Monthly Archives: September 2010

Mobile Advertising Adalah Bisnis Baru Operator Yang Menggiurkan

Jutaan dollar dikeluarkan hanya untuk menampilkan eksistensi citra produk dan perusahaan. Tapi banyak perusahaan yang tidak tahu, apakah ongkos yang mereka keluarkan memberi dampak signifikan atau tidak.

Di sinilah kemudian muncul tawaran untuk memanfaatkan konsumen industri seluler sebagai sebuah terobosan. Hasilnya, menurut catatan AdMob, pada tahun 2008, permintaan akan mobile advertising (mobile ad) di Indonesia menduduki urutan kedua setelah Amerika Serikat. Dari 20 negara, persentase Indonesia cukup besar, yaitu 22,4 persen, sementara negeri Paman Sam meraih 39,3 persen. India, Inggris, Filipina, Afrika Selatan, yang berada di bawah Indonesia, malah tak sampai 10 persen. Secara total, trafik mobile advertising di Indonesia mencapai lebih dari 1,1 milyar.

Tidak saja unggul dalam penggunaan Facebook dan Twitter, diam-diam iklan bergerak yang disebar lewat perangkat ponsel mengalami pelonjakan luar biasa di Indonesia.

Namun data luar biasa justru disodorkan oleh BuzzCity. Perusahaan berbasis mobile ini mendudukkan Indonesia sebagai yang tertinggi di dunia, yaitu sebesar 3 milyar iklan mobile per kuartal. India di bawahnya dan hanya mencapai 1 milyar saja.

Dari layanan mobile ad tersebut, eMarketer mencatat terjadi kenaikan yang amat signifikan. Tahun 2006, pendapatan iklan dari jasa ini meraih angka 1,5 milyar dollar secara global. Tahun berikutnya naik nyaris dua kali lipat, 2,8 milyar dollar. Tahun 2008 menembus angka 5 milyar dollar.

Namun tahun 2009 seiring dengan krisis yang terjadi di banyak negara, meski mengalami kenaikan, tapi hanya menoreh pendapatan 7,5 milyar dollar. Tahun ini, diperkirakan akan meraih 11,5 milyar dollar di seluruh dunia. Artinya, setiap tahun terjadi progresifitas rata-rata sekitar 50 persen.

MENGAPA MOBILE AD?

Real Networks melaporkan bahwa 25 persen dari pengguna ponsel di seluruh dunia pada tiga tahun silam mengakses ke internet. Data lain menyebutkan, bahwa akses internet di tahun tersebut, 30 persennya justru dilakukan lewat ponsel. Sementara itu, Juniper Research memprediksikan sampai tahun 2013 pengguna ponsel yang menggunakan internet mobile akan mencapai 1,7 milyar di seluruh dunia.

Dengan data ini, peluang mobile ad memang sangat luar biasa. Target iklan juga bisa ditentukan sesuai keinginan pemasang iklan. Tentu saja tak perlu menunggu jadwal tayang, karena bisa dilakukan dengan segera dan real time.

Blog.buzzcity.com menyebutkan pula demografi berdasarkan usia para pengakses internet mobile. Di kawasan Asia Pasifik, pengguna umur 20 hingga 25 tahun adalah yang terbesar (34 persen), disusul umur 25 – 30 tahun (24 persen). Sementara pengguna usia 15-20 tahun sebesar 15 persen, sisanya yang 14 persen dari usia 30-35 tahun.

RAGAM MOBILE AD

Ini adalah cara beriklan baru yang paling presisi untuk menentukan target. Produsen ingin melakukan pendekatan yang lebih pasti dan terjamin kepada konsumen yang menjadi segmennya.

Calvin Klein “menembak” para pengguna ponsel lewat program CKIN2U. Konsumen ditawari produk baru dengan cara beli satu dapat dua. Itu pun masih ditambah iming-iming hadiah berupa ipod. Agar tak sekadar promosi semata, software dalam format splash itu disertai akses untuk memilih beraneka macam wallpaper. Kesannya, ya jualan, ya bagi gratis aplikasi. Agar promosi ini tersebar dari konsumen ke konsumen lewat metode “words of mouth” diberikan pula opsi untuk pengiriman (send) ke konsumen lain. Barangkali memang ada kawan yang cinta produk CK.

Sementara Burger King, si raja burger itu, menggandeng Maroon 5, grup pop rock asal Amerika dalam salah satu lagunya untuk promo. Ketika lagu band ini masuk di toko musik digital salah satu produk ponsel, secara otomatis Burger King pun tampil pula di sana. Kolaborasi Burger King – Maroon 5 adalah kreativitas marketing yang dikemas dalam format lain.

Contoh lain yang dilakukan oleh Nintendo lewat gim Mario Bros.-nya. Diam-diam ketika Anda bermain gim fenomenal ini, tampak brand Coca Cola lengkap dengan kalengnya di layar. Lalu, melintas pula balon terbang bertuliskan Good Year.

