Category Archives: Aplikasi Internet

Ranking Indonesia Dalam Hal Kecepatan Internet

Berapa kecepatan koneksi internet broadband yang dinikmati penduduk Indonesia? Angkanya bisa dilacak di laporan terbaru dari Akamai State of the Internet Report, analisis koneksi internet berbagai negara menurut riset perusahaan teknologi Akamai. Dalam peta koneksi interaktif Akamai, kecepatan internet paling cepat di Indonesia pada kuartal 1 2014 up to 2,37 Mbps. Dibandingkan dengan Korea Selatan atau Jepang yang menduduki posisi pertama dan kedua memang masih terpaut sangat jauh.

Tapi di wilayah Asia Tenggara masih terhitung lumayan. Dengan kecepatan koneksi paling cepat 2,37 Mbps, Indonesia mengungguli Filipina yang rata-rata hanya (2,07 Mbps), Laos (1,5 Mbps), Vietnam (1,95 Mbps), Myanmar (2,03 Mbps), ataupun Kamboja (2,13 Mbps).

Negara Asia Tenggara yang mengungguli Indonesia misalnya Malaysia (3,52 Mbps), dan Thailand (5,14 Mbps). Akamai sendiri menyatakan pertumbuhan kecepatan internet dunia memang menunjukkan tren bagus alias terus meningkat dari tahun ke tahun. “Meski masih ada yang harus ditingkatkan di beberapa negara, tren yang kami lihat tetap sangat positif,” kata David Belson, editor Akamai yang dikutip dari PCMag, Jumat (27/6/2014).

Koneksi internet rata-rata dunia semakin cepat. Hal itu terungkap dalam penelitian terbaru dari perusahaan teknologi Akamai yang menganalisis kecepatan internet di tiap negara. Lalu, negara mana yang koneksinya paling ngebut?

Menurut Akamai, pada kuartal I 2014, rata rata koneksi internet di dunia adalah 3,9 Mbps, naik 1,8% dari tahun sebelumnya. Bahkan Akamai memperkirakan pada kuartal depan, kecepatannya akan tembus 4 Mbps. “Meski masih ada yang harus ditingkatkan di beberapa negara, tren yang kami lihat tetaplah sangat positif,” kata David Belson, editor Akamai yang dikutip dari PCMag, Jumat (27/6/2014).

Berada di posisi pertama negara dengan koneksi internet broadband tercepat adalah Korea Selatan, dengan kecepatan rata-rata 23,6 Mbps. Negeri Ginseng ini memang menjadi langganan soal internet paling ngebut. Menguntit di posisi kedua adalah Jepang dengan koneksi rata-rata 14,6 Mbps. Diikuti berturut turut di posisi 10 besar oleh Hong Kong, Swiss, Belanda, Latvia, Swedia, Republik Ceko, Finlandia dan Irlandia.

Perkembangan positif kecepatan internet ini akan memungkinkan layanan baru seperti konten masa depan dan video 4K diimplementasikan. “Pertumbuhan dari tahun ke tahun mengindikasikan fondasi global yang kuat sedang dibangun untuk menikmati konten masa depan dan layanan seperti video 4K,” tambah Belson.

Mahasiswa ITS Kenalkan E-Vote Berbasis Android

Mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Institut Teknologi Sepuluh Nopember (PENS-ITS) memperkenalkan E-Vote, sistem pemilihan yang memanfaatkan perangkat mobile berbasis Android.

Mahasiswa bernama Raizal Islami Nursyah Pregnanta itu mengatakan program ini menggunakan konsep Just Touch yang merupakan pengembangan sistem sebelumnya. “Kalau konsep sebelumnya menggunakan Just Click, inovasi sekarang menjadi Just Touch,” kata mahasiswa semester awal ini.

Dalam rilis yang diterima, Rabu, 21 Mei 2014, E-Vote konsep Just Click sudah pernah digunakan dalam pemilihan Ketua dan Wakil Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika PENS-ITS tahun lalu. Karena bersifat pengembangan, pengerjaan program ini pun hanya butuh waktu 1,5 bulan.

Secara teknis, sistem dan alur pemilihan E-Vote Just Click dan Just Touch hampir sama. Untuk teknis daftar pemilih tetap, Raizal menggunakan sistem verifikasi ganda. Ia memakai database yang ada pada himpunan mahasiswa kemudian dicocokkan dengan database dari PENS. Ini agar kesalahan nama, NRP, dan data lainnya bisa diminimalkan sehingga diperoleh data yang valid.

