi penggunaan Internet di Indonesia. “Karena kami yakin Internet adalah kunci dari pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ujarnya.

Saling klaim antara OTT dan operator seluler juga menjadi isu hangat yang dibahas dalam acara Mobile World Congress di Barcelona, Spanyol, akhir Februari lalu.