Gerai kopi internasional, StarBucks, menebar MMS yang berisi promosi produk baru dan calon pembelinya bakal mendapat gratis kopi late. Syaratnya cukup menunjukkan MMS yang berisi kode QR ke kafe StarBucks. Cara serupa dilakukan McDonalds yang malah disertai foto burger yang supertebal.

Kreativitas tentulah terus bertumbuh seiring dengan makin munculnya berbagai aplikasi dan layanan digital dalam bentuk social networking maupun LNS (Location Network Services) seperti Korpol, FourSquare, dan lan-lain.

Munculnya perusahaan seperti BuzzCity kian mendorong perolehan iklan, khususnya lewat aplikasi yang kian menjamur lantaran semakin banyaknya application store dengan berbagai ragam platform. Perusahaan yang bermarkas di Singapura ini menawarkan iklan dalam bentuk banner untuk dipasang di aplikasi buatan para pengembang. Para pemasang iklan mendapat kepastian target yang mereka minta dari BuzzCity. Misalnya berdasarkan negara, pekerjaan, jenis ponsel, sistem operasi ponsel, jenis kelamin, dan lainnya. Sementara pengembang aplikasi akan memperoleh tambahan pendapatan dari iklan.

Jika pemasang iklan meminta opsi khusus seperti menu panggilan atau SMS ke nomor tertentu (umpamanya ke customer service), termasuk pula keperluan survei maupun polling, BuzzCity menyediakan layanan ini.

Pada kenyataannya, model bisnis yang dilakukan pada layanan mobile ad memang memadukan antara bisnis iklan dan bisnis perangkat lunak (software). Perangkat telekomunikasi seperti ponsel (bahkan pula netbook, tablet PC, modem) dan jaringan seluler adalah “kendaraan”-nya (Jurnal “Business Models in the Emerging Context of Mobile Advertising”, Hanna Komulainen, dkk, 2004).

MEMANGKAS BIROKRASI

Dalam jurnal yang ditulis oleh para peneliti dan profesor Universitas Oulu, Finlandia ini, disebutkan bahwa penentuan model bisnis sangat beragam. Hal ini tergantung pada kebutuhan apa yang hendak dicapai oleh sebuah perusahaan untuk meningkatkan pendapatan dengan berdasarkan pada target konsumen spesifik yang dibidik, jenis produk, dan posisi bisnis yang dijalankan dalam rantai bisnis itu sendiri.

Pihak pemasang iklan juga lebih mudah dalam melakukan eksekusi. Sangat berbeda dengan iklan tradisional di media cetak maupun tradisional yang melibatkan banyak pihak. Ada biro iklan, pihak produser dan pasca-produksi, dan lainnya.

Dengan mobile ad memangkas banyak jalur. Kreativitas tetap diperlukan, namun bukan dalam konteks penampilan dan estetika produk iklan. Iklan mobile membutuhkan kecerdasan dalam membuat formatnya, yang dikemas dalam tampilan pada layar yang mungil, dan tentu saja terbuka untuk terintegrasi dengan berbagai layanan dan interaktif. Oleh sebab itu, ketika bentuk iklan telah ditentukan, selanjutnya bagian pembuat software-lah yang meneruskan kreatif berikutnya.

MENCARI JALUR YANG TEPAT

Pada 2008, menurut catatan Strategy Analytics, jalur mobile ad yang paling besar adalah memanfaatkan web (termasuk WAP) untuk display yang mencapai 70 persen. Sementara SMS dan MMS hanya 10 persen saja. Lewat jalur aplikasi dan gim masing-masing hanya di angka 3 persen.

Namun di tahun 2012, seiring dengan perkembangan teknologi ponsel dan layanannya (termasuk toko aplikasi), jalur aplikasi dan gim lah yang akan meningkat tajam. Diramalkan akan naik dua hingga tiga kali lipat. Sementara iklan yang memanfaatkan web turun delapan persen. Begitu halnya dengan SMS dan MMS yang turun sampai empat persen.

Bisnis mobile ad pada intinya berbasis pada data konsumen. Siapa konsumen yang akan dibidik adalah kuncinya. Maka peran operator sebagai penyedia layanan jaringan sekaligus pemilik data konsumen menjadi sangat penting. Sebab, pengiklan tentu saja sangat membutuhkan data spesifik untuk menyebarkan iklannya.

Pengiklan hanya membutuhkan data dan nomor konsumen yang akan memperoleh pesan dari perusahaan (Hanna Komulainen, dkk, 2004). Komulanen, dkk, menyebutkan pula bahwa para “pelaku” iklan secara otomatis akan berkurang jika operator mengambil alih dan berfungsi pula sebagai mobile advertising service provider (MASP).

Artinya, ini menjadi peluang bagi operator, dan  bisa jadi “mimpi buruk” bagi industri media tradisional dan agensi iklan.

Microsoft Menggunakan WordPress Untuk Live Spacesnya

Siapa menyangka perusahaan raksasa sebesar Microsoft akhirnya tak sanggup mengelola layanan blognya. Windows Live Spaces yang saat ini telah digunakan sekitar 30 juta orang di seluruh dunia pun dipasrahkan kepada WordPress.com.

