Category Archives: Aplikasi Internet

Tren Pengaturan Internet di Asia Oleh Pemerintah Makin Mengkhawatirkan

Pertumbuhan pengguna Internet Asia tumbuh sangat pesat, dari 114,3 juta pada tahun 2000 menjadi 1,2 miliar tahun ini, atau sekitar 31,7 persen dari total pengguna dunia. Mereka yang menggunakan Internet di kawasan dengan populasi 3,9 miliar ini tumbuh sekitar 1.000 persen dalam 14 tahun. Hanya saja, pengaturan yang dilakukan sejumlah negara di kawasan ini dianggap kurang menggembirakan.

Direktur Eksekutif Southeast Asian Press Alliance (SEAPA) Ghayathri Venkiteswaran dalam acara konferensi 4M Jakarta: Informing the Web di kampus Universitas Atma Jaya, Jakarta, Rabu, 24 September 2014, menyebut soal sejumlah regulasi yang berdampak di dunia online di sejumlah negara yang dianggap mengkhawatirkan. “Tren pemerintah dan pembuat kebijakan kelihatan terobsesi dengan pengaturan kontennya, bukannya melindungi penggunanya,” kata Gayatri.

Menurut Gayatri, dalam tiga atau lima tahun belakangan ini, ada sejumlah pemerintah yang membuat regulasi tentang konten Internet, termasuk di Filipina, Malaysia, dan Indonesia. “Itu agak mengkhawatirkan karena seperti memberi kuasa kepada pemerintah untuk mengambil tindakan terhadap mereka yang kritis,” kata dia saat ditemui di sela acara konferensi. Ia memberi contoh Cybercrime Prevention Act 2012 di Filipina.

Undang-undang itu, kata Gayathri, muncul setelah ada kritik deras media terhadap politikus di negara itu. “Yang membuat undang-undang itu, anggota Kongres Filipina, memasukkan pencemaran nama baik secara online walaupun undang-undang itu sebenarnya untuk mengatur kejahatan di dunia cyber,” kata dia. Masyarakat sipil menggugat undang-undang itu dan Mahkamah Agung menyatakan sebagian pasal dalam undang-undang itu tak sesuai Konstitusi. Hanya saja, pasal soal pencemaran nama baik itu tak berubah.

Situasi agak mirip juga bisa dilihat di Indonesia. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik awalnya diniatkan untuk mengatur dan memberi perlindungan terhadap masyarakat saat bertransaksi secara online. Dalam pembahasannya, pasal pencemaran nama baik di Internet juga masuk di dalamnya. Pelaku pelanggaran terhadap pasal ini terancam pidana penjara paling lama enam tahun dan atau denda maksimal Rp 1 miliar.

Maria Ressa, dari media asal Filipina, Rappler.com, menambahkan, soal pasal pencemaran nama baik yang berlaku di negaranya bisa dipakai untuk menghukum siapa pun. “Jadi, trennya di Filipina adalah, orang masuk penjara terutama kalau ada politisi lokal atau hakim yang tidak suka dengan apa yang dikatakan seseorang,” kata dia Ressa di depan peserta konferensi.

Dalam konferensi, juga ada pandangan bahwa memang ada kebutuhan untuk mengatur Internet. Hanya saja, pengaturan seperti apa yang harus dilakukan? “Yang juga penting, siapa yang harus membuat pengaturannya,” kata Margiyono, anggota Media Defence Southeast Asia, dalam konferensi itu. Karakter Internet yang lintas batas negara membuat pengaturannya tak mudah. Apalagi masing-masing negara memiliki standar nilai yang berbeda-beda. Ia memberi contoh materi pronografi yang legal di Amerika Serikat, tapi ilegal di negara seperti Indonesia, Pakistan, dan sebagainya.

