Category Archives: Computer

Samsung Luncurkan Notebook Series 9 Tertipisnya Di Dunia di Jakarta

Samsung telah memasuki generasi kedua notebook tertipis di dunia. Pada Kamis (14/6), mereka meluncurkan notebook Series 9. yang menawarkan kerangka tertipis di dunia.

Melalui inovasi MaxScreen membuat layar selebar 14 inci, bisa ditempatkan pada casing 13 inci. Ini membuat notebook seberat 1,16 kg ini bisa 28 persen lebih kompak dibandingkan notebook 13 inci lainnya.

“Dengan kerangka 13 inci, para konsumen di Indonesia bisa dengan nyaman menikmati tampilan layar 14 inci,” kata Yoo Young Kim, Managing Director PT Samsung Electronics Indonesia dalam peluncuran Kamis ini.

Series 9 telah menggunakan prosesor generasi ketiga Intel Core i5 dengan memori 4 GB, dan storage berupa SSD 128 GB. Melalui fitur Fast Solution, notebook ini bisa hidup dalam waktu 9,8 detik (Fast Boot).

Sedangkan Fast Start membuat hidup dalam 1,4 detik. Selain itu dengan Fast Browsing mampu membuat layanan pencarian Web dua kali lebih cepat.

Notebook dengan sistem operasi Windows 7 ini menggunakan layar LCD SuperBright 400 nit, yang anti reflektif. Untuk mendukung mobilitas baterai tahan hingga 7,3 jam. Dengan demikian Tidak mengkhawatirkan jika dibawa bergerak dalam waktu lama.

Benchmark: Laptop AMD Trinity vs Intel Ivy Bridge

Nuansa persaingan di ranah komputer jinjing atau laptop semakin kental setelah AMD merilis prosesor mobile seri A-10 yang dikenal dengan kode nama “Trinity”.

Beberapa situs teknologi telah membandingkan prosesor untuk laptop tipis AMD “Ultrathin” ini dengan tawaran sejenis dari Intel, populer dipanggil “Ivy Bridge”, yang digunakan pada laptop tipis “Ultrabook”.

Seperti yang dilaporkan oleh PCWorld, hasil perbandingan kedua prosesor untuk laptop tipis itu ternyata cukup beragam.

Dari sisi kinerja keseluruhan, tampaknya Trinity belum bisa menyamai Ivy Bridge. Seperti bisa dilihat dari grafik di bawah yang diambil dari situs Anandtech.com, andalan AMD ini tertinggal cukup jauh, bahkan jika dibandingkan dengan jagoan Intel sebelumnya, “Sandy Bridge”.

Dalam grafik, tampak Ivy Bridge (Core i7-3720QM pada laptop Asus N56VM) memduduki posisi teratas. Meski demikian, Trinity masih lebih kencang dari pendahulunya, prosesor AMD seri A-8 yang dikenal dengan nama “Llano”.

Trinity bersinar ketika dipakai untuk main game. Dalam hal ini, GPU Radeon seri HD 7000 yang tertanam di dalamnya berhasil mengalahkan pemroses grafis Intel HD 4000 pada Ivy Bridge sehingga Trinity mampu menjalankan game dengan lebih mulus.

Secara keseluruhan Trinity lebih kencang sekitar 20 persen dibandingkan Ivy Bridge ketika dipakai bermain game, berdasarkan pengujian terhadap 15 judul game di atas.

Soal daya tahan baterai, menurut situs Anandtech, Trinity (A-10 4600M, Quad Core) sanggup bertahan selama hampir 7 jam ketika dipakai berselancar di internet.

Angka tersebut cukup bagus dan lebih baik dari pendahulunya, Llano, yang mencatat angka 6 jam, serta Ivy Bridge (Core i7-3720QM, Quad Core) yang membukukan 5 jam.

Jadi, mana yang lebih baik? Tergantung kebutuhan. Untuk mereka yang menginginkan kinerja maksimal, laptop tipis dengan prosesor Intel Corei7 (Ivy Bridge) tidak tertandingi.

Akan tetapi, bagi penggemar game atau mereka yang membutuhkan daya tahan baterai yang tinggi, laptop tipis dengan prosesor AMD seri A-10 (Trinity) bisa menjadi pilihan menarik.

AMD Luncurkan Prosesor Trinity Untuk Saingi Kehebatan Ivy Bridge Intel

Setelah sibuk dengan pengembangannya, AMD kini telah memiliki prosesor generasi kedua yang mengutamakan konsumsi daya rendah dan grafis terintegrasi yang bertenaga. Prosesor A-Series APU (accelerated processing unit, gabungan dari CPU dan pengolah grafis) berkode nama “Trinity” tersebut digadang-gadang menjadi lawan bagi prosesor seri “Ivy Bridge” dari Intel, rival utama AMD dalam industri mikroprosesor.