“Ketimbang berinvestasi di Windows Live dalam persaingan layanan blog, kami memilih langkah terbaik yang dapat kami lakukan bagi konsumen dengan memberikannya solusi blog terbaik melalui WordPress.com,” demikian pernyataan resmi Microsoft yang ditulis Dharmesh Mehta, Direktur Windows Live Product Management, dalam blog resminya. Kesepakatan antara Microsoft dan WordPress ini diumumkan dalam konferensi Techcrunch Disrupt yang digelar di San Francisco, Senin.

Dalam waktu dekat, pengguna yang akan memperbarui halamannya di Windows Live Space akan dihadapkan pada halaman migrasi ke WordPress. Pengguna yang tidak berkenan beralih ke WordPress bisa memilih untuk mengunduh semua kontennya ke komputer atau menghapus blognya. Proses transisi ini akan dilakukan dalam waktu enam bulan.

“Dalam periode enam bulan, mulai hari ini, pengguna Windows Live Spaces akan diminta memindahkan blognya ke WordPress.com,” kata Paul Kim dalam blog WordPress. Ia menambahkan, pihaknya telah menyediakan layanan migrasi yang memudahkan pengguna mengalihkan semua kontennya ke alamat web yang baru. Begitu sukses dialihkan, pengguna dapat mengumumkan alamat yang baru ke teman-temannya melalui Live Messenger.

Masuknya pengguna layanan blog Microsoft bakal menambah pangsa pasar WordPress.com. Saat ini sekitar 8,5 persen web di dunia menggunakan platform WordPress. Platform WordPress digunakan sekitar 26 juta situs web, sementara WordPress.com digunakan 250 juta pengguna.

AOL Ambil Alih Situs Blog TechCrunch

AOL Inc mengatakan telah mengakuisisi blog dan jaringan teknologi populer TechCrunch. Langkha tersebut sebagai upaya menjadikan AOL sebuah penyedia portal hiburan dan pusat berita.

Menurut sebuah sumber yang mengetahui kesepakatan itu, nilai transaksinya sekitar 30 juta dollar AS. AOL akan membeli blog teknologi yang terkenal itu dari pendirinya Michael Arrington.

“Kami masih berinvestasi di area konten dan… menambahkan merek konten yang lebih banyak ke dalam portofolio kami,” kata Chief Executive AOL, Tim Armstrong tentang akuisisi.

Armstrong mengatakan bahwa Arrington juga menyepakati perjanjian dengan AOL untuk tetap mengoperasikan TechCrunch selama beberapa tahun. Sementara AOL akan memberikan lebih banyak sumber daya untuk TechCrunch.

AOL dan TechCrunch mengumumkan kesepakatan tersebut pada Selasa (28/9/2010) dalam ajang TechCrunch Disrupt conference di San Francisco.

“Saya berharap untuk bekerja sama dengan semua orang di AOL karena kami membangun reputasi untuk jurnalisme teknologi independen dan terus membuat acara dalam wawasan, review dan diskusi kolaboratif tentang masa depan industri teknologi,” ujar Arrington dalam sebuah pernyataan dikutip Reuters.

AOL saat ini memiliki sekitar 80 situs web termasuk blog teknologi Engadget, yang memiliki sekitar 7,5 juta pengunjung pada Agustus, sedangkan TechCrunch memiliki sekitar 3,8 juta pada bulan yang sama menurut comScore. AOL lepas dari Time Warner Inc tahun lalu setelah bergabung selama satu dekade.

Selain mengakuisisi TechCrunch, AOL juga mengumumkan telah mengakuisisi platform sindikasi konten video 5min Media dengan harga yang tidak disebutkan.

Sony Ericsson LiveView Dengan Layar Baru Yang Lebih Seru

Teknologi perangkat keras seluler pada akhirnya memicu munculnya gadget-gadget pendukung. Fungsinya macam-macam, selain untuk membantu ketika melakukan telefoni, juga mengekspresikan diri. Ujung-ujungnya adalah menikmati pengalaman baru dan rasa aman serta nyaman.

Sony Ericsson boleh jadi merupakan vendor yang paling kreatif untuk urusan penciptaan produk sampingan. Sebuah perangkat baru diluncurkan, bernama LiveView. Gadget yang terhubung secara nirkabel lewat bluetooth ke ponsel Sony Ericsson (khususnya Android) ini bertugas untuk menampilkan apa yang tampil di layar juga berfungsi untuk mengontrol fitur tanpa harus menggenggam ponsel.

Dimensinya begitu mungil. Hanya 3,5 x3,5 cm dengan tebal 1 cm, hingga dapat diselipkan di baju, gantungan kunci, jam tangan, atau di mana saja yang memungkinkan. Apalagi, ia dilengkapi dengan tali pengikat maupun klip penjepit.

LiveView dilengkapi oleh sebuah layar OLED berukuran diaginal 1,3 inci. Layar mikro inilah yang akan menampilkan, misalnya panggilan atau SMS masuk, berita yang dikemas dalam format RSS, status baru rekan Anda di Facebook atau Twitter, reminder, bahkan untuk pengaturan pemutar musik sekalipun.

