Category Archives: Aplikasi Office

Inilah Tampilan Terbaru Microsoft Office 15

Tahun 2012 ini, Microsoft telah menjanjikan akan merilis software perkantoran dan bisnis Microsoft Office generasi terbaru. Adalah Office 15 yang siap melanjutkan tongkat estafet Office versi sebelumnya, Office 2012.

Saat ini Office 15 masih dalam tahap pengembangan dan sepertinya Microsoft akan segera merilis versi beta tak lama lagi, bisa jadi berbarengan dengan versi beta Windows 8.

Pada Kamis (9/2/2012), Microsoft membocorkan tampilan antarmuka Office 15 yang nampak lebih simpel dan bersih dibandingkan versi pendahulunya. Perusahaan software raksasa ini memperlihatkan tampilan Office 15 untuk Word, Excel, PowerPoint dan OneNote dalam sebuah video yang dipublikasi oleh situs teknologi The Verge.

Pada screenshot di bawah ini, Anda dapat melihat bagaimana Microsoft memasukkan lebih banyak ruang putih, dan menggunakan lebih sedikit baris agar penggunanya dapat lebih fokus pada konten.

Ribbon (pita) pada gambar-gambar di atas sedang tidak diaktifkan. Microsoft masih menyembunyikan desain Ribbon pada Office 15.

Jelas terlihat, ada indikasi bahwa tampilan Office 15 disesuaikan dengan tampilan Metro yang kelak akan digunakan pada sistem operasi (OS) terbaru Microsoft, Windows 8.

Dan tidak menutup kemungkinan pula, Microsoft tengah menyiapkan Office 15 agar bisa digunakan untuk perangkat tablet bersistem operasi Windows 8.

Fujitsu Rambah Pasar Cloud Untuk SAP Di Indonesia

Perusahaan penyedia solusi bisnis, teknologi informasi, dan komunikasi, Fujitsu, memfokuskan layanannya pada bisnis komputasi awan untuk pasar Indonesia tahun 2012.

“Perekomian Indonesia sedang tumbuh dan komputasi awan bisa menjadi model bisnis yang bagus,” kata Kepala Eksekutif Fujitsu ASEAN Lawrence Wee ketika mengikuti media gathering Fujitsu di Yogyakarta pada Jumat (2/12).

Lawrence mengatakan solusi komputasi awan masih menjadi fokus utama Fujitsu tahun depan dan untuk memenangkan pasar, Fujitsu akan menciptakan diferensiasi penawaran Fujitsu Cloud dan memperluas basis penggunanya yaitu penawaran Fujitsu Global Cloud Platform, Fujitsu Local Cloud Platform, dan Fujitsu Cloud Professional Services.

Ketiga solusi itu disediakan untuk mewujudkan definisi komputasi awan yaitu teknologi atau proses bisnis yang diwujudkan sebagai sebuah layanan secara elastis dan memiliki skalabilitas dan membayar sesuai pemakaian.

“Kami menawarkan pilihan komputasi awan yang cocok dengan pelanggan dan mendorong pelanggan untuk memaksimalkan nilai bisnisnya,” kata Presiden Direktur Fujitsu Indonesia Achmad S Sofwan.

Solusi Fujitsu Global Cloud Platform adalah standar global Fujitsu untuk layanan infrastruktur berupa sumber daya tervirtualisasi yang menyediakan lingkungan platform virtualisasi bagi pelanggan. Solusi itu disediakan di enam negara yaitu Singapura, Jepang, Australia, Amerika Serikat, Jerman dan Inggris.

“Manfaatnya, pelanggan tidak perlu memerlukan belanja modal TI karena pelanggan akan ditagih berdasarkan penggunaan mereka,” kata Achmad.

Fujitsu Local Cloud Platform yaitu layanan Iaas untuk solusi SAP. Fujitsu mengambil alih semua sumber daya untuk menjalankan aplikasi SAP. Fujitsu SAP IaaS mencakup seluruh aspek manajemen lingkungan SAP mulai administrasi infrastruktur, pemeliharaan dan pemasangan patch, back up & recovery data dan sistem, pemulihan bencana, manajemen insiden, dan perencanaan kapasitas.

“Melalui layanan ini pelanggan bisa menghemat biaya 30 persen atau lebih,” katanya.