Seperti Ivy Bridge, Trinity memiliki hingga empat inti prosesor dan dilengkapi dengan unit pemroses grafis terintegrasi. Unit grafis Trinity menggunakan arsitektur Northern Islands yang juga diimplementasikan pada kartu grafis Radeon seri HD 6000 dari AMD. Berkat pemroses grafis terintegrasi itu, AMD mengklaim bahwa Trinity mampu memberikan pengalaman bermain game yang lebih baik pada pengguna.

“Trinity bisa memutar video HD 1080p, dan menjalankan game di angka 30 frame per detik,” ucap Sasa Markinkovic, kepala pemasaran produk desktop dan software AMD, seperti dikutip dari Cnet.

Angka 30 frame per detik adalah standar minimal agar game bisa dijalankan dengan mulus.”Ivy Bridge memang memberi kemajuan dalam hal olah grafis, tapi kinerjanya masih belum cukup untuk bermain game HD.” Adapun inti prosesor Trinity mengadopsi arsitektur “Piledriver” yang menggunakan teknologi penghematan daya bernama “resonant clock mesh technology”. Teknologi ini memungkinkan Trinity mendaur ulang sebagian energi listrik yang digunakannya selama beroperasi.

Hasilnya, konsumsi daya Trinity bisa ditekan hingga 17 watt, atau hanya setengah dari angka yang dicatat pendahulunya, Llano. Karena hemat daya, baterai laptop yang menggunakan prosesor inipun diklaim bisa bertahan sampai 12 jam. Rencananya, produk-produk komputer yang menggunakan prosesor ini akan mulai dipasarkan bulan Juni. Laptop super-tipis atau biasa disebut “ultrabook” memang menarik, tetapi juga cukup menguras kantong. Menanggapi hal tersebut, AMD mengambil langkah berbeda dengan menawarkan produk yang lebih murah dari kompetitor.

Seperti dilansir oleh Reuters, Chief Executive AMD Rory Read mengatakan bahwa Intel terlalu menganggap tinggi kesediaan konsumen untuk membayar mahal demi mendapat laptop kelas atas. AMD berencana untuk menjual laptop tipis yang menggunakan chip Trinity buatannya -yang disebut sebagai laptop “Ultrathin”- dengan harga kisaran US$ 600 atau sekitar 6 juta-an rupiah. Angka tersebut kurang lebih sama dengan harga laptop konvensional yang berukuran tebal, dan jauh lebih murah dibandingkan Ultrabook.

Meskipun memiliki beberapa kelebihan seperti prosesor yang bertenaga dan bentuk tipis, Laptop dari jenis “Ultrabook” yang dipromosikan oleh Intel dipatok dengan harga cukup tinggi, mencapai kisaran belasan juta rupiah.

“Ini adalah sebuah kesempatan untuk mengambil keuntungan dari peluang yang diciptakan oleh orang (kompetitor) lain,” ucap Read. Lebih jauh, Read mengatakan bahwa Intel mematok harga yang terlalu tinggi untuk bisa meraih angka 40% dari seluruh volume penjualan laptop, seperti yang ditargetkan oleh raksasa chip tersebut bagi ultrabook. “Peluang justru ada di pasar mainstream,” tandasnya.

Ultrabook adalah istilah yang digunakan Intel untuk menyebut jenis laptop super-tipis yang dilengkapi fitur-fitur kelas atas seperti cangkang berbahan metal dan Solid State Disk.

Kehebatan Prosesor Intel Ivy Bridge Dalam Notebook Ultrabook … Ada Juga Versi Celeronnya

Laptop tipis mungkin adalah kategori komputer mobile yang paling menarik karena ringan dan tidak memakan tempat. Selama beberapa waktu lalu, Intel menjadi satu-satunya produsen prosesor yang menyediakan platform laptop tipis bernama Ultrabook. Keadaan itu belakangan berubah dengan turut masuknya kompetitor ke segmen laptop tipis degan mengusung nama selain Ultrabook.

Menanggapi hal tersebut, Chief Representative Intel Indonesia, Santhosh Viswanathan mengatakan bahwa laptop tipis buatan Intel tetap lebih unggul dari pesaingnya. “Ultrabook tak sekadar tipis, banyak elemen-elemen lain dalam laptop tipis Intel yang tidak bisa ditiru oleh pesaing,” katanya. “Boleh-boleh saja mereka bisa bikin yang tipis, tapi (laptop tipis) punya kami bukan hanya tipis, tapi juga kencang.”