Untuk mengisi ulang baterai cukup dengan mencolokkan lewat microUSB charger. Dalam keadaan full battery, ia bisa bertahan hingga empat hari. “Kami akan terus mengembangkan aksesori untuk memastikan bahwa kami memainkan peran penting dan merupakan penggagas utama dalam pasar inovatif dalam desain dan aksesori yang menarik untuk semua platform termasuk Android,” bilang Djunadi Satrio, Head of Marketing Sony Ericsson Indonesia.

Aksesori mini ini sendiri kemungkinan besar akan dirilis pada menjelang akhir tahun ini.

Penggunaan Teknologi Informasi Yang Lemah Membuat Indonesia Kehilangan Daya Saing

Naiknya peringkat daya saing Indonesia dalam Indeks Kompetisi Global 2010-2011 yang dikeluarkan Forum Ekonomi Dunia disambut positif pemerintah dan sebagian kalangan usaha. Peringkat GCI Indonesia yang tahun sebelumnya hanya pada peringkat ke-54 dari 133 negara naik menjadi urutan ke-44 dari 139 negara.

Meski nilai secara keseluruhan membaik, Indonesia hanya berada pada urutan ke-103 dalam subkategori penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang bisa mendorong efisiensi dan meningkatkan daya saing ekonomi. Dalam subkategori itu, hal yang dinilai adalah jumlah pengguna internet yang menempatkan Indonesia di peringkat ke-107, pelanggan internet (99), dan lebar pita jaringan internet (102).

Dibandingkan dengan delapan negara ASEAN yang disurvei, selain Myanmar dan Laos, peringkat penggunaan TIK Indonesia hanya lebih baik dibandingkan Kamboja (129). Sedangkan dibandingkan negara-negara BRIC (Brasil, Rusia, India, China) yang ekonominya tumbuh pesat, posisi Indonesia hanya lebih baik dibandingkan India (118). Walau jumlah penggunanya rendah, India merupakan eksportir produk peranti lunak dan ahli-ahli TIK dalam jumlah besar.

Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika Gatot S Dewa Broto di Jakarta, Rabu (15/9), mengatakan, rendahnya peringkat Indonesia disebabkan rendahnya ketersediaan infrastruktur TIK.

Hingga kini, masih ada sekitar 7.000 desa dari sekitar 72.000 desa yang belum terhubung jaringan telepon berbasis suara. Desa-desa itu umumnya tersebar di Sulawesi, Maluku, dan Papua yang memiliki hambatan geografis. Jaringan serat optik Indonesia juga belum menjangkau pulau-pulau itu sehingga akses telepon masih dilakukan melalui satelit yang mahal biayanya.

Untuk telepon berbasis internet, ditargetkan akan menjangkau 5.000 desa di ibu kota kecamatan akhir tahun ini. Pemerintah saat ini sedang menyelesaikan pembangunan jaringan serat optik antara Mataram, Nusa Tenggara Barat, dan Kupang, Nusa Tenggara Timur. Sedangkan serat optik yang menghubungkan Sulawesi-Maluku-Papua belum terbangun.

”Daerah yang semua desanya sudah terakses telepon berbasis suara dan internet adalah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi),” kata Gatot.

Pengguna internet di Indonesia diperkirakan baru mencapai 50 juta orang atau sekitar 20 persen dari jumlah penduduk. Dari 180-an perusahaan penyedia jasa internet, sekitar 150 perusahaan di antaranya beroperasi di Jabodetabek. Sisanya berada di kota-kota besar saja, seperti Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Medan, dan Makassar.

Sekretaris Jenderal Masyarakat Telematika Indonesia Mas Wigrantoro Roes Setiadi mengingatkan pemerintah untuk membangun infrastruktur TIK secara proporsional, berdasarkan kebutuhan daerah dan ketersediaan sarana yang ada. Namun, kesenjangan infrastruktur antardaerah, baik dalam kuantitas maupun kualitas, juga harus ditekan sehingga akses masyarakat terhadap TIK merata.

Guru Besar Teknik Komputer Universitas Indonesia Kalamullah Ramli mengatakan, jika persoalan infrastruktur informasi dan telekomunikasi nantinya selesai dibangun, pemerintah perlu memberdayakan masyarakat agar bisa menggunakan internet secara positif dan aktif. Internet selama ini cenderung digunakan untuk hal-hal yang kurang produktif, seperti akses jejaring sosial atau situs pornografi.

”Penggunaan internet seharusnya bisa meningkatkan ekonomi masyarakat,” katanya.

Penggunaan internet juga dinilai Kalamullah belum merata. Internet masih dianggap sebagai barang mahal. Hanya kelompok menengah atas yang bisa berlangganan internet. Sedangkan kelompok menengah bawah mengakses internet melalui warung-warung internet yang lokasinya terbatas.

Menurut Wigrantoro, untuk meningkatkan penggunaan TIK demi mendorong daya saing ekonomi Indonesia, pemerintah perlu melakukan rekayasa sosial untuk mengarahkan pemanfaatan internet secara intensif dan ekstensif.