Terakhir, Fujitsu Cloud Professional Services adalah sebuah layanan yang membantu oraganisasi memanfaatkan komputasu awan dengan menyediakan roadmap adopsi komputasi awan. Untuk menyukseskan komputasi awan di Indonesia, Fujitsu mengalokasikan lebih dari 5.000 staf secara global.

Panduan Langkah Demi Langkah Cara Membuat Cloud Computing Sendiri Di Rumah

Komputasi awan sudah tidak asing lagi di kalangan perusahaan. Baik perusahaan besar maupun kecil, sudah mulai menggunakan teknologi ini untuk solusi penyimpanan data mereka. Bagaimana kalau komputasi awan menjadi kebutuhan individu?

Tidak ada bedanya kok. Baik untuk perusahaan maupun pribadi, salah satu masalah yang masih menjadi perhatian adalah privacy dan keamanan saat data-data harus ditaruh di cloud. Dan untuk mewujudkannya bukan hal yang sulit.

Menjawab hal tersebut, Western Digital (WD) memperkenalkan aplikasi WD 2go Pro dan mobile WD 2go dalam satu paket bernama My Book Live. Drive ini merupakan penyimpanan awan pribadi (personal cloud) untuk memudahkan pengguna memiliki komputasi awan pribadi dengan server yang berada di rumah masing-masing.

“Anda tidak perlu lagi berlangganan cloud kepada orang lain, karena My Book Live bisa membantu Anda membangun cloud sendiri di rumah, sekaligus bisa mengaksesnya di mana saja dari perangkat bergerak anda,” ujar Jim Welsh, Executive Vice President dan General Manager, branded product and consumer electronics group WD, dalam media briefing di Jakarta, Kamis (29/9/2011) lalu.

Jim memeragakan bagaimana mudahnya menginstal drive My Book Live di perangkat Personal Computer (PC) di rumah dan membuatnya terhubung dengan perangkat bergerak. Dalam bundling drive My Book Live terdapat CD untuk menginstal software. Setelah software terinstal dengan benar di PC rumah, akan muncul menu setting komputasi untuk dibangun sendiri oleh pengguna. Lisensi berlaku seumur hidup kecuali software mengalami kerusakan total sehingga tak bisa digunakan lagi.

“Anda bisa langsung mengunduh semua file penting anda, mulai dari dokumen, gambar, video, seperti yang biasa anda lakukan pada social media, blog atau youtube. Semua file yang anda unduh akan tersimpan dalam folder pribadi anda, untuk sewaktu-waktu dibuka dan dibagikan kepada orang lain,” jelas Jim.

Pengguna juga bisa membuat daftar nama-nama orang yang diizinkan mengakses data-data tersebut. Semua nama yang didaftarkan, akan memiliki kode untuk bisa log in ke sistem komputasi awan yang telah dibangun. Setting bisa dibuat menjadi dua jenis, yakni baca saja atau baca dan tulis. Artinya, ada orang lain yang hanya Anda izinkan untuk membaca dan ada yang diizinkan untuk membaca dan menulis sekaligus.

Setelah setting untuk komputer rumah selesai dan data-data diunduh, anda bisa mengakses data-data anda secara streaming melalui perangkat bergerak seperti ponsel pintar maupun tablet. Caranya dengan mendaftarkan perangkat anda ke sistem komputasi yang anda miliki di rumah. Sistem akan mengeluarkan nomor kode untuk perangkat bergerak anda.

Anda bisa membuka alamat web www.WD2go.com dari perangkat bergerak anda lalu masukkan kode yang tertera di komputer ke dalam perangkat bergerak. Setelah log in, maka perangkat bergerak anda akan muncul di komputer. Hal ini bisa diulangi untuk perangkat bergerak yang lain, karena masing-maisng memiliki kode yang berbeda. Namun, setting tidak bisa digunakan untuk dua perangkat yang sama. Misal,anda punya dua tablet, maka yang bisa dihubungkan dengan komputer rumah hanya satu tablet saja.

Produk My Book Live 2go Pro tersedia dalam kapasitas 1 Tera Byte (TB), 2 TB, dan 3 TB untuk komputer dan tablet dengan sistem operasi Windows XP, Windows Vista, Windows 7, Mac OS X Leopard, Snow Leoprad, atau Lion, dan perangkat yang diaktifkan DLNA atau UPnP. Namun untuk ponsel, selain iPhone (iOS), My Book Live 2go hanya mendukung sistem operasi Android. Semua ponsel iPhone dan Android bisa terhubung dengan komputasi awan pribadi anda di rumah. Anda bisa mendaftarkan perangkat bergerak milik keluarga maupun teman dekat yang anda inginkan.