Salah satu keunggulan Ultrabook dibanding laptop tipis pesaingnya yang mendapat penekanan khusus dari Santhosh adalah kecepatan respon (responsiviness) yang dikatakan sangat cepat. Teknologi Rapid Start dan Smart Response pada Ultrabook diklaim memberikan waktu loading sistem operasi yang nyaris instan dari kondisi “Hibernate” dan meningkatkan performa sistem keseluruhan. “Ini hanya tersedia pada Ultrabook,” imbuhnya

Ultrabook berbasis prosesor “Ivy Bridge” juga dikatakan dibekali dengan kemampuan Smart Connect yang memungkinkan komputer tetap menerima e-mail walaupun sedang dalam modus “Hibernate”. Ketika ingin memakai komputer. “Jadi pengguna tak perlu menunggu e-mail masuk begitu ingin menggunakan komputer,” jelas Santhosh.

Soal harga, Intel mematok harga cukup tinggi untuk Ultrabook yang bisa mencapai kisaran belasan juta rupiah sehingga memunculkan celah untuk pesaing di segmen harga lebih rendah. Belakangan, raksasa chip ini juga dikabarkan berencana membuat Ultrabook dengan harga yang lebih bersahabat untuk konsumen. Selain pada Ultrabook, menurut Santhosh, di Indonesia Intel akan mendorong penggunaan prosesor Ivy Bridge untuk komputer desktop.

Varian quad-core Ivy Bridge disebutnya sudah bisa diperoleh pada akhir Mei, semenatara model dual-core akan menyusul “beberapa bulan kemudian”, kemungkinan pada bulan Juni tahun ini.Meski tipis dan ringan, laptop jenis “Ultrabook” masih belum terlalu diminati karena harganya kelewat mahal untuk kantong konsumen, terutama di Indonesia.

Namun, hal itu akan segera berubah karena Ultrabook versi murah sedang disiapkan. Intel, raksasa mikrochip yang gencar mempromosikan Ultrabook, akan meluncurkan prosesor Celeron Ultra-Low-Voltage (ULV) tipe 877 dan 807 yang masing-masing dihargai 86 dan 70 dollar Amerika. Jauh lebih murah dibandingkan prosesor Core i7-3720QM seharga 378 dolar yang digunakan oleh Ultrabook kelas atas.

Prosesor Intel Celeron 807 menggunakan satu inti yang bekerja pada kecepatan 1,5 GHz, sementara Celeron 877 adalah prosesor berinti ganda (dual-core) berkecepatan 1,4 GHz. Embel-embel “ULV” pada kedua prosesor baru tersebut mengacu pada konsumsi daya rendah yang disebut hanya sebesar 17 watt. Keduanya memiliki basis arsitektur “Sandy Bridge” dan dibuat dengan proses fabrikasi 32 nm.

Dengan prosesor-prosesor murah ini, para produsen pun bisa menekan harga Ultrabook hingga 700 dollar AS atau sekitar Rp 6,5 juta saat produk laptop dengan dua prosesor tersebut dijadwalkan meluncur pertama kali pada kuartal ketiga tahun ini. Pada akhir 2012 atau awal 2013, kisaran harganya bisa mencapai 600 dollar AS atau sekitar Rp 5,5 juta.

Lebih jauh, Intel juga dikabarkan sedang mendorong penggunaan baterai jenis baru untuk Ultrabook demi menekan harga. Salah satunya adalah baterai prismatic lithium-ion yang berbentuk tipis dan sudah digunakan oleh Lenovo dalam jumlah terbatas di Ultrabook IdeaPad 530 miliknya. Di segmen laptop murah, Intel menghadapi persaingan dari AMD yang mengusung prosesor seri A-10 “Trinity” lewat laptop tipis “Ultrathin”. Laptop Ultrathin disebut-sebut akan dijual dengan harga kisaran 600 dolar Amerika.

Para produsen komputer dikabarkan bakal ramai-ramai memamerkan Ultrabook dengan prosesor Intel Ivy Bridge di ajang pameran produk elektronik Computex 2012, di Taiwan, awal Juni 2012. Kabar ini datang dari situs teknologi asal Taiwan, Digitimes, yang mendapat informasi dari sumber yang ikut menyelenggarakan Computex.

Disebutkan, Ultrabook pertama dengan prosesor Intel Ivy Bridge akan muncul setelah Intel mulai mengirimkan prosesor generasi ketiga itu satu bulan sebelumnya. Intel memang menjanjikan pengapalan massal Ivy Bridge akan dimulai pada kuartal kedua 2012. Kabarnya, prosesor Ivy Bridge dengan model Core i5 akan segera diadopsi oleh dua produsen asal Taiwan, yakni Acer dan Asus.