Penggunaan TIK secara intensif perlu dilakukan agar pemanfaatan teknologi itu dapat meningkatkan efisiensi dan mendorong daya saing ekonomi masyarakat yang sesungguhnya. Sedangkan upaya mendorong penggunaan TIK secara ekstensif dapat dilakukan dengan penggunaan TIK di berbagai sektor pembangunan.

”Konsistensi kebijakan penggunaan TIK juga harus dijaga,” ungkap Wigrantoro.

Facebook Terbukti Membuat Hasil Ujian Anak Jeblok … Bila Ingin Lulus Ujian Nasional Delete Akun Facebook Mu

Para orang tua mungkin boleh membenarkan diri jika cemas dengan anak remajanya kecanduan komputer. Sebuah penelitian mengungkap bahwa remaja yang belajar sambil main Facebook akan mendapat nilai pelajaran yang lebih jelek dibandingkan rekan mereka yang belajar tanpa main Facebook.

Seperti dikutip Daily Mail, para psikolog melakukan penelitian dan mengungkap bahwa hasil ujian dari mereka yang belajar sambil main situs jejaring sosial itu lebih kecil 20 persen dibandingkan rekan mereka yang belajar saja.

Temuan itu menyanggah teori bahwa otak anak muda mampu lebih baik dalam multi tasking saat menggunakan perangkat digital.

Pemimpin penelitian itu, Professor Paul Kirschner mengatakan : “Masalahnya adalah kebanyakan orang memiliki akun di Facebook atau situs jejaring sosial lainnya, surat-e dan pesan instan yang terus menerus mengalir di background saat mereka mengerjakan hal lain.”

“Penelitian kami, dan penelitian lain sebelumnya, menyimpulkan tidak benar jika terus menerus gonta-ganti kegiatan di komputer akan membuat semua pekerjaan lebih cepat selesai. Kenyataannya, justru waktu yang dibutuhkan lebih lama selain makin banyak kekeliruan yang dibuat.”

Timnya meneliti 219 pelajar yang berusia antara 19 dan 54 tahun di sebuah universitas di Amerika Serikat.

Para pengguna Facebook yang diteliti memiliki rata rata nilai 3,06 sedangkan rekan mereka yang tidak main Facebook nilai rata-rata GPA (Grade Point Average)-nya 3,82.

Mereka yang tidak menggunakan situs itu menyediakan waktu lebih untuk belajar dan rata-rata 88 persen lebih lama belajar di luar kelas.

Tiga perempat dari para pengguna Facebook mengatakan tak percaya bahwa menghabiskan waktu di Facebook akan berdampak pada kemampuan akademik mereka.

Seperempat sisanya hampir semua mengaku dampak Facebook cukup berbahaya dan membuat mereka tidak belajar.Professor kirschner yakin bahwa hasil serupa juga berlaku untuk usia kanak-kanak.

Ia membantah dirinya ingin “meniadakan” Facebook. Dia menyatakan bahwa sifat menganggu itu juga berlaku untuk semua jejaring sosial.

“Kita harus menolak pandangan modern dari dunia pendidikan bahwa anak anak dapat melakukan multi-task, dan bahwa kita harus menyesuaikan sistem pendidikan kita sesuai perkembangan zaman,” Ujarnya

Penelitian yang dilakukan oleh para psikolog dari Universitas di Belanda itu akan diterbitkan pada jurnal Computers in Human Behaviour.

Freerice Sebuah Game Online Yang Mampu Memberi Makan Gratis 4 Juta Orang Sehari

Suka permainan asah otak dan tak sekedar menghabiskan waktu? Coba game online di Freerice.com karena main game itu berarti juga menyumbang beras bagi mereka yang kelaparan di seluruh dunia, demikian lansir BBC, Rabu.

Caranya pun mudah. Anda tinggal membuka laman web tersebut dan anda tinggal memilih satu jawaban yang benar dari empat pilihan jawaban tentang arti suatu kata.

Setiap kali anda memilih jawaban yang benar, berarti anda menyumbang sepuluh butir beras untuk negara-negara miskin seperti Uganda dan Bangladesh.

Freerice.com telah berhasil menarik 40.000 pengguna internet setiap harinya, game yang diluncurkan sejak 2007 itu kini sedang diusahakan untuk bergabung dengan jejaring sosial terkemukan seperti Facebook dan Twitter.

Sementara itu applikasi untuk telepon selular (ponsel) cerdas seperti iPhone dan tablet canggih iPad pun akan segera tersedia.

Freerice.com juga semakin memperbanyak permainan yang bisa membantu para penggemarnya menguji kemampuan mereka dalam bidang lain seperti seni, geografi, kimia, dan matematika.

Situs itu pada mulanya adalah buah pikiran dari John Breen yang awalnya merancang ‘game’ itu untuk membantu putranya mempersiapkan diri menghadapi ujian masuk perguruan tinggi.

Saat menyadari potensi permainan itu untuk membantu mereka yang berkekurangan, ia menyumbangkannya kepada World Food Programme (WFP).