Perangkat My Book Live tersedia di reseller WD terseleksi di Indonesia mulai November 2011 dengan harga retail yang disarankan adalah 149 dollar AS untuk 1 TB, 175 dollar AS untuk 2 TB, dan 225 dollar AS untuk 3 TB.

LG Tawarkan AC yang Dapat Sekaligus Membunuh Nyamuk Deman Berdarah dan Hemat Listrik

Untuk meningkatkan pangsa pasar AC (penyejuk ruangan) tahun ini, LG Electronics Indonesia (LGEI) meluncurkan produk baru yang diberi nama Terminator Inverter. Produk ini diklaim mampu membunuh nyamuk Aedes Aegypti (demam berdarah) yang membawa virus Dengue, yang berbahaya bagi manusia.

Tak hanya itu, AC Terminator Inverter tersebut juga memiliki teknologi pemangkas daya listrik menjadi lebih hemat. “Produk kami sekarang ini mengikuti tren,” ungkap Head of Residential AC LGEI Andry Siswandi, Selasa (9/8).

Sebelumnya, LG sudah memiliki produk AC yang bisa membunuh nyamuk, tetapi belum dilengkapi dengan teknologi pemangkas daya listrik. “Produk ini menjadi satu-satunya yang bisa membunuh nyamuk sekaligus bisa memangkas daya listrik,” terang Andry.

Dia menjelaskan, AC ini memiliki teknologi yang memungkinkan sistem penggunaan daya listrik yang rendah. Saat teknologi inverter aktif, maka penyejuk ruangan akan bereaksi dengan daya listrik maksimum. Setelah suhu tercapai maka AC beroperasi menggunakan daya listrik minimum. “Teknologi ini memungkinkan hemat listrik hingga 60% dari AC biasa,” katanya.

Sedangkan teknologi yang bisa membunuh nyamuk Aedes Aegpyti itu dengan menggunakan gelombang ultrasonik 30 kHz-100 KHz yang mengganggu fungsi antena nyamuk sebagai indera penerima rangsang. Nyamuk yang berada di dalam ruangan itu akan tidak nyaman lantaran terganggunya keseimbangan. “Dalam enam hingga tujuh jam nyamuk itu akan mati,” ujar Andry.
Menurut Andry, penggunaan teknologi yang ada pada Terminator Inverter itu tidak berbahaya bagi manusia. Penggabungan teknologi AC itu diyakini akan mendongkrak penjualan AC LG di semester II. Selain itu, kehadiran AC ini diharapkan bisa mengurangi populasi nyamuk. Produk ini dibanderol harga Rp 3,7 juta per unit (1 PK) dan Rp 4,6 juta (1,5 PK). Pada Semester kedua ini, Andry berharap bisa menjual 20.000 unit dengan segmen kalangan menengah atas.

Tayangan Informasi Digital Dengan Proyektor Portable Isi Ulang

Ketika informasi dalam bentuk digital dikemas dalam berbagai bentuk, dari teks, audio, hingga video, pilihan untuk menampilkan beragam informasi ini tersedia dalam format, model, dan harga yang berbeda-beda. Menyajikan informasi menjadi persoalan di tengah maraknya lalu lintas informasi digital dalam era jejaring sosial.

Kehadiran berbagai bentuk komputer dari notebook, netbook, dan tablet adalah pengejawantahan yang memberikan kita pilihan untuk mengakses informasi di mana saja dan kapan saja. Harga yang terjangkau menjadikan semua perangkat teknologi ini menjadi produk seperti memiliki jam tangan, kalung, gelang, dan sebagainya.

Persoalan yang muncul adalah ketika informasi yang diserap pada perangkat- perangkat tersebut ingin dibagi ke orang lain dalam jumlah kuang dari sepuluh orang. Menggunakan netbook atau komputer tablet seperti iPad akan menjadi persoalan sendiri karena keterbatasan bidang yang bisa dilihat oleh orang-orang tersebut.

