Category Archives: Aplikasi Internet

Cara Menanggulangi HeartBleed Pada Enkripsi OpenSSL

Belakangan ini, internet dihebohkan dengan tersebarnya Heartbleed bug yang menyerang sejumlah situs besar di internet, termasuk Google, Yahoo, Facebook, dan Twitter. Bug ini menyerang standar enkripsi OpenSSL yang umumnya digunakan untuk menyimpan data dan informasi sensitif, seperti password, username, dan informasi kartu kredit pegguna, dengan jangkauan yang luas. Berdasarkan layanan internet Netcraft, tercatat ada 500 ribu web situs yang terserang dan rentan pada Heartbledd ini.

Heartbleed bug pertama kali ditemukan oleh peneliti dari Codenomicon dan Google, Neel Mehta, pada Jumat kemarin. Bug sendiri “diciptakan” oleh Robin Seggelmann yang dulunya juga bekerja dalam proyek OpenSSL pada 2008 hingga 2012 lalu.

Jika terserang Heartbleed bug, situs akan menjadi rentan dari serangan peretas dan mereka bisa menyelusup hingga 64 kilobyte memori data dari server. Electronic Frontier Foundation menjelaskan, semakin sering serangan bug, maka informasi yang mungkin didapatkan peretas akan semakin banyak.

“Dengan informasi yang didapat dari bug, seseorang bisa menjalankan versi palsu dari sebuah web situs dan menggunakannya untuk mencuri semua jenis informasi, seperti nomor kartu kredit atau pesan pribadi,” kata Electronics Frontier Fondation, seperti dilaporkan oleh CNet, Jumat, 11 April 2014.

Belakangan, kasus Heartbleed ini dikaitkan dengan aksi pencurian data yang dilakukan oleh NSA. Bahkan lembaga kemanan Amerika itu kabarnya sudah mengetahui kehadiran bug sejak dua tahun yang lalu dan memanfaatkannya untuk mengumpulkan data. Namun, pihak Gedung Putih membantah keterlibatan NSA dalam kasus Heartbleed ini di dunia maya.

Para peneliti dari Google menemukan Heartbleed Bug yang merupakan salah satu kelemahan keamana internet yang paling serius dalam beberapa tahun belakangan ini. Sejumlah situs dan komputer pengguna terancam mengalami pembobolan keamanan.

Menurut laporan, bug yang menyerang komputer itu kabarnya sudah diketahui oleh National Agency Security (NSA) sejak dua tahun lalu. Bahkan, NSA dilaporkan meanfaatkan bug tersebut demi mendapatkan password dan infromasi dasar untuk operasi peretasan. Namun, pihak NSA membantahnya.

“Laporan bahwa NSA atau intelijen lain dari pemerintah tahu tentang Heartbledd sebelum April 2014 itu tidak benar. Pemerintah menganggapi hal ini dengan serius dan akan membantu menjaga internet agar tetap aman dan dapat dikendalikan,” kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih, Caitlin Hayden, dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Reuters, Sabtu, 12 April 2014.

Heartbleed menyerang standar enkripsi OpenSSL yang menyimpan sejumlah data dan informasi sensitif yang dilindungi dalam jangkauan luas. OpenSSL ini digunakan pada hampir pada semua situs besar di internet seperti Facebook, Google, Twitter, dan Yahoo.

Berdasarkan laporan, lebih dari seribu domain situs masih dalam status rentan sejak Jumat sore kemarin. Namun sejak Heartbleed terdeteksi, sejumlah perusahaan telah memberikan imbauan kepada pengguna bahwa situs mereka masih rentan untuk diakses.

BreakingPoint FireStorm One Mampu Ciptakan Traffic Sebesar 40 Juta GB

Kotak hitam ini sepintas mirip perangkat biasa di ruang server. Ukurannya sebesar CPU dengan tebal tak sampai 7 sentimeter dengan warna hijau dibagian mukanya yang ada layar kecil dan slot untuk kabel. Namun kotak ‘Pandora’ ini dalam 3 menit mampu menciptakan traffic Internet sebesar 10 juta gigabytes. Jumlah itu setara dengan traffic yang diterima Internet Service Provider di Indonesia.