Dalam waktu sebulan sejak diluncurkan, permainan itu telah mengumpulkan jumlah beras yang cukup untuk memberi makan lebih dari 50.000 orang dalam sehari.

Dan kini, laman itu telah berhasil mengumpulkan beras untuk memberi makan lebih dari empat juta orang sehari.

Tiap kali seorang pemain memberi jawaban yang benar, iklan yang ditayangkan pada bagian bawah laman itu akan berganti dan para pengiklan itulah yang membayar harga untuk tiap sepuluh butir beras yang dihadiahkan.

“Memasukan permainan itu ke dalam Facebook dan Twitter adalah sesuatu yang selalu diminta oleh para pemain kelas berat kami,” kata Nancy Roman, direktur komunikasi WFP.

“Freerice sedang menciptakan sejarah dalam dunia internet. Ini adalah contoh cemerlang bagaimana gagasan yang sederhana dan menyenangkan bisa memanfaatkan potensi internet untuk berkontribusi dalam isu dunia yang paling mendesak, kelaparan,” tegas Roman.

Nah, saatnya Anda mencoba!

Microsoft Akan Tindak Tegas Para Pembajak Software

Microsoft menegaskan tidak akan mentolerir perilaku yang membuat dealer komputer, perusahaan, dan konsumen menanggung risiko karena menggunakan perangkat lunak bajakan.

Dalam siaran pers yang diterima ANTARA News Rabu, Jonathan Selvasegaram, Legal Advisor for Intellectual Property Microsoft mengatakan, pihaknya sudah mengambil pendekatan yang bersifat edukatif sebelumnya, tapi juga menyadari kebutuhan akan tindakan yang lebih ‘tegas’.

Hal itu perlu untuk melindungi pembeli dari masalah keamanan dan virus yang bebas ikut terbawa di dalam perangkat lunak bajakan.

Tingginya ancaman kejahatan cyber seperti phishing, hacking dan perangkat lunak palsu, keamanan menjadi agenda utama bagi Microsoft untuk meyakinkan perusahaan dan konsumer untuk memiliki perangkat lunak yang asli dan aman di dalam komputer mereka.

Microsoft sedang melakukan tindakan anti pembajakan untuk mengidentifikasi para penjual PC yang diketahui menjual PC baru yang di-install dengan perangkat lunak Microsoft bajakan kepada pembeli yang bermaksud membeli perangkat lunak asli.

Kampanye anti-pembajakan itu akan dilakukan selama 6 bulan ke depan berupa komunikasi langsung dengan penjual komputer sedang dilakukan pada saat ini.

“Dalam tiga tahun terakhir, kami telah menghabiskan banyak waktu dan upaya untuk mengedukasi para dealer komputer mengenai kerugian akibat penjualan PC yang sudah terisi dengan perangkat lunak bajakan,” katanya.

Dalam kampanye tersebut, penyidik swasta akan melakukan pembelian komputer baru secara acak dan mengirim komputer-komputer tersebut ke teknisi perangkat lunak yang akan menguji apakah komputer tersebut dijual dengan perangkat lunak asli dan berlisensi atau tidak.

“Kami telah melakukan survei dan mengeluarkan surat yang bersifat edukatif dan peringatan kepada lebih dari 2000 dealer,” katanya.

Dealer yang menjual komputer dengan perangkat lunak asli akan menerima surat penghargaan dari Microsoft, sedangkan mereka yang tidak lulus akan menerima surat tuntutan hukum yang akan dikenakan tuntutan hukum perdata atau dilaporkan kepada pihak Kepolisian untuk menghadapi tuntutan pidana.

“Dealer yang menawarkan komputer dengan perangkat lunak bajakan tidak hanya membuat penjual menghadapi menghadapi resiko berupa tindakan hukum dari kepolisian juga resiko berupa  masalah keamanan karena menggunakan perangkat lunak bajakan,” katanya.

Cara Menghindari Dari Terlena Di Jejeraing Sosial Networking Dunia Maya

Apakah hingga kini kamu masih ”nge- blog”, ”nge-tweet”, atau ”nge-Facebook”, hanya mengisinya dengan: ”Lagi ’boring’… jalanan macet!” Atau, ”Pulang kampus, haus n lapar”. Bentuk lainnya, ”’Thank you honey’. Besok kita ke jalan lagi yuk!”

Jika iya, komentar kamu adalah bagian dari ”sampah” yang mengakibatkan jutaan orang bosan dengan dunia maya. Mesin pencari juga telah memerangi website atau blog yang isinya sekadar ”sampah”.

Jika kamu masih sekadar ber-ha-ha-hi-hi di dunia maya, update status gitu-gitu aja, tidak bisa tidur hingga larut malam hanya menunggu komentar ”sampah”, dan mondar-mandir untuk browsing sesuatu yang tak berguna, kamu merupakan bagian dari netizen korban teknologi.

Sayangnya, sebagian kita masih seperti itu, menjadi orang yang sekadar mengonsumsi produk internet. Apa pun produknya, diikuti dan selalu dipakai. Tak ada kreativitas karena dikiranya internet ada untuk bermain atau mencari hiburan.