Menggunakan proyektor menjadi tidak nyaman karena dimensi perangkat ini tidak sesuai untuk membagi informasi pada kelompok kecil orang. Selain itu, persiapan penggunaan proyektor juga terlalu memakan waktu.

Proyektor ideal

Karena berbagai alasan di atas, kehadiran teknologi pico sebagai proyektor saku dianggap oleh kalangan industri dan bisnis teknologi komunikasi informasi sebagai pilihan perantara untuk mengisi celah dalam berbagai informasi pada khalayak dengan jumlah kurang dari 15 orang.

Awalnya, persoalan muncul ketika lumens yang disajikan dalam teknologi proyektor pico ini terlalu rendah, menyebabkan pencahayaan yang tidak memadai untuk menyerap beragam informasi tersebut. Teknologi ini pun diperbarui oleh Optoma Corporation dengan memperkenalkan proyektor saku PK301 menggunakan cip tayangan digital light processing (DLP) buatan Texas Instrument dengan resolusi 854 x 480 piksel.

Optoma PK301 memiliki kemampuan pencahayaan yang lebih baik sampai 50 lumens pada penggunaan tenaga listrik dan 20 lumens ketika mengandalkan baterai isi ulang. Ukurannya dalam dimensi 120,1 x 69,8 x 29,7 mm dengan berat 227 gram, menjadikan proyektor saku ini ideal sebagai perangkat untuk berbagi informasi dalam forum yang lebih kecil.

Dengan rasio kontras 2000:1, Optoma PK301 ideal untuk menampilkan informasi sampai ukuran layar 136 inci (diagonal 345,44 cm), menjadi tayangan foto digital ataupun presentasi Powerpoint menjadi lebih menarik. Salah satu keunggulan produk ini adalah memiliki rongga Micro SD yang mampu menampung dan membaca informasi lebih banyak sampai dengan 32GB.

Produk ini juga memiliki pilihan koneksi yang beragam, mulai dari rongga HDMI Mini, Component, VGA, ataupun Composite untuk menyalurkan data audio dan video. Sebagai proyektor pico dengan ukuran dan berat yang sesuai untuk mereka yang memiliki mobilitas tinggi, pilihan koneksi ini menjadi penting sehingga sumber informasi yang ingin ditayangkan bisa diambil dari berbagai sumber.

Kendala yang dimiliki adalah pilihan format video Optoma PK301 ini hanya terbatas pada file dengan ekstensi .mp4, dan akan menjadi persoalan tidak bisa ditayangkan langsung tanpa melakukan konversi. Terlepas dari masalah ini, proyektor pico memang menjadi bagian penting dari perkembangan derasnya informasi digital sekarang ini.

Samsung Galaxy Tab Laris Manis Mengalahkan Apple iPad Yang Buruk Rupa

iPad semakin ketar-ketir lantaran Samsung Galaxy Tab telah laku terjualnya di pasaran sebanyak 600.000 unit secara global. Korea Herald merilis, Samsung mengklaim telah menjual 600.000 unit galaxy Tab dan bakal melesat maju ke angka satu juta.

“Kami yakin tablet PC akan meraih porsi yang lebih besar lagi di pasar tahun depan,” ucap Shin Jong-kyun, head of Samsung Mobile division, Selasa (23/11/2010). “Tak perlu lama-lama, Galaxy Tab akan terjual satu juta unit sebelum tahun 2011,” kata Shin.

Di Indonesia, Samsung Galaxy Tab sendiri baru meluncur sekitar pertengahan Oktober lalu. Tablet PC Android berukuran 7-inci TFT-LCD dengan prosesor Cortex A8 1,2GHz itu dipatok dengan harga Rp7 jutaan.

Samsung juga menjalin kerja sama dengan PT Indosat. Selama periode peluncurannya, Galaxy Tab dikemas dengan potongan khusus 50 persen untuk unlimited broadband selama enam bulan.

Jika disandingkan dengan iPad, Galaxy Tab memang masih di belakang. Dalam tiga bulan, tablet Apple itu berhasil mengapalkan tiga juta unit, sementara Galaxy Tab baru 600 ribu unit sejak diluncurkan bulan Oktober silam.

Konsumen Indonesia Sudah Sadar Pentingnya Software Asli Original

Berdasarkan hasil penelitian Microsoft bersama lembaga penelitian TNS, konsumen Indonesia lebih memilih menggunakan piranti lunak asli, kata Microsoft dalam siaran persnya, Jumat.