Intel Ivy Bridge dengan proses produksi 22 nano meter (nm) ini akan menggantikan prosesor Intel dengan nama kode Sandy Bridge. Grafis pada prosesor ini juga ditingkatkan, serta mendukung Microsoft DirectX 11. Intel mengklaim, performa Ivy Bridge lebih cepat 20% ketimbang Sandy Bridge, sedangkan performa grafisnya lebih cepat 60%.

Selain Intel, Microsoft juga diprediksi akan membahas rincian lebih lanjut seputar sistem operasi Windows 8 di Computex. Besar harapan pula, Microsoft akan menjelaskan tentang Windows 8 untuk perangkat tablet dengan prosesor berarsitektur ARM. Computex 2012 akan menjadi tempat 1.800 peserta memamerkan produk terbaik mereka di 5.400 gerai yang disediakan. Pameran komputer terbesar di Asia itu akan diselenggarakan pada 5-9 Juni 2012.

Review dan Spesifikasi Dell XPS 13 Ultrabook Kaum Profesional

Dell, perusahaan teknologi komputer yang bermarkas di Texas, Amerika Serikat, akhirnya turut menyemarakkan pasar ultrabook di Indonesia.

Sebelumnya, pasar laptop supertipis ini diisi enam vendor yang mayoritas dari Asia, yakni Acer, ASUS, Lenovo, Toshiba, Samsung, dan Hewlett-Packard.

Meskipun datang terlambat, Dell optimistis mampu bersaing. Apalagi Dell XPS 13 memiliki segudang keunggulan, yakni dari segi desain maupun performa.

“Lebih baik terlambat daripada tidak masuk sama sekali,” kata Ferdinand Himawan, Sales Director Commercial Business Dell Indonesia, dalam acara peluncuran Dell XPS 13 di Jakarta, Jumat, 13 April lalu.

Dell memang tak mau terburu-buru untuk bermain di pasar ultrabook. Sebab, mereka ingin melihat terlebih dulu apa yang ditawarkan kompetitor.

Strategi memantau pasar ini membuat Dell berharap mampu mengisi berbagai kekurangan yang ada pada ultrabook lain.

Selain itu, kata Ferdinand, Dell tak melihat penguasaan pangsa pasar menjadi sebuah prioritas, melainkan profitable target yang lebih diutamakan.

“Kalau pangsa pasar besar, tapi tak menghasilkan keuntungan percuma,” kata Ferdinand. Karena itu, Dell selalu menghadirkan produk berkualitas.

Dell melihat adanya permintaan kuat dari konsumen maupun kalangan bisnis terhadap XPS 13. “Ini adalah the ultimate mobile device,” kata Pieter Lydian, Managing Director Dell Indonesia.

Ada tiga faktor utama yang menjadi pertimbangan Dell dalam menghadirkan sebuah ultrabook, yakni desain, mobilitas, dan performa.

Desain

Tampilan fisik Dell XPS 13 berbeda dibanding ultrabook lain. Meskipun layarnya 13 inci, bodi XPS 13 seperti laptop 11 inci. Lebih mungil.

Rahasianya, XPS 13 mengadopsi konsep edge-to-edge dengan razor-thin bezel, yakni tepian layar tipis sehingga layar 13 inci masuk di casing 11 inci.

Tempo sempat memegang dan merasakan body XPS 13 yang dibalut bahan aluminium. Terasa kokoh. Sudutnya berbentuk kurva dan terkesan elegan.

Sedangkan penampang bawah terbuat dari serat karbon. Bahan ini biasa digunakan di mobil balap Formula 1 dan pesawat antariksa. Kuat dan ringan.

“Fiber carbon membuat ultrabook tak cepat panas ketika dipangku meski dipakai lama,” kata Felix Ignasius Tanumihardja, Consumer Brand Manager Dell Indonesia.

Agar tampilan XPS 13 tak terlihat “kotor”, Dell tak memasang stiker yang tak perlu di bagian bawah. Ini membuat kesan minimalis dan elegan terjaga.

Ketika penutup dibuka, deretan chiclet keyboard terhampar. Bentuknya sedikit melengkung dengan aksen menonjol dan jarak antar-tuts cukup lebar.

Yang menarik, keyboard ini berjenis backlit alias menyala saat digunakan dalam gelap. Ini yang tak ada di ultrabook sejenis lainnya.

Keunggulan lain adalah digunakannya Corning Gorilla Glass untuk menutupi layar 13 inci. Biasanya lapisan kaca ini hanya dipakai di ponsel cerdas.

“Ponsel memakai Gorilla Glass yang antigores karena sering keluar-masuk kantong. XPS 13 memakainya karena selain kuat juga ringan,” ucap Felix.