Pengaturan Internet, bagi Gayathri, diperlukan untuk melindungi keamanan di Internet, mengatur pornografi, mencegah pencurian data, dan semacamnya. Hanya saja, regulasi yang dibuat sejumlah pemerintah lebih condong untuk mengatur soal konten dan cenderung tak melindungi penggunanya. “Seperti di Kamboja, (pengaturan dilakukan) karena melihat Internet itu sebagai ruang bagi masyarakat sipil, oposisi, sebagai wadah berekspresi,” kata Gayathri.

Di Malaysia, tambah Gayathri, pemerintah menggunakan undang-undang ihwal keamanan negara untuk mengawasi Internet. Sejak dua tahun lalu, Malaysia memiliki Security Offences Act 2012, sebagai pengganti Internal Security Act 1960. “Undang-undang ini memang tak spesifik untuk dunia online, karena tujuannya untuk menjaga ketertiban umum. Tapi pengerahan massa atau menggunakan Internet untuk kepentingan itu bisa dijerat dengan aturan itu,” katanya.

Security Offences Act melarang tak lagi mengenal penahanan sampai 60 hari seperti saat Malaysia memiliki Internal Security Act. Masalahnya, definisi dalam undang-undang ini berifat karet dan ini membuatnya bisa digunakan untuk apa saja. Selain itu, kata Gayathri, Malaysia juga memiliki Akta Hasutan tahun 1948. Undang-undang ini memuat pidana untuk pencemaran nama baik, yang biasanya digunakan untuk menjerat orang yang dianggap mengkritik pemerintah, pengadilan, dan lembaga negara lainnya.

Ada sejumlah alasan mengapa sejumlah negara membuat pengaturan yang bersifat represif terkait dengan dunia online. Kata Gayathri, ada pemerintah yang mungkin merasa kehilangan kontrol atas itu. “Sejumlah pemerintah ingin mengontrol lagi, untuk mempertahankan kekuasaan,” kata dia. Namun ada juga pemerintah yang ingin berusaha menciptakan keseimbangan antara perkembangan teknologi dan isu-isu lainnya, termasuk keamanan, privasi, dan semacamnya.

Dalam acara konferensi ini, memang muncul perbincangan soal pengaturan seperti yang pas perihal soal Internet ini. Menurut Margiyono, salah satu yang bisa dikembangkan adalah pengaturan melalui multistakeholder, yang biasanya melibatkan wakil pemerintah, pengusaha, dan masyarakat sipil. Ini alternatif lain selain merintis regulasi yang bisa disepakati oleh lebih banyak negara di level internasional. Namun, model pengaturan semacam ini sering kali terbentur oleh dominannya otoritas pemerintah.

Gayathri setuju dengan pengaturan melalui multistakeholder. Tapi ini hanya bisa dilakukan di sejumlah negara seperti Indonesia, Filipina, Thailand, akan tetapi sulit diterapkan di negara seperti Vietnam yang tak pernah melakukan konsultasi langsung soal kebijakan publik. “Bagaimana mengenalkan model seperti itu di negara otoriter?” kata Gayathri. Ia juga menambahkan, hal lain yang juga perlu dilakukan adalah bagaimana menjadikan kebebasan berekspresi, kebebasan Internet, dan netralitas Internet ini menjadi masalah yang harus diperjuangkan bersama.

Konferensi 4M Jakarta: Informing the Web yang merupakan hasil kerja sama CFI (Prancis), Aliansi Jurnalis Independen, Universitas Atma Jaya, The Institut Fran├žais Indonesia, dan Regional cooperation delegation France-ASEAN ini, digelar Selasa-Rabu, 23-24 September 2014. Konferensi yang membahas sejumlah isu mutakhir ihwal perkembangan media online ini diikuti wakil dari sejumlah organisasi media dan masyarakat sipil di Asia dan Eropa.

BlackBerry Makin Ditinggal Pengguna di Indonesia

BlackBerry yang biasanya sangat diandalkan untuk komunikasi data, belakangan kalah pamor dan mulai tergantikan oleh layanan messaging sejenis lainnya. Demikian tercermin dari pergerakan trafik di operator. Seperti kutip dari info memo laporan keuangan XL semester pertama 2014, Sabtu (23/8/2014), disebutkan bahwa anak usaha Axiata itu hanya memiliki sekitar 13,3 juta pengguna smartphone atau sekitar 21% dari 63,3 juta pelanggan.