Menurut Raizal, program ini mengunakan tiga status pemilih, yaitu belum memilih, sudah memilih, dan batal memilih. Dikatakan batal memilih jika pemilih melewati batas waktu pemilihan yang diberikan selama berada di dalam bilik dan dapat memilih kembali sebanyak tiga kali.

Sedangkan sistem pemilihan terdiri dari tiga program utama, yaitu registrasi awal, program bilik, dan registrasi akhir. Di bilik, pemilih diberi waktu tiga menit untuk menentukan pilihannya. “Setelah itu, pemilih melakukan registrasi akhir sebagai tanda dia sudah menggunakan hak pilihnya,” ujarnya.

Para pemilih hanya perlu memasukkan username dan password yang sebelumnya sudah teregistrasi secara manual melalui komputer terpisah.

Password eBay Kembali Di Retas Hacker

Basis data atau database pada situs penjualan online terbesar eBay dilaporkan mengalami peretasan, Rabu, 21 Mei 2014. Menyikapi hal tersebut, perusahaan meminta seluruh pengguna untuk mengubah password mereka di situs tersebut terkait serangan cyber pada sistem terenkripsi dan data non-finansial.

“Kami tahu pelanggan kami mempercayakan eBay dengan informasi mereka. Kami menanggap itu komitmen dalam menjadikan eBay sebagai pasar global yang aman dan terpecaya,” kata eBay dalam pernyataan, seperti dilaporkan Sidney Morning Herald, Kamis, 22 Mei 2014.

Di dalam database ini terdapat berbagai informasi personal pelanggan, seperti password, e-mail, alamat fisik, nomor telepon, dan tanggal lahir. Berdasarkan data perusahaan, eBay telah memiliki 145 juta pelanggan aktif pada kuartal pertama.

Seorang direktur keamanan produk di Shape Security di Montain View, California, Michael Coates, menjelaskan jika tidak dibenahi dengan cepat, para peretas akan dengan mudah mengambil alih rekening di seluruh web dari username dan password pengguna.

Di lain pihak, eBay melaporkan belum mendeteksi adanya kegiatan yang janggal atau tidak sah dalam akses informasi keuangan. Namun, penyedilikan sedang berlangsung dengan bantuan penegak hukum.

Facebook Akuisisi Slingshot Untuk Saingi SnapChat

Facebook memang gagal mengakuisisi aplikasi pesan singkat Snapchat beberapa waktu lalu. Namun, kegagalan itu ternyata mendorong perusahaan untuk membuat aplikasi chatting dan berbagi foto serta video sendiri bernama Slingshot.

Menurut laporan dari Financial Times, Mark Zuckerberg secara pribadi terjun langsung dalam pengembangan aplikasi ini. Diperkirakan Slingshot akan siap dirilis bulan ini.

“Facebook telah mengerjakan aplikasi video-chatting ini selama beberapa bulan. Slingshot memungkinkan pengguna mengirim pesan video singkat,” kata seorang karyawan Facebook, seperti dilaporkan CNET, Ahad, 18 Mei 2014.

Namun, ketika ditanyakan fitur apa saja yang disajikan di Slingshot, karyawan Facebook itu menolak untuk berkomentar.

Aplikasi Slingshot ini memang dirancang untuk menyaingi Snapchat yang telah memiliki 400 juta pengguna dalam waktu dua tahun. Sejauh ini pengguna Snapchat terus berkembang dan populer di kalangan remaja.

Facebook memang pernah berencana membeli Snapchat pada akhir tahun lalu dengan nilai penawaran US$ 3 miliar. Namun, pendiri Snapchat, Evan Spiegel dan Bobby Murphy, menolak tawaran Zuckerberg. Padahal, nilai akuisisi itu tiga kali lipat dari penawaran Zuckerberg kepada Instagram pada 2012 lalu.

2015 Mayoritas Perusahaan Indonesia Akan Gunakan Cloud Computing

Teknologi berbasis komputasi awan atau cloud diprediksi mengalami pertumbuhan yang pesat di Indonesia. Data SAP, sebagai penyedia solusi teknologi informasi memprediksi pada 2015, 75 persen perusahaan di Indonesia akan mengadopsi teknologi tersebut.