Dell XPS 13 tergolong tipis. Tebalnya hanya 18 milimeter di bagian belakang dan 6 milimeter di bagian depan atau bagian tertipis.

Mobilitas

Penggunaan bahan ringan dan kuat bukan tanpa alasan. Sebab, Dell XPS 13 dibuat untuk kaum profesional dengan tingkat mobilitas tinggi.

Itu sebabnya, penggunaan Gorilla Glass, bahan serat karbon, dan aluminium membuat XPS 13 ringan dan nyaman dijinjing. Bobotnya hanya 1,36 kilogram.

Empat ikon Dell, chef Bara Pattiradjawane, artis Pevita Pearce, desainer Leonard Theosabrata, dan presenter Indy Barends yang hadir dalam acara tersebut mengaku XPS 13 adalah ultrabook yang menunjang karier mereka.

“Karena profesi kami sangat mobile, Dell XPS 13 sangat membantu. Ada ribuan resep yang saya taruh di ultrabook ini,” kata Pattiradjawane.

Performa

Dari segi performa, Dell XPS 13 bisa diandalkan untuk teman bekerja maupun hiburan. Pevita, misalnya, terkesan dengan layar high definition 720p.

“Saya dapat menikmati film-film kesukaan di ultrabook ini. Gambarnya sangat tajam dan cerah,” ucap Pevita.

Dell XPS 13 menggunakan teknologi Intel Smart Connect, yakni konten selalu terbaru, seperti e-mail, layaknya push e-mail di Microsoft Outlook, dan update aplikasi, seperti RSS Feed, bila ada koneksi Wi-Fi.

Yang paling menarik, kombinasi antara solid state drive dan teknologi Intel Rapid Start membuat proses booting dari kondisi sleep hanya 1 detik.

Ya, hanya 1 detik untuk kembali menyala. Ultrabook sejenis paling cepat adalah 2 detik. “Apa rahasianya, itu adalah rahasia kami,” kata Felix.

Di bagian dalam, Dell membenamkan prosesor Intel generasi kedua Core i5 2467M. Platform yang digunakan adalah Windows 7 Profesional.

Kapasitas RAM mencapai 4GB dengan solid state drive 256 GB. Video grafis Intel HD 3000. Kamera 1,3 MP dilengkapi dengan dual array digital microphones.

Untuk konektivitas, Dell XPS 13 cukup komplet. Di sisi kanan ada tombol mini display port, USB 3.0, USB 2.0, serta tombol indikator untuk baterai. Di sisi kiri ada colokan charger, USB, dan earphone. Tombol start ada di samping keyboard di ujung kiri atas.

Dari sisi audio, Dell XPS 13 sudah dilengkapi dengan audio definisi tinggi. Dell menyematkan teknologi Waves MaxxAudio 4 di laptop supertipis ini.

Layanan

Dell memanjakan para pemilik Dell komputer, termasuk XPS 13, dengan terobosan purnajual, yakni adanya layanan Onsite Home Support.

Layanan ini gratis. Dell akan mengusahakan servis selesai dalam satu hari pengerjaan di tempat.

“Tak hanya di rumah, tapi bisa juga di kantor, mal, kampus, atau di mana saja, asalkan sudah membuat janji terlebih dulu,” ujar Ferdinand.

Untuk garansi, Dell juga membuat gebrakan. Jika biasanya garansi hanya bisa dilakukan di tempat servis, Dell memberi kemudahan perpanjangan via website.

Caranya, cukup membeli kartu garansi dan masukan kode yang ada di kartu tersebut ke situs resmi Dell. Otomatis masa garansi langsung bertambah.

SPESIFIKASI
- Prosesor Intel Core i5 2467M
- Microsoft Windows 7 Profesional asli
- Layar 13,3 inci HD WLED, 300 nit (1.366 x 768) 720p, edge-to-edge hardened Corning Gorilla Glass
- Kapasitas simpan 256 GB SSD drive dengan teknologi Intel Rapid Start
- Memori 4 GB DDR3 SDRAM, 1.333 Mhz
- Video grafis Intel HD 3000
- Ukuran penuh, backlit chiclet keyboard
- Webcam 1,3 MP (H.264 enable via Skype) dengan dual array digital microphones
- Bodi berlapis aluminium dengan dasar carbon fiber
- Glass integrated button touch-pad dengan dukungan multi-gesture
- Intel Centrino Advanced-N 6230 802.11 a/g/n dan konektivitas nirkabel Bluetooh 3.0
- USB 3.0 (1) + USB 2.0 dengan PowerShare, mini DisplayPort, dan headset jack
- Audio definisi tinggi dengan Waves MaxxAudio 4
- Baterai 47WHr 6-cell bertahan hingga 8 jam, 53 menit; 45 W AC adapter
- Dimensi 6 mm bagian paling tipis, 18 mm paling tebal
- Bobot 1,36 kilogram
- Harga mulai US$ 1.599 (Rp 14,5 juta)

Fitur Business-Friendly Dell XPS 13

- Dell ProSupport. Untuk pelanggan Dell Business serta IT profesional dengan dukungan teknis on-site dan remote untuk perangkat keras dan lunak.