Tak cuma itu, perangkat itu juga bisa mengirim 117 serangan tipe paling berbahaya ke jaringan komputer yang jadi targetnya. “Karena itu berbahaya kalau benda ini jatuh ke tangan peretas,” kata pakar Advanced Persistent Threat Fortinet, Eric Chan, saat acara peluncuran Application Delivery Controllers, 2-4 April 2014 di Taipei, Taiwan.

Menurut Eric, alat BreakingPoint FireStorm One buatan Ixia itu mampu menciptakan traffic 40 juta gigabytes atau setara total lalu lintas Internet di banyak negara. Kemampuan itu bisa dipakai buat melancarkan serangan distributed denial-of-service (DdoS) dengan cara membanjiri server atau situs sebuah perusahaan sehingga tak bisa diakses.

Tanpa perlindungan yang kuat, serangan DDoS bakal menumbangkan sebuah server. Lebih lanjut, Serangan DDoS akan sangat terasa kerugiaannya pada bisnis online karena mampetnya akses dari pelanggan berarti kehilangan pendapatan.

Alat ini juga mampu menciptakan hingga ribuan jenis serangan. Saat uji perangkat keamanan Internet FortiGate-3700D pada Rabu lalu, Eric sengaja memilih tipe yang paling berbahaya seperti yang mengekploitasi lubang di sistem operasi Windows. “Bayangkan kalau sampai jatuh ke tangan yang salah, Mereka bisa mengirim traffic dan serangan dalam volume yang sangat besar,” imbuh Eric.

Beruntung alat ini harganya berkisar US$ 300.000 atau sekitar Rp 3,3 miliar, sehingga perlu pertimbangan yang matang untuk menebusnya. Namun Eric menekankan, potensi penyalahgunaan selalu ada.

Eric juga menambahkan, Fortinet sendiri sebenarnya menggunakan alat ini untuk menguji perangkat keamanan jaringan yang dipakai kliennya. BreakingPoint bisa digunakan menguji kemampuan perangkat keamanan jaringan yang membantu server dalam mengatasi lonjakan pengakses baru, dan memproses data dalam jumlah besar, serta menangkis serangan.

Eric yang menjabat Pre-Sales Consulting Director Fortinet Asia Tenggara ini mengatakan sejauh ini FortiGate mampu mengatasi rupa-rupa problema yang dibuat oleh BreakingPoint. Menurutnya, hasil pengujian dengan BreakingPoint itu membuat Fortinet memenangkan beberapa tender besar di Asia Tenggara.

Gadget Terbaik Indonesia Tahun 2014

Ajang tahunan Selular Award kembali digelar tahun 2014 ini. Penghargaan yang diberikan kepada stakeholder industri telekomunikasi selular di Indonesia ini telah digelar sejak 2004 dan diprakarsai oleh GSM (Global Selular Media) Group .

Tahun ini, Selular Award mengambil tema “Welcoming The Next Phase”. Tema ini diangkat sebagai penanda bahwa saat ini memang industri seluler dihadapkan pada kondisi pasar yang jenuh sementara kebutuhan masyarakat akan layanan seluler semakin meningkat.

Era baru dengan menggarap apa yang diinginkan konsumen menjadi pekerjaan rumah besar bagi industri seluler di Tanah Air. Untuk penghargaan Selular Award ke-11 ini, GSM Group melakukan penilaian menggunakan panel tim redaksi dan melakukan survei online. Survei online dilakukan untuk penilaian kategori operator, sedangkan produk ponsel menggunakan penilaian dari panel tim redaksi GSM Group.

Survei online dilakukan Februari-awal Maret 2014 dengan melibatkan 1.799 responden dari seluruh Indonesia. Berikut daftar pemenang Selular Award ke-11 :

Kategori Produk
1. Best Entertainment Phone: Sony Xperia Z1
2. Best Camera Phone: Nokia Lumia 1020
3. Best Design Phone: Lenovo Vibe X
4. Best Innovative Phone: LG G Flex
5. Best Valuable Phone: Pixcom Andromixx
6. Best Seller Local Product: Evercoss A7T
7. Best Entry Level Smartphone: Smartfren AndromaxG
8. Best Local Smartphone: Polytron Cyrstal 4
9. Best Premium Phablet: Sony Xperia Z Ultra
10.Best Local Phablet: Evercoss Elevate A66S
11. Best Premium Tablet: Samsung Galaxy Note 10.1 2014 Edition
12. Best Local Tablet: Axioo Picopad 7 Plus
13. Mobile Device of The Year: Samsung Galaxy Note 3