“Saat ini cloud tidak hanya diminati oleh perusahaan besar, tetapi juga perusahaan menengah di Indonesia,” ujar Managing Director PT SAP Indonesia, Megawati Khie, di Jakarta, Rabu, 14 Mei 2014.

Dia mengatakan, komputasi awan diminati karena konsepnya yang sederhana, yakni membagi kapasitas dan aplikasi dengan memanfaatkan internet sebagai medium utama. Aplikasi dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Bahkan Megawati mengatakan, salah satu mitra SAP di Indonesia, yakni sebuah bank, memanfaatkan aplikasi berbasis komputasi awan tidak hanya untuk kepentingan di divisi teknologi informasi. Bank tersebut mengembangkan aplikasi yang dapat diakses oleh setiap karyawan untuk mengetahui pencapaian perusahaan.

Selain sifatnya yang diklaim sederhana, komputasi awan juga dapat menghemat anggaran perusahaan. Sebabnya, dana yang dikeluarkan perusahaan tergantung dari seberapa besar kapasitas penyimpanan yang dibutuhkan. “Kalau membeli server, sudah ada harga patokannya,” ucap Megawati.

Meski diklaim memberikan kemudahan, komputasi awan juga memiliki kelemahan. “Menggunakan cloud sangat bergantung dari koneksi Internet,” ujar Transition Management Assistant PT Lintasarta, yang juga pakar teknologi informasi, Denny Sugiri.

Dia menyoroti perkembangan infrastruktur penunjang koneksi Internet di Indonesia. Denny menyebutkan, penggunaan komputasi awan akan optimal di jaringan dengan kecepatan tinggi, yakni 4G long term evolution (LTE). “Padahal 3G saja di Indonesia belum merata, pemanfaatan cloud secara optimal masih membutuhkan waktu,” ucapnya.

Cara Menggunakan Layanan Cloud Computing Bagi Pebisnis

Aplikasi penyimpanan berbasis komputasi awan atau cloud, kini kian digemari. Tidak hanya menyasar perusahaan, adopsinya juga dihadirkan lewat aplikasi bagi konsumen perorangan, antara lain iCloud, OneDrive, Google Drive, dan Dropbox.

Komputasi awan digemari karena pengguna tidak perlu menyimpan data di perangkat khusus, seperti flash disk atau hard disk. Meskipun praktis, ada hal yang perlu Anda perhatikan sebelum menggunakan aplikasi komputasi awan.

“Pengguna harus memperhatikan seperti apa pengelolaan data penyedia cloud,” ujar Transition Management Assistant PT Linatsarta, yang juga pakar teknologi informasi, Denny Sugiri, di Jakarta, Rabu, 14 Mei 2014.

Pengelolaan yang dia maksud, yakni apakah penyedia membagi datanya pada pihak ketiga atau tidak. Denny menyebutkan, penyedia seperti Google, membagi data pengguna ke pihak ketiga untuk beragam kepentingan. Data digunakan untuk melihat kebiasaan pengguna, yang nantinya berhubungan dengan pengiklan.

Denny mengatakan, jika calon pengguna tidak yakin dengan pengelolaan data, sebaiknya mencari alternatif penyedia lain.”Data yang dibagi ke pihak lain tentu saja berisiko mengalami banyak hal, salah satunya peretasan,” kata dia.

Jika sudah yakin dengan aplikasi yang dipilih, Anda disarankan untuk mengganti password secara berkala. Denny mengatakan, umumnya pengguna malas menghapal password. Sebaiknya, pengguna juga tidak mengabaikan permintaan pergantian password oleh penyedia layanan.

Penyedia solusi teknologi informasi, SAP memprediksi sebanyak 75 persen perusahaan di Indonesia bakal mengadopsi komputasi awan pada 2015. Komputasi awan yang tadinya digunakan oleh perusahaan besar, kini mulai dilirik oleh perusahaan berskala menengah dan kecil. Perusahaan asal Jerman ini juga memprediksi, pertumbuhan pasar komputasi awan di Tanah Air mencapai US$ 120 juta atau Rp 1,37 triliun pada 2017.