- Trusted Pltaform Module. Menawarkan pengguna dan keamanan sistem dengan BitLocker Data Encryption untuk komputasi klien berbasis jaringan.

- Configuration Services. Meliputi modifikasi pengaturan BIOS, image loading, dan menerapkan asset tags sebelum ekspedisi.

Cara Membeli Laptop Baru Agar Nilai Jualnya Nanti Tetap Tinggi

BANYAK ragam dan jenis, tipe serta merek yang ditawarkan oleh produsen laptop dengan berbagai fitur-fitur yang menarik, oleh sebab itu kita harus cermat memilih laptop sesuai dengan kebutuhan kita mengingat laptop bukanlah barang yang murah. Berikut beberapa hal atau tips yang harus diperhatikan ketika hendak membeli sebuah laptop.

1. Pilih laptop yang bermerek, artinya merek laptop yang sudah terkenal, sudah teruji kualitasnya. Hal ini juga manjadi referensi karena biasanya merek identik dengan kualitas yang ditawarkan.

2. Mencari referensi harga, hal ini dapat dilakukan dengan cara browsing atau website toko yang menyediakan situs untuk layanan online dalam menentukan harga, fungsinya untuk menyesuaikan dengan dana dan kebutuhan laptop yang diinginkan. Selain itu sebagai tolak ukur saat membeli laptop.

3. Tentukan fungsinya, nanti akan anda gunakan untuk apa. Apa untuk mengajar, untuk bermain game, membuat program atau mendesain, untuk keperluan kantor, atau untuk browsing dan chatting.

4. Jika laptop hanya digunakan untuk penunjang sarana mengajar seperti hanya untuk pengetikan, pengolahan data, office program yaitu word, powerpoint, presentasi dan lain-lain, maka sebaiknya laptop memiliki prosessor intel celeron dan RAM 128 MB keduanya sudah dapat memadai aktivitas tersebut.

5. Jika anda seorang programmer, desain grafis atau gamers sejati yang harus diperlukan laptop yang menitikberatkan pada kartu VGA dan memori yang handal. Gunakan laptop dengan kemampuan lebih tinggi dapat memilih dengan teknologi multi core dan berarsitektur 64 bit.

6. Laptop hanya untuk dibawa berpergian, kegiatan mobile, melakukan aktivitas sehari-hari seperti kegiatan browsing, chatting, sebaiknya lebih memilih laptop para perangkat yang mampu bertahan lama seperti pada umur baterai, beban berat laptop, ukuran layar, dan fitur internal koneksi seperti modem, bluetooth, kabel data, WiFi serta webcam.

7. Pertimbangkan daya jual kembalinya, artinya jika laptop ingin dijual kembali yang perlu diperhatikan yaitu layanan garansi, tempat service resmi, dan kemudahan memperoleh spare part sehingga mudah mendapatkannya apabila terjadi kerusakan pada laptop kita. Dengan memilih laptop merk terkenal harga jualnya pun akan tetap tinggi.

Google Akan Buka Toko Online Khusus Tablet

Google Inc berencana untuk membuka sebuah toko online untuk menjual tablet PC langsung kepada konsumen. Demikian laporan di The Wall Street Journal pada Kamis.

Toko online akan menawarkan tablet yang dibuat oleh Samsung Electronics Co dan Asustek Computer Inc berbasis perangkat lunak Android, menurut laporan, yang mengutip sumber anonim. Google menolak memberikan komentar.

Google secara singkat sukses menjual smartphone Android yang didesain khusus – Nexus One – langsung ke konsumen pada tahun 2010. Namun toko itu ditutup setelah beroperasi selama empat bulan, dengan alasan tidak sesuai harapan.

Google sekarang bergantung pada mitra ritel dan operator untuk menjual smartphone Android yang dibuat oleh berbagai produsen handset. Android telah menjadi nomor satu dalam sistem operasi untuk smartphone, menyusul iPhone buatan Apple Inc. Namun Apple masih mendominasi pasar untuk layar sentuh komputer tablet dengan iPad sebagai andalannya.

Google berancang-ancang untuk melakukan co-branding dengan beberapa merek tablet untuk dijual di toko mereka. Dengan begitu, mereka akan bisa menyajikan harga yang kompetitif, paling tidak dibanding Kindle Fire yang saat ini dipasarkan hanya seharga USD 199 saja.