Kategori Operator
1. Best Mobile Data Service: Smartfren Connex
2. Best Customer Care Service: XL Axiata
3. Best CSR Program: Indosat IWIC
4. Best Digital Services : Telkomsel
5. Best Innovative Services: XL RumahnyaAndroid
6. Best Prepaid Card: Indosat IM3
7. Best Postpaid Card: Telkomsel KartuHalo
8. Best CDMA Operator: Smartfren
9. Best GSM Operator: Telkomsel
10.Operator of The Year: Telkomsel

Kategori Lain-lain

1. Best Messaging Services: BlackBerry Messenger
2. Best Innovative Accessories: Royal
3. Best Local Battery Manufacturer: DSBC
4. Best Premium Accessories: Hippo PGL Screen Protector

Waspada Pencurian Data Yang Gunakan WiFi Ditempat Umum

Informasi sensitif sebaiknya tidak dikirim melalui koneksi wi-fi di area publik untuk mencegah pencurian data oleh peretas, demikian peringatan otoritas keamanan internet Eropa. Troels Oerting, kepala pusat kejahatan internet Eropa, mengatakan kepada Dan Simmons dari BBC bahwa pengguna internet sebaiknya hanya mengirim data pribadi melalui jaringan yang mereka percayai.

Ia mengatakan peringatan itu dimotivasi oleh meningkatnya serangan melalui wi-fi di area publik. Europol membantu sejumlah negara mengatasi serangan seperti itu, kata Oerting.

Data curian
“Kami telah melihat penyalahgunaan wi-fi untuk mencuri informasi, identitas atau kata kunci dan uang dari pengguna yang menggunakan koneksi publik atau wi-fi tidak aman,” kata dia. “Kita harus mengajari pengguna bahwa mereka tidak boleh membahas informasi sensitif saat sedang menggunakan internet melalui wi-fi yang tidak aman.

“Mereka harus melakukannya dari rumah, dimana jaringan wi-fi dipastikan aman. Tapi jika anda berada di warung kopi anda jangan mengakses bank atau melakukan apa pun yang melibatkan transfer informasi sensitif.”

Oerting mengatakan peretas dan pencuri data tidak menggunakan teknik canggih tapi memperdaya orang agar menggunakan koneksi wi-fi yang seolah-olah berasal dari warung kopi atau restoran.

WatchGuard Luncurkan Firebox T10 Tercanggih

WatchGuard Technologies belum lama lalu meluncurkan WatchGuard Firebox T10 Unified Threat Management (UTM), perangkat untuk memperkuat keamanan jaringan komputer perusahaan hingga ke lingkungan small office home office (SOHO).

“Melihat kebutuhan bahwa rata-rata 70% dari jajaran karyawan elit di sebuah perusahaan bekerja dari rumah paling tidak sekali dalam seminggu, solusi yang kami tawarkan tersebut mampu mendukung para administrator pengelola jaringan dalam menyediakan sistem keamanan yang tangguh…,” menurut WatchGuard dalam siaran pers yang diterima, Selasa (25/03/14).

Firebox T10 dilengkapi dengan kapabilitas RapidDeploy berbasis Cloud milik WatchGuard yang secara instan mampu melakukan swa-konfigurasi dan kemudian langsung melaporkannya kembali ke konsol pusat milik administrator pengelola begitu tersambung ke perangkat. Menurut survei global terbaru WatchGuard mengenai para profesional dibidang TI, disebutkan bahwa lebih dari 82% perusahaan mengijinkan karyawannya mengakses jaringan milik perusahaan dari lokasi small office or home office (SOHO).

Meski begitu, hampir 30% diantaranya tidak menyaratkan penggunaan sebuah perangkat keamanan gateway. Dari sekian yang menyaratkan penggunaan perangkat keamanan gateway, hanya 23% di antaranya yang menyaratkan karyawan menggunakan produk keamanan yang serupa dengan yang digunakan di kantor pusat perusahaan yang telah dilengkapi dengan Intrusion Prevention, AntiVirus, Data Loss Prevention, Application Control, AntiSPAM, dan lain sebagainya.