Penelitian terhadap konsumen di 20 negara, termasuk negara-negara kawasan Asia Pasifik seperti Indonesia, Cina, Jepang, India, Australia dan Korea Selatan. Sementara negara-negara lainnya adalah Amerika Serikat, Kanada, Brasil, Argentina, Meksiko, Inggris, Jerman, Spanyol, Rusia, Polandia, Turki, Italia, dan Belanda.

Hasil penelitian itu mengungkapkan, konsumen di Indonesia setuju bahwa software bajakan dapat menyebabkan risiko saat digunakan dengan perbandingan 2:1. Sebanyak 53% responden pernah mengalami kehilangan data dan pencurian identitas sebagai akibat terparah dari penggunaan software bajakan.

Lebih dari 80% responden dari Indonesia mengungkapkan bahwa mereka lebih memilih menggunakan software asli dan sebagian dari mereka akan merekomendasikan kepada rekan-rekannya untuk menggunakan software asli.

“Kurangnya pengetahuan mengenai software asli menyebabkan saya menderita kerugian. Saya membeli sebuah software yang saya pikir merupakan software asli. Saat baru di-install ke komputer, semuanya berjalan dengan baik. Namun sebulan kemudian, validasinya selalu gagal.

Saya dimintai kunci validasi yang baru. Saat itulah saya baru menyadari bahwa software yang saya beli adalah software bajakan. Syukurlah data-data saya tidak hilang,” kata Budi Susanto dari Bintara, Bekasi.

Siaran pers hasil penelitian ini diumumkan terkait dengan Consumer Action Day yang dilakukan oleh Microsoft.

Peluncuran inisiatif pendidikan dan tindakan penegakan hukum di lebih dari 70 negara secara bersamaan, termasuk Indonesia yang bertujuan membantu melindungi konsumen dan meningkatkan kesadaran mereka tentang risiko sebenarnya dari perangkat lunak tanpa lisensi.

“Konsumen terus mendesak kami untuk memperkuat upaya penegakan hukum terhadap pembajakan software di seluruh dunia. Dengan semakin meningkatnya kemampuan para pelaku pembajakan software, khususnya dalam metode pemalsuan software yang menyebabkan semakin besarnya resiko yang harus dihadapi konsumer,” kata Jonathan Selvasegaram, Regional Attorney, Microsoft.

Sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi pembajakan software, Microsoft telah melakukan 20 tindakan hukum baru. Mereka melakukan sekitar 1.000 inspeksi mendadak di 5 kota termasuk Jakarta, Bandung, Medan, Makassar dan Surabaya. Inspeksi itu ditujukan pada dealer-dealer komputer yang ditemukan menjual komputer baru yang di-instal dengan software bajakan atau palsu.

Lebih dari 7 dealer komputer baru-baru ini telah menyetujui untuk mempublikasikan ikrar dukungan atas kesalahan yang mereka lakukan. Tindakan tegas juga akan diperluas untuk toko-toko yang tidak menjual komputer tetapi memberikan layanan instalasi software bajakan.

Bukan hanya penjual software dan hardware yang harus bertanggung jawab dalam mengurangi risiko dari software palsu. Peran aktif konsumen juga dibutuhkan untuk mendukung inisiatif ini.

Membeli dengan cara yang pintar bisa dilakukan dengan membeli dari penjual dengan reputasi baik, menggunakan akal sehat ketika membandingkan harga dan mempertimbangkan apa yang akan dibeli, dan bekerjasama dengan Microsoft ketika memiliki pertanyaan atau kecurigaan apakah software yang dibeli tersebut palsu atau tidak.

“Harga adalah perbedaan yang paling mencolok untuk membandingkan software asli dan palsu. Saya sangat memperhatikan harga jual ketika membeli software. Saya juga membelinya dari penjual yang terpercaya untuk menghindari penipuan,” Rudi Djaja dari Gunung Putri, Bogor menjelaskan.

Untuk menghentikan pemalsuan software, Microsoft memfokuskan diri dengan apa yang disebut “tiga E”–Education, Engineering dan Enforcement. Microsoft melakukan investasi yang signifikan setiap tahunnya di bidang sumber daya edukasional untuk membantu konsumen melindungi dirinya sendiri, teknologi baru yang membuat pemalsuan software semakin sulit untuk dilakukan, dan mendukung pemerintah menjalankan hukum yang berlaku untuk melawan pemalsuan software.