UC Browser Asal China Rambah Indonesia

Peramban asal Cina, UC Browser, berencana untuk memperbesar pangsa pasar di Indonesia. Ini untuk memaksimalkan bisnis perusahaan di tengah berkembangnya jumlah pengguna gadget di Tanah Air. Saat ini, menurut perusahaan itu, peramban UC Browser berada di peringkat ketiga di belakang peramban populer Opera dan peramban utama Android. “Tujuan kami adalah bekerja sama dengan penyedia layanan internet lokal dengan konten lokal,” kata salah satu perwakilan perusahaan.

Perusahaan ini mengklaim, satu dari lima pengguna internet Indonesia menginstal peramban mereka di ponsel cerdas maupun feature phone. Sekitar 50 persen dari laman yang dibuka lewat UC Browser berasal dari piranti Android.

Menurut data perusahaan ini, peramban UC Browser digunakan untuk membuka tiga miliar laman internet setiap bulannya. Ada dua fitur utama yang ditawarkan yaitu fitur kompresi untuk membuka laman internet lebih mudah. Ini menghemat penggunaan paket data saat pengguna menggunakan jaringan 2G/3G/4G. Kompresi ini juga mempercepat proses pembukaan laman. Fitur kedua adalah pencarian lagu dan sepak bola, yang merupakan dua tema favorit.

Menurut data dari StatCounter, UC Browser meningkatkan pangsa pasarnya sebanyak sebelas persen dalam enam bulan. Sementara peramban Opera mencatatkan penurunan pangsa pasar sebanyak 20 persen. Pernyataan dari manajemen Opera menyebutkan, jumlah pengguna berbasis ponsel sebenarnya naik. Peramban Opera Mini naik 196 persen sejak setahun terakhir. Jika digabungkan dengan peramban Opera lainnya, maka pertumbuhan jumlah pengguna sekitar 1.800 persen.

Selain Opera dan UC Browser, ada peramban lainnya yang cukup populer di Indonesia yaitu peramban Baidu, Dolphin, dan Chrome.

Ulah Hacker Cilik Asal Ponorogo Membuat Ahli IT Pengelola Domain Indonesia PANDI Kelabakan Ganti Sistem

Ulah hacker bocah kembar asal Ponorogo ini memaksa Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) merombak sistemnya secara besar-besaran. Mulai dari mengganti server sampai memprogram ulang sistem menjadi pilihan demi keamanan agar tak rentan diusik tangan-tangan jahil. ”Kejadian pembobolan oleh dua bocah kembar itu memang salah satunya yang membuat kami merombak sistem secara massif,” terang Ketua PANDI Bidang Sosialisasi dan Komunikasi, Sigit Widodo, Kamis (24/4/2014).

Dia menambahkan pekerjaan perombakan itu membutuhkan waktu berbulan-bulan. Langkah ini sebagai bentuk antisipasi agar kasus pembobolan sistem tak terulang lagi. ”Sampai sekarang memang belum ada lagi kasus pembobolan, tapi kami sadar tak ada sistem yang sempurna. Maka itu, kami sangat berterima kasih jika ada hacker yang mau menginformasikan adanya lubang keamanan,” jelas Sigit.

Sigit menekankan PANDI sama sekali tak memandang hacker sebagai musuh. Dia menilai justru membutuhkan bantuan hacker sehingga sistem yang dibangun terus menerus disempurnakan. ”Saya yakin hacker di Indonesia itu nasionalisme-nya sangat tinggi. Mereka hanya menyerang server-server negara lain,” urainya.

Khusus untuk bocah kembar asal Ponorogo yang sukses membobol sistem PANDI, Sigit justru mengucapkan terima kasih. Ketrampilan mereka masuk ke sistem PANDI membuat pengelola domain .id itu segera memperbaiki diri. ”PANDI ingin mereka dihukum seringan-ringannya, apalagi masih di bawah umur. Sebisa mungkin mereka tak perlu dipenjara,” ucapnya.

Kasus ini mencuat setelah DBR dan ARB duduk di kursi pesakitan Pengadilan Negeri Ponorogo, Jawa Timur. Kedua anak baru gede ini mesti mempertanggungjawabkan perbuatannya membobol sistem PANDI hanya bermodalkan tools di browser Mozilla Firefox. Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) berinisiatif menemui hackber bocah kembar yang tengah sidang karena membobol sistem PANDI. Rencana itu baru akan direalisasikan pada akhir Mei mendatang.