Kita merasa bangga hanya karena akun Twitter kita diikuti ribuan followers, padahal isi komentar kita tak jauh dari status ”sampah”. Atau, merasa sudah seperti pesohor ketika grup di Facebook yang kita buat melejit. Padahal, itu tak memberikan arti apa-apa buat kamu di kemudian hari.

Di lingkungan sosial dunia nyata, persoalan ini pun diseret-seret untuk mengukur status sosial seseorang. Akhirnya, ketika si Andi, misalnya, tak suka dengan Twitter atau Facebook, dan tak mau bergabung, Andi dikucilkan dari komunitas. Padahal, boleh jadi Andi itu lebih melek teknologi dan menolak hal-hal yang sifatnya latah teknologi.

Fenomena menyesatkan ini tak hanya mengkhawatirkan di level remaja, tetapi juga orangtua. Apa sebabnya? Karena orang- tua, yang biasanya buta teknologi, sudah abai ketika melihat anak-anaknya menggunakan internet di komputer, laptop, atau handphone hanya untuk keperluan hiburan semata.

Anak-anak sejak SD telah terpatri di ingatannya, membeli handphone harus bisa Twitter dan Facebook. Mereka mengenal internet dari telepon genggam pertamanya, dan menganggap semua itu fungsinya untuk hiburan.

Sejak kecil, generasi kini sudah canggih menggunakan internet untuk keperluan media sosial dan hiburan, seperti mendengarkan musik atau bermain game. Akan tetapi, mereka tak terbiasa menggunakan internet untuk membantu menyelesaikan PR sekolah, misalnya.

Mulai jenuh

Ketika ”Kompas Kampus” memberikan tema terkait digitalisasi dalam kehidupan sehari-hari, awalnya hanya menjajaki seperti apa pengalaman warga kampus terkait tren yang berkembang kini. Hasilnya, banyak yang mengirim komentar soal kejenuhan terhadap fenomena ini.

Kejenuhan terutama melanda mereka yang terjejali berbagai produk era siber, terutama yang didominasi situs jejaring sosial. Era media sosial tak menjadikan kita semakin ”sosialis” dan ramah dengan sesama di dunia nyata walau di kehidupan maya orang itu tersohor secara sosial.

”Jejaring sosial dapat menurunkan kualitas hidup seseorang. Darinya, tercipta individu-individu narsis. Kuantitas teman atau pengikut hanya dimanfaatkan untuk keuntungan dan kepuasan diri,” kata Khoirul Muzakki, Mahasiswa Tadris Bahasa Inggris IAIN Walisongo, Semarang.

Semut di seberang lautan jelas kelihatan, tetapi gajah di pelupuk mata tak tampak. Itulah arti harfiah yang bisa melukiskan kondisi kini. Di dunia maya, orang asing di seberang benua begitu digadang-gadang, sementara di dunia nyata teman kita di sebelah tak dianggap.

Ah, ironis sekali! Jika kita tak hati-hati melangkah, hanya ”memakan” semua yang diberikan pengembang berbagai situs jejaring sosial itu, kita hanya menjadi penonton. Indonesia menjadi negeri yang tetap menggiurkan, tetapi dari sisi pasar sebagai bangsa yang rakus dan konsumtif.

Lalu, kapan kita memikirkan untuk produktif? Sudah saatnya kita memulai kampanye stop browsing yang tak berguna dan memikirkan untuk lebih kreatif dan produktif.

Beberapa anak bangsa sudah menunjukkan bahwa kreativitas mereka di dunia maya melahirkan miracle. Mereka pastinya rela tidak browsing hal-hal yang tak perlu, mendedikasikan waktunya untuk melahirkan atau mengelola produk.

Contoh kecil itu bisa dilihat, misalnya, bagaimana Andrew Darwis dulu mendirikan Kaskus, yang berkembang menjadi komunitas terbesar di Indonesia. Atau, Satya Witoelar, Fajar Budiprasetyo, dan Daniel Armanto yang mengelola Koprol, dan menjadi produk global karena diakuisisi Yahoo.

Dari sisi yang kelihatannya iseng, tetapi membuahkan hasil, bisa dilihat sepak terjang Audrey dan Gamaliel yang rajin mengunggah video menyanyi hasil kreasi sendiri di Youtube. Juga, pantas dicatat bagaimana Diana Rikasari konsisten mengelola blog khusus soal fashion.

Agar tak jadi korban

Stop browsing hal-hal yang tak perlu. Mulai berpikirlah untuk memproduksi sesuatu (misal: tulisan, video, lagu, memasarkan barang tertentu, menawarkan desain T-shirt, jasa membuat undangan online, membuat software, jasa membuat situs web, dan membangun portal web dengan tema spesifik), jangan sekadar menjadi target pasar.

Manfaatkan situs jejaring sosial untuk tujuan terfokus, misal promosi produk buatan kamu. Atau, jika fokus kamu ingin menjadi gitaris, ya isilah dengan hal-hal yang terfokus ke gitar. Jika kamu ingin jadi ahli pemasaran internet, isilah dengan teknik pemasaran internet yang dibutuhkan pembaca.