Dari hasil studi tersebut, WatchGuard juga menemukan bahwa sebanyak 56% dari yang disurvei merasa bahwa akses VPN dasar menghadirkan perlindungan yang diperlukan terhadap lanskap ancaman terhadap SOHO.

Wakil Presiden, WatchGuard Asia Pasifik, Scott Robertson, mengatakan bahwa akses VPN bukan sepenuhnya keamanan. “Akses VPN telah lama menjadi standar dalam memberikan proteksi komunikasi bagi karyawan yang bekerja di rumah.”

“Meski begitu, jika perangkat endpoint Anda tidak dilindungi sebaik perlindungan yang digunakan pada jaringan perusahaan, maka saluran VPN bisa menjadi celah-celah terbuka yang rawan buat bisnis. Anda perlu melindungi keduanya, dan Firebox 10 yang kami persembahkan telah dirancang supaya dapat melindungi bisnis dengan mudah nan hemat.”

Solusi WatchGuard Firebox T10 akan tersedia di Indonesia mulai akhir Maret ini.

MenKominfo Sedang Godok UU Yang Memberikannya Kekuasaan Mutlak Atur Isi Internet Di Indonesia

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) tengah menggodok RPM tentang Penanganan Situs Internet Bermuatan Negatif. Menurut ICT Watch, jika RPM ini diberlakukan, maka pemerintah — dalam hal ini Kementerian Kominfo — memegang kekuasaan mutlak atas informasi di internet yang boleh atau tidak boleh diakses oleh masyarakat Indonesia.

Donny B.U., Direktur Eksekutif ICT Watch menjelaskan, mengacu pada pasal 6, pasal 7, pasal 8 (1) dan pasal 9 (1), jelas sekali bermakna bahwa seluruh akses internet di Indonesia harus lolos dari pemblokiran sesuai daftar alamat situs (database) bermuatan negatif yang dikelola oleh Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (baca: pemerintah).

“Hal ini sama saja dengan bentuk pengontrolan informasi yang ketat oleh negara dan pada prakteknya rentan mencederai hak berekspresi dan berinformasi sebagaimana diatur konstitusi Indonesia, UUD 1945 pasal 28F,” tegasnya kepada detikINET, Rabu (5/3/2013). Berikut isi RPM tentang Penanganan Situs Internet Bermuatan Negatif:

Pasal 7: Lembaga penegak hukum dan atau lembaga peradilan dapat meminta pemblokiran situs bermuatan negatif sesuai dengan kewenangannya kepada Dirjen Aplikasi Informatika.

Pasal 8: Masyarakat dapat melaporkan situs internet bermuatan negatif sebagaimana dimaksud kepada kementerian atau lembaga pemerintah terkait.

Pasal 9: Dirjen Aplikasi Informatika menyediakan daftar alamat situs yang bermuatan negatif yang disebut TRUST + Positif.

ICT Watch juga menyoroti soal RPM ini yang sama sekali tidak dijelaskan tentang bagaimana mandat atas pengelolaan database bernama TRUST Positif bisa kemudian dilakukan oleh Direktur Jenderal (Dirjen) (baca: pemerintah) saja, sebagaimana mengacu pada pasal 6.”Tidak jelas pula asal muasal dari keberadaan Trust Positif ini. Bahkan, dari sejumlah sumber ICT Watch, disampaikan bahwa pengelolaan database tersebut nantinya akan dialihdayakan (outsource) ke pihak lain,” lanjut Donny.

Mekanisme dalam memberikan, pemberi ataupun penerima mandat untuk mengelola database ini dinilai tidak transparan dan akuntabel. Padahal database ini akan menjadi hal yang akan diwajibkan untuk dipasang oleh seluruh Internet Service Provider (ISP) se-Indonesia. Pengelola dan tata kelola database yang tidak transparan dan akuntabel ini dikhawatirkan rentan disalahgunakan oleh mereka yang memiliki akses langsung ataupun tidak langsung ke database tersebut untuk meredam informasi dan kebebasan berekspresi di Internet.

“Meskipun di dalam RPM tersebut sudah dicantumkan mekanisme normalisasi jika ada kesalahan pencantuman alamat situs di dalam database Trust Positif, namun hal tersebut sangatlah tidak memadai,” kata Donny. Ia memaparkan, pada pasal 16 (3) dan (4) memang dikatakan bahwa Dirjen dapat menerima dan memproses laporan dari masyarakat atas normalisasi database dalam 1 x 24 jam, namun hal tersebut tidak berarti masyarakat akan bisa langsung mengakses situs yang dinormalisasi (dicabut dari database blokir) tersebut.