Selama enam bulan terakhir itu pula, XL tercatat berhasil mengurangi sekitar 15% pembayaran ke BlackBerry berkat fokus menggenjot pengguna dari platform operasi lainnya seperti Android. Sebelumnya, dalam jumpa pers halal bihalal XL, para petinggi operator itu mengungkapkan selama Lebaran 2014 pamor pesan instan BlackBerry Messenger (BBM) mulai luntur.

“Kebanyakan orang sekarang mengucapkan selamat Idul Fitri lewat aplikasi pesan instan. Tapi, lonjakan di BBM tidak lagi seperti dulu pas hari Lebaran. Lonjakan tertinggi layanan komunikasi lewat aplikasi terjadi di WhatsApp, Line, Instagram dan Path. BBM juga ada peningkatan, tapi bisa dibilang sangat kecil,” katanya.

Secara rinci lonjakan komunikasi pelanggan XL yang memakai layanan pesan instan selama Lebaran lalu terjadi di WhatsApp (52,4%), Line (49,4%), Viber (39,4%), KakaoTalk (18,3%) dan BBM (0,3%).

Sementara di Telkomsel pelanggan BlackBerry mengalami kenaikan 15% yakni menjadi 7,279 juta pelanggan di semester pertama 2014. Namun, Telkomsel menyatakan terjadi juga penurunan pembayaran akses ke perusahaan tersebut. BlackBerry sendiri terus memperbaiki diri agar perangkatnya diminati pengguna. Belum lama ini perseroan memperpanjang kerjasamanya dengan 7digital dalam memberikan layanan musik digital.

Dalam kerjasama terbaru ini 7digital mengambilalih penjualan dari BlackBerry dimana sebelumnya menggunakan konsep revenue sharing. Sementara BlackBerry akan membayar 7digital fee bulanan bagi penggunaan mulai Agustus 2015.

BlackBerry Messenger BBM Akhirnya Hadir di Windows Phone

BlackBerry Messenger akhirnya tersedia, dalam versi Beta, untuk perangkat Lumia yang menjalankan Windows Phone 8 dan 8.1. Hal ini melanjutkan versi Beta terbatas (Private Beta) yang sebelumnya telah diumumkan untuk jajaran perangkat tersebut.

“Dengan terus meningkatnya popularitas BBM, kami sangat senang untuk memiliki kesempatan mengembangkan aplikasi kami untuk platform Windows Phone,” ungkap John Sims, President Global Enterprise Services, BlackBerry.

Pihak Microsoft pun mengatakan akan terus berupaya menghadirkan berbagai aplikasi yang dibutuhkan pengguna Lumia.

“Kami terus bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menghadirkan aplikasi yang dibutuhkan oleh pengguna Lumia, baik developer global maupun lokal.” ungkap Maretha Dewi, Head of Developer Experiences, Microsoft Devices, Indonesia.

BBM pada Windows Phone hadir dengan fitur-fitur seperti BBM Chat, BBM Groups, Find Friends dan BBM Feeds.

Selain itu, bagi pengguna Lumia, setiap chat (baik individu maupun grup) bisa dipasang di halaman depan ponsel mereka. Fitur “Pin to Start” ini akan memunculkan icon tile untuk setiap chat yang dipasang di Start Screen.

BBM untuk Windows Phone Beta sudah tersedia untuk download melalui Windows Phone Store.

Ranking Indonesia Dalam Hal Kecepatan Internet

Berapa kecepatan koneksi internet broadband yang dinikmati penduduk Indonesia? Angkanya bisa dilacak di laporan terbaru dari Akamai State of the Internet Report, analisis koneksi internet berbagai negara menurut riset perusahaan teknologi Akamai. Dalam peta koneksi interaktif Akamai, kecepatan internet paling cepat di Indonesia pada kuartal 1 2014 up to 2,37 Mbps. Dibandingkan dengan Korea Selatan atau Jepang yang menduduki posisi pertama dan kedua memang masih terpaut sangat jauh.