Dua Produk Komputer Unggulan Populer Selama Mega Bazzar Komputer 2012

Mega Bazaar Computer dan pameran lainnya di Indonesia kerap dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk baru.

Hanya saja, biasanya produk yang diperkenalkan adalah produk baru untuk pasar Indonesia. Nyaris tidak pernah produk yang diperkenalkan adalah yang pertama di dunia.

Ini berbeda dengan ajang pameran internasional seperti Consumer Electric Show (CES) di Las Vegas, Mobile World Congress (MWC) di Barcelona atau bahkan CommunicAsia di Singapura.

Penyelenggara pun berharap nantinya ajang pameran di Indonesia bisa menjadi ajang pamer teknologi dan produk terbaru.

“Kami berharap dengan tingginya animo masyarakat pada pameran komputer di Indonesia bisa mendorong para vendor internasional untuk meluncurkan produk terbaru mereka di pameran IT di Indonesia,” kata Bambang Setiawan, Chief Operational Officer Dyandra Promosindo.

Bambang menambahkan tantangannya memang dibutuhkan dukungan dari banyak pihak, termasuk pemerintah. Sebab, dalam pemasaran produk IT, Indonesia termasuk pasar yang menjanjikan di Asia, selain China dan India.

Saat ini ada tiga pameran besar teknologi di Indonesia. Mega Bazaar Computer, Festival Komputer Indonesia / Indonesia Cellular Show dan IndoComTech.

Mencuri Perhatian

Sejauh ini, ada dua produk yang cukup menarik perhatian setelah dua hari penyelenggaraan Mega Bazaar Computer 2012. Kedua produk berikut hanya contoh dari berbagai produk yang diperkenalkan banyak vendor di ajang tahunan ini.

Ultrabook Hewlett-Packard (HP) seri Folio 13 boleh disebut salah satu primadona di ajang MBC 2012. HP Folio 13 mempunyai berat 1,5 kilogram dan tebal 0,75 inchi.

Jeroannya prosesor Intel Core i5 dan kecepatan 1,6 GHz, memori RAM DDR3 4GB, SSD 128 GB, grafis Intel integrated HD 3000 dengan layar ukuran 13 inchi dan USB 3.0.

Sementara SpeedUp Pad Ice, keluaran MLW Telecom menjadi primadona yang lain. Tablet berbasis Android 4.0 Ice Cream Sandwich (ICS) ini merupakan besutan perusahaan lokal yang bekerjasama dengan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom).

Pad Ice ditunjang dengan berbagai fitur seperti A-GPS Technology, multi tasking homescreen, ultra sensitive touch screen, serta warna putih dan ukuran layar 7 inch.

Dengan harga Rp 1,3 juta, SpeedUp Pad Ice sudah termasuk paket bundling Speedy 512 Kbps selama 3 bulan.

Ultrabook Ternyata Tidak Laku Di Indonesia

Tahun 2012 disebut-sebut sebagai tahunnya Ultrabook. Namun analisis tersebut nampaknya belum terasa di Indonesia.

Pada pameran Mega Bazaar Computer 2012 di JCC Senayan, pada 29 Februari hingga 4 Maret mendatang, ultrabook belum menjadi favorit dan yang dicari para pengunjung.

Tak hanya itu, produsen komputer yang telah meluncurkan ultrabook di Indonesia, nampak setengah hati mengenalkan si komputer jinjing yang ringan, tipis, namun bertenaga.

Dari enam produsen komputer yang telah meluncurkan Ultrabook di Indonesia, hanya empat vendor Ultrabook yang mengikuti pameran ini.

Berikut tipe, spesifikasi dan harga ultrabook yang ditawarkan para produsen.

HP
HP Folio 13 (dari harga Rp 11 juta, diskon menjadi Rp 10.100.000)
Spesifikasi: Intel Core i5-2467M 1,6GHz, RAM 4GB, SSD 128GB, Intel HD Graphic 3000, layar 13,3 inci, backlit keyboard, OS Windows 7 Home Premium

Samsung
Samsung Series 5 Ultra (Rp 8.499.000)
Spesifikasi: Intel Core i5-2467M 1,6GHz, RAM 4GB, HDD 500GB+SSD 16GB, Intel HD Graphic 3000, layar 13,3 inci, OS Windows 7 Home Premium

Samsung Series 9 (Rp 14.799.000 dengan cash back Rp 1 juta)
Spesifikasi: Intel Core i5-2537M 1,4GHz , RAM 4GB, SSD 128GB, Intel HD Graphic 3000, layar 13,3 inci, OS Windows 7 Home Premium