Sebab pada pasal 9 (2), tertulis bahwa penyelenggara jasa akses Internet, atau ISP, hanya akan melakukan pembaharuan rutin paling sedikit 1 x seminggu.

Skenarionya, jika ada sebuah situs yang sempat secara ‘tidak sengaja’ masuk dalam database Trust Positif dan lantas diblokir oleh ISP, maka untuk pemulihannya bisa jadi akan memakan waktu 1 minggu, atau secepatnya mengikuti periode pembaharuan berikutnya.

“Memang ada mekanisme pembaharuan 1 x 24 jam, khusus untuk hal yang bersifat mendesak, tanpa ada penjelasan lebih lanjut apa yang dimaksud dengan ‘mendesak’ tersebut,” imbuh Donny yang juga berprofesi sebagai dosen ini.

“Rentang waktu yang dibutuhkan antara pelaporan disampaikan ke Dirjen, diproses dan hingga dipulihkan oleh ISP, sedikit banyak akan merugikan masyarakat yang berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia sebagaimana tertulis pada UUD 1945 pasal 28F,” pungkasnya.

Hanya dalam kurun waktu tak lebih dari 6 tahun sejak diundangkan pada 2008, Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) telah digunakan untuk menjerat dan/atau membungkam lebih dari 30 orang yang melakukan aktifitas kebebasan berekspresi dan/atau berbeda pendapat di ranah internet.

Pasal 27 ayat 3 UU ITE, dengan ancaman hukuman penjara maksimal 6 tahun adalah pasal ‘melankolis’. “Pasal tersebut adalah fasilitas yang disediakan negara bagi mereka yang melankolis dan ingin memanjakan egonya,” ujar Donny B.U., Direktur Eksekutif ICT Watch. Yang terjadi di lapangan, justru pasal tersebut berulang kali digunakan oleh mereka yang memiliki kekuasaan untuk menekan pihak lain yang tak sepaham.

“Hal ini dapat menyebabkan chilling effect, yaitu kekhawatiran untuk berekspresi dan/atau berbeda pendapat di internet karena adanya ancaman sanksi legal dari negara,” tambah Donny, dalam keterangannya, Rabu (5/2/2014).

Padahal menurutnya, kebebasan berekspresi dan berpendapat, telah diatur dan dilindungi antara lain oleh pasal 28F UUD 1945 (amandemen ke-2), pasal 19 dari Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (PBB) dan pasal 19 dari Kesepakatan Internasional tentang Hak-hak Sipil (PBB)2.

“Dapat dikatakan bahwa pasal 27 ayat 3 UU ITE sejatinya berseberangan dengan semangat yang diusung oleh konstitusi negara Republik Indonesia, dan tak sejalan dengan deklarasi universal serta kesepakatan internasional,” tegas Donny, di sela-sela sidang pengadilan kasus ‘Benhan vs Misbakhun’ di PN Jakarta Selatan, Rabu (5/2/2014).

Pengenaan pasal tentang pencemaran nama baik di ranah internet kepada Benhan dan 30-an orang lainnya di Indonesia pun dianggap sebagai contoh jelas tentang bagaimana menghambat akses dan/atau distribusi informasi secara signifikan lantaran chilling effect.

Padahal, Donny menjelaskan, di dalam pengantar laporan tertulis kepada PBB yang ditulis oleh Pelapor Khusus PBB untuk Kebebasan Berpendapat dan Berekpresi, Frank La Rue, September 2013, dikatakan bahwa hambatan terhadap akses (dan distribusi) informasi dapat berpengaruh pada sejumlah hak mendasar, seperti hak sipil dan politik, ekonomi, sosial dan budaya.

Tanpa informasi yang memadai, maka gagasan akan transparansi, akuntabilitas pejabat publik, pemberantasan korupsi ataupun partisipasi publik dalam proses penyusunan kebijakan, tidak akan pernah terwujud. “Praktisnya, sebagaimana ditekankan oleh La Rue, informasi yang memadai adalah prasyarat mutlak bagi pemerintahan yang demokratis,” pungkasnya.