”Kebetulan pada 23-25 Mei ada Festival Domain Rakyat di Madiun. Nah, saya akan memanfaatkan momen itu untuk bertemu mereka. Teknisnya nanti dipikirkan apakah saya ke rumah mereka atau mereka diundang ke acara itu,” kata Ketua PANDI Bidang Sosialisasi dan Komunikasi, Sigit Widodo Kamis (24/4/2014).

Sigit mengaku tak bisa berbuat banyak setelah kasus itu dipersidangan. Dia beralasan jika mencabut laporan itu justru akan menimbulkan preseden buruk di masa depan. ”Sejujurnya kami dalam posisi dilematis. Kami tak ingin mereka dihukum tapi mencabut tuntutan bisa membuat semua orang yang bobol sistem nantinya enggak dihukum,” paparnya. Ternyata tuntutan hukum adalah sistem perlindungan anti hacker terbaik yang dimiliki oleh para pakar IT PANDI.

Lebih jauh, sambung Sigit, kasus ini sebenarnya sudah lama. Pembobolan itu terjadi pada tahun 2010. Dia terus terang mengaku saat itu memang sistem PANDI sedang buruk sehingga rentan dibobol. ”Harus diakui memang saat ini kami sedang jelek dan kami terima kasih sama mereka sudah dikasih tahu lubang keamanannya,” terangnya. Kasus ini mencuat setelah DBR dan ARB duduk di kursi pesakitan Pengadilan Negeri Ponorogo, Jawa Timur. Kedua anak baru gede ini mesti mempertanggungjawabkan perbuatannya membobol sistem PANDI hanya bermodalkan tools di browser Mozilla Firefox.

Sepasang bocah kembar asal Dusun Ploso Jenar, Desa Sumoroto, Kecamatan Kauman, Kabupatem Ponorogo Jawa Timur dilaporkan karena membobol situs PANDI (Pengelola Nama Domain Internet Indonesia). Dua bocah tersebut tengah menghadapi sidang di Pengadilan Negeri setempat. Adalah DBR dan ABR, kelahiran Oktober 1994 (16 tahun) ini mulai masuk ke sistem PANDI sekitar 2010 silam. Sejak itulah, bocah kembar ini mulai meretas situs penyedia jasa registry domain .id ini.

Sekitar setahun kemudian, pengelola PANDI menyadari sistem keamanannya rusak. PANDI pun melaporkan ke divisi cyber crime Kementerian Komunikasi dan Informatika. Setelah melalui proses penyelidikan, baru 2013 silam, DBR dan ABR disidang di Pengadilan Negeri Ponorogo dengan nomor perkara 395/ Pid. Sus/ 2013/ PN. PO.

Oleh Majelis hakim (yang semula diketuai Muslim SH kemudian diganti Putu Gede Novyrta, SH, Mhum), didakwa 8 januari 2014 silam. Hakim memberikan dakwaan: Primair pasal 48 (1) jo pasal 32 (1) uu no.11/2008 tentang iiformasi dan transaksi elektronik jo pasal 55 (1) KUHP, Subsidair 46(1) jo pasal 30(1) uu 11/2008 jo psl 55 KUHP.

Bagaimana kedua bocah ini bisa membobol situs PANDI? Menurut pengacaranya, Mohammad Pradhipta Erfandhiarta SH dari kantor Pengacara Ernawati SH, MH and Friends DBR dan saudara kembarnya ABR memakai cara yang cukup sederhana. Mereka hanya memanfaatkan fasilitas gratisan dari mozilla. “Kedua bocah ini cuma menggunakan software tamper data (aplikasi plug in gratisan dari mozilla),” kata Pradhipta.

Menurut Pradhipta, ABR dan DBR memang masuk ke sistem situs PANDI tapi tidak melakukan kegiatan yang merusak. Mereka cuman menduplikasi nama domain,diaktifkan secara ilegal,tapi tidak pernah dijual. “Mereka tidak pernah membuat situs yang diduplikasikannya ini menjadi komersil dan domain-domain yang mereka aktifkan tidak pernah diisi apa-apa,” sambung pria yang disapa Dipta ini.

Uniknya lagi, DBR dan ABR ini saat ini tidak menempuh di pendidikan formal. Keduanya baru saja menyelesaikan Ujian Nasional di pendidikan informal Kejar Paket C. Dalam persidangan yang berlangsung tertutup ini, dari keterangan sejumlah saksi terungkap kalau saat melapor PANDI baru menyadari kalau mereka melaporkan dua orang remaja ini. Semula pihak PANDI mengira akan menghadapi hacker anak-anak.