Toshiba
Toshiba Portege Z830 (Rp 13 juta)
Spesifikasi: Intel Core i5-2467M 1,6GHz, RAM 4GB, SSD 128GB, Intel HD Graphic 3000, layar 13,3 inci, OS Windows 7 Home Premium

Toshiba Satellite U840 (Rp 10.500.000)
Spesifikasi: Intel Core i5-2467M 1,6GHz, RAM up to 8GB, HDD 320GB+SSD 16GB, Intel HD Graphic 3000, layar 14 inci, OS Windows 7 Home Premium

Asus
Asus Zenbook UX21 (Rp 10.300.000)
Spesifikasi: Intel Core i5-2467M 1,6GHz, RAM 4GB, SSD 128GB, Intel HD Graphic 3000, layar 11,6 inci, OS Windows 7 Home Premium

Asus Zenbook UX31 (Rp 11.300.000)
Spesifikasi: Intel Core i5-2557M 1,7GHz, RAM 4GB, SSD 128GB, Intel HD Graphic 3000, layar 13,3 inci, OS Windows 7 Home Premium

Sayangnya, Acer dan Lenovo tidak ikut dalam pameran ini. Namun, untuk ultrabook dari Acer, bisa didapat di booth Pazia.

Acer Aspire S3 (Rp 8.199.000)
Spesifikasi: Intel Core i5-2467M 1,6GHz, RAM 4GB, HDD 500GB, Intel HD Graphic 3000, layar 13,3 inci, OS Windows 7 Home Premium

Komputer Jinjing Super Tipis Dominasi Mega Bazaar Computer 2012

Komputer jinjing tipis sepertinya kian diminati oleh masyarakat. Hal ini yang kemudian dijadikan pedoman oleh beberapa produsen komputer jinjing. Setelah netbook dengan ukuran yang relatif kecil, kini produsen komputer jinjing mulai mendorong penjualan ultrabook yang memiliki ketipisan tidak lebih dari 18,5 milimeter.

Chyntia, Marketing Lead PT Hawlett Packard Indonesia menjelaskan, perusahaannya saat ini mengandalkan ultrabook keluarannya yang dinamai HP Folio. Selain ketipisannya, ultrabook tersebut juga memiliki kapasitas penyimpanan hingga 128 gigabyte (Gb) dengan ketahanan baterai hingga 9 jam lebih.

Namun, pengenalan peluncuran ultrabook tersebut, tidak langsung membuat HP meninggalkan produk netbooknya yang dilabeli HP Mini. Menurutnya, pasar Indonesia masih sangat potensial untuk memasarkan netbook yang memiliki kelebihan harga relatif lebih murah.

“Pasar netbook tidak akan kita tinggalkan, karena memang pasarnya masih bagus untuk Indonesia. Kebanyakan pasar Indonesia mencari computer jinjing dengan harga US$300-US$500, dan itu dijangkau dengan netbook,” katanya disela-sela Mega Bazar Computer 2012 di Jakarta, Rabu (29/2).

Selama ini, menurutnya, HP telah menguasai 20% pasar netbook di Indonesia dan 39% pasar notebook dengan prosesor Core I 3. Jumlah tersebut menurutnya masih akan bertambah, mengingat daya beli masyarakat Indonesia yang ada saat ini.

Bahkan, Chyntia menargetkan mampu menjual 4.500 unit produknya dan diperkirakan 40% diantaranya adalah netbook selama bazar yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center (JCC) selama lima hari tersebut.

Senada disampaikan Yuanita Agata, Marketing Communication Ast. Manager Samsung Electronics Indonesia. Dia mengungkapkan, saat ini Samsung mulai menawarkan ultrabook sebagai produk andalannya.

“Kita sekarang menawarkan ultrabook yang juga merupakan produk pertama yang dikeluarkan Samsung. Ini memiliki kelebihan disamping ketipisannya juga daya tahan baterainya yang cukup lama,” jelasnya.

Sayangnya, Yuanita enggan menanggapi pasar netbook yang ada saat ini. Namun, dia memastikan, masih akan tetap memasarkan netbook Samsung, meskipun saat ini harganya tidak terlalu jauh dengan notebook dengan spesifikasi yang lebih unggul.

Sementara itu, Mirna Gozal, Public relation Manager Dyandra Promosindo menargetkan, pagelaran bazar saat ini dapat meraup Rp 650 miliar. Jumlah tersebut lebih tinggi dari pendapatan yang diperoleh tahun lalu, yakni sebesar Rp 615 miliar.

“Pendapatan terbesar, kami harapkan bisa didapatkan pada penyelenggaraan di Jakarta. Kami menargetkan bisa memperoleh Rp 600 juta dari bazaar di Jakarta ini. Memang Jakarta juga merupakan pasar terbesar untuk industri komputer saat ini,” jelasnya.