Untuk itulah maka ICT Watch, bersama organisasi masyarakat sipil lainny a, seperti SAFENET (www.safenetvoice.org) dan ELSAM (www.elsam.or.id) mengajak kepada para pemangku kepentingan majemuk (multi-stakeholders) untuk terus berjuang dan berkonsolidasi agar agenda perevisian UU ITE bisa masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) untuk dibahas oleh DPR baru, masa bakti 2014-2019.

“Revisi UU ITE telah gagal masuk dalam agenda Prolegnas 2009-2014. Kini saatnya semua pihak harus sama-sama mendorong agar revisi UU ITE bisa menjadi salah satu prioritas di Prolegnas 2014-2019,” tambah Donny. Tentu saja, menurut pria yang juga masih aktif sebagai dosen ini, jika revisi UU ITE nanti akhirnya masuk dalam Prolegnas berikutnya, maka pembahasannya harus dilakukan secara multi-stakehloders.

“Dengan mengedepankan semangat multi-stakeholders, proses tata kelola internet di Indonesia, termasuk revisi UU ITE di dalamnya, akan dapat dijalankan secara transparan, akuntabel, profesional dan akuntabel,” paparnya. “Secara multi-stakeholders, maka pemerintah, masyarakat sipil, swasta, komunitas teknis dan akademisi harus secara sinergis dan strategis merumuskan tata kelola internet di Indonesia yang lebih baik dan berbasiskan hak asasi manusia, demi kemajuan dan kepentingan generasi muda mendatang di negara Republik Indonesia yang kita cintai ini,” Donny menandaskan.

Kasus ‘Benhan vs Misbakhun’ sendiri akhirnya diputuskan oleh majelis hakim dengan Benny Handoko — pemilik akun twitter @benhan — itu bersalah serta divonis dengan hukuman pidana penjara 6 bulan dengan masa percobaan 1 tahun.

Sebelum membacakan vonis, majelis hakim membacakan pertimbangan yang dirangkum dari keterangan saksi-saksi pada sidang sebelumnya. Hakim menimbang, bahwa Benhan bersalah dengan berkicau di Twitter dengan mencemarkan nama Misbakhun sebagai ‘perampok Bank Century’.

Vonis majelis hakim itu lebih ringan dari tuntutan jaksa yaitu melakukan tindak pidana penghinaan dan pencemaran nama baik seperti yang diatur dalam pasal 27 ayat 3 Jo pasal 45 ayat 1 UU RI Tahun 2008 tentang ITE dengan pidana penjara selama 1 tahun dengan masa percobaan selama 2 tahun.

Skype Dijadikan Tambang Untuk Mendapatkan Bitcoin Secara Cepat

Kaspersky baru-baru ini melaporkan bahwa telah ditemukan sebuah trojan yang memanfaatkan Skype sebagai tambang Bitcoin. Bitcoin adalah mata uang virtual universal yang digunakan di Internet untuk berbagai keperluan komersial termasuk membeli barang nyata.

Antivirus Kaspersky Labs mengatakan Trojan disebarkan melalui pesan instan Skype yang berisi tautan pendek dalam berbagai bahasa yang disebut sebagai gambar dari sang pengirim, seperti dilansir dalam laman BBC, Senin.

Jika pesan tersebut dibuka maka trojan akan masuk dan ternyata telah menyebar luas dengan kecepatan rata-rata 2000 klik per jam.

Trojan ini disinyalir muncul karena semakin tingginya nilai Bitcoin dalam beberapa pekan terakhir.

Satu Bitcoin saat ini berdasarkan situs Mt Gox mencapai harga 186 dolar AS atau sekitar Rp1,8 juta setelah bulan lalu berada di harga 92 dolar AS atau setara Rp892 ribu. Tidak seperti mata uang lainnya, Bitcoins tidak dikeluarkan oleh bank sentral atau otoritas pusat lainnya.

Sebaliknya, pengguna dihargai dalam proses yang disebut “tambang”. Koin akan dikeluarkan ketika mereka memecahkan masalah matematika yang rumit menggunakan komputer.

Penambangan Bitcoin dilakukan dengan cara memanfaatkan komputer untuk melakukan komputasi matematis rumit untuk jaringan Bitcoin yang digunakan untuk mengkonfirmasi transaksi dan meningkatkan keamanannya.