Pasrah dan tenang, itulah yang ditunjukkan ABR dan BR, sepasang bocah kembar pembobol situs PANDI (Pengelola Nama Domain Internet Indonesia) ketika menghadapi sidang. Padahal, bocah asal Ponorogo Jawa Timur ini terancam hukuman yang cukup berat. Karena tindakannya meretas situs PANDI, si kembar didakwa dengan dakwaan Primair pasal 48 (1) jo pasal 32 (1) uu no.11/2008 tentang informasi dan transaksi elektronik jo pasal 55 (1) KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 8 tahun penjara dengan denda maksimal,

Rp2 miliar. Juga dakwaan subsidair 46(1) jo pasal 30(1) uu 11/2008 jo pasal 55 KUHP dengan ancaman 6 tahun penjara dan denda Rp600 juta. Di hadapan Majelis hakim (yang semula diketuai Muslim SH kemudian diganti Putu Gede Novyrta, SH, Mhum) keduanya terlihat tenang.

“Awalnya mungkin sempat berontak. Tapi, hakimnya baik-baik, mereka memberikan pendekatan rohani meyakinkan kalau anak saya tak perlu takut menghadapi sidang. Sekarang mereka tenang,” kata Didik, ayah dari dua anak kembar ini.
Didik mengatakan semakin hari anak-anaknya semakin tenang menjalani sidang. Upaya terapi rohani yang dijalani ABR dan DBR membawa kesejukan sehingga ketika mereka menghadapi persidangan pasrah.

“Anak-anak saya kalau di sidang itu tenang. Mereka pasrah saja. Ini hasil mereka semakin rajin salat dan berpuasa,” kata Ddik. Dua buah hatinya ini kata Didik punya keyakinan, kalau ini adalah episode yang memang harus mereka jalani. DBR dan ABR ini justru menenangkan orangtuanya, bahwa mereka tidak akan menghadapi apa-apa. “Anak saya mengatakan kalau Allah Maha Adil, mereka yakin tidak akan terjadi apa-apa. Saat ini memang kedua anak saya ini merasa harus menjalani proses persidangan ini,” jelas Didik dengan suara pelan.

ABR dan DBR adalah bocah kembar asal Ponorogo yang disidang karena meretas situs PANDI. Keduanya mulai masuk ke sistem PANDI sekitar 2010 silam. Sejak itulah, bocah kembar ini mulai meretas situs penyedia jasa registry domain .id ini. Sekitar setahun kemudian, pengelola PANDI menyadari sistem keamanannya rusak. PANDI pun melaporkan ‘Hacker’ ini. Setelah melalui proses penyelidikan, baru 2013 silam, DBR dan ABR disidang di Pengadilan Negeri Ponorogo dengan nomor perkara 395/ Pid. Sus/ 2013/ PN. PO. DBR dan saudara kembarnya ABR memakai cara yang cukup sederhana. Mereka hanya memanfaatkan fasilitas gratisan dari browser mozilla firefox

Keduanya ternyata memiliki kisah pilu dalam kesehariannya. Mereka jadi ‘korban’ bully oleh teman sebayanya.
Pembawaan DBR dan ABR ini sejak kecil memang tertutup. Sejak SD, remaja kelahiran Oktober 1994 ini cenderung kurang bersosialisasi dengan teman sebayanya karena setiap bergaul, keduanya sering dibully. Karena itu, keduanya tak pernah lama bersekolah di satu tempat. Pasangan kembar asal Dusun Ploso Jenar, Desa Sumoroto, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo Jawa Timur ini kerap pindah sekolah.DBR dan ABR ini saat ini tidak menempuh di pendidikan formal. Keduanya baru saja menyelesaikan Ujian Nasional di pendidikan informal Kejar Paket C.

Pengacara dari kantor Pengacara Ernawati SH, MH and Friends ini menceritakan, keseharian kliennya ini di rumah nyaris tak ada teman. Hanya komputer yang setia mereka ajak berkomunikasi. Keduanya sangat jarang keluar rumah, kecuali salat berjamaah ke Masjid sekitar rumahnya.