Tapi di wilayah Asia Tenggara masih terhitung lumayan. Dengan kecepatan koneksi paling cepat 2,37 Mbps, Indonesia mengungguli Filipina yang rata-rata hanya (2,07 Mbps), Laos (1,5 Mbps), Vietnam (1,95 Mbps), Myanmar (2,03 Mbps), ataupun Kamboja (2,13 Mbps).

Negara Asia Tenggara yang mengungguli Indonesia misalnya Malaysia (3,52 Mbps), dan Thailand (5,14 Mbps). Akamai sendiri menyatakan pertumbuhan kecepatan internet dunia memang menunjukkan tren bagus alias terus meningkat dari tahun ke tahun. “Meski masih ada yang harus ditingkatkan di beberapa negara, tren yang kami lihat tetap sangat positif,” kata David Belson, editor Akamai yang dikutip dari PCMag, Jumat (27/6/2014).

Koneksi internet rata-rata dunia semakin cepat. Hal itu terungkap dalam penelitian terbaru dari perusahaan teknologi Akamai yang menganalisis kecepatan internet di tiap negara. Lalu, negara mana yang koneksinya paling ngebut?

Menurut Akamai, pada kuartal I 2014, rata rata koneksi internet di dunia adalah 3,9 Mbps, naik 1,8% dari tahun sebelumnya. Bahkan Akamai memperkirakan pada kuartal depan, kecepatannya akan tembus 4 Mbps. “Meski masih ada yang harus ditingkatkan di beberapa negara, tren yang kami lihat tetaplah sangat positif,” kata David Belson, editor Akamai yang dikutip dari PCMag, Jumat (27/6/2014).

Berada di posisi pertama negara dengan koneksi internet broadband tercepat adalah Korea Selatan, dengan kecepatan rata-rata 23,6 Mbps. Negeri Ginseng ini memang menjadi langganan soal internet paling ngebut. Menguntit di posisi kedua adalah Jepang dengan koneksi rata-rata 14,6 Mbps. Diikuti berturut turut di posisi 10 besar oleh Hong Kong, Swiss, Belanda, Latvia, Swedia, Republik Ceko, Finlandia dan Irlandia.

Perkembangan positif kecepatan internet ini akan memungkinkan layanan baru seperti konten masa depan dan video 4K diimplementasikan. “Pertumbuhan dari tahun ke tahun mengindikasikan fondasi global yang kuat sedang dibangun untuk menikmati konten masa depan dan layanan seperti video 4K,” tambah Belson.

Mahasiswa ITS Kenalkan E-Vote Berbasis Android

Mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Institut Teknologi Sepuluh Nopember (PENS-ITS) memperkenalkan E-Vote, sistem pemilihan yang memanfaatkan perangkat mobile berbasis Android.

Mahasiswa bernama Raizal Islami Nursyah Pregnanta itu mengatakan program ini menggunakan konsep Just Touch yang merupakan pengembangan sistem sebelumnya. “Kalau konsep sebelumnya menggunakan Just Click, inovasi sekarang menjadi Just Touch,” kata mahasiswa semester awal ini.

Dalam rilis yang diterima, Rabu, 21 Mei 2014, E-Vote konsep Just Click sudah pernah digunakan dalam pemilihan Ketua dan Wakil Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika PENS-ITS tahun lalu. Karena bersifat pengembangan, pengerjaan program ini pun hanya butuh waktu 1,5 bulan.

Secara teknis, sistem dan alur pemilihan E-Vote Just Click dan Just Touch hampir sama. Untuk teknis daftar pemilih tetap, Raizal menggunakan sistem verifikasi ganda. Ia memakai database yang ada pada himpunan mahasiswa kemudian dicocokkan dengan database dari PENS. Ini agar kesalahan nama, NRP, dan data lainnya bisa diminimalkan sehingga diperoleh data yang valid.