Kenaikan tersebut dipercaya membuat “hacker” tertarik mengumpulkan Bitcoin dengan memasukkan trojan ke komputer korban sebanyak-banyaknya.

“Korban trojan Skype ini kebanyakan berasal dari Italia, Rusia, Polandia, Kosta Rika, Spanyol, Jerman, dan beberapa negara lainnya,” ujar Dmitry Bestuzhev dari Kaspersky Labs.

Trojan ini diidentifikasi oleh Kaspersky dengan nama Trojan.Win32.Jorik.IRCbot.xkt dan menjalankan proses bernama bitcoin-miner.exe. Malware tersebut akan terhubung ke server C2 yang berlokasi di Jerman dengan alamat internet 213.165.68.138:9000.

Peta Lengkap Jaringan Internet Dunia

Sekitar akhir tahun 2013 lalu, jaringan Internet salah satu operator seluler di Indonesia sempat mengalami gangguan. Usut punya usut, hal itu disebabkan karena jaringan sistem komunikasi kabel laut antara Indonesia dan Singapura terputus karena terkena jangkar kapal.
Kabel laut memang menjadi tulang punggung jaringan komunikasi dunia saat ini. Dari peristiwa putusnya kabel Indonesia – Singapura tersebut, mungkin kita jadi bertanya-tanya, seperti apakah jaringan kabel bawah laut dunia itu?

Peta yang dirilis oleh Telegeography mungkin bisa menjawab rasa penasaran Anda. Telegeography melakukan pemetaan jaringan kabel laut yang menjadi tulang punggung Internet di dunia sejak lama.

Untuk versi terbaru tahun 2014, terdapat 285 sistem kabel aktif atau mulai digunakan pada tahun 2015 mendatang. Kabel-kabel optik ini membentang di dasar samudera dan menghubungkan benua-benua.

Dari 285 jalur kabel dunia tersebut, 263 di antaranya saat ini sudah digunakan, sementara 22 lainnya sedang dalam tahap pengerjaan. Sebelumnya di tahun 2013, peta yang dirilis Telegeography hanya menampilkan 244 jalur kabel. Sementara di tahun 2012 hanya 150 jalur.

Namun, dikutip dari GigaOm (29/1/2014), peta kabel Internet dunia yang dirilis tahun ini tidak menyertakan informasi berapa banyak kapasitas sistem kabel yang digunakan. Akan tetapi, Telegeography memberikan informasi kerusakan kabel selama satu tahun ke belakang.

Satu kabel yang belum dipetakan oleh Telegeography adalah kabel Asia Africa Europe-1 (AAE-1), kemungkinan karena baru akan dioperasikan pada 2016 nanti. Kabel ini akan membentang dari Asia Tenggara – Afrika – Eropa melalui Timur Tengah.

Untuk melihat seperti apa jalur kabel Internet dunia, kunjungi peta interaktifnya melalui tautan berikut ini (http://submarine-cable-map-2014.telegeography.com/).

Tutorial: Lima Langkah Amakan Jaringan WiFi

Jaringan Wi-Fi biasanya digunakan secara maksimal untuk keperluan kantor, toko, atau rumah. Dengan menggunakan router, Anda bisa mengakses jaringan Internet dari jarak tertentu, tergantung jangkauan router tersebut.

Tapi, pernah kan kecepatan Wi-Fi Anda terasa lambat? Ini mungkin karena banyaknya pengguna yang nebeng Internetan tanpa izin atau melebihi kemampuan router. Untuk menghindari hal tersebut ada solusinya. Berikut langkahnya:

1. Pasang Password
Jika Wi-Fi di rumah Anda tidak memiliki password, berarti setiap orang yang berada dalam daerah jangkauan bisa mengaksesnya. Bukan hanya akan memperlambat kecepatan kerja internet, tapi bebasnya jaringan Wi-Fi juga bisa membuat komputer yang terhubung dapat diakses oleh peretas. Untuk menambahkan password pada router, Anda perlu mengakses alamat yang terdapat pada tubuh perangkat. Contohnya, 92.168.1.1. Setelah masuk ke dalam menu setting, Anda baru bisa memasang dan mengganti password pada router.