Pemakai WhatsApp Tembus 500 Juta Nomor Telepon

Ambisi Chief Executive Officer Facebook Mark Zuckerberg yang ingin agar pengguna WhatsApp mencapai 1 miliar tampaknya bakal segera terwujud. Dua bulan berselang setelah Facebook mengakuisisi layanan pesan instan itu, jumlah pengguna aktif WhatsApp sudah menembus 500 juta.

Saat diakuisisi pada Februari lalu, pengguna aktif WhatsApp sekitar 450 juta. “Pertumbuhan tercepat berasal dari pengguna Brasil, India, Meksiko, dan Rusia,” tulis WhatsApp di blog-nya, sebagaimana dikutip CBS News, Kamis, 24 April 2014.

Jika dihitung secara statistik, per harinya jumlah pengguna WhatsApp bertambah satu juta. Ini hal yang luar biasa, mengingat jumlah karyawan WhatsApp tidak lebih dari 50 orang.

WhatsApp ternyata justru populer di luar negara asalnya, Amerika Serikat. Per harinya, sebanyak 700 juta foto dan 100 juta video terkirim lewat layanan ini. Sebagai perbandingan, media sosial populer lainnya, Twitter, jumlah penggunanya mencapai 241 juta pada akhir 2013. Namun berdasarkan penelitian, 44 persen di antaranya terbukti tidak pernah mencuit.

Pendiri dan CEO WhatsApp, Jan Koum, menyatakan sejak awal layanan tersebut mengunggulkan kesederhanaan. Dia berjanji tidak akan banyak menambah fitur dan gimmick, seperti game dan iklan mobile.

Satu-satunya fitur baru yang segera meluncur adalah pesan suara. Dalam ajang Mobile World Congress di Barcelona, Februari lalu, Koum mengatakan pesan suara akan tersedia dalam beberapa bulan mendatang. “Fitur ini tersedia gratis,” katanya.

Sebelumnya, Zuckerberg mengatakan akuisisi Facebook tidak akan mengubah model layanan WhatsApp. Seperti diketahui, dari segi pemasukan, model bisnis Facebook dan WhatsApp sangat berbeda. Facebook meraup banyak pemasukan lewat iklan mobile.

Facebook menjadikan WhatsApp sebagai unit bisnis terpisah. Hal ini seperti halnya Instagram, yang berfokus sebagai aplikasi berbagi foto. Instagram sendiri diakuisisi Facebook pada 2012.

Di ASEAN Kecepatan Internet Indonesia Paling Bawah

ASEAN DNA mempublikasikan infografis yang menunjukkan kecepatan Internet di setiap negara ASEAN. Hasilnya, berdasarkan penelitian, Indonesia masuk dalam daftar tiga terbawah dengan kecepatan 4,1 megabita per detik (Mbps). Seperti dilansir situs GMA Network, Selasa, 22 April 2014, peringkat Indonesia masih di atas Laos, yang memiliki Internet berkecepatan 4 Mbps. Adapun Filipina menjadi negara dengan kecepatan Internet paling lambat, yakni 3,6 Mbps.

Singapura memiliki kecepatan Internet 61 Mbps, dan ini menjadikannya negara dengan akses Internet tercepat di Asia Tenggara. “Kecepatan tersebut 1.500 persen lebih besar dibanding Filipina,” tulis laporan tersebut. Angka ini juga cukup jauh melampaui negara maju lainnya, seperti Jepang (41,7 Mbps) dan Amerika Serikat (22,3 Mbps).

Meski memiliki perbedaan yang sangat signifikan dengan Singapura, Thailand menjadi negara dengan kecepatan Internet tertinggi kedua di ASEAN, yaitu 17,7 Mbps. Peringkat ketiga adalah Vietnam dengan 13,1 Mbps, disusul Kamboja (5,7 Mbps), kemudian Malaysia (5,5 Mbps), serta Brunei Darussalam dan Myanmar (masing-masing 4,9 Mbps).

Laporan ini juga menyebutkan bahwa rata-rata kecepatan Internet di ASEAN yakni 12,4 Mbps. Sedangkan rata-rata kecepatan Internet secara global adalah 17,5 Mbps.

Sebelumnya, distributor jaringan, Akamai, juga sempat melakukan penelitian serupa. Perusahaan yang bermarkas di Massachusetts, Amerika Serikat, ini menyebutkan Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Singapura, dan Hong Kong merupakan negara dengan tingkat adopsi broadband tertinggi di Asia-Pasifik.