Dengan mengeluarkan data baru sehubungan dengan Consumer Action Day tahunan, Microsoft bekerja untuk menyorot upaya yang mendunia ini. Sebagai bagian dari Consumer Action Day tahun ini, perusahaan ini juga menunjuk dengan seksama sumber edukasional yang bisa membantu konsumer agar tetap aman menggunakan software asli, yang bisa ditemukan secara online di http://www.microsoft.com/presspass/presskits/antipiracy/materials.aspx.

Microsoft juga merekomendasikan konsumer untuk memeriksa apakah software mereka lolos Windows validation test ketika mereka membeli software secara online, di toko atau pre-loaded sejak membeli komputer.

Informasi lebih lanjut mengenai produk Microsoft asli, proses lisensi dan label yang tersedia di http://www.howtotell.com.

Setiap tahun, microsoft mengadakan Consumer Action Day untuk menekankan masalah pemalsuan software di seluruh dunia.

Penelitian itu dilakukan pertengahan tahun ini, dan melibatkan lebih dari 38.000 laki-laki dan perempuan di 20 negara.

Hasil survei bisa dilihat di http://www.microsoft.com/presspass/presskits/antipiracy/materials.aspx.

Microsoft Diam-diam Merazia Software Bajakan

Microsoft terus menggiatkan upaya perang terhadap software bajakan di Indonesia. Kali ini, mystery shopper jadi pilihan jalan.Teknis pelaksanaannya mirip razia secara tersembunyi.

Perwakilan Microsoft menyamar menjadi calon pembeli PC dan berkunjung ke dealer komputer secara acak di pusat-pusat perdagangan komputer. Sejumlah investigator swasta yang didampingi teknisi-teknisi software lalu akan melakukan verifikasi terhadap komputer yang dijual dengan sofware asli dan berlisensi.

Jika ternyata ditemukan dealer yang menjual komputer baru yang mengandung software bajakan, investigator yang menyamar sebagai mystery shopper tersebut akan melayangkan surat peringatan (legal letter). Surat itu dapat menjadi rujukan polisi dan Tim Hukum Microsoft untuk mengambil tindakan hukum.

Kalau enggan berurusan dengan pihak berwajib, dealer komputer dengan software bajakan yang tertangkap diharapkan mau memublikasikan permohonan maaf kepada masyarakat melalui media massa. Sebagai bagian dari proses penyelesaian, mereka juga harus berjanji untuk menjual PC dengan hanya software asli dan membayar kompensasi untuk biaya hukum.

Inisiatif Microsoft diharapkan dapat memberi dukungan kepada dealer-dealer komputer jujur yang saat ini telah menjual komputer yang di-install dengan hanya software asli. Berdasarkan survei investigator di kota-kota seperti Jakarta, Bandung, Medan, Makassar, dan Surabaya, jumlah dealer-dealer jujur mencapai 60%.

“Inisiatif ini berkesan sangat keras. Namun, mohon pahami alasan kami harus melakukannya,” ujar Jonathan Selvasegaram, Regional Attorney yang mewakili Tim Hukum Microsoft di Singapura.

Menurut Jonathan, tahun ini Microsoft menerima 369 keluhan dari konsumen. Mereka melaporkan masalah dengan komputernya yang dibenamkan software bajakan. Para dealer jujur yang selama ini selalu membenamkan software asli juga mengeluh bahwa mereka tidak bisa bersaing dengan dealer yang menjual software bajakan. Jika Microsoft tidak melakukan inisiatif, konsumen akan menanggung akibatnya serta dealer-dealer jujur pun terancam bangkrut.

Dalam mystery shopping di pertokoan Mangga Dua – Jakarta baru-baru ini, Microsoft menemukan 12 dealer jujur. Kedua belas dealer yang kemudian diberi penghargaan.

Software Pengubah Huruf Latin Menjadi Braille Ditemukan Peneliti Universitas Bina Nusantara

MLM for The Blind dirancang bagi penyandang tunanetra oleh para peneliti Universitas Bina Nusantara, Jakarta. Alatnya ringan dijinjing dengan kemampuan sulih huruf Latin ke huruf braille dengan keistimewaan sumber referensinya bisa ribuan judul buku dari e-book.