2. Mengenkripsi Router
Meskipun terdengar seperti proses yang sulit, mengenkripsi router sebenarnya bisa dilakukan dengan cara yang mudah. Langkahnya sama seperti saat mengganti password router. Setelah masuk pada menu setting, akan ditawarkan pilihan enkripsi WEP, WPA, dan WPA2. Pilih WPA2 untuk standar pengamanan yang paling baru pada router di rumah Anda.

3. Ganti SSID
SSID adalah nama jaringan router di rumah ketika Anda log in ke dalamnya. Biasanya, nama perangkat tergantung pada penyedia broadband. Mengubah nama SSID akan menghindarkan penyimpangan dari keamanan nirkabel.

4. Matikan Guest Network
Beberapa router Wi-Fi membuat jaringan guest network atau jaringan untuk orang lain agar bisa mengakses Internet. Jika guest network aktif, orang lain bisa Internetan tanpa harus menggunakan perangkat yang dipasangkan dengan router, terutama jika password tidak dipasang. Namun, kekuatan sekaligus kelemahan ini relatif, tergantung bagaimana tujuan Anda memasang router.

5. Atur Posisi Router
Aturlah posisi router di rumah Anda untuk memaksimalkan daerah jangkauan jaringan. Pilih posisi di tengah agar seluruh area rumah bisa mendapat akses. Selain itu, jangan lupa matikan router jika sudah tidak dipakai.

Safari Menduduki Peringkat Pertama Browser Yang Paling Sering Crash

Performa peramban (browser) buatan Microsoft, Internet Explorer (IE), semakin lama semakin membaik. Bahkan, kemampuan peramban tersebut lebih unggul dibandingkan dua produk populer lainnya.

Kesimpulan tersebut didasari dari hasil pengujian yang dilakukan oleh Sauce Labs, sebuah perusahaan penguji dan pengembang software internet. Sepanjang tahun, mereka menjalankan sekitar 55 juta tes otomatis dari situs web dan aplikasi web. Dari serangkaian uji coba tersebut, Sauce Labs berhasil menyimpulkan peramban mana yang paling sering bermasalah atau crash. Dari penelitian tersebut, seperti dikutip dari ZDnet, Rabu (21/8/2013), terlihat bahwa peramban terbaru milik Apple, Safari 6, merupakan produk yang paling sering crash dengan tingkat error 0,12 persen.

Opera versi 12 merupakan produk berikutnya yang paling sering crash dengan nilai 0,08 persen.

Peramban milik Microsoft pernah begitu dihindari karena memiliki performa yang kurang baik, produk ini sering crash. Namun, dengan berjalannya waktu, Microsoft berhasil menemukan formula terbaik. Performa IE10 jauh meningkat dengan menduduki posisi ketiga daftar tersebut dengan nilai 0,05 persen saja.

Sementara itu, peramban Google Chrome 27 dan Firefox 22 jauh lebih superior dibandingkan produk lain. Chrome 27 hanya mengalami tingkat crash sebanyak 0,01 persen saja dan Firefox bahkan menyentuh angka 0 atau tidak pernah crash dalam pengujian tersebut.

“Chrome 27 dan Firefox 22 secara virtual tidak memiliki angka eror,” kata Lauren Nguyen, Marketing Communications Manager Sauce Labs. IE tetap jawara “crash” Apabila semua versi digabungkan, peramban IE menduduki posisi puncak sebagai produk yang paling banyak crash.

Secara keseluruhan, tingkat rata-rata eror IE adalah 0,25 persen. Nilai tersebut disumbangkan IE6 dengan 0,31 persen, IE7 dengan 0,29 persen, IE8 dengan 0,22 persen, IE9 dengan 0,1 persen, dan IE10 dengan 0,05 persen. Meskipun begitu, Microsoft tetap boleh berbangga hati karena performa dari produk mereka ini semakin membaik. Lihat saja perbandingan jumlah eror antara IE6 dengan IE10 yang mencapai 0,26 persen.

“Microsoft dengan sangat baik menghancurkan sejarah tingkat eror yang tinggi melalui IE 10 dengan tingkat eror yang hanya mencapai 0,05 persen,” kata Nguyen. Safari ada di peringkat kedua dengan 0,15 persen, Opera dengan 0,13 persen, Chrome dengan 0,12 persen, dan Firefox dengan 0,11 persen.