Hindari curhat murahan, caci maki, fitnah, berita sumir, copy + paste tulisan orang lain tanpa izin atau tanpa menyebutkan sumbernya.

Jangan latah, kreatiflah! Contoh: jika sudah banyak yang mengunggah video soal ”Keong Racun”, ya kamu jangan mengikuti jejak itu.

Anggap seperti di dunia nyata. Jika kamu di dunia nyata tak mengumpat atau menghardik orang, maka di dunia maya juga harus begitu. Tetap sopan menggunakan gadget. Sopan kepada teman, saudara, orang asing, guru atau dosen, mitra, apalagi orangtua. Misalnya, hindari terlalu intens memandang layar telepon genggam saat berinteraksi dengan orang.

Apa yang disampaikan Angga Yudhiyansyah, mahasiswa CRCS UGM, pantas untuk melukiskan situasi kini.

Kata Angga, ”Pada akhirnya kita tetap merindukan sesuatu yang real. Jejaring sosial, seberapa pun kita aktif di dalamnya tak mampu memberikan pertemuan yang material, yang menjadi kodrat manusia. Ada kealpaan yang tersembul dari interaksi kita di dunia maya, yaitu pertemuan wajah material yang menjadi sebuah kerinduan azali manusia sebagai makhluk sosial.”

Pemakai Internet dan Sosial Networking Sebabkan Hilangnya Kemampuan Berpikir Konseptual

Sebelum ini Nicholas Carr mengalami masalah konsentrasi dan sulit fokus saat membaca artikel panjang atau buku. Tapi itulah yang mendorongnya menulis buku “The Shallow What the Internet Is Doing to Our Brains,” sebuah buku yang bercerita tentang hubungan internet dengan otak manusia.

“Buku itu mencoba memperoleh dasar dari persoalan itu,” kata Carr seperti dikutip New Scientist.

Dia melanjutkan, “Saya sulit fokus lama. Pikiran saya ingin bertindak seperti ketika sedang online, mencari banyak hal dan menggali sedikit informasi, ketimbang fokus pada satu hal.”

Keadaan itu mengantarkannya untuk memanfaatkan teknologi komunikasi digital yang disebutnya sangat menarik dan menguntungkan manusia.

“Dulu kita dihargai karena kemampuan kita mengalihkan perhatian secara cepat dan belajar sebanyak yang kita mampu mengenai keadaan sekitar. Kini, internet mengajak kita kembali pada gaya berpikir yang lebih mengalihkan dan menyebarkan, membaca sepintas dan mengamati dari jauh,” kata lulusan Darmouth College dan Universitas Harvard ini.

Carr tidak setuju dengan pendapat bahwa memiliki akses ke banyak informasi, mencari banyak hal secara bersamaan, dan bekerja dengan banyak orang, adalah cara ideal untuk menggunakan pikiran.

Menurutnya kebiasaan “memperhatikan” mengantarkan manusia pada gaya berpikir baru di mana dengan cara itu manusia memindahkan ingatan yang sedang berjalan menjadi ingatan jangka panjang.

Itu juga mengaktifkan proses mental yang meningkatkan konsep berpikir, berpikir kritis dan bahkan kreativitas.

Menurut Carr, dari sudut pandang teoritis, sepanjang sejarah, teknologi seperti peta, jam dan alfabet membentuk cara berpikir manusia.

Penemuan neuroplastisitas lalu memberi pandangan mengenai bagaimana teknologi membentuk cara berpikir manusia.

Lingkungan manusia yang berbasis website menekankan membaca hanya sepintas, lalu mengamati, kemudian membaca dan melakukan banyak pekerjaan pada waktu bersamaan.

Keadaan ini menguatkan jaringan sel otaak yang mendukung proses ini. Namun, jika gaya berpikir merenung diabaikan, maka rangkaian mental malah tidak diperkuat.

Carr memang mengakui saat ini tak banyak bukti yang menunjukkan bagaimana internet mempengaruhi otak.

Namun, satu penelitian dari Universitas California, Los Angeles, mesin pencari pada Internet telah mengubah pola aktivasi otak manusia, lewat “attention deficit hyperactivity disorder” (ADHD). Di sini, otak diganggu dan terus mencari banyak rangsangan.

Carr mengatakan setidaknya ada satu teori yang mengaitkan ADHD dengan kapasitas kerja memori manusia.

“Jadi saat kita mengalami kelebihan muatan kognitif, yang terjadi tidak hanya gangguan, tapi juga meningkatkan gangguan yang kita rasakan karena kita tidak bisa mengingat apa yang harus kita perhatikan,” kata Carr.

Saat mengalami kelebihan muatan kognitif secara terus-menerus, maka manusia tidak akan bekerja lebih dalam, lebih konseptual, dan berpikir lebih kritis.

“Mungkin cara berpikir ini akan menjadi dominan dan akan bernilai bagi masyarakat. Tetapi, kita kehilangan sesuatu yang penting,” kata Carr