MLM singkatan dari my learning module. MLM for The Blind adalah mesin atau alat baca bagi para penyandang kebutuhan khusus mata kurang awas.

Mesin berbobot tidak lebih dari 3 kilogram itu hasil pengembangan teknologi informatika sebelumnya. Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Bina Nusantara Sablin Yusuf, Kamis (14/10), mengatakan, ”Pada tahun 2004 telah diciptakan peranti lunak komputer untuk pencetakan dengan huruf braille.”

Menurut Sablin, saat itu para perisetnya bekerja sama dengan Yayasan Mitra Netra. Yayasan itu memiliki printer khusus dengan huruf braille.

Mesin pencetak braille tergolong langka di pasaran. Waktu itu teknologinya tidak dilengkapi dengan software (peranti lunak) yang mudah diaplikasikan.

”Kami berhasil mengembangkan peranti lunak untuk pencetakan braille dengan mesin cetak tersebut,” kata Sablin.

Pencetakan teks braille memakan tempat. Dari satu halaman artikel dengan huruf Latin, jika disulih dengan huruf braille akan memakan kertas dengan ukuran yang sama minimal tiga halaman.

Kertas untuk teks braille juga harus relatif lebih tebal. Ini supaya bolong-bolong kertasnya (sesuai karakter braille) mudah diraba ketika dibaca serta lebih awet.

Teks braille memang menjadikan boros kertas. Pemikiran ini mendasari pengembangan MLM for The Blind.

Pada 2008 mulailah dikembangkan rekayasa MLM for The Blind ini dan diselesaikan pada 2009. Pada tahun yang sama, MLM for The Blind sempat diikutkan ke dalam kompetisi Indonesia Information and Communication Technology Award (INAICTA) dan menjadi juara ketiga.

Berikutnya, pada tahun yang sama diikutkan pada kompetisi yang berskala lebih tinggi, yaitu Asia Pasific Information and Communication Technology Alliance Award (APICTA) di Melbourne, Australia, dan mampu menyabet juara kedua.

”Sekarang pemerintah memberi hibah Rp 19.750.000 untuk mengurus paten teknologi ini,” kata Ketua Jurusan Sistem Komputer pada Fakultas Ilmu Komputer Universitas Bina Nusantara Wiedjaja Atmadja.

Wiedjaja mengatakan, MLM for The Blind harus dimanfaatkan perpustakaan-perpustakaan besar. Museum-museum tentu pula membutuhkan teknologi ini untuk meningkatkan akses layanan informasi bagi para tunanetra.

Lebih kentara

Membandingkan antara teks braille pada kertas dan huruf braille pada MLM for The Blind jelas berbeda. Pada MLM for The Blind jauh lebih kentara.

Titik-titik simpul membentuk huruf braille pada MLM for The Blind menyembul pada panelnya. Sembulan titik-titiknya kuat menonjol sehingga mudah teraba.

Panel khusus itu disebut braille display yang tersusun dari sel-sel braille dan idealnya berisi 40 sel huruf braille dalam satu deret. Namun, dengan 20 sel braille juga sudah mencukupi.

Koordinator Laboratorium Hardware Fakultas Ilmu Komputer Universitas Bina Nusantara Rico Wijaya menjelaskan, MLM for The Blind menggunakan sumber listrik baterai 6 kali 1,5 Volt. Tenaga listrik ini untuk menjalankan controller saat membaca data e-book (buku virtual atau buku digital).

Data e-book disimpan ke dalam kartu memori tipe MMC atau SD dengan daya tampung maksimal 2 gigabit.

”Memori 2 megabit bisa menampung lebih dari 1.000 judul buku digital,” kata Wiedjaja.

Controller menjadi komputer mikro bagi MLM for The Blind. Controller memiliki cip yang menyimpan mekanisme kerja komputer berukuran mini. Sebelum cip itu ditanam, dimasukkan terlebih dahulu peranti lunak penyulih huruf Latin menjadi huruf braille dengan salah satu bahasa pemrograman komputer, yaitu Bahasa C.

Bahasa C, menurut Wiedjaja, tergolong paling populer. Dengan bahasa komputer ini disusun sistem perintah pengubahan huruf Latin menjadi huruf braille.

Tingkat terendah

Rico mengatakan, penggunaan huruf braille memiliki tingkatan. Setidaknya, dibagi menjadi tingkatan terendah (0), sedang (1), dan paling atas (2).