Menurut Raizal, program ini mengunakan tiga status pemilih, yaitu belum memilih, sudah memilih, dan batal memilih. Dikatakan batal memilih jika pemilih melewati batas waktu pemilihan yang diberikan selama berada di dalam bilik dan dapat memilih kembali sebanyak tiga kali.

Sedangkan sistem pemilihan terdiri dari tiga program utama, yaitu registrasi awal, program bilik, dan registrasi akhir. Di bilik, pemilih diberi waktu tiga menit untuk menentukan pilihannya. “Setelah itu, pemilih melakukan registrasi akhir sebagai tanda dia sudah menggunakan hak pilihnya,” ujarnya.

Para pemilih hanya perlu memasukkan username dan password yang sebelumnya sudah teregistrasi secara manual melalui komputer terpisah.

Password eBay Kembali Di Retas Hacker

Basis data atau database pada situs penjualan online terbesar eBay dilaporkan mengalami peretasan, Rabu, 21 Mei 2014. Menyikapi hal tersebut, perusahaan meminta seluruh pengguna untuk mengubah password mereka di situs tersebut terkait serangan cyber pada sistem terenkripsi dan data non-finansial.

“Kami tahu pelanggan kami mempercayakan eBay dengan informasi mereka. Kami menanggap itu komitmen dalam menjadikan eBay sebagai pasar global yang aman dan terpecaya,” kata eBay dalam pernyataan, seperti dilaporkan Sidney Morning Herald, Kamis, 22 Mei 2014.

Di dalam database ini terdapat berbagai informasi personal pelanggan, seperti password, e-mail, alamat fisik, nomor telepon, dan tanggal lahir. Berdasarkan data perusahaan, eBay telah memiliki 145 juta pelanggan aktif pada kuartal pertama.

Seorang direktur keamanan produk di Shape Security di Montain View, California, Michael Coates, menjelaskan jika tidak dibenahi dengan cepat, para peretas akan dengan mudah mengambil alih rekening di seluruh web dari username dan password pengguna.

Di lain pihak, eBay melaporkan belum mendeteksi adanya kegiatan yang janggal atau tidak sah dalam akses informasi keuangan. Namun, penyedilikan sedang berlangsung dengan bantuan penegak hukum.

Facebook Akuisisi Slingshot Untuk Saingi SnapChat

Facebook memang gagal mengakuisisi aplikasi pesan singkat Snapchat beberapa waktu lalu. Namun, kegagalan itu ternyata mendorong perusahaan untuk membuat aplikasi chatting dan berbagi foto serta video sendiri bernama Slingshot.

Menurut laporan dari Financial Times, Mark Zuckerberg secara pribadi terjun langsung dalam pengembangan aplikasi ini. Diperkirakan Slingshot akan siap dirilis bulan ini.

“Facebook telah mengerjakan aplikasi video-chatting ini selama beberapa bulan. Slingshot memungkinkan pengguna mengirim pesan video singkat,” kata seorang karyawan Facebook, seperti dilaporkan CNET, Ahad, 18 Mei 2014.

Namun, ketika ditanyakan fitur apa saja yang disajikan di Slingshot, karyawan Facebook itu menolak untuk berkomentar.

Aplikasi Slingshot ini memang dirancang untuk menyaingi Snapchat yang telah memiliki 400 juta pengguna dalam waktu dua tahun. Sejauh ini pengguna Snapchat terus berkembang dan populer di kalangan remaja.

Facebook memang pernah berencana membeli Snapchat pada akhir tahun lalu dengan nilai penawaran US$ 3 miliar. Namun, pendiri Snapchat, Evan Spiegel dan Bobby Murphy, menolak tawaran Zuckerberg. Padahal, nilai akuisisi itu tiga kali lipat dari penawaran Zuckerberg kepada Instagram pada 2012 lalu.