”Rancangan MLM for The Blind saat ini masih pada tingkatan terendah atau nol,” kata Rico.

Tingkat terendah itu dengan kemampuan mengeja kata dengan satu per satu huruf. Satu kata dengan empat huruf, misalnya, akan dieja menjadi empat huruf braille.

Pada tingkatan berikutnya, penyulihan kata dengan suatu singkatan atau simbol tertentu. Satu kata dengan empat huruf, misalnya, dapat dinyatakan hanya dengan satu atau dua huruf braille saja.

Seperti ketika orang menuliskan kata ”yang”, bisa cukup ditulis dengan ”yg”. Pada tingkatan berikutnya, memungkinkan kata-kata kunci dapat disulih ke dalam huruf braille lebih singkat.

”Pengembangan itu membantu untuk membaca cepat dengan huruf braille,” kata Rico.

Rico mengatakan, pembuatan MLM for The Blind skala laboratorium sekarang ini masih relatif mahal. Harga paling mahal pada komponen sel braille.

Menurut Rico, satu sel braille mencapai Rp 700.000. Padahal, untuk satu perangkat MLM for The Blind dibutuhkan antara 20 dan 40 sel braille.

Komponen lain berupa sistem controller dan kartu memori. Hitungan biaya untuk membuat satu MLM for The Blind antara Rp 25 juta dan Rp 30 juta.

Menurut Wiedjaja, jika diproduksi secara massal, seharusnya jauh lebih murah. Pemerintah pun sudah mendorong melalui pemberian insentif untuk pengurusan paten sehingga diharapkan industri mau meliriknya.

”Sekarang baru diajukan perolehan patennya. Diambil tipe hak paten sederhana karena temuan teknologi ini merupakan perakitan komponen-komponen yang telah ada di pasaran,” kata Wiedjaja.

Sumbangan karya para peneliti di Universitas Bina Nusantara ini memiliki kontribusi besar bagi para penyandang tunanetra. Inovasi teknologi yang jelas-jelas dibutuhkan ini menjadi ujian baru bagi industri untuk berani memproduksinya secara massal.

Aplikasi Software Indonesia Mampu Untuk Bersaing Di Kancah Internasional

Peranti lunak pendidikan sains buatan Indonesia yang dikembangkan PT Pesona Edukasi terpilih sebagai finalis di salah satu kategori penghargaan bergengsi dunia untuk produk digital teknologi informasi dan komunikasi bidang pendidikan. Software pendidikan sains Indonesia ini akan bersaing dengan produk dari negara-negara lain dalam ajang penghargaan BETT Awards 2011 di London, Inggris, yang diumumkan awal tahun depan.

”Penghargaan BETT Awards ini prestisius di kalangan internasional untuk TIK pendidikan. Software Indonesia bisa terpilih sebagai finalis, itu merupakan pengakuan yang luar biasa,” kata Bambang Juwono, Managing Director PT Pesona Edukasi, di Jakarta, Kamis (21/10).

PT Pesona Edukasi atau di dunia internasional dikenal sebagai AmazingEdu membuat peranti lunak (software) animasi untuk pendidikan Fisika dan Matematika yang sesuai dengan kurikulum sejak tahun 1986. Software yang sudah dibuat versi Inggrisnya itu telah diekspor ke-23 negara.

Hary Candra, Marketing Director PT Pesona Edukasi, mengatakan, sebenarnya Indonesia sudah mencoba ikut BETT Awards tahun 2008, tetapi gagal diproses sebagai finalis. Ketika perusahaan ini memiliki distributor di Belanda, sebagai pintu masuk ke pasar Eropa, dan dikembangkan secara online, perusahaan anak bangsa ini percaya diri untuk ikut berkompetisi di ajang bergengsi dunia tersebut.

Software pendidikan Indonesia itu masuk sebagai finalis di kategori Secondary, FE & Skills Digital Content. Produk yang bisa ikut, antara lain, harus memenuhi syarat sesuai kurikulum, aksesibel, menjadikan belajar efektif, inovatif, serta bisa diterapkan guru dan siswa.

Pada tahun lalu, di ajang pameran teknologi pendidikan terbesar di dunia itu hadir hampir 30.000 pengunjung. Ada lebih dari 600 perusahaan yang ikut dalam pameran tersebut